
Pov Arfan
"Halo! ada apa dal?" tanyaku Setelah telepon itu terhubung.
"Saya mau menyampaikan laporan bahwa Pak David orang yang membeli saham kita, sekarang beliau sudah membayar semuanya, terus bagaimana sekarang?" tanya Dali di ujung telepon sana.
"Kamu sudah dapat tempat yang pas untuk kantor kita?"
"Sudah Pak! kemarin-kemarin kan saya sudah sampaikan bahwa tepat untuk kantor kita sudah siap, tinggal kita membayarnya."
"Kita sesuai dengan rencana awal. kamu persiapkan semua alat-alat kantor yang kita butuhkan, agar hari Senin kantor kita sudah bisa dibuka." Aku memberikan perintah.
"Baik Pak, terima kasih!"
"Oh iya surat-surat izin sudah kamu urus?"
"Semuanya sudah Pak! kita tinggal menyiapkan alat-alat kantor saja."
"Oke! terima kasih."
"Baik Pak! saya hanya mau menyampaikan laporan itu, satu lagi kondisi Pak Wardi, beliau baik-baik saja! Walaupun ada sedikit memar namun beliau masih bekerja di perusahaan Erni Group."
"Syukurlah, kalau begitu! aku tidak khawatir lagi. Ya sudah selamat bekerja!" jawabku sambil memutus panggilan.
Setelah telepon itu tak terhubung, aku pun menatap handphone yang sangat lucu, kemudian tersenyum mengingat orang yang mengasihnya. "semoga handphone ini membawa keberuntungan!" Gumamku Sambil memasukkan handphone itu ke dalam kantong celana.
Hari-hari berikutnya, aku disibukkan dengan mempersiapkan kebutuhan kantorku, tanpa memikirkan hal yang lain. karena Mukti sudah menerima dengan apa yang sudah menjadi jalan hidupnya. sedangkan Erni setelah aku memberikan ancaman, agar jangan mengganggu kehidupan Karla dia pun menurut, dan sampai saat ini aku belum pernah bertemu dengan mantan istriku. mungkin dia sedang fokus mempersiapkan acara pernikahannya dengan Farid.
Dua hari setelah perusahaan Mandiri Group dibuka. ke kantorku ada yang datang, seseorang klien yang meminta membuatkan desain apartemen. dengan cepat aku dan para karyawan bekerja, agar klien pertama kita tidak merasa kecewa. hingga dua hari berlalu pekerjaan itu sudah selesai dikerjakan. setelah aku serahkan sama klien Pertamaku mereka pun merasa puas, dan memutuskan untuk memakai jasa kami dalam pembangunannya.
Aku terus berusaha meningkatkan hasil kinerja perusahaan Mandiri. dengan bantuan para karyawan yang sangat Royal dan militan, hingga perusahaan itu, Walaupun kecil sudah mulai bangkit dan mulai dikenal oleh orang-orang properti.
Waktu pun terasa singkat, hingga akhirnya 6 bulan pun berlalu. rutinitasku setiap hari, pagi-pagi berangkat ke kantor, malam ke rumah pak Umar untuk belajar ngaji dan belajar salat. sedangkan kalau tidur Sekarang aku pulang ke rumah ibu.
Aku dan Karla semakin dekat, namun aku belum bisa menyimpulkan hubungan apa dengan kedekatan itu. Karla dari dulu sampai sekarang sifatnya tidak berubah, dia sangat menyebalkan. sedangkan Saipul dia sudah tidak mempedulikan lagi tentang hubunganku dan Karla sekarang dia lebih menerima dengan apa yang menimpanya.
Satu hari ketika aku sudah berada di ruanganku, terlihat Dali menghampiri, hendak menyampaikan hasil kinerja para karyawan.
__ADS_1
"Oh iya, pak! ada tender baru." ujar Dali setelah menyampaikan semua laporannya.
"Tender apa?" Tanyaku penuh rasa penasaran.
"Tender pembangunan proyek pembuatan apartemen 100 lantai, pihak penyelenggara telah mengirimkan surat pernyataan resminya." jelas Dali menyerahkan berkas yang dibawanya, untuk melengkapi apa yang ia sampaikan.
"Siapa aja yang ikut?" tanyaku yang mulai tertarik.
"Menurut data yang saya selidiki, yang diundang untuk mengikuti tender pembuatan apartemen ada 10 perusahaan, dan Perusahaan kita yang paling kecil, karena kita baru mulai beberapa bulan saja."
"Kenapa mereka mengundang kita, padahal masih banyak perusahaan perusahaan properti yang lebih besar daripada kita?"
"Karena pihak penyelenggara itu, adalah Pak Bagas. bapak masih ingat ketika kita menangani proyek wisata diluar kota?" ujar Dali membalikkan pertanyaan.
"Yah!" jawabku yang kembali mengingat kejadian setahun yang lalu, di mana Aku pulang dari luar kota mendapati istriku sedang berada di atas tubuh orang lain.
"Maaf Pak!" ujar Dali yang mungkin paham dengan perubahan sikapku.
"Nggak apa-apa! terus Bagaimana peluang Perusahaan kita?" aku bertanya kembali ke pokok perbincangan.
"Tipis Pak! namun menurut hemat saya, itu tidak menjadi masalah ketika kita mengikuti tender, minimal walaupun kita tidak berhasil mendapatkan, Perusahaan kita bisa lebih dikenal oleh orang lain, itung-itung promosi gratis."
