
Pov Farid
"Nggak! Bapak sendirian, buruan....! soalnya menurut Pak Dali keadaannya mendesak," jawab Ira yang memberitahu bahwa aku sekarang dipanggil oleh Asisten Manager.
"Ada apa ya?" Tanyaku yang merasa heran, karena tak seperti biasanya Dali memanggil aku sendirian.
"Ya nggak tau, makanya sana buruan temuin! nanti beliau marah," usir Ira.
Dengan malas aku pun bangkit menuju ke ruangan Asisten Manager, setelah berada di ambang pintu, dengan cepat aku mengetuknya sambil mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam, masuk.....!" Jawab Dali dari ruangannya.
"Maaf, Bapak memanggil saya?" Tanyaku sambil manggut memberi hormat.
"Benar! Apa Pak Farid Emang nggak pernah megang handphone?"
"Saya kalau sedang bekerja, saya men-silent handphone saya."
"Tolong lihat handphone Pak Farid, siapa tahu aja ada yang penting!" pinta Dali.
"Nggak apa-apa Pak?"
"Nggak apa-apa, Tolong lihat handphone Bapak sekarang!" seru Dali untuk yang kedua kali.
Aku pun mengangguk, kemudian mengambil handphone-ku dari kantong celana. Setelah aku melihat ternyata ada puluhan panggilan yang tak terjawab, dengan sedikit merasa curiga aku mulai menggeser tombol kunci, untuk membuka handphone-ku, kemudian membuka aplikasi pesan. benar saja terlihat Vina berpuluh-puluh kali memanggil.
"Ini ada apa Pak?"
"Telepon istri bapak!"
Dengan Hati yang sedikit berdebar, karena Dali terlihat sangat misterius, dia tidak memberitahu apa yang terjadi dengan Vina, dengan cepat aku mulai menekan tombol Panggil.
Tut! tuuuuut! tut!
Telepon itu terhubung, namun belum diangkat membuatku semakin khawatir, takut terjadi sesuatu sama istriku. panggilan pertama pun berlalu begitu saja, tanpa ada yang mengangkat, namun setelah panggilan yang kedua barulah Fina mengangkatku.
"Ada apa Vin?" Tanyaku sedikit bergetar.
"Bapak Rid! bapak!"
"Bapak siapa?" Tanyaku yang belum mengerti.
"Bapak kamu masuk rumah sakit, jantungnya kumat!"
"Ya Allah, kok bisa seperti itu. Sekarang kamu ada di mana?"
"Aku sekarang berada di rumah sakit, menunggu bapak yang sedang dirawat di ruang ICU. Tolong kamu segera ke sini! karena aku bingung kalau harus mengurus sendirian."
__ADS_1
"Ya sudah kamu kirim lokasi alamat rumah sakitnya."
Tap! tap! tap!
Telepon itu terputus, dengan segera aku menatap ke arah Dali. "Silahkan bapak pulang dan rawat orang tua bapak!"
"Bagaimana dengan Kerjaan saya?"
"Bapak jangan khawatirkan pekerjaan bapak, karena masih banyak orang yang bisa menghandle, tapi kalau untuk mengurus orang tua, hanya bapak sendiri yang bisa diandalkan!"
"Terima kasih banyak Pak, kalau begitu saya izin pulang."
"Silakan! semoga orang tua Pak Farid lekas sembuh, nanti sore Saya dan Pak Arfan insya Allah akan menjenguk."
"Nggak usah repot-repot Pak, namun sebelumnya terima kasih, karena bapak sudah mengizinkan saya untuk pulang lebih awal."
Setelah aku berpamitan dengan bergegas aku kembali ke ruang kerjaku, terlihat Ira yang menghampiri. "Ada apa kok mukanya sedih."
"Orang tua saya masuk rumah sakit Bu."
"Ya Allah, kenapa kok bisa?" tanya Ira yang terlihat kaget.
"Kurang tahu Bu, namun Sekarang saya mau pulang untuk menjenguknya."
"Ya Sudah, hati-hati! nanti setelah saya pulang kerja saya akan mampir, Bapak jangan lost contact, beritahu keadaan orang tua bapak!"
Setelah merapikan barang-barangku, Aku meminta izin sama semua karyawan untuk pulang lebih awal, Mereka pun mendoakan untuk kesembuhan orang tuaku yang sedang dirawat.
Dengan bergegas dan berlari aku menuju ke area parkir, setelah di sana tanpa pikir panjang aku mulai menarik tuas gas motor bututku, menuju rumah sakit yang sudah dikirimkan oleh Vina. Dengan membawa hati yang sangat khawatir, karena walau bagaimanapun Bapak adalah satu-satunya keluargaku yang tersisa.
Sesampainya di sana, terlihat Vina dan Ferry yang sedang duduk di bangku yang sudah disediakan di koridor rumah sakit, melihat kedatanganku dengan cepat Vina pun bangkit. "bapak, sayang...! bapak, bapak sakit...!" Adu Vina sambil memelukku.
