Dua Penghianat

Dua Penghianat
bag. 3 seram


__ADS_3

Pov Ira


"Assalamualaikum...! assalamualaikum," ujar Kak Dali mengucapkan salam dari arah luar pintu gerbang.


Beberapa kali dia mengulangi, namun rumah Pak Farid Tak sedikitpun menunjukkan perubahan, rumah itu masih terlihat sepi dengan lampu yang menyala di teras rumah.


"Lagi pergi kali pak?" ujarku memberitahu.


"Pergi ke mana ya? tapi kalau beneran pergi, Mobilnya masih ada!"


"Kan istri Pak Farid bukan asli orang sini, mungkin sedang mudik memanfaatkan liburan ke kampung halamannya."


"Haduh....! Gawat, kalau beneran seperti itu Bagaimana dengan mobil saya?" keluh Kak Dali yang terlihat kebingungan.


"Emang Kakak nggak ada kunci serepnya?"


"Ada sih di rumah, tapi kalau kita ambil mobil ini, tanpa memberi terlebih dahulu. Nanti Pak Farid kebingungan,"


"Kasih tahu satpam saja, atau kalau enggak Kirim pesan singkat, pasti nanti juga dia akan membuka handphonenya," ujarku memberi saran.


"Iya bener juga...! berarti kita harus pulang dulu mengambil kuncinya," jawab Kak Dali membenarkan.


"Ya nggak harus pulang juga kali pak, suruh Bu Calista untuk mengantarkan kuncinya kesini. itu lebih menghemat waktu, daripada kita pulang pergi."


"Kasihan dia kan sedang hamil, kalau bepergian jauh Nanti takut kenapa-kenapa," jawabnya yang membuatku sedikit mendengus kesal, karena dia selalu mengistimewakan istrinya itu.


"Iya kan Kak Calista ke sini nggak jalan Pak, dia bisa menggunakan mobil, Lagian jadi istri Manja banget sih...!" gerutuku dengan sedikit kecewa.


"Sudah... kamu belum tahu rasanya bagaimana mempunyai anak, nanti kamu kalau sudah menikah dan mengandung, kamu akan merasakan bagaimana khawatirnya seorang suami terhadap istri yang sedang hamil."


"Terus bagaimana?"


"Iya jalan satu-satunya kita pulang dulu mengambil kunci serepnya!"


"Kalau pulang kelamaan di jalan Pak, yang ada bapak nggak bisa mengantar Pak Arfan untuk menemui kliennya."


"Terus kamu memiliki rencana yang lebih baik?"

__ADS_1


"Kalau istri bapak disuruh mengantar kunci mobil sampai ke depan rumah, kuat nggak?" Tanyaku menyindir.


"Maksudnya?"  jawab Kak Dali yang tak mengerti dengan ucapanku.


"Kalau kuat, dan kalau kakak tidak kasihan, mungkin masalahnya akan mudah."


"Maksudnya gimana sih, Coba jangan bertele-tele!"


"Pesan aja ojek online, untuk mengantar kunci mobil kakak, itu lebih menghemat waktu," jawabku menjelaskan.


"Cerdas....! Sebentar aku telepon istriku," ujarnya sambil mengambil handphone kemudian dia menekan tombol Panggil.


Tak terdengar pembicaraan Apa yang sedang mereka bicarakan, karena kak Dali yang selalu pelan berbicara dengan istrinya, membuatku hanya menatap penuh kekesalan, karena Kak Dali bertelepon dengan senyum-senyum penuh kebahagiaan.


"Bagaimana?" Tanyaku setelah terlihat Asisten Manager itu memutus telepon.


"Iya...! nanti dia kirimkan, sekarang kita bagai mana?" jawabnya balik bertanya.


"Ya kita tunggu ojek online mengantarkan kunci mobil Pak Dali!"


"Boleh tapi jangan nunggu di sini,"


"Di sana saja yuk...!" ujarnya sambil menunjuk ke taman yang berada di depan rumah Pak Farid, kebetulan di situ ada Kanopi lengkap dengan bangku panjang,mungkin biasa suka dijadikan tempat nongkrong warga-warga sekitar.


Aku dan kak Dali mendekat ke taman itu, kemudian kita mencari tempat yang paling sejuk untuk beristirahat, mataku terus memindai ke arah rumah Pak Farid yang terlihat menyeramkan, Entah kenapa hatiku berdegup ketika aku menatap rumah tua itu.


"Serem juga ya!" gumamku tiba-tiba.


"Apanya yang serem?" tanya Kak Dali sambil melirik ke arahku.


