
Pov Erni
"Maaf bu! saya sudah sarapan tadi di rumah." Jawab Ari sambil tetap menundukkan pandangan.
"Sarapan apa?"
"Nasi uduk Bu! kebetulan tetangga saya ada yang berjualan uduk sangat enak sekali!" jawab Ari dengan polosnya, dia memuji makanan yang tidak berkelas.
"Itu kan baru uduk, kamu belum pernah kan sarapan dengan harga satu juta," ujarku sambil menyunginkan bibir.
"Ya, belum Bu, tapi maaf Saya sudah kenyang."
"Kamu Kalau jadi karyawan saya, kamu jangan menolak. cukup Dulu ketika kamu mau dijadikan asisten saya. untuk sekarang dan seterusnya kamu tidak boleh menolak semua Keinginan saya, karena keinginan saya adalah perintah bagimu." ucapku memberi Ultimatum kepada pria yang selama ini aku kagumi. aku sudah cukup lama menunggu momen seperti ini, momen ketika aku bisa mengobrol berduaan dengannya.
"Baik bu!" jawab Ari yang tetap menundukkan pandangan, membuatnya semakin terlihat gemoy dan lucu, bak kucing yang sedang lagi manja-manjanya.
Akhirnya aku pun memanggil waiter cafe, untuk memesan sarapan pagi kita. Setelah memesan sarapan, obrolan itu berlanjut, melanjutkan obrolan yang sempat tertunda.
Alunan musik sedang memenuhi seluruh area Cafe, membuat siapa saja akan betah berlama-lama tinggal di sini. Aku dan Ari hanya saling Diam, sekali Aku mencuri pandang ke arah wajahnya yang lugu, yang selalu membuatku semakin penasaran.
"Maaf Bu! kalau boleh tahu, kita bertemu klien untuk membahas hal apa? biar saya mempersiapkan yang dibutuhkan." tanya Ari memecah heningnya suasana.
"Kita akan membahas satu Project pembuatan rumah sakit swasta, namun saya juga belum tahu klien kita mau membangun seperti apa, makanya hari ini merela mengundang kita untuk bertemu di sini. Nanti kalau kita sudah bertemu kamu catat! semua yang mereka inginkan!" ujarku menjelaskan.
"Baik bu!" jawabnya sambil menganggukkan kepala.
Tak lama setelah obrolan Itu, pesanan kita pun datang. aku terus mencari cara dan waktu yang tepat, untuk memasang perangkapku, agar tidak mengundang kecurigaan mangsa yang akan aku jerat. hingga akhirnya waktu itu pun tiba, dia meminta izin kepadaku, untuk pergi ke toilet sebentar. aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan cepat aku meneteskan obat yang tadi aku beli ke dalam minumannya. setelah meneteskan beberapa kali obat itu aku pun memasukkan kembali obat ke dalam tasku.
"Maaf, Bu! biasa kalau pagi, saya suka pengen buang air kecil terus." ujar Ari sambil duduk kembali di kursinya.
"Nggak apa-apa!" ujarku sambil tersenyum, kemudian mengangkat gelas ku didekatkan ke arahnya. Ari yang sedikit lugu tidak mengerti apa yang aku maksudkan.
"Cheers! untuk proyek yang akan kita tangani." ajakku yang masih menunggu dia mengambil gelasnya.
Mendengar perkataanku seperti itu, dia pun mengerti. kemudian dia mengambil air minumnya, lalu diadukan pelan dengan gelasku. Akhirnya kita minum bersama, mataku terus memperhatikannya, memastikan minuman yang Ari minum masuk semua ke dalam tubuhnya.
"Aku sebenarnya lagi bingung Ri!" ucapku tiba-tiba seperti itu.
"Bingung kenapa Bu? kalau ibu mau, ibu bisa cerita sama saya, kalaupun saya tidak bisa membantu. minimal Ibu bisa merasa lega, karena Ibu tidak menghadapi masalah itu sendirian." jawab pria berkulit coklat yang memiliki tubuh atletis.