"Iya Bapak kenapa, kok jantungnya bisa kumat?" Tanyaku sambil membalas pelukannya.
"Nggak tahu Sayang, Tadi aku diberi tahu oleh Ferry, orang yang bekerja di toko bapak."
Mendengar jawaban istriku, perlahan aku lepaskan pelukannya, kemudian menghadap ke arah Ferry untuk bertanya kenapa bapak bisa kumat."
"Nggak tahu pak, tiba-tiba saja Pak Gufron terjatuh, ketika dia hendak bangun dari tempat duduknya, lalu dia pingsan. Dengan cepat saya membawanya ke sini," ujar Feri tanpa ditanya terlebih dahulu.
"Ya Allah ada-ada aja cobaan...!" Gumamku dalam hati. "Sekarang bagaimana?" Tanyaku sama pegawai bapak
"Sekarang bapak sedang dilakukan penanganan, kami sudah lama menunggu, tapi belum ada kabar," jawab Ferry memberitahu.
"Semoga saja tidak terjadi sesuatu sama bapak."
"Amin!" jawab mereka serempak.
__ADS_1
Akhirnya aku duduk di bangku ruang tunggu dekat ICU, berharap-harap cemas takut terjadi sesuatu sama bapak. walau Bapak sangat jahat, namun dia tidak pernah menolak apa yang aku minta, Meski harus dibarengi dengan perkataan yang menyakitkan. mungkin itu adalah salah satu bentuk kasih sayang darinya, hanya mengungkapkan saja yang berbeda.
Aku sandarkan tubuhku, sambil menatap kosong ke arah depan, membayangkan hal-hal yang tidak diinginkan. Bagaimana kalau Bapak sudah tiada, mungkin aku berjuang sendirian, tak akan ada lagi orang yang akan bisa aku mintai tolong, bayangkan hal buruk terjadi, aku menghela nafas pelan, lalu menghempaskannya.
"Sydah sayang, sabar....! jangan banyak pikiran, mendingan kita doakan agar Bapak cepat sembuh," ujar Vina yang duduk di sampingku, tangannya mengambil tanganku. lalu mengelus pelan, seolah sedang mentransfer energi baik ke tubuhku.
"Tapi kalau bapak......, Astagfirullah..., aku sama siapa?"
"SUdah, kamu Jangan selalu berprasangka buruk. ingat berapa minggu yang lalu, gara-gara kamu memiliki prasangka buruk, kita bisa bertengkar hebat."
"Tapi aku khawatir, takut terjadi sesuatu sama bapak. meski beliau orangnya sangat menyebalkan, namun beliau selalu membantu kita."
"Iya aku juga tahu. ya sudah, kita doakan bapak agar beliau diberikan kesembuhan."
Ruangan pun kembali terlihat sepi, hanya hembusan nafas yang terdengar begitu pelan, mataku sesekali melirik ke arah pintu yang bertuliskan Icu. Berharap ada orang yang keluar dari dalam dengan membawa kabar berita yang baik.
"Pak Farid...!" Panggil Ferry yang menghampiri.
"Yah, kenapa Fer?"
"Saya pamit pulang ke toko terlebih dahulu, karena anak-anak, mereka sangat kebingungan ketika menentukan harga."
"Emang toko masih buka?" tanya aku yang menatap heran.
"Masih Pak! mereka masih melayani pembeli."
"Ya sudah, mending kamu tutup toko sementara waktu. sampai Bapak sembuh, Soalnya kalau tidak ada Bapak nanti bagaimana?"
"Nggak apa-apa, kalau toko ditutup?"
"Nggak nggak apa-apa, nanti saya yang akan berbicara sama bapak."
"Ya sudah kalau seperti itu, nanti kalau bapak butuh bantuan, bapak bisa simpan nomor saya!"
Ya sudah Sebutkan nomornya, berapa?" ujarku sambil mengambil handphone, kemudian menuliskan nomor handphone Ferry, setelah itu untuk mengecek nomornya aktif atau tidak akupun miscall ya.
"Itu nomor saya!"
"Baik Pak! nanti saya save! kalau begitu saya pamit pulang, untuk merapikan toko terlebih dahulu."
Akhirnya Ferry pun berpamitan pergi meninggalkan ruang koridor rumah sakit. menyisakan aku dari Vina yang masih saling memegang tangan, saling menguatkan dengan cobaan yang kita hadapi.
Aku bangkit dari tempat dudukku, kemudian berjalan mandar-mandir di sekitaran pintu ruang ICU. bahkan sesekali aku melihat ke dalam dari celah-celah gorden yang tertutup.
Ceklek!
Terdengar suara pintu ruangan ICU terbuka, dengan bergegas aku menghampiri.
__ADS_1