Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 17 Pertolangan


__ADS_3

POV Farid


Tanpa berbicara, aku pun mengambil botol air mineral itu, lalu meneguk beberapa tegukan, untuk meredakan nyeri yang terasa di sekujur tubuh.


Vina dan dali pun ikut Duduk di samping kiri dan kananku, sedangkan temannya Vina dia masih berdiri menatap heran ke arahku. orang-orang yang berkerumun mulai meninggalkan tempatĀ  kejadian, melanjutkan kembali aktivitas yang sempat tertunda karena ada keributan.


"Ke mana polisi itu?" Tanyaku yang merasa heran karena tidak ada polisi di situ, tadi hanya mendengar suara sirinenya.


"Kurang tahu pak! mungkin itu hanya mobil yang lewat, yang sedang berpatroli. Kenapa kejadiannya bisa seperti ini?" jawab Dali diakhiri dengan pertanyaan.


Vina yang duduk di sampingku, mulai menceritakan kejadian yang terjadi menimpaku. dari awal Dia mendapat tawaran bekerja sebagai SPG sampai detik itu, di mana Aku baru saja dikeroyok oleh masa. Vina bercerita tanpa sedikitpun yang terlewat, membuatku sedikit merasa malu dengan kondisi keuangan keluargaku yang sedang anjlok parah.


"Ya sudah, mending sekarang Pak Farid ke rumah sakit dulu, biar saya yang menanggung pembayarannya!"


"Nggak usah ngerepotin Pak Dali, saya nggak apa-apa kok!" jawabku dengan cepat karena tidak mau merepotkan orang lain lagi.


"Ada apa Yah?" tanya suara seorang wanita yang terdengar baru menghampiri, mataku menatap ke arah suara itu ternyata itu adalah Calista istri Dali.


"Biasa ada salah paham sedikit Bu, kenapa ibu turun?" Jawab Dali menjelaskan


"Pak Farid, ini Pak Farid kan? Kenapa mukanya lebam-lebam seperti itu," tanya Kalista sambil menatap ke arah wajahku.


Dali pun mulai bercerita sedikit, diambil Garis besarnya. kejadian yang menimpaku sehingga membuat wanita itu manggut-manggut seolah mengerti dengan apa yang disampaikan oleh suaminya.


"Sudah mendingan kita bawa ke rumah sakit terlebih dahulu, takut ada luka dalam yang tidak terlihat," ujar Calista memperkuat ajakan suaminya.


"Yah, kamu ke rumah sakit aja dulu Rid! benar apa yang dibicarakan oleh ibu Calista, nanti kamu ada luka dalam," pinta Vina sambil menggenggam tanganku.


"Ya sudah, ayo....!" ajak Dali sambil memegang lenganku untuk bangkit.


AKu yang kalah jumlah, ketika berdebat dengan mereka. dengan terpaksa aku mengikuti ketiga orang itu, masuk ke dalam salah satu mobil yang terparkir didekat trotoar.


"Tolong bayarin air mineral dulu Bu!" Pinta dali sambil melirik ke arah Calista yang berjalan di sampingnya.


Dengan Cepat Calista pun kembali, lalu bertanya harga air mineral yang tadi diberikan kepadaku. setelah mengetahui dia pun membayarnya.

__ADS_1


Dali membawaku mendekat ke arah mobilnya, Aku duduk di kursi paling depan, sedangkan istriku dan istri Dali mereka duduk di kursi belakang.


Tanpa ada perkataan terlebih dahulu, Dali mulai menyalakan mobilnya kemudian dia menginjak gas pergi meninggalkan tempat pengeroyokan.


"Motorku Bagaimana?" Tanyaku yang baru sadar ketika melewati motor yang terparkir di pinggir trotoar.


"Nanti setelah dari rumah sakit, kita ke sini lagi untuk mengambil motor bapak, sekarang Bapak tenang aja, jangan banyak pikiran!" jawab Dali matanya masih tetap terfokus menatap ke arah jalan.


"Kenapa Bapak kok bisa sampai di tempat ini?" Tanyaku yang merasa heran kenapa asisten sahabatku tiba-tiba berada di tempat kejadian.


"Biasa Pak...! kalau hari Minggu istri saya ingin jalan-jalan, jadi Saya memutuskan untuk mengelilingi kota Jakarta. tadi ketika melewati area sini Saya melihat ibu Vina sedang berteriak-teriak meminta tolong. istri saya yang mengenali beliau pun meminta saya untuk berhenti, dan ternyata bapak sedang dipukuli, beruntung saja tadi ada suara serine mobil polisi, hingga para preman itu tidak melanjutkan niatnya." jelas Dali panjang lebar.


"Terima kasih banyak Pak! Terima kasih! saya hanya bisa merepotkan bapak Terus, entah kapan saya bisa membalas kebaikan bapak."


