
Pov Farid
"Sekarang Bapak minta maaf Yang sebesar-besarnya kalau selama ini Bapak kurang perhatian sama kamu, anak bapak satu-satunya. dan mulai sekarang kita harus terus bersama menghadapi setiap cobaan yang akan datang menerpa keluarga kita," lanjut Bapak setelah tidak mendapat jawaban dariku.
Aku yang masih diselimuti kebingungan atas perubahan siakp bapak yang beberapa hari belakangan ini menjadi baik. padahal sebelum-sebelumnya jangankan untuk menyuruh tingga, datang untuk berkunjung pun dia langsung mengusir, seperti menganggapku sebagai seorang pengemis yang akan mengganggunya. tapi berbeda beberapa hari belakangan ini, Bapak terlihat mencair ketika ngobrol denganku atau dengan Vina.
"Kalau menurutku, apa yang dikatakan oleh Bapak itu benar adanya. kita semua tidak memiliki saudara yang dekat, kecuali kita semua yang ada di sini. jadi Sudah sebaiknya kalau kita tinggal bersama, bahu-membahu mewujudkan keluarga yang bahagia," tambah Vina yang sejak dari tadi dia memperhatikan.
"Kalau Farid sendiri, Farid tidak bisa memilih Pak, karena memang benar bapak, adalah orang tua Farid satu-satunya. tapi sekarang Farid memiliki seorang istri yang harus dimintai kesediaannya ketika tinggal di rumah sang mertua. Farid takut Vina tidak betah kalau tinggal dengan bapak yang mulutnya sangat jahat," jawabku akhirnya memberi keputusan.
"Bapak janji mulai sekarang bapak akan merubah sikap, oh iya, Bagaimana kamu Vin, Apa kamu mau tinggal sama bapak?" tanya Bapak sambil menatap ke arah istriku.
"Seperti yang tadi Vina bilang, Vina sebenarnya ingin tinggal bersama kalian berdua, karena kalian adalah keluargaku sekarang. Aku sudah tidak memiliki bapak dan aku juga sudah tidak memiliki Ibu, aku hanya Sebatang Kara. jadi ketika melihat Kalian terus Bertengkar, terus berselisih paham, Sebenarnya hatiku sangat sakit, karena aku tidak bisa berkumpul dengan keluarga yang masih ku miliki," jelas Vina panjang lebar.
"Maksudnya bagaimana?" Tanyaku sama Vina.
"Aku mau tinggal di sini, karena ketika aku tinggal di sini kehidupanku mulai berwarna, pagi-pagi aku bisa Bekerja layaknya seorang ibu rumah tangga, berbeda dengan tinggal di kontrakan yang setiap hari hanya rebahan, tak tahu harus berbuat apa." jawab Vina.
"Nah, istri kamu sudah setuju, sekarang Kamunya mau nggak tinggal sama bapak?" Ujar bapak mengulang kembali pertanyaannya.
"Kalau vinanya mau, ya sudah saya mau. tapi kalau sekali saja Bapak menyakiti Vina, maka saya tidak akan senggan-senggan mengangkat kaki dari rumah ini, dan jangan berharap saya akan menemui Bapak lagi," ancamku memberi keputusan.
__ADS_1
"Enggak Bapak tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu. cukup dulu-dulu saja Bapak melakukan kesalahan, sekarang Izinkan bapak untuk memperbaiki diri karena bapak sudah sadar dengan kehadiran kalian berdua memang sangat penting bagi kehidupan bapak, karena kalian adalah harta yang paling berharga yang Bapak memiliki sekarang," jawab bapak dengan serius menandakan Apa yang diucapkan tidak main-main.
"Baiklah kalau seperti itu, saya akan tinggal di sini!" Jawabku sambil mengembuskan nafas pelan, karena dalam hati kecil Entah mengapa aku tidak mau kembali ke rumah orang tuaku.
"Terima kasih banyak Rid!" ujar Bapak sambil bangkit dari tempat duduknya kemudian dia memelukku dengan begitu urat, pelukan yang sudah lama menghilang karena perselisihan paham yang tak kunjung Usai.
Perlahan aku membalas pelukan itu, rasanya begitu nyaman ketika mendapat pelukan hangat dari seorang bapak, hingga tak terasa butiran bening pun jatuh membasahi. "Maafkan Farid Pak, kalau Farid selama ini kurang ajar sama Bapak. kalau Farid selama ini belum bisa membahagiakan bapak," ujarku di di sela-sela tangis kebahagiaan.
