
"Tuan, ini minumnya." Salah satu anak buah Dhavin menyajikan menu makan malam beserta wine merah.
Malam itu, untuk pertama kalinya dia terbang sendiri. Menikmati keindahan dari deretan kota dari berbagai negara yang di lewati oleh pesawatnya.
Kerlap-kerlip lampu yang menghiasi setiap sudut kota, menjadi pemandangan Dhavin tersendiri.
Namun, karena ini adalah pertemuan yang sudah Dhavin tunggu selama dua bulan ini, terpaksa, ia harus meninggalkan Revina sendirian. Dalam artian, tanpa diri Dhavin sendiri.
"Bos, apa ada yang mengganggu pikiran anda?" Satu anak buah Dhavin yang lainnya, yang memang kebetulan duduk di sebrang kursi merasa bimbang sendiri, melihat betapa diamnya Bos nya itu ketika melihat pemandangan di luar pesawat, bagaikan orang yang sedang menatap masa lalunya sendiri.
Dhavin yang semula diam, akhirnya angkat bicara. "Walaupun aku ingin mengatakan tidak ada, kalian berdua juga tetap akan tahu apa yang sedang aku masalahkan."
'Nyonya.'
Dua detik memberi mereka kesempatan berpikir, Dhavin tersenyum tipis.
'B-bos tersenyum? Tapi- itu seperti senyuman kesedihan.' Pikir anak buah Dhavin ini.
Beberapa jam yang lalu, Dhavin tersenyum senang melihat Revina terus menempel tidak ingin membiarkannya pergi, tapi semua itu sudah berakhir, sebab senyumannya berubah seperti sebuah kesedihan.
"Jika terjadi sesuatu padaku, kira-kira kalian berdua akan pergi dariku tidak?" Tanya Dhavin seraya menyesap wine merah itu sendiri.
Mendengar di tanyai pertanyaan seperti itu oleh Bos nya, mereka berdua awalnya ragu, karena sampai Bos nya tiba-tiba mengatakan hal yang ambigu. Tapi, setelah beberapa saat berpikir, mereka berdua segera menjawab.
"Saya akan setia pada anda Bos."
"Ya, saya juga akan setia kepada anda."
Kedua orang itu menganggukkan kepalanya sebagai sebuah jawaban, bahwa mereka berdua memang akan setia kepada majikannya itu entah apapun yang terjadi kepada sang Bos.
"Lagi pula, berkat anda, kami berdua yang sudah di buang oleh perusahaan tempat kami bekerja, anda membuat kami menikmati pekerjaan baru yang cukup menyenangkan ini."
"Benar Bos, kami malah senang bisa bekerja di bawa kepemimpinan Bos."
"Ya, lagi pula, banyak hal mena-"
__ADS_1
"Menarik?" Salah satu alis Dhavin terangkat. "Memangnya hidupku ini penuh dengan lelucon untuk menghibur kalian." Ucap Dhavin.
Mereka berdua langsung kalap,, tidak sengaja menyinggunng Bos nya. "M-maf, Bos! Maksud saya bukan itu."
"Iya, maksudnya, bekerja dengan Bos, memberikan pengalaman berbeda daripada pekerjaan kami sebelumnya. Jadi kami merasa senang, dan akan selalu senantiasa setia kepada anda." jelas rekan kerja dari sahabatnya tadi yang hampir kena omel oleh Dhavin.
Mendengar penjelasan dari dua anak buahnya yang kelihatan gugup, Dhavin lagi-lagi tersenyum.
Tujuan dari dirinya merekrut banyak anak buah dari berbagai latar belakang yang berbeda, dan kisah hidup yang membuat mereka sudah jatuh terpuruk sampai di ambang ada yang ingin mati karena sudah tidak sanggup untuk hidup lagi dalam dunia yang keras ini, adalah karena satu hal.
Kesetiaan dari orang yang sudah pernah merasakan jatuh, jauh lebih besar, karena menganggap bahwa Dhavin adalah pahlawan mereka.
Makannya, banyak dari mereka yang suka dengan pekerjaan mereka saat ini, apalagi jika mengingat Dhavin juga memberikan kesehateraan kepada semua karyawanya, siapa yang mau untuk pergi dari sana?
"Yah~ Aku senang jika kalian setia." Kata Dhavin, lalu menyuap mulutnya dengan sayuran Ratatouille. 'Tapi, aku pikir malam ini akan terjadi sesuatu. Revina, aku harap kau bisa menahannya. Hanya itu saja yang bisa aku harapkan darimu.'
