
Pov Arfan
Aku yang semakin bingung, dengan apa yang Erni lakukan. dengan sedikit menambah kekuatan, aku mulai memaksa Erni untuk melepaskan pelukannya, kemudian aku mendorong tubuhnya agar menjauh.
"Kamu sekarang Kasar amat sih! kemana kelembutanmu yang dulu, yang selalu membuatku nyaman berlama-lama memelukmu? apa jangan-jangan! karena kamu sekarang bergaul dengan wanita sampah itu, jadi sikapmu berubah seperti ini?" ujar Erni sambil membenarkan posisi berdirinya.
"Jangan sentuh gua lagi!" bentakku sambil mengangkat telunjuk ke arah mukanya.
" Kenapa emang? kan sayang, belum menceraikanku secara sah. itu hanya baru pengadilan agama." jawab Erni tatapannya memenuhi wajahku.
"Aku menceraikan kamu, tolak tiga! sudah sekarang aku ingin ngobrol serius dengan kamu?"
"Kalau mau ngobrol, mukanya jangan kaku seperti itu! Coba senyum dikit!" Pintanya kembali tersenyum membuatku semakin merasa jijik.
"Bisa nggak, Sekarang kita ngobrol serius?"
"Boleh kalau keinginanmu seperti itu, kita bisa bicara baik-baik. jangan main dorong-dorong segala! Silakan duduk!" Seru Erni kemudian dia duduk di kursi yang biasa dulu aku duduki.
"Nggak harus bicara baik, sama orang yang tidak punya hati kayak kamu.
"Silakan duduk dulu! nggak sopan, ngobrol sambil berdiri. apa kamu sudah lupa dengan etika bertamu?"
"Nggak perlu. tolong camkan ucapanku! jangan sekali-kali mengusik kehidupanku lagi dan Mengusik orang-orang yang dekat denganku. kalau kamu masih berani, aku tidak akan segan untuk melaporkanmu ke pihak yang berwajib."
"Laporkan saja! aku tidak takut. Lagian hidup tanpa kamu, di luar atau di dalam penjara, itu sama-sama tidak enak. jujur aku menyesal telah menghianatimu, Tolong kasih aku kesempatan untuk memulai kembali!" jawabnya sambil menatap lekat ke arahku, tak sedikitpun dia menghiraukan ancaman yang kulayangkan.
"Kamu benar-benar sudah berubah! aku menyesal telah mengenalmu."
"Aku berubah, gara-gara kamu meninggalkanku. aku harus jadi wanita kuat, yang berjuang sendirian. tanpa ada yang menyemangatiku."
"Kalau mau curhat jangan ke saya! curhatlah ke si Farid! karena dari dulu juga kamu sering curhat kan, sama pria sampah itu. terima kasih atas penyambutannya dan jangan lupakan perkataanku." ujarku mengingatkan kembali ancaman yang kuberikan. kemudian membalikkan tubuh hendak meninggalkan ruangan itu, karena mengobrol dengannya rasanya hanya sia-sia saja.
"Tunggu dulu!" Panggil Erni sambil bangkit dari tempat duduknya. namun aku tidak menghiraukan panggilan itu, aku terus berjalan menuju ke arah pintu keluar dari ruangannya. "kalau kamu tidak mau kembali denganku, Maka jangan harap hidupmu bisa tenang!" ancam Erni dengan suara sedikit meninggi, mungkin agar suaranya terdengar olehku.
__ADS_1
"Kak Arfan!" Panggil suara seorang wanita ketika aku melewati salah satu ruangan.
"Kak Arfan lewat sini!" panggilnya lagi.
Merasa risih aku pun menghentikan langkah, kemudian menoleh ke arah datangnya suara, terlihat ada seorang wanita yang aku kenal.
"Vina?" gumamku.
"Sombong amat sih Kak! Ayo lewat sini." ujar Vina sambil menarik tanganku memasuki salah satu ruangan kantor yang terlihat nampak sepi.
"Maaf, Kenapa kamu mengajakku ke sini? dan kamu lagi ngapain Di Sini?" tanyaku sambil melepaskan genggaman tangannya.
Namun orang yang ditanya hanya menempelkan telunjuk di bibirnya, memberikan isyarat agar aku tetap diam, membuatku semakin tidak mengerti.
"Arfaaaaan! Arfaaaaan! Arfaaaaan!" teriak Erni yang mencari keberadaanku.
"kalian jaga akses keluar dari kantor ini, kalau kalian melihat si Arfan. kalian cepat tahan, Karena dia sudah mencuri berkas penting milik kantor kita!" fitnah Erni membuatku mengeratkan gigi tak kuat dituduh seperti itu. Dengan segera aku pun hendak keluar, untuk menemui Erni. namun Vina menahan kembali tanganku sambil menggelengkan kepala.
