
Setelah mengatakan itu, Dhavin pergi dengan tak ketinggalan untuk memberikan Revina sebuah kecupan manis yang cukup menyita semua pikiran Revina untuk jadi kosong.
"Dah, aku akan pulang empat jam lagi." Salam Dhavin dengan lambaian tangan layaknya seorang remaja memberikan salam terakhir kepada temannya.
BRRMM...BRRMM.......
Dan Dhavin pun pergi memawa mobilnya itu dengan kecepatan tinggi.
Seperginya itu, Revina melirik ke arah bawah, dia menatap satu kartu yang terselip di dalam bra yang Revina pakai itu.
Revina langsung mengangkat kedua bahunya, lalu menatap sengit mobil hitam Dhavin yang kian menghilang dari mata memandang. "Dia memang pria mesum." Tapi kedua telinganya yang memerah itu pun menandakan kalau Revina juga suka dengan perlakukan Dhavin tadi, karena selalu membuat jantungnya berdebar.
Oleh karena itu, Revina pun mengambil black card itu dari pakaian da*al*am nya, dan memegangnya dengan erat lalu dia bawa pergi dari sana.
TING.
Dan Revina pergi dengan menggunakan lift.
"L-lihat itu, Tuan sangat memanjakan Nyonya." Ucap pelayan yang pertama.
"Iya, aku juga melihatnya. Jadi harus di apakan?" Pelayan ini hanya bersikap cuek.
"Harus di apakan? Apa kamu tidak tahu, sifat Bos itu benar-benar bertolak belakang dengan kenyataannya." Beritahu Pelayan ini kepada rekan kerjanya itu.
Pelayan ini awalnya hanya meliriknya saja, dan akhirnya kembali bertanya. "Memamngnya sifat Bos yang sebenarnya seperti apa?"
Dan itu akan jadi salah satu orang yang penasaran dari sekian banyak orang yang hanya tahu untuk mendaftar dan bekerja seenaknya.
Bahwa Dhavin, terutama di tempat itu-
_____________
Suara tembakan demi tembakan mengisi kebisingan dari lapangan tembak yang sebenarnya terletak di samping tempat pacuan kuda.
"Jadi seperti yang seharusnya kalian tahu, mendaftar bukan hanya sekedar mendaftar karena tidak takut mati, atau ahli dalam memakai senjata seperti pistol yang sedang kalian pegang itu. Semua itu tidak akan gunanya jika kalian semua tidak me-" Ucapan dari pria ini pun segera terpotong ketika tepat di belakang mereka semua muncul satu sosok yang seharusnya mereka semua hormati, yaitu Dhavin.
__ADS_1
"Apa disini juga menerima artis seperti dia untuk masuk dalam kelompok kita?" Satu pertanyaan keluar dari salah satu mulut orang yang tidak tahu siapa Dhavin sebenarnya.
Dari lima belas orang, sepuluh diantaranya melirik ke sumber penarik perhatian mereka semua, yaitu kepada Dhavin yang kini sedang menerima senjata pistol oleh salah satu anak buahnya.
"Tapi kelihatannya dia seperti seorang dari Tuan muda yang kaya."
"Tuan muda? Jika iya pasti hanya orang yang ingin meratapi nasib dengan menjadi seorang mafia, kan? Orang seperti mereka kan suka dengan hal seperti ini, menindas orang yang lemah."
"Kalau begitu, bukankah berarti kamu adalah salah satu Tuan muda sepertiku yang ingin mengais pekerjaan kotor karena ingin menindas orang yang lemah?" Tiba-tiba Dhavin menyahut salah satu ucapan dari mereka.
Dan ucapan dari Dhavin juga berhasil membungkam mereka semua yang kini sedang menatap ke arah Dhavin dengan dua senjata sudah tersimpan di sarung pistol yang terikat di kedua pahanya.
"B-bos, maafkan kelancangan dari mereka." Orang ini langsung memberikan Dhavin sebuah penghormatan atas kedatangannya Dhavin, sekaligus permintaan maaf karena dia tidak bisa mengurus anggota baru nya yang suka bicara sembarangan, padahal majikan mereka semua ada di depan mereka.
"B-Bos?" Pria yang barusan mencibir Dhavin itu, kini sedang bertanya-tanya dengan wajah antara penasaran juga terkejut.
Dhavin yang tidak begitu menghiraukan apa yang dikatakan oleh anggota baru yang belum lama mendafta itu, hanya meliriknya sesaat.
"Bos, ini." Salah satu anak buah Dhavin yang barusan pergi ke suatu tempat, kini kembali dengan membawakan kuda berwarna hitam, dan memberikan tali pelana kepada Dhavin.