WWUUUNGG....
Dan pesawat pun terus terbang melewati banyak negara.
"Nyonya~ Nyonya. Bangun Nyonya." Arlsei mencoba untuk membangunkan majikannya itu yang terlihat tertidur pulas, padahal jam sudah hampir menunjukkan pukul setengah enam pagi.
"Sebentar lagi."
"Saya beri lima menit lagi ya." Tawar Arlsei dengan wajah yang sama sekali tidak pernah berubah selain ekspresi datar.
"Iya-iya." Revina menguap lebar, lantas memeluk kembali bantal guling yang diberikan oleh Arlsei gara-gara sempat terjatuh.
Dan lima menit kemudian.
"Nyonya, waktunya sudah habis." Arlsei tetap menunggu untuk membangunkan Nyonya majikannya ini.
"Ehmm..hoaamhh..!" Tanpa ada keanggunan sedikitpun dari Revina, Revina menguap lebar dengan sembarangan tanpa di tutupi, setelah itu Revina pun meregangkan tubuhnya dengan sangat kuat, sampai Arlsei sempat mendengar bunyi tulang punggung yang baru saja meregang lagi setelah sendi-sendinya tidak tegang. "Bentar, aku ingin mengumpulkan nyawaku dulu." Kata Revina.
Dan benar saja, Revina pun terus menatap langit-langit kamarnya, dan mencoba mencerna apa yang sudah ia lewati seharian kemarin. Mencoba mengingat detik-detik terakhir Revina di tinggal oleh Dhavin.
__ADS_1
'Sayang sekali, aku tidak bisa melihat wajahnya selama satu minggu ke depan.' Pikirnya.
Tanpa perintah, hanya dengan merentangkan tangan kanannya ke atas, Arlsei langsung menarik tubuh Nyonya nya itu untuk bisa duduk.
"Baru satu hari kenapa rasanya sudah seminggu ya?" Gumam Revina, masih dalam kondisi separuh sadar.
"Tuan akan pulang lima hari lagi, itu yang Tuan beritahu saya satu jam yang lalu." Beritahu Arlsei.
"Begitu ya? Kenapa kau tidak membangunkanku jika Dhavin memang sudah sampai?"
Dengan tampang profesionalnya, Arlsei menjawab ala kadarnya saja. "Kan peraturan pertama dari Tuan besar, jika Nyonya masih belum bangun, biarkan saja sampai Nyonya bangun."
"Lah tadi-" Berbicara banyak dengan Arlsei, secara otomatis semua nyawanya pun terkumpul.
"Kan Tuan dan Nona muda sedang menginginkan anda. Maka dari itu saya membangunkan anda."
Arlsei dan Revina pun saling menatap satu sama lain.
"Umurmu berapa?"
"23 tahun."
"Apa kamu sudah punya pacar?"Revina bertanya untuk mengetahui lingkup pribadi anak ini, karena terlihat cukup muda, bahkan bisa di bilang sampai terlihat cukup menipu.
Wajahnya seperti menyatakan umurnya baru 20 tahun, tapi usia sebenarnya 23 tahun.
'Aku iri pada orang yang bisa awet muda.' Pikir Revina, tersenyum tipis.
"Belum."
"OOhh, dimana handphoneku ya?" Revina langsung teralihkan dengan handphone nya yang tidak ada di atas kasurnya.
Ketika Arlesei sempat melihat handphone lipat milik Nyonya nya sebenarnya terjatuh ke lantai, Arlesei justru menjawab, "Mungkin saja tertinggal di mobil, Nyonya kan sempat tertidur di mobil setelah belanja, mungkin saja itu."
"...! Kamu benar juga." Revina dengan polosnya mengiyakan kemungkinan dari keberadaan handphone nya ada di mobil, sedangkan Arlsei sendiri, berjalan sedikit ke pinggir tempat tidur untuk sedikit mendorong handphone Nyonya nya agar bisa ia sembunyikan lebih dulu. "Padahal aku ingin menelepon Dhavin."
__ADS_1
Revina turun dari tempat tidur dan Arlsei segera mengatur selimutnya agar tidak menghalangi Nyonya nya turun. Padahal, semua itu adalah dalih belaka agar tidak di curigai oleh majikannya itu.