Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 67 MISI VINA


__ADS_3

Pov Erni


Hari ini aku libur ngantor. selain hari Sabtu, hari ini juga adalah hari di mana Nanti malam Farid akan datang bersama keluarganya, untuk melamarku secara resmi di depan keluargaku disaksikan para tamu undangan, sekaligus menentukan hari baik untuk melangsungkan pernikahan.


Rumahku sudah terlihat ramai, oleh orang orang yang menyelesaikan dekorasi, serta orang-orang catering yang sedang menata alat-alat prasmanan. mungkin agar mereka nanti malam, tidak harus repot mempersiapkannya lagi.


Aku menyiapkan acara lamaranku dengan begitu luar biasa, Karena aku ingin acara lamaranku tidak biasa-biasa saja. Aku mengundang seluruh klien bisnisku. Agar mereka ikut merasakan kebahagiaanku malam nanti.


"Si Vina ke mana sih?" tanyaku sama Erna, yang sedang melihat orang yang mendekor rumah.


"Kurang tahu, Kak! tapi tadi bilang dia ada urusan keluar sebentar." jawab Erna tanpa memalingkan pandangan ke arahku.


"Kalau nanti kamu ketemu sama si Vina, Tolong bilang sama dia! aku mencarinya."


"Iya Kak! nanti kalau Kak Vina sudah datang, aku akan suruh untuk menemui kakak!" jawab Erna.


"Ibu mencari saya?" ujar seorang wanita yang baru masuk ke rumahku.


"Lu, dari mana aja sih, Vin?" tanyaku dengan kesal.


"Menjalankan misi!"


"Misi apa?"


"Misi yang Ibu berikan kemarin pagi." ujar Vina sambil duduk di salah satu sofa.


"Terus Bagaimana hasilnya?" Tanyaku yang mengikutinya duduk, merasa penasaran.


"Aman! aku sudah tahu keberadaan pria yang ada di video itu."


"Di mana?"


"Ini sangat rahasia, Jadi tidak boleh dibicarakan di tempat umum seperti ini." ujar Vina sambil celingukan memperhatikan arah sekitar, menirukan agen rahasia yang hendak menyampaikan misinya.


"Ayo ke kamar gua!" ajakku sambil menarik tangannya.


Setelah berada di kamar, kita berdua pun duduk di atas kasur. kemudian Vina mengeluarkan handphonenya, seperti hendak menunjukkan sesuatu di dalamnya.


"Mana hasilnya?" Tanyaku yang sudah tidak sabar, ingin tahu apa yang akan disampaikan oleh sepupuku itu.


"Jawab dulu! apa hadiah terbesar yang Ibu janjikan kepada saya?" tanya Vina sambil menatap lekat ke arahku.


"Kamu mau apa? aku akan memberikan hadiah yang sebanding dengan apa yang kamu kerjakan. buruan kamu bilang bagaimana hasil pencarianmu!"


"Mau apa ya?" ungkap Vina sambil memainkan jari telunjuknya di atas dagu, seperti orang yang sedang berpikir.

__ADS_1


"Kamu mulai ngelunjak, ya!" Dengusku sangat kesal.


"Menurut Uwa, sekarang ibu sudah menjadi pemilik salah satu perusahaan terbesar di kota Jakarta, pemberian dari mantan suami Ibu?"


"Terus?" Tanyaku yang belum paham Ke mana arah tujuan pembicaraannya.


"Aku ingin bekerja di perusahaan ibu!"


"Mau jadi apa? Setahuku kamu hanya lulusan SMP! karena Setelah lulus SMP kamu bekerja ke luar negeri menjadi TKW! Benar kan?"


"Ijazah nggak penting kali, bu! karena ibu sendiri kan yang mengolah ngatur perusahaan sendiri. Masa! menyelipkan seorang aja untuk bekerja di perusahaan, ibu nggak bisa!" ujar Vina yang semakin berani. kalau aku tidak membutuhkan keterangannya, mungkin sudah aku tendang dia dari kamarku.


"Nanti aku pikirkan, kamu kerja di bagian apa, sekarang mana!"


"Janji dulu!"


"Iya saya janji!"


Vina pun memberikan handphone yang ada di tangannya. "Oh iya! satu lagi, Bu! Aku ingin ganti handphoneku, dengan handphone bermata 3, handphone yang bermata dua milikiku, sudah ketinggalan zaman." ujar Vina sambil menarik kembali handphone yang hendak dia serahkan kepadaku.


"Gampang itu! tapi kalau untuk bekerja di perusahaanku, aku pikir-pikir terlebih dahulu. karena aku tidak sepenuhnya memiliki kewenangan dalam menerima karyawan, walau perusahaan itu adalah perusahaan milikku sendiri. Karena aku tidak akan gegabah menerima orang menjadi karyawanku.


"Wah! wah! aku mulai ragu nih, dengan apa yang Ibu ucapkan." ujar Vina.


"Serahkan handphone kamu, Aku ingin melihat apa yang ada di dalamnya."


Dengan kesal aku pun mengambil handphoneku, kemudian menelepon seseorang. untuk memesan handphone yang baru, sesuai permintaan Vina.


"Sudah! mungkin sekitar sejam lagi, handphone itu akan datang." ujarku sambil menatap kesal ke arahnya.


Setelah mendapat kejelasan, Vina pun dengan Rela memberikan handphone yang sejak dari tadi dia pegang. kemudian menunjukkan video yang ada di dalamnya.


"Apaan ini, video nggak jelas seperti ini?" Tanyaku yang merasa kesal karena merasa ditipu. Vidio yang ditunjukkan oleh Vina sangat tidak jelas.