"Investor di perusahaan kita! dia berencana menjual sahamnya. Saya takut kalau investor kita berbeda orang, karena sedikit banyak itu akan mempengaruhi kepada aturan perusahaan kita." curhatku mulai menceritakan kejadian yang sedang aku alami. Alasan Sebenarnya aku mengajak dia untuk datang ke sini.
__ADS_1
"Kok bisa seperti itu? padahal omset Perusahaan kita tidak turun jauh, hanya beberapa persen saja. tapi kenapa investor itu mau menjual sahamnya?"
"Nggak tahu lah, Ri! Justru itu yang membuat saya bingung, karena sampai sekarang, saya belum menemukan jawaban yang tepat, dengan investor yang hendak menarik sahamnya."
"Kenapa nggak Ibu saja yang beli saham itu, biar Ibu bisa leluasa mengurus perusahaan." Ari memberikan saran.
"Bulan-bulan ini, pengeluaran saya sangat banyak. kamu tahu kan, kemarin saya sudah melaksanakan pertunangan yang mewah, dan sebentar lagi saya akan menikah. itu semua membutuhkan biaya yang sangat banyak."
"Kan itu semua bisa dihandel oleh Pak Farid, Bu!"
"Farid itu gak bisa diandalkan kalau masalah keuangan. kamu juga tahu! dia hanya seorang marketing di salah satu perusahaan kecil tempat saya dulu bekerja.
Ari pun terdiam, seolah Sedang berpikir. mencarikan solusi untuk masalah yang sedang aku hadapi, namun terlihat raut wajahnya yang mulai tegang, seolah Dia merasakan sesuatu yang tidak nyaman. Melihat gelagatnya yang seperti itu perlahan aku menggeserkan tubuhku, untuk duduk lebih dekat dengannya, mataku terus terfokus ke arah celana, Berharap ada sesuatu yang sudah berubah di sana. namun Harapan itu sirna karena aku belum melihat keanehan yang terjadi di dalam celananya. Aku mulai ragu dengan efek obat yang diminum oleh ari.
"Aku bingung Ri! aku bingung banget!" ujarku sambil mengeluarkan air mata, untuk mengetes kepekaan pria yang ada di hadapanku.
"Ibu tenang saja! saya yakin ibu akan mendapatkan jalan keluar terbaik dari masalah-masalah yang sedang ibu hadapi sekarang." Jawab Ari yang terlihat semakin tidak nyaman, matanya yang Sayu menatap ke arahku, dengan nafas yang sedikit tertahan.
"Bagaimana mau tenang Ri? kalau aku menghadapi semua ini sendirian, tidak ada pria yang bisa menjadi sandaranku." Ungkapku sambil menyamndarkan tubuh ke sandaran kursi sofa.
"Terus bagaimana, agar saya bisa membantu ibu?"
Ari pun mengangguk, Dia memegang tanganku dengan begitu erat. kemudian pegangan itu berubah menjadi belaian lembut sampai ke bagian pergelangan, membuat ada desiran aneh yang mengalir di tubuhku.
"Bagaimana sudah kembali tenang?" tanya Ari sambil menatap sayu ke arah wajahku yang sedang bersandar di sofa.
"Kita pulang aja yuk! kepalaku rasanya semakin pening." ajakku sambil berdiri, dengan posisi tangan yang masih dipegang olehnya.
"Terus bagaimana kita bertemu dengan klien kita? Nanti mereka kecewa."
"Biarkan saja! nanti kita atur jadwal ulang." Jawabku dengan enteng karena sebenarnya tidak ada klien yang akan datang, itu hanya akal-akalanku saja agar aku bisa berduaan dengan Ari.
"Memangnya nggak apa-apa?" tanya Ari sambil berdiri.
"Nggak apa-apa! lagian kan, klien kita masih banyak. kalau yang satu kecewa, masih ada klien-klien lain yang mengantri ingin bekerja sama dengan Perusahaan kita." Jawabku sambil tersenyum, karena aku semakin bergairah ketika menatap wajahnya yang terlihat menegang.
