Dua Penghianat

Dua Penghianat
EPS. 119 Karla Diatas


__ADS_3

POV Arfan


"Sekarang kamu ada di mana?" Tanyaku sama Farid yang memberitahu bahwa istrinya sedang melakukan hal yang tidak wajar.


"Kamu Arfan bukan?" ditanya seperti itu Farid malah balik bertanya.


"Iya gua Arfan! sekarang lu ada di mana? karena baru saja gua mendapat SMS ancaman dari seseorang yang sudah diketahui sekarang bahwa orang itu adalah Erni." Tanyaku tanpa jeda.


"Maafin gua Faan! maafin gua, dulu Sudah jahat sama lu."


"Nanti aja bahas yang begituan! Sekarang keselamatan Karla lebih penting, daripada urusan kita! Tolong jelaskan sekarang kamu ada di mana."


"Sebentar! Kita video call aja, biar kamu tahu." ujar Farid sambil mengalihkan mode panggilan ke mode video call.


Aku menerima permintaan itu. terlihat Farid berada di salah satu tempat yang terlihat asing,  karena gelap tidak jelas sekarang dia berada di mana.


"Nggak jelas, gelap banget!" ujarku.


"Sebentar!" pinta Farid kemudian dia mengalihkan kamera depan ke kamera belakangnya. terlihat samar-samar di tengah kegelapan ada cahaya.


"Maksudnya apa sih?" tanyaku yang mulai kesal.


"Tadi Erni masuk ke bangunan tua itu, dan di sana terlihat ada cahaya, Mungkin ada orang di dalamnya. Aku curiga sama Erni, Kalau tidak ada kepentingan, mana mungkin Erni masuk ke dalam, dan sampai sekarang dia belum keluar."


"Terus sekarang gua harus ngapain?"


"Lu datang ke sini! kalau bisa bawa pihak yang berwajib, Karena setelah gua lihat pengamanannya lumayan ketat, di luar pintu saja terlihat ada dua orang yang menjaga."


"Ya sudah! Tolong kirimkan lokasi ke nomorku!"


"Tapi kan nomor handphone gua di blok Fan!"


"Ya nanti, gua buka bloknya!"


Akhirnya telepon itu terputus, aku mengembalikan handphone Dali. kemudian mengambil handphoneku untuk membuka blok nomor Farid. tak lama setelah itu Farid mengirimkan lokasi.


"Sekarang bagaimana Pak?" tanya Dali sambil menatap ke arahku.


"Kita lanjutkan tujuan kita melapor ke pihak yang berwajib, nanti setelah di sana. Kita bagi tugas, kamu datang ke acara pengumuman tender, kamu harus mewakili saya!'


"Tapi Pak!"


"Gak Ada tapi tapi! dua-duanya sangat penting, dua-duanya membutuhkan kita. Karla membutuhkan penyelamatan  Sedangkan para karyawan membutuhkan pekerjaan. jelasku memberi keputusan sesuai yang disampaikan oleh Dali tadi ketika di rumah.

__ADS_1


"Baik Pak!"


Akhirnya Dali pun setuju, dia mulai mengemudikan mobilnya kembali. menuju ke Kantor Polis terdekat. setelah di kantor kita pun menyampaikan apa yang terjadi. dengan Sigap pihak Kepolisian membantu, karena mereka juga sedang mencari keberadaan Karla, setelah mendapat laporan Orang hilang dari Pak Umar Beberapa hari lalu. sesuai rencana awal, aku bersama empat orang polisi menuju ke lokasi yang dikirimkan oleh Farid, sedangkan Dali dia menuju ke acara pengumuman lelang.


Mobil yang dikendarai olehku bersama empat polis, terus melaju kencang menuju lokasi di mana Farid berada. membelah padatnya kota Jakarta, karena waktu habis magrib suasana di ibukota masih ramai.


Dengan perjuangan yang gigih, akhirnya mobil itu tiba di lokasi yang dikirimkan oleh Farid. dengan cepat aku mengambil handphone untuk menghubungi Farid, namun sebelum handphone itu terhubung, Farid pun sudah datang menghampiri.


"Benar ini lokasinya!"


"Benar! tuh mobil Erni!" Jawab Farid sambil menunjuk ke salah satu mobil yang terparkir di bawah gedung tua, berbentuk ruko, berlantai tiga.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya salah seorang anggota yang menatap ke arah Farid


Farid pun mulai menceritakan tentang kejadian yang dialaminya, ketika dia mencurigai ada yang aneh dengan istrinya. yang mana Erni sering dihubungi oleh seseorang yang sangat misterius, bernama Sudewo. yang membuat aneh adalah, Erni selalu membahas tentang seseorang yang sepertinya sedang mereka Sekap. Farid menceritakan dari mulai sampai akhir. hingga kami bisa mengambil kesimpulan bahwa sekarang Erni di atas, untuk menemui orang yang di sekapnya.


"Jangan bergerak kalian sudah kami kepung!" ujar salah seorang Anggota yang menggunakan pengeras suara, setelah yakin bahwa di dalam gedung itu ada orang.


