
Setelah Freddy sampai di rumah Dhavin, Freddy pun langsung menemui Dhavin untuk mendengarkan alasan di balik itu semua.
Dan alasannya cukup simpel.
'Visco hanya mencoba menjebak agar Dhavin jauh dari Revina?' Memikirkan hal itu, Freddy sedikit menundukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
'Akhhh...! Apa-apaan dengan senyuan itu weh! Kenapa dia punya enyuman maut yang sangat menggoda?' Pekik Adel dalam hatinya, saking terkejutnya melihat pria di depan sana, yang saat ini sedang berdiri dengan gelas berisi bir berwarna keemasan, justru tiba-tiba memberikan senyuman yang sungguh menjadi pemicu kata umpatan dari semua wanita yang melihatnya.
Bahkan Adel dan ..
'Bos, kenapa Bos pakai tersenyum seperti itu? Aku kan jadinya tambah terpikat, terlepas dari anda yang sudah menikah. Ah..Bos, anda jadikan aku istri yang kedua saja, aku tidak akan masalah.' Benak hati Vinella, sendang menata gelas yang sudah bersih itu untuk kembali di isi dengan minuman yang lain.
Melihat hal itu, Visco yang awalnya sedang berbincang lebih dulu dengan kenalannya, sekarang jadi beralih untuk menghampiri Dhavin, yang tidak lain adalah Freddy yang sedang menyamar.
Karena tugasnya adalah menjadi bayangan milik Dhavin, maka Freddy pun mau tidak mau harus mengatur pola makan dan olahraga nya agar bisa memiliki porsi yang sama dengan Dhavin punya.
Oleh karena itu, Dhavin dan Freddy setiap minggunya akan mendapatkan rutinitas pengukuran tubuh, fisik, berat badan dan yang lainnya.
Bahkan untuk tinggi badan sekalipun harus sama.
Disinilah, rasa tersiksa yang di miliki oleh Freddy sebagai serigala kesepian yang bertugas menjadi sosok bayangan dari raja serigala itu sendiri.
Merasakan kedatangan dari musuh bebuyutan Dhavin sekaligus Freddy juga, karena gara-gara Visco pula mobil berharganya yang dulu jadi hancur, makannya dia pun jadi langsung bersikap waspada.
"Insting kuatmu sama sekali tidak bisa luntur ya?" Tanya Visco seraya mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan Dhavin palsu ini.
__ADS_1
"Apa kamu merasa aku akan jadi ancaman jika istingku masih saja kuat?" Freddy meletakkan gelas berisi bir itu ke atas meja dan berjabat tangan dengan Visco?
Itu adalah jabat tangan sebagai tanda awal dari kisah mereka semua akan berlangsung lagi.
"Bagaimana dengan hadiah yang aku berikan satu tahun yang lalu, apakah sangat berkesan hingga membekas di dalam tubuhmu?" Freddy semakin mengeratkan tangannya, karena dia memang kesal dengan Visco ini.
"Waktu itu aku sangat ingat sekali, kalau aku juga memberikanmu hadiah paling berkesan. Bagaimana? Apakah kamu ingin dapat itu lagi dariku?" Balas Visco. Sama-sama mengeratkan jabatan tangannya itu kepada Freddy.
Dengan kata lain, Visco sendiri tidak tahu kalau yang ada di depannya itu adalah Freddy.
Dan semua pembicaraan tadi itu, adalah karena Freddy mencoba memancing ingatan Visco satu tahun lalu, dimana Dhavin dan Visco melakkan pertarungan sengit di atap gedung dengan menggunkan pistol.
Dan setiap pertarungan itu, baik Dhavin maupun Visco sendiri, mereka berdua sama-sama mendapatkan luka.
Apa yang di miliki Dhavin memang bisa sajadi miliki oleh Freddy juga, saat diri Freddy menyamar menjadi Dhavin. Tapi dari semua itu tentu saja ada yang tidak bisa Freddy miliki, yaitu Revina.
"Hei..hei, kilan berdua, aku ada di sini juga loh. Apakah kalian menganggap aku tidak ada?" Sela Liana, yang dari tadi ada di belakang Freddy persis.
Sehingga suara milik Liana itu berhasil melerai jabatan tangan Freddy dan Visco yang bisa saja berakhir dengan baku hantam.
"Hahha...Nyonya Liana, karena anda terhalangi oleh Dhavin ini, makannya sayang tidak melihat anda." Kata Visco, berpura-pura sopan, sampai Visco sendiri berjalan menghampiri Liana dan memberikan ciuman di punggung tangan Liana persis.
Sontak Freddy langsung menjeling Visco dengan tatapan mautnya.
'Dia itu memang orang yang genit.' Piki Vinella, melihat pemandangan layaknya Pangeran sedang menyambut Tuan Putrinnya.
__ADS_1
Tapi di tengah-tengah Vinella melihat Nyonya besar sedang mendapatkan sambutan yang cukup berlebihdan dari Tuan Visco, tiba-tiba saja Vinella merasakan adanya tatapan maa yang tertuju ke arahnya langsung.
Dan ketika di telusuri, rupanya pria yang beridiri di samping Nyonya Liana, adalah sang tersangka itu sendiri.
'Kenapa Bos menatapku? Apakah aku melakukan kesalahan?!' Panik sekaligus tidak mau mendapatkan masalah lagi di harinya yang sudah cukup lelah itu, Vinella pun pergi dari sana dan akan menjalankan tugasnya yang lain.
'Kenapa dia buru-buru pergi? Oh ya...kenapa aku tidak di beri tahu kalau Viella ada di sini juga?' Pikir Freddy.
Ketika tangannya hendak mengambil minuman miliknya tadi, dia langsung mengurungkan niat itu, karena dia sama sekali tidak seharusnya sembarangan minum dan makan di pesta milik musuhnya sendiri.
_____________
Karena sebuah keadaan, hasilnya Dhavin memindahkan Revina yang masih tertidur itu karena pengaruh obat biusnya masih ada ke kamar yang ada di lantai tiga.
Lantai yang memang jarang sekali di gunakan, tetapi tetap di bersihkan. Dan salah satu kamar di sana memang ada yang di buat sama persis dengan kamar milik mereka berdua yang ada di lantai dua.
"Revina~" Setelah memanggil namanya begitu lirih seperti itu, Dhavin pun mengecup pipi Revina yang masih tertidur pulas itu.
Barulah, setelah luka yang Revina dapatkan itu sudah di tangani, maka langkah selanjutnya adalah untuk menggantikan Revina baju, dengan cara memotong pakaian Revina lebih dulu, lalu setelahny, Dhavin pun melepaskan pakaian itu dari tubuh Revina dengan sangat mudah, hingga dia akhirnya bisa mleihat semuanya lagi.
Tapi karena memang sudah terbiasa dengan tubuh Revina, tentu saja Dhavin bisa mempertahankan ekspresinya begitu saja.
Namun di sini, Dhavin merasa kalau luka yang Revina dapatkan ini seperti sebuah pertanda kalau ke depannya pasti akan ada lebih banyak hal berbahaya yang akan mengancam baik itu istrinya maupun keluarga kecilnya.
'Kelihatannya aku harus mempersiapkan banyak hal.' Benak hati Dhavin, seraya memakaikan kembali lingerie bentuk kimono ke tubuh Revina.
__ADS_1