
Pov Karla
"Karla! yang perlu kamu ketahui, bahwa kehidupan itu akan ada akhir, tidak akan ada yang kekal. memang itu sangat menyakitkan, Apalagi sudah bertahun-tahun kita bersama. namun kita sebagai manusia, tidak bisa berbuat banyak. karena itu sudah menjadi Suratan Takdir manusia, paling yang kita bisa lakukan hanyalah mempersiapkan agar perpisahan itu menjadi perpisahan yang menyenangkan. sama seperti kamu dan para anak-anak yang lainnya, cepat atau lambat kamu akan berpisah dengan bapak dan keluarga. namun yang seperti tadi bapak bilang, kita harus berusaha agar perpisahan itu sangat menyenangkan, bukan menyedihkan." nasehat bapak panjang lebar.
"Nggak pak! nggak mauuuuuuu. Karla nggak mau berpisah sama bapak!"
"Hehehe, Bapak berharap sebelum Bapak pergi meninggalkanmu, kamu sudah berada di tangan yang tepat, agar Bapak bisa pergi dengan tenang."
"Sudahlah Pak! Jangan bahas itu!" jawabku yang merasa tidak suka mendengar penuturannya.
"Kenapa, karena kamu nggak mau menikah?"
"Iya Pak, aku nggak mau jauh dari bapak."
"Menikah itu, hukumnya wajib bagi orang yang sudah mampu melaksanakannya dan takut ketika tidak dilangsungkan pernikahan akan mengundang dosa besar. Yang harus kamu ketahui, bahwa menikah itu adalah fitrahnya manusia, demi melangsungkan tugas yang diberikan oleh sang pencipta, yaitu menjadi khalifah di bumi. maka hukumnya akan sangat berdosa, jika kita meninggalkan fitrahnya sendiri."
"Tapi Pak!"
"Nggak ada tapi-tapi! sekarang Bapak mau nanya serius sama kamu."
"Nanya apa?" Jawabku sambil menatap Wajah pria yang paling pertama aku kagumi.
"Apa kamu suka sama Arfan?"
Mendapat pertanyaan Bapak seperti itu, Aku hanya menundukkan pandangan bingung harus menjawab apa. karena semenjak aku melihat wajahnya ketika dia pingsan di pinggir sungai cimandiri. ada rasa aneh yang berdesir mengalir ke tubuhku, yang tidak aku dapatkan dari pria-pria lain.
"Kenapa kamu diam? Kalau kamu suka, Bapak sangat setuju sama nak Arfan. Bapak sudah tahu karakternya yang pantang menyerah, buktinya sampai sekarang dia tetap konsisten belajar ngaji sama kita, itu menunjukkan bahwa dirinya bersungguh-sungguh untuk merubah kehidupannya menjadi lebih baik."
"Aku, akuuuu, aku bingung Pak!" jawabku yang tergagap.
"Kenapa harus bingung, kamu nggak usah terlalu memikirkan bapak, karena lambat laun kita akan tetap berpisah. baik kamu menikah ataupun bapak yang meninggal."
"Sudahlah Pak! Jangan bahas meninggal-meninggal, Karla selalu berdoa agar Bapak tetap hidup selama-lamanya, agar bisa menemani Karla." Jawabku dengan agak kesal karena itu saja yang selalu dibicarakan oleh Bapak.
"Hahaha, Kamu Egois Karla, kamu tidak boleh seperti itu, Kamu harus menikah. agar ketika Bapak pergi dari dunia ini bapak bisa tenang, karena kamu sudah berada di tangan yang tepat."
"Tapi Pak?" Sanggahku.
"Nggak ada tapi-tapian, Apa kamu mau Bapak meninggal dengan penasaran, karena melihat putri yang sangat Bapak banggakan merasa kesepian tanpa ada yang menemani. sekarang bapak pengen tahu isi hati kamu, Apa kamu benar-benar enggak suka sama Arfan?" tanya Bapak untuk kesekian kalinya.
Aku pun terdiam kembali, rasanya berat untuk mengakui semua yang ada di hatiku. dan rasanya sangat malu ketika aku mengungkapkannya, hanya tundukkan kepala sebagai Jawaban dari pertanyaan bapak.
"Kalau kamu suka, kamu yakinkan bahwa Arfan adalah lelaki yang terbaik yang akan membimbingmu, menuju Jalan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat."
"Aku takut Pak! aku takut dia tidak mampu menahan beban kehidupannya dan kejadian yang dulu terulang lagi."
