
Pov Farid
Sambil menonton televisi, sambil juga ditemani dengan obrolan obrolan ringan, obrolan di mana pengalaman pertama kerja di kantor Mandiri itu. Vina merasa senang mendengar bahwa dali begitu baik, mau membantu keluarganya yang sedang kesusahan.
Dari arah Mushola yang dekat kontrakan, terdengar suara azan maghrib berkumandang, dengan cepat aku mengambil air wudhu untuk melaksanakan salat.
"Mau apa" tanya Vina sambil menatap heran ke arahku.
"Salat, Vin! Aku sudah lama tidak melakukan hal ini," jawabku sambil masuk ke kamar, tadinya mau pergi ke masjid. namun rasa malu mulai menyeruak karena aku belum pernah sama sekali pergi ke tempat ibadah itu, jangankan salat yang dilakukan setiap hari, salat Jumat pun tidak pernah.
"Wah.....! kamu hebat banget sayang, baru saja bekerja di perusahaan Pak Arfan, perubahanmu sudah begitu terlihat. tunggu kita salat berjamaah!" Tahan Vina matanya terlihat mengembun mungkin sedang menunjukkan kebahagiaan.
Dengan Cepat istriku pun bangkit, kemudian menuju ke kamar mandi, untuk mengambil air wudhu hendak ikut melaksanakan salat berjamaah. selesai melaksanakan salat kita berdua mengangkat tangan, mengucap doa-doa dan harapan agar kedepannya keluarga kita tetap menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah. Entah mengapa hatiku terasa tenang, setelah melaksanakan salat, apalagi berjamaahnya bersama keluarga. ketenangan yang tidak bisa ku tulis dengan kata-kata.
Selesai berdoa aku membalikan tubuh lalu mengulurkan tangan, mengajak istriku bermusyafaha. dengan cepat Vina pun mengambil tangan yang ku ulurkan, lalu ia dekatkan ke arah keningnya.
"Maafkan aku, kalau selama ini aku belum bisa menjadi yang terbaik buat kamu, belum bisa menjadi yang kamu banggakan." ujarku sambil mencium kening Vina yang sedikit tertutup oleh mukena.
"Sama, aku juga minta maaf, kalau selama ini aku belum bisa Mengabdi sesuai dengan perintah-Nya. masih sering melawanmu, mungkin masih sering membuatmu kesal." jawab istriku sambil mengeluarkan cairan bening yang membasahi pipi indahnya.
*****
Keesokan paginya, Seperti biasa aku berangkat ke kantor untuk menunaikan kewajibanku sebagai seorang suami yang harus menafkahi keluarganya. Semampunya, sebisanya, sesuai dengan keahlianku.
Hari kedua bekerja, Aku tidak terlalu canggung, karena aku sudah mulai mengerti apa yang harus aku kerjakan, ditambah Pak Karto yang orangnya begitu ramah, dia selalu membantuku dalam bekerja. aku terus terfokus memikirkan pekerjaan, karena ini adalah bentuk dari rasa tanggung jawab dan bentuk balas budi buat orang yang sudah mempercayaiku berada bersama mereka.
****
Dua hari berlalu, akhirnya pekerjaanku dipresentasikan di hadapan Dali dan dihadapan Arfan yang masih liburan. kita melakukan sambungan video call, agar Arfan bisa mengetahui apa yang hendak aku presentasikan.
__ADS_1
Setelah mendengar presentasiku, Arfan pun terlihat kagum dan menyetujui gagasan-gagasan yang aku Keluarkan. sehingga akhirnya gagasan itu harus secepatnya dilaksanakan, agar orang-orang tahu bahwa perusahaan Mandiri Group bisa bekerja sekompeten itu.
Hari-hari terus berlalu, aku terus disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang diberikan oleh atasan. aku yang memiliki kompetensi di bidang pemasaran, membuat mereka yakin bahwa aku bisa diandalkan. Semakin lama aku bekerja semakin membuat merasa nyaman mengabdi di perusahaan Mandiri group. Meski banyak omongan-omongan miring yang sampai ke telinga, namun itu aku anggap sebagai angin lalu, karena ini adalah kesalahanku di masa lampau, dan sekarang aku sedang menikmati hukumannya.
*****
10 hari berlalu bekerja. aku diberitahu Ira bahwa aku harus menemui Arfan yang baru pulang liburan. membuat jantungku terasa berdegup dengan kencang, takut ada hal-hal yang buruk yang menimpaku, walau aku sudah berusaha sekeras mungkin, tapi Persaingan di perusahaan tidak akan lepas. Prasangka buruk mulai menyeruak, takut ada karyawan lain yang mengadukan dan berbicara yang menjatuhkan reputasi kepada bos Mandiri group itu.
"Ada apa ya Bu? Kok saya dipanggil Pak Arfan?"
"Ya nggak tahu, kan gua bukan pak Arfan, sudah sana Cepat kamu temui," ujar Ira dengan Ketus.