Dhavin menerima tali kuda itu, dan langsung menaikinya. "Hyah.."
"I-itu..tadi Bos kita?" Akhirnya setelah keterdiamannya dari tadi, pria ini mengajukan pertanyaan kepada salah satu anak buah yang tadi sempat membawakan kuda untuk di berikan kepada Dhavin.
"Kamu pikir beliau siapa?" Jeling pria ini, kepada anggota baru yang tadi sempat memberikan kalimat sindiran kepada Bos Dhavin.
"A-aku pikir, Bos kita adalah orang yang sudah tua?"
Semua orang langsung memberikan jelingan tajam yang sama pada laki-laki berambut pirang yang benar-benar memiliki otak dangkal, sekaligus orang yang cukup berani memberikan sindiran langsung kepada Bos Dhavin.
"Kamu gagal." dua kalimat itu sukses jadi penentu pria berambut pirang itu gagal dalam penaftaran sesi kedua ini.
"A-apa?! Masa hanya seperti itu aku gagal?" Ucapnya, protes dengan hasilnya. "Aku kan belum memperlihatkan kemampuanku."
"Hanya?" Satu suara milik Dhavin yang keluar dari speaker pengumuman langsung menarik perhatian pria berambut pirang itu yang hendak mengatakan kalimat protes pada keputusan anak buahnya dalam penilaiannya. "Hanya dengan bicara saja kadang seseorang memang tidak akan mengerti, jadi aku secara pribadi akan membuatmu mengerti dengan cara lain, yang mungkin saja bisa membuatmu sadar, kalau-"
__ADS_1
Dari jarak empat puluh meter, Dhavin pun mengangkat senjatanya ke depan, dan tepatnya ke arah salah satu peserta yang akan di rekrut hari ini.
"Aku benci jika ada orang yang tidak mengerti posisinya saat ini." Dan setelah mengatakan kalimat itu, ujung jarinya langsung menarik pemicunya.
DORR...
Satu tembakan meleset itu berhasil memecahkan kaca jendela yang terdapat pada pintu masuk tadi.
"Hei..hei, ini sejauh empat puluh meter lebih, dia bisa menembaknya dengan jarak sejauh itu?" Gumam pria ini, dimana kini pipi kanannya sudah berhasil mendapatkan goresn tipis dari peluru yang hanya lewat saja.
"Kan sudah aku bilang, jangan pernah bicara sembarangan, apalagi jika sedang berada di tempat kerja seperti ini." Kata pria yang tadi sempat mewakili mereka semua memint maaf kepada Bos Dhavin langsung. "Bos bisa saja membunuhmu di sini, bahkan sebelum kamu mendengar alasannya." Imbuhnya.
"Jadi sekarang?" Tanya pria ini, bingung dengan situasinya sendiri yang membingungkan.
"Artinya Bos sedang ada hati." ucapnya seraya menghela nafas panjang.
"Memangnya Bos biasanya tidak punya hati?"
"Sebenarnya kemana otakmu pergi, aku sudah bilang, jika Bos tadi sudah membunuhmu, artinya Bos memang sedang tidak punya hati, tapi kalau sudah seperti ini, artinya Bos memberimu satu kesempatan. Pergi ke lapangan dan lawan Bos sekarang juga." Jelasnya, dengan akhir sebuah perintah.
"Tapi Bos kan tidak menyuruhmu agar aku masuk kesana kan?" Tanyanya.
Tidak tahan lagi dengan satu orang ini, dia yang sudah tidak tahan dengan segala perangai dan ucapannya, salah satu anak buah Dhavin yang diberikan tugas untuk menjadi pengawas dalam ujian yang diberikan kepada anggota barunya, langsung menendang pant*at pria berambut pirang itu keluar.
"Sana pergi. Tanpa aku di berikan perintah secara verbal, aku juga sudah tahu maksud dari tindakan Bos tadi, tahu?!" Tegas pria ini.
DHUAK..
"Ahw...kenapa pant*atku di tendang? Itu sakit!"
"Kalau segitu saja sakit, lebih baik tidak perlu ada di sini lagi." Balas Dhavin. Karena antara hatinya sebenarnya sedang senang, sebab pagi tadi dia diberikan banyak ciuman khusus dari Revina, Dhavin pun dengan sengaja mempermainkan peserta itu dengan mencoba menembak targetnya .
DORR....
DORR....
__ADS_1
DORR....
"Akh! Kenapa menembakiku? Aku kan belum mulai?" Meskipun begitu, semua tembakan yang di berikan oleh Dhavin, berhasil di hindari dengan baik, walaupun dengan gaya yang tidak prfesional, seperti orang yang sedang melompati batu yang ada di sungai.