"Itu rumah Pak Farid, kayaknya serem banget, apa mungkin gara-gara rumah tua?"


"Nggak juga, lagian apa yang diseramkan. mungkin kamunya saja yang sedang melamun,"


"Ngelamunin apa Pak, dari tadi kita kan ngobrol," ujarku menepis sanggahannya.


Kak Dali tidak menjawab, Dia mengambil handphonenya. kemudian terlihat menulis pesan, sudut bibirnya mulai tersenyum senyum ketika membaca balasan pesan yang dia kirim.

__ADS_1


Merasa bosan menunggu kunci mobil yang diantar, aku pun bangkit kemudian berkeliling di taman, hingga duduk lagi Kak dali tetap masih terfokus dengan handphonenya, membuatku merasa bingung harus berbuat apa.


Aku menyandarkan tubuh kesadaran bangku yang berada di taman, mataku kembali terfokus ke arah rumah tua milik Pak Farid, karena pagar halamannya yang tidak terlalu tinggi sehingga aku bisa memindai seluruh area rumah itu. namun tiba-tiba jantungku terasa terhenti, Karena mataku melihat sosok wanita dengan kepala berlumuran darah  kepala itu terlihat sedikit miring seperti leher yang patah. aku mengucek kedua mata takut aku salah melihat, karena keadaan yang masih siang mana mungkin ada setan yang berani berkeliaran, namun setelah aku mengucek dan memfokuskan pandanganku, aku tetap melihat sosok wanita itu.


Aggrŕrrrhh!


Teriakku dengan kencang, membuat Kak Dali sedikit melompat, kemudian dia mendekat ke arahku yang sedang menutup wajah dengan kedua tangan, tak sanggup melihat wajah yang begitu menyeramkan.


"Kamu kenapa berteriak?" tanya Kak Dali.


"Ada hantu Kak....! ada hantu,"  jawabku sambil menunjuk ke arah rumah Pak Farid, dengan tetap menutup wajahku menggunakan tangan.


"Mana nggak ada apa-apa, Makanya sudah saya bilang, jangan sering ngelamun, akhirnya kamu berhalusinasi."


"Halusinasi Bagaimana Kak, aku benar-benar melihat jelas Ada sosok wanita yang kepalanya pecah, dengan berlumuran darah..!" jawabku dengan nada kesal, karena bukannya menenangkan malah menyalahkan.


"Mana nggak ada, Coba kamu lihat..! jangan ngumpet seperti itu."


"Dibilangin nggak percaya...!" jawabku sambil memalingkan wajah menatap ke arah wanita yang tadi berdiri, namun benar saja sekarang tidak ada. "ke mana ya perginya?" ujarku sambil celingukan mencari keberadaan sosok yang menyeramkan.


"Nggak ada kan, Makanya jangan ngelamun!"


"Benar juga ya...! Ke mana perginya hantu itu?" jawabku sambil melirik ke arah Kak Dali, Namun ketika menatap wajahnya tiba-tiba wajah itu berubah seketika, kepala Kak Dali terlihat pecah kemudian mengalirkan darah yang memenuhi seluruh kepalanya, jantungku terasa copot keringat dingin mulai membasahi tubuh.


Agrrrrh!


Teriakku dengan sekuat tenaga, mengalahkan teriakan yang tadi, mataku terpejam tidak mau melihat wajah yang begitu menyeramkan.


"Ira....! Ira....! bangun Ira....! Kamu kenapa?" terdengar suara Kak Dali sambil menepuk-nepuk pipiku, membuatku perlahan membuka mata.


"Kamu kenapa, kamu mimpi buruk ya?" tanya Kak dari sambil menatap penuh keheranan.


"Ke mana hantu yang wajahnya menyeramkan itu?" ujarku tak memperdulikan pertanyaannya.


"Maksudnya apa? kamu barusan mimpi apa."


"Aku takut kak....! aku takut banget...!" ujarku sambil memeluk tubuh Kak Dali, membenamkan wajahku di dada bidangnya. aku menangis jadi jadinya tak sanggup membayangkan kengerian yang baru saja aku alami, walaupun ternyata itu hanya mimpi namun kejadiannya terasa sangat nyata.

__ADS_1


Awalnya Kak Dali terdiam, namun lama-kelamaan terasa belaian lembut di rambutku membuatku sedikit merasa tenang.


"Ada apa kok berteriak-teriak segala... ganggu ketenangan orang saja," tanya salah seorang yang menghampiri mungkin aku berteriak memang sangat kencang.


__ADS_2