Ari pun mengangguk, kemudian dia mengikutiku berjalan ke kasir, tanpa melepaskan genggaman tangannya. setelah membayar semua makanan, kita pun berjalan ke parkiran, lalu pergi meninggalkan kafe itu.
"Kenapa berhenti Bu?" tanya Ari menatap heran ke arahku, karena aku menepikan mobil di pinggir jalan.
"Kepalaku semakin pening Ri! kita Cari tempat istirahat terlebih dahulu, biasanya kepalaku akan kembali normal setelah aku beristirahat." aku menjelaskan.
__ADS_1
"Ibu mau istirahat di mana?"
"Maunya di rumah, tapi mengingat kamu yang tidak bisa membawa mobil, Kita istirahat di depan saja!" ujarku yang sengaja memarkirkan mobil di dekat area hotel.
"Sekali lagi saya mohon maaf! Ya sudah, Ibu istirahat aja terlebih dahulu, Nanti kalau sudah agak baikan baru Ibu pulang ke rumah." ujar Ari yang menyetujui saranku.
Mendengar Persetujuannya, hatiku bersorak dengan riang. sebelum melanjutkan perjalanan, aku melirik kembali ke arah celana miliknya, namun aku tetap belum menemukan keanehan itu, membuatku semakin khawatir dengan khasiat obat yang tadi aku campurkan.
Sesampainya di hotel, aku memesan satu kamar, untuk beristirahat kita berdua.
"Saya tunggu di luar saja, Bu! nanti kalau Ibu sudah agak baikan, Ibu bisa menghubungi saya!" tolak Ari ketika aku mengajaknya ikut masuk ke dalam kamar.
"Kamu bisa mijit nggak?" aku bertanya tanpa memperdulikan tolakannya.
"Bisa bu! tapi cuma mijat gitu-gitu aja.
"Ya sudah! Tolong kamu pijat kening saya sebentar!" Pintaku sambil menarik tangannya, untuk masuk ke dalam kamar. setelah Ari masuk ke dalam, tak lupa aku pun Mengunci pintu itu, agar mangsaku tidak melarikan diri.
Setelah pintu itu terkunci dengan sempurna, aku menyimpan tasku di atas nakas, kemudian duduk di tepian ranjang.
"Ayo duduk! katanya mau memijat?" Tanyaku sambil melirik ke arah pria yang masih berdiri di dekat pintu.
Dengan nampak ragu, dia pun mulai mendekati ke arah ranjang, kemudian dia duduk di belakangku. "mananya yang mau dipijit Bu?" tanya Ari.
"Keningnya saja ri!" jawabku singkat, walau sebenarnya tidak sabar ingin cepat ke inti pokok permasalahannya, namun Entah mengapa aku menikmati momen-momen awal pertama seperti ini.
Setelah mendapat perintahku, Ari pun mulai meregangkan kedua tangannya, dengan perlahan dia memijat kepalaku. membuatku sedikit merasa terelaksasi dengan gerakannya.
"Kamu pandai juga!" pujiku di sela-sela pijitannya.
"Iya Bu! Kebetulan saya sering memijat ibu saya, tapi saya memijat tidak tahu tekniknya. Saya hanya memijat gitu-gitu aja." ujar pria yang berada di belakangku, terdengar suaranya yang bergetar seperti sedang menahan sesuatu.
"Oh sering! Berarti kamu juga bisa memijat belikat? soalnya selain Kepalaku pusing, perutku juga agak mual, mungkin aku masuk angin."
"Boleh!" jawab ari tampa aku menyuruh untuk yang kedua kali, dia sudah mulai memijat-mijat bagian belikatku.
"Kalau diurut, kayaknya lebih enak ya Ri?"
Mendapat pertanyaan itu, terdengar suara napas ari yang semakin berat dia tidak bisa menjawab.
__ADS_1