
Pov Arfan
Melihat wanita yang menolongku pergi, dengan perkataan yang sedikit menyayat hati. membuatku tak berani memanggilnya kembali, aku hanya tertunduk lesu meratapi kehidupan, yang sangat menyedihkan ini.
"Kenapa kamu menolongku, kalau kamu mengeluh seperti itu. Aku tidak berharap ada orang yang menyelamatkan hidupku, aku hanya ingin pergi dari dunia ini tanpa membuat ibu bersedih." Umpatku sambil terus terduduk di atas pasir yang bercampur lumpur, sehingga tubuhku sudah karuan, bak anak kecil yang bermain bola selepas hujan turun.
Aku menatap kembali sungai yang airnya bergejolak begitu besar. seperti mengajakku untuk masuk kembali ke dalamnya. perlahan aku pun menggerakkan tubuhku, namun rasa sakit yang begitu nyeri, di area dengkul membuatku tak bisa berbuat banyak. Hanya meratapi nasib yang begitu sulit, meski itu hanya untuk mati.
Aggggghhhhhhrrrrrrrr!
Teriakku sambil memukul pasir, namun pasir itu tetap diam tak melawan, seolah menertawai kebodohanku.
Lama terduduk, terdengar suara langkah kaki dan suara orang yang sedang mengobrol dari arah atas, dari arah kepergian wanita yang menolongku.
"Di mana emang orangnya, La?" tanya suara seorang pria.
"Tuh! di bawah."
"Lagian kamu kebiasaan banget, sih. pakai nolong orang segala. Mending kalau tidak merepotkan orang lain."
"Nggak tahu gua juga, kenapa bisa seperti itu. sebenarnya males punya sikap seperti ini, menyusahkan diri sendiri, apalagi harus menyusahkan lu terus." jawab seorang suara wanita.
Langkah itu semakin terdengar mendekati, aku terus menatap ke arah datangnya suara, tak lama setelah itu muncullah satu orang laki-laki, dan satu orang perempuan yang tadi menolongku, mereka terus berjalan mendekatiku.
Laki-laki yang datang bersama wanita yang menolongku tadi, dia menatap ke arahku. membuatk merasa bersalah karena harus merepotkan banyak orang. sehingga aku menundukkan pandangan, tak berani membalas tatapannya.
"Kalem saja, Bro! gua nggak jahat, Kok." ucap pria yang menggunakan kaos oblong, celana pendek selutut, dengan topi kupluk di kepalanya.
Aku tidak menjawab perkataannya, Aku hanya melirik sebentar, kemudian menundukkan pandanganku kembali, menatap ke arah dengkulku yang membiru.
"Bagaimana mau membawanya?" tanya pria itu kepada wanita yang berdiri di sampingnya.
"Ya, lu gendong lah, masa gua yang harus ngegendong. nanti dia kepedean lagi." jawab wanita itu terdengar Ketus.
__ADS_1
"Yang sopan, dong! kalau minta tolong itu." jawab pria itu dengan mendengus kesal
"Lu sendiri kan yang mau nolongin gua, ya kalau nggak mau nggak apa-apa! Lagian orang ini mau mampus kok." jawab wanita itu sehingga membuat jantungku berdenyut perih, mendengar ucapan wanita yang sedang berebut pendapat. namun aku tak bisa berbuat apa-apa, karena yang ia katakan itu memang benar adanya.
"Yah, yah! aku gendong. Kamu hanya bisa marah-marah saja." Jawab pria itu. perlahan dia mulai menjongkokan tubuhnya di hadapanku." Ayo naik!" serunya.
"Maaf kalian mending nggak usah menolongku, Aku Memang Pantas menerima semua ini. Ini adalah hukuman buat orang yang tidak punya pendirian sepertiku." ucapku yang merasa tidak enak, harus selalu merepotkan orang lain.
"Sudahlah, bro! Ayo naik. semua orang pernah merasakan masa itu, gua paham kok!" ujar pria yang sudah siap menggendongku, sambil memalingkan wajah ke arah belakang, melihatku yang masih terduduk.
"Buruan! naik bod0h! atau lu mau mati di sini. Jadi makanan buaya atau ular gitu." seru wanita yang sejak dari tadi berdiri.
Melihat aku yang masih terdiam, tidak mau naik ke punggung pria itu. Pria yang datang dengan wanita yang menolongku, dia mulai menarik tanganku, membantu agar aku bisa berdiri. Setelah aku berdiri kemudian dia menjongkokan kembali tubuhnya, menjadikan tumpuan tubuhnyauntuk menggendongku.
"Aduhhhhhhh!" Desisku. Ketika pria itu menyentuh pahaku dengkulku terasa semakin ngilu.
"Kenapa elu mengeluh, Bukannya tadi kamu mau mati. Ini belum seberapa kalau dibanding dengan rasa sakit, ketika elu sekarat. itu lebih dari ini! makanya orang yang sekarat, tidak ada yang selamat dari kematian. Sekarang kamu Nikmati saja hasil dari semua ke bod0hanmu!" Ujar wanita yang berdiri di sampingku seperti kacang yang jatuh ke panci penggorengan.
"Maaf ya, Bro! tahan sebentar, Nggak jauh kok!" Ujar pria yang hendak menggendongku, kemudian dengan perlahan dia mencoba kembali mengangkat tubuhku ke punggungnya.
"Hush! hush!"
Entah otaknya terbuat dari apa, perempuan itu mengambil sejumput rumput yang ada di jalan Setapak. kemudian memukul punggungku dengan rumput itu dari belakang, seperti orang yang sedang menggiring kerbau.