"Ah......! ini nggak seberapa Pak, ini hanya Pertolongan Allah yang diantarakan kepada saya. sudah bapak jangan banyak berbicara, mending Bapak istirahat." pinta Dali sambil tetap fokus menatap ke arah jalan.


Tak lama di perjalanan, karena dari dekat kejadian ada klinik yang buka 24 jam. Dali pun membelokkan kemudi masuk ke parkiran klinik itu.


Setelah mobilnya terparkir dengan sempurna. Dali dengan cepat keluar dari mobilnya untuk membukakan pintuku. Meski aku tidak enak menerima kebaikannya, namun terlihat dali begitu ikhlas menolongku.


"Nggak usah ngerepotin Pak! saya nggak enak," ujarku sambil menundukkan pandangan, kejadian masa lalu mulai terputar kembali di memori otakku.


"Nggak papa kan, kalau pakai kursi roda. apa saya ambilkan ranjang transfer?" tawar dali tanpa memperdulikan perkataanku.


"Aku nggak sakit pak! ini cuma lebam-lebam sedikit."


"Nggak sakit bagaimana, itu pelipis Bapak mengeluarkan darah, ayo...!" ajak Dali sambil menarik tubuhku dari kursi membantuku keluar dari mobil, lalu dia membantuku duduk di atas kursi roda.


Dali Tak sedikitpun terlihat canggung menolongku, tanpa mengingat Kejadian beberapa tahun yang lalu, dia terus mendorong kursi roda yang aku duduki. Vina dan Calista mereka mengikuti di belakang.


Sesampainya di dalam, kebetulan dokter yang jaga sedang stand by. maka dengan cepat aku pun diperiksa, kemudian luka-luka yang ada di wajah dan ditubuhku mulai dibersihkan untuk diobati.


"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Dali yang berdiri di samping ranjang.


"Kayaknya gak terlalu parah Pak, ini hanya lebam-lebam biasa. mungkin 2 sampai 3 hari bisa sembuh kembali."

__ADS_1


"Terima kasih kalau seperti itu! Semoga aja Pak Farid cepat sembuh." ujar Dali yang terlihat raut wajah bahagia karena tidak sampai terjadi sesuatu yang buruk terhadapku.


"Masih ada yang sakit pak!" tanya dokter itu setelah memperban pelipis yang sobek.


"Nggak ada Pak! Alhamdulillah nggak ada," jawabku sambil menggerak-gerakan tubuh untuk merasakan bagian mana yang masih terasa nyeri, tapi setelah aku gerak-gerakkan tidak ada yang terlalu begitu sakit.


"Syukurlah kalau begitu, ini resep antibiotik untuk meredakan nyeri, kalau memar mungkin 2 sampai 3 hari bisa sembuh," ujar dokter sambil menuliskan resep-resep obat yang harus aku beli.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan, aku dan dali meminta izin untuk pulang ke rumah. setelah berpamitan kita pun keluar dari ruang pemeriksaan, terlihat istriku dan Calista sedang bercengkrama banyak, seperti sedang membicarakan sesuatu yang sangat mengasyikkan.


"Bagaimana keadaanmu sayang?" Tanya vina yang terperanjat bangkit kemudian menghampiriku.


"Alhamdulillah nggak ada luka yang berat, cuma memar saja." jawab Dali membantu.


"Syukurlah kalau begitu, Kamu sih kalau bertindak itu tidak dipikir terlebih dahulu, sehingga kejadiannya seperti ini." gerutu Vina yang terlihat menatap kesal ke arahku.


"Sudah....! sudah....! jangan di perpanjang, yang terjadi sudah terjadi. jadikan pelajaran buat kedepannya," sanggah Dali memotong menghentikan peperangan yang terlihat mau meledak.


"Sekali lagi Terima kasih Pak Dali, bu caliista. telah membantu keluarga kami, yang sedang kesusahan."


"Sudah jangan panggil saya bapak, Panggil Dali saja!"


"Iya Bu Vina panggil saya Calista aja, jangan pakai embel-embel ibu, agak risih tau mendengarnya." Timpal calis ta sambil mengulum senyum.


"Sekali lagi terima kasih Pak dali," ucapku yang tak tahu harus berkata apa lagi, akhirnya aku mengulang perkataan istriku.


"Panggil Dali aja!"


"Terima kasih Pak! eh dal."


"Ya sudah, ayo Mari saya antar pulang!" tawar Dali sambil meregangkan tangan mempersilahkanku untuk berjalan.


"Sudah pak kami pulang sendiri saja, Bapak kan sedang jalan-jalan. Lagian dari klinik ke tempat parkir motor tidak begitu jauh, kita bisa jalan kaki," tolakku yang merasa tidak enak terus merepotkannya.


"Emang nggak apa-apa kalau jalan kaki?" tanya Calista.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, kita sudah biasa jalan kok," jawabku sambil mengulum senyum menyembunyikan kegetiran yang ada di dalam hati.


__ADS_2