"Jangan menjudge terlebih dahulu, Ibu perhatikan Sampai Akhir video!" Saran Vina.


Dengan kesal, Aku pun mengikuti saran yang diberikan oleh Vina. memperhatikan video itu dengan teliti. memang benar video itu tidak jelas, entah bagaimana dia mengambil gambar video itu. namun semakin aku memperhatikan, aku semakin mengetahui bahwa orang yang ada di video itu adalah orang yang selama ini aku cari. dia terlihat sedang berjalan di samping gerobak sampah, Pakaiannya yang lusuh, wajahnya yang dekil, membuatku semakin merasa bersalah. video itu terhenti setelah Vina masuk ke dalam salah satu rumah.


"Kenapa gambarnya tidak jelas sih? ini beneran Arfan kan? aku bertanya sambil menatap ke arah Vina.


"Maaf kalau videonya kurang jelas, karena tadi saya simpan HP saya di kantong baju. saya tidak berani mengambil video secara langsung, takut Kak Arfan tersinggung." jelas Vina.


"Terus bagaimana, kamu bisa mengetahui keberadaan pria ini?" selidiku yang semakin penasaran.


"Sesuai permintaan Ibu, kemarin aku terus mencari keberadaan kak Arfan di sekitaran Karin mengambil video. ketika aku sudah mulai menyerah, dan hendak pulang. namun mataku menangkap sesosok pria yang sama persis dengan pria yang ada di kanal YouTube karin. dengan cepat aku pun menghampiri, dan mengobrol dengannya. Untuk memastikan bahwa pria itu adalah pria yang Ibu cari." jelas Vina.

__ADS_1


"Wanita ini sangat hebat, dia bisa berbohong dengan begitu rapi. sehingga Arfan suamiku tidak curiga bahwa dia bukan asisten rumah tangga." gumamku dalam hati.


"Oh iya! video ini kamu ambil di daerah mana." Aku bertanya kembali.


"Rahasia Bu! Kalau ibu ingin mengetahui itu. jadikan dulu saya karyawan ibu!" Ujar Vina yang semakin menekan, dia sangat pandai memanfaatkan situasi.


Truk! truk! truk! truk! truk!


Terdengar pintu kamarku ada yang mengetuk, dengan cepat aku pun membangkitkan tubuh. untuk Mencari tahu siapa orang yang mengetuk.


"Yah, Ada apa Pak?" tanyaku sama pria yang berdiri di ambang pintu.


"Bapak boleh ngobrol sebentar, dengan kamu." Pinta Bapak sambil memindai area kamar.


"Mau ngobrol apa, Pak! kalau nggak penting aku lagi malas berbicara." gumamku.


"Penting, lah! Bapak tahu kamu tidak akan menanggapi, kalau Apa yang hendak Bapak sampaikan itu tidak penting."


"Ya sudah! ngomong aja! Bapak mau ngomong apa?"


"Kita bisa ngobrol di dalam, ya!" Ujar bapak.


Aku pun mempersilahkan bapak masuk ke dalam kamarku, kemudian ia duduk di sofa.


"Eh! ada Vina! Oh ya, Boleh nggak Uwa minta waktu erni Sebentar. Uwa Ada hal penting yang hendak disampaikan kepada anak Uwa." Pinta Bapak sambil tersenyum kepada wanita yang sedang duduk di atas kasurku.


"Boleh wa, silakan!" ujar Vina yang tersenyum sumringah. kemudian dia bangkit dari tempat duduknya, pergi meninggalkan kamarku.


"Vin! Tolong tutup pintunya!" seru bapak.


"Baik wa!" ujarnya sambil mengedipkan sebelah mata, membuatku menatap tajam ke arah mereka berdua.


"Bapak jangan terlalu dekat sama wanita licik itu! nanti bapak tertipu lagi dengan akal bulusnya." selorohku setelah Vina Tak Terlihat Lagi.


"Kamu Jangan berburuk sangka dulu sama orang! Vina orangnya baik kok, buktinya selama dia di rumah. Dia selalu membantu ibumu, mengurus kami semua." sanggah bapak membela keponakannya.


"Halah! luarnya aja terlihat baik, dalamnya busuk seperti kedondong." Cibirku dengan kesal.


"Sudah! sudah! nggak baik ah, membahas orang. Bapak mau minta tolong!"


"Minta tolong apalagi? mau minta tolong agar aku ngasih uang lagi 10 juta. Uang yang hanya mampu untuk membeli rok0k dan menyewa mobil rongsok." ujarku sambil memicingkan mata ke arah pria tua itu.


"Nggak! nggak! bapak nggak butuh itu. uang yang kemarin kamu berikan masih ada kok! Bapak cuma mau minta tolong. kamu kasih kerjaan sepupumu itu! kasihan dia tidak punya penghasilan!" Pinta bapak, membuat mataku terbelalak.


"Apa Bapak gak punya pikiran, aku saja sudah tidak suka dengan wanita yang bernama Vina itu. sekarang malah Bapak hendak memintaku, untuk menjadikan dia karyawan di perusahaan?"

__ADS_1


"Tolonglah! kalau kamu tidak mau, bapak akan pulang sekarang. Semenjak kamu menjadi pengusaha. Bapak tidak pernah meminta hartamu, untuk bapak sendiri. Bapak hanya menitipkan adik-adik kamu. dan ingat! bapak juga tidak pernah merepotkanmu. Lagian kamu bisa seperti sekarang itu berkat perjuangan bapak yang banting tulang menguliahkanmu. Jadi tolong sekali ini saja kamu kabulkan permintaan bapak!"


__ADS_2