
POV Farid
Mendengar perkataan yang begitu pedas dari bapak, aku hanya bisa menarik nafas, karena kalau sudah tidak suka akan sulit untuk memaksa. "Maafkan Farid kalau Farid punya salah."
"Sudah kamu jangan berbasa-basi, kamu mau ngapain ke sini?"
"Aku boleh pinjam uang Pak," jawabku ke inti permasalahan, berbasa-basi dengan orang yang keras kepala seperti bapak, itu hanya akan membuang-buang waktu dan menambah rasa sakit hati.
"Minjam uang.....! mau bayar pakai apa, pakai daun?" tanya Bapak sambil membulatkan mata, seolah tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan.
"Nggak Pak, nanti setelah Farid punya pekerjaan, Farid akan segera membayar."
"Pekerjaan dari Hongkong, kamu selalu bilangnya seperti itu. tapi kenyataannya mana, sampai sekarang kamu masih nganggur, masih jadi orang yang sangat tidak berguna. itu semua karena kamu tidak mau menurut dengan nasehat orang tua."
"Mau ngasih....., apa nggak?" Tanyaku dengan sedikit menaikkan intonasi suara, karena kalau semut keinjak pasti akan menggigit.
"Enggak.....!" jawab Bapak singkat.
"Apa bapak nggak pernah berpikir, atau bapak nggak tahu malu! bapak bisa punya usaha sebesar ini semua. itu adalah usaha Farid yang bisa meyakinkan Erni untuk memberikan modal sama bapak. bapak itu hanya benalu Pak! ingat dulu pas Bapak lagi susah, Siapa yang ngasih makan bapak, siapa yang membelikan rok0k bapak, siapa yang membiayai modal mancing bapak, siapa.....? kalau bukan saya, hah....!" bentaku yang tak kuat menahan emosi.
"Dasar anak durhaka.....! ngasih orang tua aja pakai hitung-hitungan segala. ingat ya uang yang 50 juta kemarin, yang kamu pinjam untuk modal usaha. itu juga belum pernah kamu balikin, kalau bapak Terus memberikan uang sebesar itu, bisa-bisa bapak bangkrut!" jawab bapak yang tak mau kalah.
Mendengar sanggahan Bapak seperti itu, membuat darahku mulai mendidih memenuhi otak, membuat syarapnya tidak bisa terkontrol, gigiku mengancing, mataku memerah menatap ke arah orang tua yang berdiri di hadapanku.
"Dasar orang tua nggak tahu diri! orang tua nggak tahu untung, bukannya berbalas Budi ketika anaknya sedang tertimpa musibah, malah menambah masalah seperti ini."
"Kamu yang harusnya mikir, jadi anak bisanya ngrepotin orang tua. anak-anak Yang lain sudah mulai membahagiakan orang tuanya. kamu malah menjadi beban, Kamu yang harusnya mikir......!" balas Bapak sambil bangkit berdiri kemudian menatap tajam ke arahku.
__ADS_1
"Aku minjem Pak! bukan mau minta, sama anak kok perhitungan banget...!" bentakku sambil mendekatkan wajah ke arah wajah Bapak.
Para pegawai Bapak dan beberapa pengunjung warung mendekat, memisahkan perdebatan antara anak dan orang tua itu. melihat orang-orang pada mendekat, Bapak pun dengan cepat membuka laci penyimpanan uang, kemudian dia mengambil dua lembar uang berwarna biru bernilai Rp50.000.
"Ambil dan jangan pernah menampakkan wajahmu di sini lagi..!" Pinta Bapak sambil melemparkan uang ke arah Dadaku.
Melihat orang-orang yang semakin mendekat, dan menatap penuh keheranan. aku yang sebenarnya ingin meminta uang lebih, namun melihat situasi yang seperti itu. dengan cepat aku mengambil uang yang jatuh di dekat kakiku, tampa berpamitan terlebih dahulu aku pun keluar dari ruko sembako milik bapak.
"Jangan pernah kamu injakan kaki lagi di sini. Arif..... Kalau kamu melihat dia jangan biarkan dia masuk," ancam Bapak dengan suara lantang, membuat wajahku memerah menahan malu diperlakukan seperti itu.
Aku terus bergegas keluar dari dalam ruko, menuju ke tempat parkiran. tanpa berpikir panjang aku mengeluarkan motorku, lalu mengkick starter kemudian menarik tuas gasnya. namun motorku tidak maju karena ada yang menahan dari belakang.
"Rp2000 dulu Pak!" ujar orang itu.
Aku yang sudah terbakar emosi dari dalam, dengan cepat mematikan motorku kembali. kemudian tanpa menjawab permintaan orang itu, aku layangkan Bogem mentah ke arah mukanya, aku hajar beberapa kali orang itu Walaupun dia terlihat meminta ampun.