"Baik bu, ruangannya yang sebelah mana?" Terfokus dalam pekerjaan sehingga aku tidak tahu ruangan Arfan ada di mana.
"Tanya ke orang lain, Jangan tanya ke saya, nggak lihat apa...! saya lagi sibuk," jawab Ira masih ketus, membuatku sedikit mengeratkan gigi, namun itu tidak lama. dengan cepat aku pun pergi mendekat ke arah Pak Karto.
"Ada apa Pak Farid?" tanya Pak Karto yang selalu ramah, meski umurnya berbeda jauh di atasku, namun dia selalu menyapaku dengan panggilan Bapak. berbeda dengan Ira, meski umurnya di bawah, Dia tidak pernah menghormati orang lain.
"Oooooh, di lantai 4 Pak, dekat mushola. di situ ada ruangan yang sangat besar. Oh iya kenapa kok Bapak dipanggil oleh Pak Arfan?"
"Kurang tahu Pak, makanya saya mau menemui beliau."
"Ya sudah, semoga saja bukan berita buruk yang didapat," doa Pak Karto.
"Amin!"
Setelah mendapat keterangan, aku keluar dari ruangan kantor pemasaran. Jantungku terasa berdegup kencang, hatiku tidak enak. Entah kenapa Itu terjadi pikiran-pikiran buruk mulai menyebar memenuhi kepala. bagaimana kalau Arfan yang sekarang menjadi atasanku. Bagaimana kalau Dia membalas kejahatanku waktu dulu, Bagaimana kalau dia memecatku secara tidak hormat. betapa sedih dan Hancurnya hati ketika aku membayangkan kemungkinan-kemungkinan itu.
Langkah kakiku terasa pelan, padahal aku sudah berjalan secepat mungkin, agar cepat sampai ke ruangan Arfan.
__ADS_1
"Dasar nggak tahu malu, sudah berkhianat masih saja betah menumpang hidup di perusahaan orang yang dikhianati," ujar salah seorang karyawati yang kebetulan berpapasan ketika dia hendak keluar dari lift, membuatku menundukkan pandangan tidak mampu menjawabnya.
Hatiku semakin berdegup kencang, Rasa khawatir sudah menyelimuti jiwa, karena kalau aku sampai dipecat. Aku tidak akan menjadi kebanggaan Vina lagi, aku akan kembali ke mode asal, di mana Aku adalah laki-laki yang tak berguna.
Setelah keluar dari lift, aku bergegas menuju ke arah ruangan yang disebutkan oleh pak Karto. benar saja ternyata di situ ada ruangan presiden perusahaan. dengan cepat aku mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam, masuk...!" jawab orang yang berada didalam.
Dengan perasaan dag dig dug tak karuan, aku mulai mendorong pintu ruangan itu, kepalaku menunduk tak mampu kuangkat, Karena rasa malu, rasa sesal, sudah menyelimuti jiwa dan tubuhku.
"Pak Farid, Silahkan duduk..!" sapa pria yang terdengar tidak asing di telinga.
"Baik, terima kasih Pak...!" jawabku pelan, entah Arfan mendengar atau tidak. kemudian aku duduk di kursi tanpa berani mengangkat pandangan.
"Maaf saya baru bisa menemui Pak Farid, Karena kemarin ada acara liburan keluarga," ujar Arfan mulai membuka pembicaraan.
"Nggak apa-apa Pak, harusnya saya yang meminta maaf, karena sudah merepotkan bapak,"
"Merepotkan bagaimana?"
"Iya Bapak sudah mau menerima saya bekerja di sini, Padahal kalau melihat kejahatan saya di masa lampau, harusnya Saya tidak ditolong seperti sekarang."
"Bapak bicara apa, Bapak nggak boleh berbicara seperti itu, karena Yang lalu sudah terjadi. Lagian kalau bapak tidak memberitahu keberadaan Karla, mungkin saya sekarang masih hidup dalam penyesalan, Karena tidak bisa menolongnya," sanggah Arfan yang terdengar tidak suka.
"Mohon maaf Pak, Ada apa ya saya dipanggil ke sini?" Aku memberanikan diri untuk bertanya sekaligus mengalihkan pembicaraan.
"Nggak ada apa-apa pak, Saya cuma mau minta maaf karena saya baru bisa menemui Bapak hari ini. dan saya mau bertanya beberapa hal?"
"Bertanya tentang?" tanya aku sambil mengangkat pandangan, menatap ke arah sahabat yang sudah menjadi atasanku, sekarang wajahnya terlihat bercahaya, sehingga aku tidak kuat lama-lama menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Apakah Bapak betah bekerja di divisi Bapak sekarang?"
"Sangat betah Pak, kebetulan karyawan-karyawan di sana sangat baik. Sehingga mereka sering membantu saya untuk menyelesaikan pekerjaan."