
Pov Arfan
"Ya sudah, kalau kamu mengerti! berarti kamu tahu harus melakukan apa?" ujarku sambil menatap serius ke arahnya.
"Melakukan apa?" tanya Karla sambil mengurutkan dahi.
"Kamu harus tanggung jawab!"
"Kenapa gua yang harus tanggung jawab! Kan, mereka yang melakukan. masa iya, mereka yang menikmati, gua yang harus bertanggung jawab."
"Karena kamu yang memberikan saran sama Ratna dan mengompori Mukti agar mereka bersatu. ingat kalau kamu nggak jujur sama Mukti, kamu adalah orang yang akan paling disalahkan, ketika suatu saat terjadi sesuatu dengan rumah tangga mereka."
"Laaah, kenapa kok seperti itu, kan si Ratna yang menjalanin, yang menggoda, yang menarik Mukti, agar jatuh ke pelukannya. aku hanya memberikan saran."
"Ya justru saranmu yang membuat Ratna melakukan hal itu. bayangin! kalau kamu ada di posisi Mukti yang tidak tahu apa-apa, namun dia harus bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak ia perbuat."
Mendengar penuturanku seperti itu, Karla pun terdiam seketika. seolah lagi mencerna apa yang aku sampaikan.
"Berani berbuat, harus berani bertanggung jawab. mumpung ini belum berlanjut. sekarang aku mohon pamit untuk menyelesaikan masalahku dengan mantan istri." ujarku sambil bangkit dari tempat duduk. tak ada penolakan atau ucapan yang keluar dari mulut Karla, dia hanya terdiam, terduduk dan tertunduk.
Aku yang merasa masih banyak urusan, dengan cepat meninggalkan ruangan kantor supervisor ku. Bergegas menuju ke luar kantor. setelah berada di luar Aku penasaran dengan kinerja asisten kepercayaanku. Dengan cepat mengambil handphone pemberian dari Karla untuk menghubungi dali.
"Halo Pak Arfan! baru saja Saya mau menghubungi bapak." jawab dali Setelah telepon itu terhubung.
"Bagaimana perkembangan Project perusahaan kita?" Tanyaku yang tidak mau berbasa-basi.
"Alhamdulillah semuanya ada dalam kelancaran pak. saham Pak Waskito di perusahaan Erni Group, tinggal tahap pembayaran. investor yang mau membeli, tinggal dia menunggu konfirmasi dari Bu Erni."
"Kenapa kok bisa? kamu beranggapan itu lancar, sedangkan pembeli saham mau ketemu dulu dengan Erni, nanti bisa-bisa dia menggagalkan pembelian saham kita."
"Tenang Pak! Kenapa Saya jamin seperti itu, karena pembeli saham kita, adalah mantan Bos Bu Erni ketika bekerja di perusahaan lama, saya yakin negosiasi akan sangat lancar. Karena komunikasi mereka sudah terjalin lama."
__ADS_1
"Baik, aku percayakan semuanya kepadamu, terus apalagi?" tanyaku yang tidak mau ambil pusing.
"Nanti siang jam 02.00, Bapak harus datang ke restoran untuk bertemu dengan para karyawan yang sudah resign dari kantor Erni group, seperti yang kita sudah bahas dulu, Mereka ingin mendengar visi misi perusahaan baru bapak."
"Terus?"
"Mungkin untuk sekarang laporan cukup seperti itu, Nanti ketika ada perkembangan baru, saya akan segera melaporkannya ke bapak!"
"Terima kasih atas semua bantuanmu, Semoga apa yang kita rencanakan berjalan dengan lancar."
"Amin!"
Setelah telepon itu terputus, aku memasukkan kembali handphone ke dalam kantong celana. Kemudian menatap ke arah depan memikirkan tentang Rencanaku kedepannya. Lama termenung akhirnya kakiku mulai melangkah meninggalkan perusahaan ibu. Ketika aku melewati pintu gerbang, terlihat mobil ibu yang baru datang. namun aku tak menghiraukannya, aku terus berjalan menuju ke arah halte.
Tak menunggu berapa lama, terlihat ada mobil berwarna biru yang lampu atasnya mati. Dengan cepat aku mengangkat tanganku untuk menghentikannya. setelah mobil itu berhenti, aku masuk ke dalam dan menyebutkan arah tujuanku.
Mobil Taksi melaju dengan kecepatan sedang, menyusuri jalan Raya membelah terik matahari, yang lumayan sedikit menyengat. Tak diceritakan lamanya di perjalanan akhirnya mobil itu terhenti di salah satu lobi kantor.
"Terima kasih Pak!" ujarku setelah mendapat kembalian dari Sopir.