"Bangs4t....! Enak aja lu minta uang, sedangkan gua saja mendapatkan uang dengan mengemis ke bapak gua. dasar nggak punya otak! kerjaannya hanya minta-minta," ujarku sambil melayangkan kembali tendangan yang begitu keras ke arah wajah pria itu. namun ketika aku mau menyusul lagi dengan tendangan, orang-orang yang berada di situ dengan cepat memisahkan kita.
Motor bebek tahun 70-an itu terus melaju membelah panasnya Kota Jakarta, gedung-gedung menjulang tinggi memantulkan panas, karena dinding gedung terbuat dari kaca, membuat suasana kota Jakarta terasa semakin panas.
Di samping jalan, tepatnya di trotoar. terjajar rapi gerobak-gerobak orang yang menjajakan jajanannya, merasa haus aku pun memarkirkan motorku di area itu, kemudian menuju salah satu kios penjual kopi.
"Kopi satu pak, sama rok0knya setengah," pintaku setelah sampai di depan kios.
"Kopi apa, sama rokoknya juga apa?"
"Kopi moccacino, sama rokok 234...!" jawabku dengan singkat, kemudian aku memilih bangku panjang yang disediakan untuk berteduh. karena di samping jalan itu tumbuh pohon-pohon besar yang terus dilestarikan oleh dinas perkotaan. namun walaupun begitu rasa panas tetap membakar tubuh, sehingga aku lepaskan beberapa kancing kemeja, agar ketika ada angin yang menerpa bisa masuk ke dalam tubuh.
__ADS_1
Lama menunggu, akhirnya pesananku datang kemudian disimpan di atas meja plastik yang catnya sudah terkelupas. tukang warung itu tidak langsung pergi, dia masih berdiri menatap ke arahku.
"Berapa?" Tanyaku yang mengerti dengan maksudnya.
"Semuanya jadi Rp15.000 Pak!"
"Mahal amat!"
"Iya Pak! semuanya sudah pada naik, jadi nggak ada yang murah. kalau yang murah rok0knya jangan 234, tapi rokok Sergio.
"Rok0k apa itu?"
"Rok0k murah, rasanya kayak coklat." jawab penjual kopi sambil mengurung senyum.
Merasa tidak ada guna berdebat dengannya, karena mungkin memang segitu harga kopinya. dengan cepat akupun mengeluarkan uang pemberian Bapak, lalu diserahkan satu lembar.
"Sebentar saya ambil kembaliannya," ujar penjaga warung. setelah mengambil uang dari tanganku, kemudian dia masuk ke dalam kios. tak lama dia pun kembali sambil menyerahkan uang kembalian. setelah uang kembalian itu diserahkan dia pun kembali masuk ke dalam kios berukuran 1 meter kali 50 cm itu.
Aku melihat uang sebesar Rp35.000, memastikan takut tukang warung itu kembaliannya kurang. Setelah yakin aku memasukkan uang kembalin ke dalam kantong celana. Aku harus berhati-hati karena hanya uang itulah yang sekarang yang aku punya, aku harus menjaganya serapi mungkin agar tidak jatuh.
Sruuuupppp!
Kopi yang masih panas, yang ada di kap plastik aku seruput untuk menghilangkan haus, serta menyegarkan kembali pikiranku. kemudian menyimpannya lagi di atas meja, lalu mengambil bungkusan rok0k untuk membakarnya.
Aku hisap dalam asap itu, lalu menghembuskannya berharap semua kebingungan, semua rasa pusing, ikut terbang bersama asap-asap yang aku hembuskan.
"Ke mana lagi ya, Aku mencari pekerjaan untuk menafkahi istriku," gumamku dalam hati sambil menyandarkan tubuh ke dinding pagar.
__ADS_1
Merasa bosan aku mengambil handphone, untuk mengetahui keberadaan Vina. namun sayang setelah aku lihat, nomor Vina belum aktif karena pesan yang aku kirim masih centang satu.
Aku masukkan kembali handphoneku, lalu menyandarkan tubuh ke pagar, sambil menikmati setiap hisapan-hisapan yang dihasilkan dari tembakau yang aku bakar. pikiranku jauh terbang mengulang memori memori di mana kehidupanku dulu tidak seperti ini. kehidupanku sangat bahagia, karena memiliki pacar yang bisa aku andalkan, sahabat yang selalu hadir dalam setiap detik kesusahanku. sekarang aku hanya berusaha sendirian, jangankan untuk berfoya-foya, untuk makan sehari-hari aja sudah sangat kepayahan.