"Sama-sama! Bapak juga minta maaf" ujar bapak.
Lama berpelukan sambil melepaskan rasa kangen atas kehangatan keluarga yang sudah hilang, akhirnya aku mulai melepaskan pelukan itu, kemudian Bapak pun duduk kembali di sampingku.
"Kalau kamu mau tinggal di sini, besok Bapak akan suruh Si Ferry untuk memindahkan barang-barangmu yang ada di kontrakan."
"Yah kamu yang mindahin, tapi nanti bapak suruh Ferry yang bawa mobilnya, kalau nggak ada orang nanti kamu bisa minta bantuan penjaga toko lainnya, agar pindahan kamu bisa cepat selesai.
"Terima kasih banyak Pak atas tawarannya!"
Akhirnya kita pun terlarut kembali dalam obrolan obrolan hangat, pembahasan-pembahasan masa lalu yang begitu indah di mana Aku dan Bapak adalah keluarga yang sangat bahagia. karena sebelum Ibu meninggal Bapak selalu membanggakanku dengan semampunya, sebisanya.
Obrolan pun terhenti ketika waktu sudah larut, aku dan Vina masuk ke dalam kamar, Sedangkan Bapak setelah meminum obat dia pun masuk ke kamarnya.
__ADS_1
"Gak Apa-apa kita tinggal di sini?" Tanyaku memastikan takut istriku tertekan sehingga dia menyanggupi untuk tinggal di rumah bapak.
"Enggak sayang, aku nggak apa-apa tinggal di sini. Aku senang kok, apalagi ketika melihat kalian berdua sangat akrab, aku sangat bahagia Semoga. keakuran Kalian terus terjalin sampai maut memisahkan. karena memang sebaiknya seperti itu, hubungan anak dan bapak harus akur, tidak boleh bertentangan paham," jawab Vina membuatku sedikit lega.
"Terima kasih ya kamu memang istri terbaikku."
"Sama-sama! Ya sudah ayo tidur, besok kan kita harus bekerja untuk memindahkan barang-barang kita dari kontrakan," ujar Vina sambil mendekatkan wajahnya Ke wajahku hingga akhirnya kita pun terlalu di keindahan rumah tangga.
Keesokan paginya kira-kira pukul 07.00, Ferry yang sudah disuruh oleh Bapak untuk membantuku memindahkan barang dari kontrakan, dia sudah datang ke rumah untuk menjemputku. Bahkan bukan hanya Ferry yang datang Dia terlihat ditemani oleh beberapa temannya.
Setelah sarapan dan ngobrol sebentar, akhirnya kami semua berangkat menuju ke kontrakanku Untuk memindahkan barang-barangku ke rumah bapak
Sampainya di kontrakan kami semua bekerja dengan giat, hingga kira-kira pukul 10 00 semua barang barangku sudah diturunkan di depan rumah bapak, mengingat barang yang kumiliki hanya sedikit, jadi tidak membutuhkan waktu dan tenaga ekstra ketika memindahkannya.
Pukul 11.00, semua barang-barangku sudah masuk ke dalam rumah, sebagian masuk ke kamarku, sebagian disimpan di tempat yang tidak mengganggu. selesai bekerja nasi putih pun sudah terhidang di atas meja, hingga akhirnya semua orang yang toko pindahan makan bersama.
Selesai makan Feri bersama teman-temannya mereka meminta izin untuk pulang ke rumahnya masing-masing, setelah kepergian mereka aku dan Vina mulai data pulang barang-barangku Agar terlihat rapi.
Hari itu aku terus terlarut dalam pekerjaan pekerjaan merapikan barang, sehingga tak terasa waktu malam pun. tiba aku, Vina dan bapak seperti biasa berkumpul di ruang Tengah sambil menonton televisi.
"Semoga kamu betah ya kembali tinggal di rumah ini," ujar Bapak membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Amin...! semoga bapaknya juga bisa berubah menjadi lebih baik, Agar anaknya betah menemani."
"Hush!" Tahan Vina sambil menepuk tanganku, memberi isyarat bahwa dia tidak setuju dengan apa yang aku ucapkan.