Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 39 Fitnah


__ADS_3

Pov Farid


"Kenapa mukamu ditekuk?" tanya Vina yang menangkap keanehanku.


Ditanya seperti itu Aku tidak menjawab, aku tetap berjalan, bergegas menuju ke kamar untuk mengambil handuk, berniat membersihkan badan terlebih dahulu.


Selesai mandi terlihat Vina masih duduk di tepian ranjang, Mungkin dia masih menungguku. "kenapa kamu berubah?" tanya istriku yang menatap heran.


Aku tetap tidak menjawab, Aku hanya mengambil sajadah lalu keluar dari kamar untuk melaksanakan salat Isya di ruang tamu, selesai melaksanakan salat terlihat Vina menghampiri.


"Kamu kenapa, Ada apa, kamu cerita biar aku nggak bingung seperti ini?" tanya Vina untuk kesekian kalinya kemudian dia duduk di sampingku.


"Kenapa kamu melakukan suntik KB?" Tanyaku sambil menatap tajam ke arahnya.


"Siapa yang melakukan suntik KB?" ujar Vina balik bertanya.


"Kamu...!"


"Buat apa, aku suntik KB? itu kan nggak ada gunanya,"


"Ya, biar kamu nggak punya anak."


"Maksudnya bagaimana sih Rid.! Aku nggak ngerti, kamu mau aku suntik KB, apa gimana?"


"Kamu jangan ngeles deh Vin, kamu suntik KB kan, agar kamu tidak memiliki anak?"


"Ya Allah Farid....! Kenapa kamu bilang seperti itu, kenapa kamu tuduh istrimu melakukan hal yang sangat keji?" tanya Vina sambil menatap nanar ke arahku, namun itu tak membuat prasangkaanku sirna seketika.


"Ya kalau nggak suntik KB, Kenapa kamu sampai sekarang kamu belum hamil, belum mempunyai anak?"


"Karena Allah belum ngasih Rid.! kamu bagaimana sih, walaupun kita mau, tapi kalau Allah belum berkehendak kita mau bagaimana lagi. Kita sudah berusaha setiap minggu, bahkan setiap malam, Agar buah hati kita hadir di dunia ini."


"Itu alasan Klasik!"


"Kenapa lagi, kenapa sih kamu tiba-tiba menuduhku seperti ini. Aku setiap hari setiap saat bersama kamu, hanya baru 2 bulan kamu bekerja, aku sendiri. apa kamu pernah melihat aku pergi ke Puskesmas atau klinik untuk melakukan suntik KB?" tanya Vina.


"Iya walaupun dulu sudah sering bersama, tapi aku kan nggak tahu setiap saat."


"Jujur...! kenapa kamu berubah seperti ini, Apa jangan-jangan kamu sudah merasa bisa menafkahiku, sekarang kamu semena-mena menuduhku, memfitnahku."


"SUdah jangan ke mana-mana pembahasannya, kamu ngaku aja, biar aku cepat mengambil tindakan."

__ADS_1


"Heran aku sama kamu, nggak ngerti Jalan pikiranmu seperti apa, tiba-tiba nuduh tanpa bukti, memfitnah alasan," ujar Vina terlihat sudut matanya mengeluarkan cairan bening membasahi pipi lembutnya.


"Aku nggak butuh cairan buaya mu, yang aku butuhkan adalah pengakuanmu.


"Aku harus mengaku apa?" jawab Vina sambil terisak.


"Ya kamu, ngaku! kalau kamu pernah suntik KB."


"Aku nggak akan mau mengikuti perintahmu, karena aku tidak pernah melakukan hal bodoh seperti itu."


"Ya sudah kalau nggak mau ngaku..!" ujarku sambil membaringkan tubuh Di Atas Sajadah, mengabaikan Istriku yang masih terisak.


"Jangan tidur dulu, kita harus selesaikan masalah kita. jangan sampai masalah ini terlarut dan aku tidur dalam kekhawatiran. ingat kita sudah melalui semua cobaan hampir lebih setahun, kamu tidak boleh seperti ini.! kamu cerita, Kenapa kamu bisa membunuhku seperti itu?" Tahan Vina sambil membangkitkan tubuhku untuk menatap ke arahnya.


"Dulu Erni juga melakukan suntik KB, sehingga dia tidak memiliki anak."


"Ya Allah Farid..! aku bukan Erni, Aku ini adalah Vina istrimu. aku tidak mungkin melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh mantan istrimu dulu."


"Terus kenapa sekarang kamu belum hamil?"


"Wallahualam, Aku nggak tahu Rid.! tapi kalau kamu penasaran Kita cek saja ke dokter kandungan. Bukannya kamu yang nggak mau mengecek kondisi kita?" tanya Vina mulai membalikan keadaan.


Mendengar perkataan seperti itu, Aku hanya terdiam sambil menundukkan pandangan. pikiranku campur aduk antara Dilema mempercayai perkataan istriku atau mempercayai prasangkaanku.


"Emang benar kamu nggak melakukan suntik KB?"


"Melakukan suntik KB bagaimana Rid.! Jangankan untuk suntik KB, untuk makan sehari-hari aja dulu kita sangat kesusahan."


"Terima kasih ya! kalau kamu tidak melakukan hal bodoh seperti itu."