Mendengar ancaman anggota, tiba-tiba cahaya di lantai 2 mati seketika, membuat kita semakin yakin bahwa ada yang tidak beres di dalam gedung tua itu.


Pihak keanggotaan pun mulai menyusun strategi, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. karena kita belum bisa memastikan apakah Karla berada di sana, atau bahkan ada orang lain yang sedang disekap. akhirnya pihak kepolisian pun memutuskan untuk meminta bantuan dari kantor. takut orang yang ada di dalam gedung lebih banyak daripada orang yang diperkirakan. agar semakin banyak orang yang membantu, semakin mudah masalah diselesaikan. namun sebelum bantuan datang, kita akan mencoba menyisir terlebih dahulu area sekitar, sebelum masuk ke dalam gedung. kita mulai mendekati ke arah dua mobil yang terparkir di samping ruko tua yang sudah tidak digunakan, dengan hati-hati kita mulai mengecek keadaan di dalam mobil. Namun tak ada satu orang pun yang ada di dalam.


Ketua Anggota memberi komando, memerintahkan bawahannya untuk berjaga di pintu gerbang. sedangkan kita akan mencari ke area samping gedung itu, siapa tahu aja ada orang yang bersembunyi di sana. Namun ternyata di sekitar area gedung tidak ada orang sama sekali, kita mengira bahwa semua orang sudah masuk ke dalam. akhirnya kita memutuskan kembali ke arah depan, setelah yakin bahwa tidak ada celah untuk melarikan diri selain lewat pintu gerbang.


"Buruan Turun ke bawah! dan jangan sampai ada yang masuk." seru suara seorang wanita Yang Tak asing di telingaku.


"Maaf Bu! Kami takut!"


"Apa kalian bilang? takut! kalian dibayar mahal bukan untuk merasakan ketakutan. buruan turun atau kupecahkan kepalamu."


"Maaf Bu! Bagaimana kalau Ibu aja yang turun!"


Dor!


Terdengar letupan suara pistol, yang di tembakkan. membuat jantungku berdegup dengan kencang, karena kaget mendengar ledakan suara sekeras itu.


"Buruan turun!" seru suara seorang wanita tadi.


"Tapi Bu!"


"Kalau nggak ada yang mau turun! bukan kakimu yang gua tembak. tapi kepalamu yang akan gua pecahkan."


Mendengar ancaman seperti itu, Terdengar suara deru langkah yang menapaki lantai, Mungkin orang yang disuruh wanita itu merasa ketakutan. Sehingga dia memutuskan untuk turun ke lantai bawah. semakin lama, suara itu semakin mendekat ke arah tangga. dengan cepat aku turun kembali lalu bersembunyi di belakang tangga.

__ADS_1


"Sandi! lu turun ke bawah! Biar gua jaga di sini." seru seseorang memberikan komando.


"Kenapa nggak kita berdua aja yang turun?"


"Lu bandel banget! Kalau gua suruh, ya lu nurut! ingat di sini gua adalah pemimpinnya.


"Haduh!" Desis seseorang dengan membuang nafas kasar. kemudian terdengar suara tangga yang dipijak, terlihatlah bayangan orang yang mendekat ke arah depan pintu. dengan berhati-hati aku mulai mengikuti di belakang, setelah pria itu berhenti dan menatap ke arah luar. dengan cepat aku menghampit lehernya dari belakang.


"Jangan berteriak! atau gua patahkan lehermu!" ancam ku dengan berbisik, membuat orang yang awalnya meronta terdiam seketika.


"Siapa wanita yang ada di atas?" Tanyaku sambil terus mendekap leher itu.


"Erni! Bu Erni Pak!" Jawab pria itu dengan suara tertahan karena lehernya sedang aku cekik.


"Siapa lagi?"


"Ada dua teman saya di atas! yang satu sudah ditembak. yang satu sedang berjaga! Tolong jangan apa-apa kan saya."


"Ngapain kalian di sini?"


"Saya lagi jaga tahanan seorang wanita yang sedang Bu Erni sekap."


"Wanita siapa?"


"Kurang tahu Pak! tolong lepaskan saya."


"Angkat tangan!" terdengar bentakan seseorang sambil mengarahkan senter ke arah muka.


"Saya Arfan Pak!" jelasku yang tak melepaskan hempitan tangan di leher.


"Pak Arfan selamat. Terus siapa tadi yang ditembak?" ujar seseorang yang menghampiriku.


"Menurut keterangan orang ini, yang ditembak adalah anak buahnya Erni Pak!"


"Amankan orang ini! kita akan melakukan penyergapan ke lantai atas."


Akhirnya aku melepaskan orang yang ku cekik, kemudian tangannya diikat ke belakang, Lalu salah seorang membawa ke dekat mobil.


"Di atas ada berapa orang?"


"Ada 4 Pak! yang satu sudah tertembak, yang dua Bu Erni sama anak buahnya. dan yang satunya lagi adalah Karla orang yang kita cari."


"Hati-hati! musuh kita membawa senjata api." ujarnya memberi komando sambil menodongkan pistol ke arah atas tangga.

__ADS_1


__ADS_2