"Apa semua proyek yang kita tangani, bisa di handle ketika kita mengikuti tender?" Tanyaku setelah terdiam agak lama.
"Seperti yang Bapak ketahui proyek-proyek yang kita tangani sekarang, hanya proyek-proyek kecil, hanya pembangunan rumah. kita baru sekali mendapatkan proyek apartemen, itu pun hanya 10 lantai. kita harus mencoba untuk mengikuti, tender ini, karena kalau kita bisa memenangkan proyek ini walaupun itu sangat kecil. kemungkinannya itu bisa mendongkrak keuangan dan popularitas Perusahaan kita."
"Kapan dimulainya?"
"Mulai hari ini! karena menurut data yang saya pelajari, tender ini dimulai setelah berkas ini diterima oleh perusahaan yang diundang.
"Sampai kapan?"
"Dua minggu ke depan kita harus sudah mulai menyerahkan hasil kinerja kita. seminggu berikutnya Kita diundang untuk pengumuman Siapa yang mendapatkan tender."
"Coba Terangkan apa saja yang sudah kamu pelajari!" Pintaku sambil menyerahkan kembali berkas yang tadi dia serahkan.
Dali pun mulai menjelaskan pokok-pokok permasalahan dari tender yang hendak kita garap, dan menunjukkan satu persatu berkas tentang keabsahan standar tender. mulai dari undangan, instruksi kepada para peserta, syarat-syarat data pemilihan, syarat-syarat yang harus dipenuhi dan dokumen-dokumen lain yang berhubungan dengan kontrak kerja.
__ADS_1
"Oke kalau seperti itu, nanti setelah makan siang kita kumpulkan semua karyawan untuk mendiskusikan tender. kita bahas dulu kemungkinan-kemungkinan apa yang akan kita dapat ketika kita mengikuti." jawabku memberi kesimpulan setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Dali.
"Baik Pak! kalau seperti itu saya pamit dulu." jawab Dali yang bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia kembali ke ruangan kerjanya.
Sepeninggalnya Dali, aku sandarkan tubuhku di kursi kantor, sambil menatap ke arah luar jendela. memutar kembali pikiranku ke masa lalu, masa-masa kelam yang pernah aku lalui. merasa bosan dengan apa yang harus dilakukan, aku mengambil handphone polyponik berwarna pink, yang dari tadi aku simpan di atas meja.
Setelah lama memperhatikan, dan memainkan menu yang hanya itu-itu saja. akhirnya aku menuju ke menu telepon lalu memanggil salah satu nomor yang ada di kontakku.
"Apaan sih, lu nelpon-nelpon? gua lagi kerja!" bentak orang yang aku telepon, seperti biasa dia sangat menyebalkan.
"Kerja melulu, kaya kaga?"
"Biarin suka-suka! lagian kan nggak ngerepotin lu." jawab Karla di ujung telepon sana.
"Makan yuk!" ajakku tak memperdulikan kekesalannya.
"Nggak! gua lagi kerja. ini bukan waktunya makan. Lagian Heran apa Otak lu hanya dipenuhi dengan makanan? Tiap hari yang diomongin makan aja.
"Ya sudah kalau begitu, nanti sore aku jemput pakai mobil, kamu belum pernah kan naik mobil?" ujarku meledeknya.
"Sombong amat! baru punya mobil kredit juga."
"Nggak apa-apa! sombong sama orang sombong, kata Pak Umar sedekah."
"Sudahlah enggak usah gangguuuuu! gua lagi kerja nih."
"kalau ganggu, Kenapa gak dimatiin? kamu Masih betah ya ngobrol dengan pria ganteng." jawabku sambil mengulum senyum, mengobrol dengan Karla sedikit mengusir rasa bosan.
Tap! tap! tap!
Telepon itu terputus, namun dengan segera aku memanggil kembali." mau ngapain lagi sih?" tanya Karla yang terdengar kesal.
"Jadi gimana, nanti sore mau nggak makan?"
"gimana nanti aja." jawabnya sambil memutus telepon kembali, membuatku hanya menggaruk-garuk kepala yang tak terasa gatal. karena sudah hampir 6 bulan lebih, aku belum masih mengerti dengan perilaku anehnya.
Setelah makan siang, seperti yang sudah direncanakan aku mengumpulkan semua stafku, untuk membahas tender yang akan kita ikuti. Pertemuan itu sangat alot membahas tentang resiko yang akan kita dapat ketika kita memberanikan diri mengikuti tender Pak Bagas. namun setelah berdiskusi sekian lama, akhirnya keputusan itu diambil. Perusahaan kita akan mengikuti tender, dengan menerima segala kemungkinan.
__ADS_1
Pukul 16.00, setelah melaksanakan salat berjamaah bersama para karyawan. karena semenjak aku mengenal keluarga Pak Umar aku mementingkan kewajibanku sebagai seorang muslim, meski belum bisa sempurna minimal aku sudah mengerjakannya.
Aku sudah bersiap-siap untuk pulang, mengingat di kantor pekerjaanku sudah selesai, karena pengerjaan proyek tender akan kita mulai Keesokan paginya. Aku berjalan menuruni anak tangga, karena bangunan tempat perusahaanku hanya bangunan kecil, jadi tidak memiliki lift seperti perusahaan Erni Group.