Memori Otaku memutar kembali, ke saat-saat di mana aku Setiap hari mendatangi kantor ini, untuk bekerja mencari kehidupan buat keluarga kecilku, yang sekarang tinggal kenangan kebahagiaannya.
"Selamat siang Pak Arfan, Bagaimana sehat!" sapa seseorang yang menghampiriku.
"Eh pak Wardi! Alhamdulillah sehat pak." Jawabku yang terkejut karena lamunanku terganggu, namun aku menutupinya dengan Seuntai senyum yang kulukis di bibir.
"Ini beneran Pak Arfan kan?" tanya Wardi memastikan.
"Iya ini saya! kenapa emang Pak?" Aku balik bertanya pura-pura nggak tahu.
"Nggak apa-apa, Maaf kok pakaian Bapak sekarang seperti ini?"
__ADS_1
"Namanya kehidupan Pak, kadang di atas, kadang juga di bawah. Oh iya, saya mau bertemu dengan Bu Erni, apa beliau sudah datang?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan tidak mau berlarut membahas tentang kehidupanku.
"Sudah Pak! pagi-pagi beliau sudah datang, Mungkin sekarang ada di ruangannya. perlu saya antar" tawar Wardi.
"Terima kasih! tapi nggak usah repot-repot, Ya sudah saya pamit dulu." ujarku sambil melangkahkan kaki meninggalkan satpam gedung perusahaan.
Setelah masuk ke lobby kantor, Aku menuju ke ruang resepsionis, untuk memberitahu maksud dan tujuanku mendatangi kantor Erni Group. Sesampainya di resepsionis aku meminta bantuan sama penjaga untuk menghubungi Erni, sebenarnya aku nggak harus seperti ini Namun walau Bagaimanapun aku harus beretika, ketika bertamu ke kantor orang.
"Ada Pak Arfan, ingin bertemu ibu!" ujar resepsionis sambil menempelkan gagang telepon di telinganya. Mungkin dia sedang memberitahu mantan istriku. Namun sayang aku tidak bisa mendengar balasan pembicaraan di ujung telepon sana.
"Serius bu!"
"Baik Bu!" Jawab resepsionis sambil meletakkan kembali gagang telepon yang ia genggam.
"Pak Arfan, Bu Erni menyuruh bapak langsung naik ke lantai atas, ke ruangan bapak dulu!" jelas resepsionis itu menyampaikan perintah atasannya.
"Baik terima kasih!" Jawabku sambil manggut memberi hormat, membuat para karyawan itu menatap heran, dengan apa yang aku lakukan. karena mungkin dulu aku tidak pernah berbuat seperti ini.
Aku segera melangkahkan kaki menuju lift. Untuk naik ke lantai atas, di mana ruangan Erni berada. Tidak susah Aku mencari ruangannya. walaupun sudah ada perubahan, namun aku masih hafal jalan menuju ruanganku dulu.
Truk! truk! Truk!
Aku mengetuk pintu setelah berada tepat di hadapan ruangan Erni, tak menunggu lama Pintu itupun terbuka, lalu keluar Erni sambil mengulum senyum. Wanginya yang khas memenuhi rongga hidungku, Membawaku Kembali ke masa-masa indah ketika aku masih bersamanya. Rambutnya yang lurus tergerai dengan sempurna, memperlihatkan leher jenjangnya. Ditambah dengan jas berwarna krem yang sedikit menunjukkan belahan dada.
"Aku yakin, kamu akan kembali lagi ke pelukanku." sambutnya sambil menarik tanganku masuk ke dalam, tak lupa dia penutup kembali pintu ruangannya.
"Aku ke sini bukan untuk kembali masuk ke lobang yang sama, namun aku ingin membahas perlakuanmu terhadap Karla." jawabku sambil menghempaskan genggaman tangannya yang ada di pergelanganku.
"Aku kangen sama kamu! Aku rindu sama kamu! Maafkan Aku." ujar wanita penghianat itu sambil memeluk tubuhku dengan begitu erat.
"Lepaskan! tubuhmu tak pantas menyentuh tubuhku."
__ADS_1
"Maafkan Aku! aku hanyalah wanita bodoh yang tak mengerti tentang arti kesetiaan, tolong ajari aku semua itu, jangan Tinggalkan Aku Lagi, aku mohon!" Jawab Erni dengan suara sedikit parau.
Perlahan aku lepaskan pelukan tangannya yang melingkar di Pinggangku, namun dia tetap menahan pelukannya. "Tolong maafkan aku! kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau, kamu boleh mengajariku tentang apa yang kamu inginkan, asal jangan tentang bagaimana aku hidup tanpamu. tolong maafkan aku! Aku janji! aku akan memperbaiki semuanya." Lanjut Erni masih tersendu.