"Jangan keluar! percaya sama saya! kalau hidup kakak ingin selamat."
"Pokoknya Kakak nurut sama saya, nanti kakak juga akan tahu!"
Akhirnya aku mengalah, aku diam menunggu sampai situasinya benar-benar aman.
"Tunggu dulu di sini!" Pinta Vina sambil berbisik, setelah sekian lama menunggu.
Kemudian wanita itu keluar dari ruangan tempat persembunyian kita untuk mengecek keamanannya. tak lama dia pun kembali, kemudian menggerakkan tangan agar aku segera keluar dari tempat persembunyianku. dengan mempercepat langkah, Vina mulai menuntunku menuju koridor tangga darurat.
"Kamu apa-apaan sih, Vin?" Tanyaku sambil melepaskan genggaman tangannya
"Apa Kakak mau ditangkap oleh Bu Erni? sekarang beliau bukanlah yang dulu!" jawab Vina membuatku mengerutkan dahi. "bingung kan, nanti aku ceritakan semuanya! yang terpenting sekarang kita bisa keluar dari gedung ini dengan selamat." lanjut Vina memberikan arahan, seperti komandan yang sedang menjalankan misi penyelamatan.
"Maaf Vin! saya masih banyak urusan, nanti lain waktu kita akan mengobrol lama. Aku tidak punya waktu untuk bermain-main seperti ini!" Tolaku sambil menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Urusan apa Kak? nanti aku kasih informasi semua tentang mantan istri Kakak!"
"Informasi apa?"
Ditanya seperti itu Vina menarik lenganku lagi, agar lebih mempercepat langkahku menuruni tangga.
"Kakak tahu, Bulan depan Bu Erni mau menikah dengan Pak Farid?" tanya Vina sambil menghentikan langkahnya kembali.
"Enggak, emang kenapa?"
"Nggak apa-apa! itu informasi pertama, kalau kakak mau mengobrol denganku."
"Maaf Vina! Saya sudah tidak ada waktu untuk menyesali atau mencari tahu tentang masa lalu. saya sekarang lagi terfokus untuk menata masa depan agar tidak terjatuh ke Kesalahan Yang Sama. Terima kasih atas informasinya!" tolakku dengan Kukuh karena aku sudah tidak mempedulikan kedua orang yang telah menghancurkan hidupku.
"Mau tahu lagi nggak?"
Aku hanya menggelengkan kepala, sebagai jawaban bahwa aku tidak ingin mengetahui apapun.
"Kalau sekarang Bu Erni sangat stress, karena omset perusahaan setiap bulannya terus menurun. ditambah orang yang bernama Pak waskito satu-satunya investor di perusahaan ini, beliau mau menjual sahamnya." jelas Vina membuatku kembali mengerutkan dahi. Aku merasa heran dari mana dia tahu tentang seluk-beluk perusahaan Erni Group. dan kenapa dia bisa berada di sini, Bukannya dia seorang pembantu. otakku terus dipenuhi dengan berbagai pertanyaan.
Sebelum aku mendapat jawaban dari apa yang sedang ku pikirkan, Vina mulai menarik kembali tanganku untuk menuruni tangga. sehingga akhirnya aku sampai di tangga terakhir yang menuju lobi kantor. Vina mulai memberikan instruksi kembali agar aku bersembunyi terlebih dahulu, sebelum dia mengetahui kondisinya.
Dia pun menuruni anak tangga meninggalkanku yang masih kebingungan tidak mengerti dengan apa yang terjadi. rasanya sangat lucu, ketika melakukan main petak umpet seperti anak kecil.
"Lewat sini pak!" ujar suara seorang pria.
"Pak Wardi?" desisku setelah mengetahui Siapa orang yang memanggil.
Wardi hanya menempelkan telunjuk di bibirnya, membuatku semakin merasa ada yang aneh, namun aku tetap mengikuti apa yang disarankan olehnya.
Satpam itu mulai Melambaikan tangan memberikan isyarat agar aku mengikuti wardi. Dengan mengangguk aku mengikuti satpam perusahaan Erni Group. Tak ada pembicaraan ketika aku mengikutinya meski Otaku dipenuhi berbagai hal yang menurutku sangat janggal. Kita terus berjalan menyusuri koridor yang terlihat sepi, karena lantai 2 aku khususkan untuk menyimpan barang. Sampai akhirnya kita tiba di salah satu tangga untuk turun ke lantai terbawah.
"Ini Sebenarnya ada apa sih Pak?"
__ADS_1
"Gawat Pak! Bu Erni memerintahkan semua satuan pengaman untuk menangkap Bapak, karena bapak dituduh sudah mencuri berkas kantor."
"Bapak percaya?"