Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 113 Mencari


__ADS_3

Pov Arfan


"Halo! Bagaimana Bu?" Tanyaku yang sudah tidak sabar, Setelah telepon itu terhubung.


"Sebentar! Pak Sandi lagi menuju ke sana. Oh iya emang kenapa Karla belum pulang?"


"Nggak tahu Bu! makanya Arfan sedang mencari kebenarannya."


"Ya sudah kamu cari dulu! nanti tolong kabarin ibu! biar Ibu mudah membantunya."


"Terima kasih Bu!"


Akhirnya telepon itu terputus kembali, aku menunggu di dekat mobil, karena ketika mau masuk ke dalam kantor satpam Penjaga melarangku.


Tak lama menunggu, terlihat ada motor Yang menghampiri, kemudian pengemudinya turun lalu manggut menyapaku.


"Ini pak! Dari tadi orang ini rusuh terus, dia memaksa masuk ke dalam." adu satpam penjaga sama Pak Sandi yang baru datang.


Plak!


Satu tamparan mengenai wajah satpam yang bertanya. "Kamu tahu beliau ini siapa?" tanya Pak Sandi sambil menatap tajam bawahannya.


Satpam yang ditampar, hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban ketidaktahuannya. "asal kamu tahu! pak Arfan ini, adalah anaknya Ibu Aisyah pemilik perusahaan Atri group. kenapa kamu bikin susah aja!" Gerutu Pak Sandi sambil mengangkat tangannya, hendak menampar kembali satpam itu.


"Udah Pak! sudah! saya sangat butuh bantuan, Bapak tolong bantu saya!" tahanku memisahkan mereka, membuat emosi Pak Sandi sedikit mereda.


"Bantuan apa Pak Arfan?" tanya Pak Sandi yang belum mengerti.


"Hari ini! Bapak melihat Karla?"


"Melihat Pak! bahkan tadi pagi saja dia menemui saya di ruang kontrol CCTV, karena beliau merasa heran dengan perubahan ruangan kerjanya, terlihat bersih dan rapi. ternyata setelah diselidiki yang membersihkan ruangannya, adalah bapak sendiri. emang kenapa Pak?" Jawab Pak Sandi membalikkan dengan pertanyaan.


"Karla hilang Pak! setelah itu apa Bapak melihatnya lagi."


"Melihat pak! bahkan tadi kira-kira pukul 16.00 dia pun menyapa saya, ketika dia mau pulang. Oh ya, bu Karla hilang ke mana?"


"Kurang tahu Pak! saya juga lagi mencarinya."


"Begini aja Pak! kita lihat CCTV Ke mana arah perginya bu Karla. agar kita mah udah menentukan arah pencariannya." jawab Pak Sandi memberikan ide.


"Iya Pak!" jawabku yang sudah bingung harus berbuat apa lagi.


Akhirnya Kami bertiga pun masuk ke dalam ruangan kontrol CCTV, untuk mencari tahu Ke mana perginya Karla. setelah berada di ruangan kantor, Pak Sandi pun mulai mengotak-atik layar komputernya. kemudian terlihat dipukul 16 lebih 5 menit,  Karla yang keluar dari kantor kemudian menyapa Pak Sandi, sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh satpam. Lalu dia pergi ke arah menuju rumahnya.


"Bagaimana?" tanya Pak Umar sambil menatap ke arahku.

__ADS_1


"Kita susuri jalan menuju rumah Bu Karla, Siapa tahu saja ada orang yang melihat, dan kita mendapat petunjuk." jawab Pak Sandi sambil bangkit dari tempat duduknya.


Aku yang merasa tidak mempunyai ide, akhirnya setuju dengan apa yang disarankan oleh Pak Sandi. akhirnya kita bertiga pun kembali ke halaman kantor Atri group, langsung menuju keluar gerbang, untuk menyusuri jalan yang suka dilalui oleh Karla.


"Pak Sandi, Tolong Pak Sandi susur Jalan sebelah kanan, sedangkan Saya dan Pak Umar akan menyusuri jalan yang sebelah kiri. siapa tahu aja Karla menyeberang dari sini." ujarku membagi tugas.


Mendapat perintahku Pak Sandi pun mengangguk, kemudian dia menyeberang ke sebelah kanan. lalu bertanya ke penjual yang berada di sekitar bahu jalan, sedangkan aku dan Pak Umar melakukan hal yang sama, bertanya sama semua orang yang kita lalui. Namun sayang setiap kali orang yang ditanya, mereka menjawab tidak tahu. membuat Pak Umar semakin terlihat khawatir, hingga akhirnya penelusuran jalan Itu sampai ke gang masuk ke rumah Karla. Akhirnya kita bertiga pun berkumpul kembali, untuk membicarakan langkah selanjutnya.


"Bagaimana?" tanya aku sama Pak Sandi.


"Nggak ada Pak! nggak ada yang tahu tentang keberadaan bu Karla."


"Ke mana kamu Karla?" gumam Pak Umar yang terdengar suara nafasnya yang sangat berat, menandakan kesedihan yang tak bisa diungkapkan.


"Terus sekarang bagaimana?" tanya Pak Sandi sambil menatap ke arahku.