"Sama-sama! tapi kedepannya kalau kamu punya masalah, kalau kamu punya keinginan, kamu berbicara jangan diam seperti tadi."


"Maaf...! pikiranku pusing, karena tadi di rumah sakit bertemu dengan bu Aisyah, dia menyuruhku untuk keluar dari perusahaan Mandiri Group."


"SUdah Jangan dipikirkan.! itu adalah resiko ketika kita berubah menjadi baik, jangankan orang lain, keluarga kita saja belum tentu menerima kita yang sudah berubah."


"Terima kasih ya sayang, kamu selalu mengingatkan suamimu." ujarku yang mulai mereda.


"Sama-sama, kalau kamu penasaran. besok sebelum kamu berangkat kerja, kita sempatkan mampir ke Puskesmas terlebih dahulu, kita cek Kenapa kita sampai sekarang belum dikasih momongan."


"Yah!" jawabku singkat karena tidak tahu harus berkata apa lagi.

__ADS_1


"Ya sudah ayo kita tidur! sekarang sudah jam 01.00. Oh iya kamu udah makan apa belum?" tanya Vina.


"Belum, karena Jangankan memikirkan makanan, Aku memikirkan prasangkaanku saja sudah sangat pusing."


"Ya sudah Sebentar aku buatkan mie goreng. Soalnya kalau mau beli makan sekarang, Beli di mana, waktu udah malam. kalaupun ada itupun jauh dari tempat kita," ujar Vina sambil menyeka cairan bening yang membasahi pipinya, kemudian dia pun bangkit menuju ke dapur.


Setelah melihat istriku pergi aku hanya mengheran nafas pelan, kenapa aku bisa sebodoh itu, menuduh Istriku yang tidak tidak. padahal istriku sangat baik, sangat perhatian. aku Harusnya bersyukur memiliki istri seistimewa itu.


Lama menunggu akhirnya Vina pun datang dengan membawa dua piring mie goreng, kemudian kita pun terlalut menyantap makan malam yang sudah lewat, sehingga perutku lumayan tidak Berisik meminta isi.


Selesai makan kita berdua masuk ke kamar, aku yang tadi diberikan uang oleh Arfan dengan cepat merogoh kantong celana yang tergantung di paku, kemudian menyerahkannya sama Vina.


"Ini apa?" tanya Vina sambil menatap heran ke arahku.


"Tahu Vin, itu dari Pak Arfan. bilangnya buat beli bensin dan buat beli makan, tapi tadi aku lupa, sehingga aku belum membukanya."


Vina pun mengambil amplop coklat pemberian dari Arfan kemudian membukanya dengan cara menyobek sudut amplop, lalu mengeluarkan isinya. terlihat uang lebaran berwarna merah, yang lumayan banyak. dengan teliti istriku mulai menghitung kemudian menatap ke arahku."banyak amat.!"


"Emang berapa?"


"Satu juta lima ratus ribu rupiah!"


"Oh ya sudah, yang satu juta buat kamu, yang 500 buat beli bensin mobil Pak Dali."


"Mending buat kamu 700, buat tabungan kita 800." ujar Vina membagi uang.


Setelah dibagi, Uang pun aku masukkan ke dalam celanaku, sedangkan uang Vina disimpan dirapikan untuk menjadi tabungan masa depan.


Setelah merapikan uang masing-masing, lampu kamar pun dimatikan, akhirnya kita berdua masuk ke dalam dunia keindahan sepasang suami istri.


Keesokan paginya. aku dan Vina bangun kesiangan  biasanya kita berdua bangun sesudah adzan subuh berkumandang. namun pagi itu kita berdua bangun hampir setengah delapan, karena malamnya habis menemani, membantu Arfan di rumah sakit. istriku terlihat sibuk menyiapkan sarapan dan aku juga sibuk mempersiapkan diri untuk bekerja di kantor Mandiri Group.


Selesai mandi aku dan Vina duduk di ruang tv, sambil menyantap sarapan masing-masing, ditemani obrolan obrolan ringan untuk mengusir heningnya suasana.


"Bagaimana jadi ke Puskesmas?" tanya Vina di sela-sela Obrolan.


"Nanti aja, kita buat jadwal lagi, Sekarang aku sudah telat."


"Ya sudah kalau seperti itu, habiskan sarapanmu kemudian berangkat bekerja, jangan biarkan orang yang telah menolong kita merasa kecewa," saran Vina seolah Tak bosan dia terus mengingatkanku.


Selesai sarapan aku berpamitan sama Vina untuk melanjutkan pekerjaanku seperti biasa yang bekerja di perusahaan Mandiri Group. Hari-hari pun berlalu, dengan rutinitas yang lumayan padat, membuatku melupakan untuk mengecek kesuburan kita di Puskesmas. Ira sekarang sudah mulai bekerja, Pak Arfan hampir seminggu sekali dia mengadakan acara syukuran kehamilan anak pertamanya, baik di kantor ataupun di rumahnya.

__ADS_1


Suatu hari, ketika aku sedang bekerja. aku dihampiri oleh Ira yang memberitahu bahwa aku harus menghadap Asisten Manager sekarang.


"Sama ibu?" Tanyaku sambil menatap ke Ira.


__ADS_2