"Karla, Sudahlah! kamu jangan banyak bercanda. Medannya sulit nih! nanti aku jatuh." ucap pria yang menggendongku dengan napas tersenggal. Medan yang menanjak membuatnya harus mengeluarkan tenaga begitu ekstra.
Perempuan yang dipanggil dengan sebutan Karla itu hanya tertawa. kemudian mengulangi perbuatannya, sehingga membuat pria yang menggendong ku menarik napas dengan kesal. namun anehnya pria itu tidak marah sama sekali. mungkin Iya sudah paham dengan karakter wanita yang ada di belakangnya
Setelah berada di jalan yang mendatar. Pria itu berhenti sesaat, untuk mengambil nafas terlebih dahulu, tanpa melepaskan gendongannya. Terlihat banyak pohon-pohon albasia, yang rtumbuh di area itu. mungkin letaknya yang dekat dengan Sungai, sehingga tempat ini dijadikan observasi, untuk penahan banjir. setelah merasa tenaganya terkumpul kembali, pria yang menggendong ku mulai melanjutkan perjalanan, akhirnya Kami bertiga sampai di salah satu gerobak sampah yang terparkir di pinggir jalan raya. Dengan cepat pria itu melepaskan gendongannya, dengan cara mendudukkanku di atas gerobak sampah itu.
Setelah memastikan aku duduk dengan selamat, pria itu menjatuhkan dirinya di atas tembok saluran air. sambil mengatur napasnya yang terengah-engah. merasa capeknya tidak hilang, dia pun memberikan tubuhnya, terlentang di atas tembok pembatas jalan.
"Capek, ya!" tanya Karla sambil menatap nanar ke arah pria yang sedang berbaring.
__ADS_1
"Enggak, kok!" jawab pria itu sambil membuka matanya sedikit menatap ke arah perempuan yang bertanya.
"Nih minum!" Tawar Karla sambil memberikan botol air yang baru ia ambil dari depan gerobak sampah. dengan cepat pria itu bangkit kemudian mengambil air yang karla berikan. Lalu meneguknya dengan begitu nikmat.
"Nih! minum Bro!" Tawar pria itu sambil memberikan air yang masih tersisa setengahnya.
Aku tidak mengambil air itu, aku hanya menatap heran ke arah pria yang mengulurkan tangan. merasa aneh dan merasa Bimbang, Apakah aku masih berada di alam fana atau sudah berada dialam kekekalan. karena perbuatan seperti ini bukan perbuatan manusia, melainkan perbuatan malaikat. Begitulah yang sering ku dengar dari orang-orang.
"Kenapa, diam? Ayo ambil!" pria itu mengulang kembali tawarannya.
"Habiskan saja! Kamu pasti haus sekali, apalagi setelah menggendongku dengan Medan yang begitu berat." tolaku dengan halus.
"Nggak! aku sudah nggak haus, buruan minum! nggak baik menolak rezeki. apa jangan-jangan kamu takut rabies, ya?"
Merasa tidak enak dengan kebaikan pria yang berada di hadapanku. Aku pun mengambil air pemberian itu, kemudian meneguknya. terasa sangat nikmat, meski ini hanya air putih biasa, yang belum tahu apakah Air ini higienis atau tidak. Karena melihat botol minumnya saja yang sudah kusam.
"Sekarang! lu bawa pria ini pulang ke rumah. gua mau ngambil tas, sama jaket gua. Soalnya ketika tadi loncat dari atas jembatan, gua lepaskan itu semua. Gara gara menyelamatkan pria bod0h ini. Gua harus kembali ke jembatan yang jaraknya lumayan jauh. semoga saja barang-barang gua belum ada yang mengambil."seru karla membagi tugas, seolah Ibu komando.
"Aku, kan! harus kerja, la." jawab pria itu seolah tidak mau.
"Kerja melulu! kaya kagak." ucap Karla sambil berlalu pergi tanpa memperdulikan kita lagi. Aku dan pria itu hanya menggeleng-geleng kepala sambil menatap kepergianya.
"Tenang, Bro! dia orangnya memang seperti itu, namun hatinya sangat baik. buktinya Elu ditolong sampai sekarang." ucap pria itu sambil tersenyum, memperlihatkan raut kekaguman tergambar di wajahnya.
"Terima kasih! Dan Maaf merepotkan." ujarku.
"Sudah, jangan banyak pikiran! sekarang aku antar kamu pulang ke rumah Karla terlebih dahulu. Nanti kamu akan diobati oleh bapaknya. Setelah itu baru aku melanjutkan pekerjaan. tapi maaf ya! Gua hanya bisa mengantar lu dengan mobil butut ini." Ucap pria itu tersenyum sambil memukul gerobak sampahnya.
"Maaf aku, merepotkan!" ucapku yang tak tahu harus berkata apa lagi.
Pria itu hanya tersenyum, lalu membenarkan Posisiku agar mudah ketika dibawa dengan gerobak. Dan nyaman ketika aku duduk di atasnya. setelah dirasa aku duduk dengan aman, pria itu berjalan ke arah depan, untuk menjadi sopir sekaligus menjadi mesin penggerak gerobak, kemudian pria itu mulai mengemudikan gerobaknya, pergi meninggalkan tempat yang dijadikan tempat beristirahat.
"Fuuuuuul! Ifuuuul! Saiful!" teriak suara seseorang wanita yang memanggil.
__ADS_1
"Iya, Bu!" jawab pria yang bernama Saipul sambil menghentikan gerobaknya.