Tolong bapak ajak semua satpam untuk mencari keberadaan Karla di sekitar sini. saya akan coba menyusuri berlawanan arah. dan Pak Umar pulang aja! Biarkan saya yang mencari keberadaan Karla." seruku membagi tugas agar mudah mencarinya.


"Nggak! bapak nggak akan pulang! sebelum Karla ketemu." jawab Pak Umar dengan tegas.


"Mau ikut saya, apa ikut Pak Sandi?" tanyaku sama Pak Umar.


"Saya mencari di sekitar sini saja! Siapa tahu saja ada petunjuk."


"Ya sudah kalau seperti itu, saya akan kembali untuk menyusuri jalan yang lainnya."


"Ada apa Pak?" tanya Dali di ujung telepon.


"Karla hilang dal!"


"Kok bisa?"


Aku pun menceritakan kejadian yang menimpa keluarga Pak Umar, dari awal sampai akhir, tak ada yang terlewat. agar dali mengerti. "sekarang temui saya di kantor Atri group! kamu bantu saya mencari Karla!" pintaku sama Dali setelah selesai menceritakan kronologinya.


"Baik Pak!" jawab Dali sambil memutus telepon. setelah panggilan itu terputus, aku melanjutkan kembali perjalananku menuju Atri Group. Sesampainya di kantor Atri group, terlihat dali yang menghampiri, Mungkin dia mengebut hingga dia bisa sampai ke tempat duluan.


"Apa jangan-jangan!" ujar Dali tiba-tiba.


"Jangan-jangan apa dal?" Tanyaku sambil mengerutkan dahi.


"Apa jangan-jangan, maaf! Bu Karla diculik oleh Bu Erni."


"Untuk apa?"


"Kurang tahu kalau untuk apanya, namun feeling saya mengatakan seperti itu." jawab Dali memberi alasan.

__ADS_1


"Tapi Dal! Setahu saya Si Erni. Semenjak dia menikah dengan Farid dia tidak pernah mengganggu kehidupanku lagi."


"Tapi apa salahnya mencoba bertanya langsung sama Bu Erni. bapak ingat kejadian dulu ketika beliau mengancam Bu Karla?" jelas Dali mengingatkanku ke kejadian di mana penyamaranku terbongkar oleh Karla. Itu gara-gara Erni yang menemui Karla secara diam-diam.


Otaku yang tak bisa berpikir, karena kepanikan sedang melanda. Akhirnya aku setuju mengikuti saran dali. "Ya sudah, ayo kita datangi rumah si Erni." jawabku sambil menghela nafas, karena kalau tidak ada masalah seperti ini, rasanya sangat malas Bertemu dengan wanita penghianat itu.


"Pakai motor aja ya pak! biar cepat. Soalnya Lumayan macet." Pinta Dali memberikan saran.


"Baik! yang penting kita bisa sampai ke tujuan dengan selamat."


Akhirnya kita berdua pun berangkat, menuju ke rumah Erni dengan mengendarai motor. Tak diceritakan lamanya di perjalanan, akhirnya aku dan Dali sampai di rumah yang dulu aku buat untuk keluarga kecil kita. jantungku terasa berdegup kencang, mengingat kembali kenangan-kenangan buruk bersama mantan istriku.


"Selamat malam Pak!" sapa Dali sama Satpam Penjaga.


"Iya ada yang bisa saya bantu?" Tanya satpam rumah Erni dengan ramah.


"Bu erninya ada?"


"Ada! Maaf bapak siapa dan ada keperluan apa?" introgasi satpam itu.


"Saya Dali! dan ini Pak Arfan atasan saya! kita berdua mau menemui Bu Erni."


"Sudah membuat janji?"


"Belum pak!"


"Kalau belum saya tidak bisa membiarkan kalian berdua untuk masuk ke dalam. Saya takut kena omel majikan saya."


"Tolonglah Pak! Tolong bantu saya agar bisa menemui Bu Erni." pinta dali memohon.


"Sebentar saya tanya dulu sama orangnya. takut kena omel kalau saya bertindak tidak sesuai dengan arahan." jawab satpam itu.


"Terima kasih banyak Pak! terima kasih!" ujar dali menunjukkan raut penuh bahagia.


Satpam itu terlihat mengeluarkan handphonenya, kemudian dia memijat salah satu nomor untuk menghubungi. Setelah telepon itu terhubung terdengar ada suara seorang wanita yang bertanya, karena satpam itu meloadspeaker-kan panggilannya.


"Ini Bu, ada tamu! namanya Pak Dali sama Pak Arfan, mereka ingin menemui ibu.?"


"Mau apa?" tanya Erni yang terdengar dari ujung telepon.


"Kurang tahu Bu? Karena saya belum bertanya."


"Tanya dulu keperluannya apa? Kalau tidak penting saya lagi sibuk."


"Ada bisnis!" jawabku dengan sedikit kencang, agar suaraku terdengar oleh Erni.

__ADS_1


"Wah! bisnis apa? kalau masalah bisnis, biarkan mereka masuk." seru Erni sambil memutus teleponnya.


__ADS_2