__ADS_1
"Jangan membahas kejadian yang dulu, Lihatlah yang sekarang, yang di mana orang itu sudah berubah, kasih kesempatan untuk mempercayai mereka."
"Kalau aku memberi kesempatan sama dia, terus aku masih boleh tinggal di sini."
"Boleh, boleh! asal suamimu mengijinkan, bapak akan sangat bahagia ketika kalian berada di samping bapak."
"Serius pak?"
"Serius! Bapak kan nggak pernah bohong sama kamu."
"Terima kasih banyak Pak! terima kasih, Tapi kasih waktu Karla untuk meyakinkan bahwa dia adalah yang terbaik buat Karla, dan karla ingin meminta petunjuk terlebih dahulu agar yang dilakukan tidak salah.
"Maaf Bapak bukannya memaksa, namun kalau kamu tidak suka, maka kamu tidak usah memaksakan."
"Iya Pak! terima kasih atas pengertiannya."
"Ya sudah! ayo kita bobok! Sekarang sudah larut malam. besok kamu harus bekerja kan?" ajak bapak sambil bangkit kemudian menuju ke arah pintu, namun ketika Bapak hendak Mengunci pintu, terdengar suara langkah kaki yang sedang berlari menjauh.
"Siapa itu?" tanya Bapak yang membuka pintu untuk melihat orang yang mengintip, Namun sayang orang itu sudah ditelan oleh belokan gang.
"Ada apa Pak?" Tanyaku yang menghampiri.
"Nggak tahu, mungkin orang iseng." jawab Bapak sambil menutup kembali pintu lalu menguncinya.
Kita Berdua pun mengecek kembali kunci-kunci akses masuk ke rumah, mulai dari Jendela, pintu dan yang lainnya. Setelah dirasa aman, aku dan bapak naik ke lantai 2, untuk beristirahat mengumpulkan tenaga kembali untuk melanjutkan aktivitas Keesokan paginya.
"Mau ngapain sih! malam-malam begini nelepon." Gumamku sambil menggeser tombol warna hijau ke arah samping.
"Halo! aku tahu kamu pasti belum bobok?" tanya pria yang nelpon di ujung sana.
"Mau ngapain lu, pakai nelpon nelpon gua segala?" Tanyaku dengan kesal.
"Nggak apa-apa aku cuma mau mengucapkan selamat tidur buat calon istriku." ujar Arfan yang terdengar mengulum senyum.
"Nggak tahu malu! udah ditolak aja masih berharap."
"Ya sudah Mimpi indah ya! Karla yang judes." Ujar Arfan sambil memutus teleponnya, membuatku sedikit mengerutkan dahi, tidak mengerti apa yang dia sampaikan dan dari mana dia tahu aku masih belum tidur.
Tring! tring! tring! tring!
Teleponku berbunyi lagi, terlihat pria bod0h itu memanggilku lewat telepon.
"Ada apa lagi sih! ganggu orang tidur aja."
"Lupa satu lagi!"
__ADS_1
"Apa?"
"Kalau gatal garuk!" kata Arfan sambil menutup teleponnya kembali.
"Dasar aneh!" gumamku sambil mengulum senyum Entah mengapa aku merasa bahagia setelah tadi mendengar pengakuannya, walaupun mulutku menolak namun hatiku berkata lain.
Aku kembali melanjutkan permainan cacingku, setelah puas bermain game cacing, mataku mulai terasa berat, hingga akhirnya aku menyimpan handphone-ku di atas nakas, lalu menutup tubuhku dengan selimut untuk menjemput mimpi-mimpi indahku.
Keesokan paginya, Sesampainya di kantor terlihat di ruanganku ada sesuatu yang aneh, ruanganku begitu harum, bersih dan ada vas bunga mawar merah yang ditaruh di meja kerjaku. membuatku mengerinyitkan dahi tidak mengerti dengan apa yang terjadi sebenarnya.
Aku kembali ke luar ruangan, lalu mencari karyawan cleaning. tak susah mencari karena ada salah satu karyawan yang sedang bekerja di depan ruangan kantor.
"Maaf, kamu barusan membersihkan ruangan saya?" tanyaku sambil menatap ke arah orang yang usianya di bawahku.
"Belum Bu? kan biasanya ruangan dibersihkan setelah selesai semua koridor dan ruangan karyawan-karyawan lainnya. sedangkan kalau ruangan kantor supervisor cleaning service, ibu sendiri kan yang melarang kami untuk membersihkannya. Karena menurut Ibu, Ibu bisa membersihkannya sendiri."
"Terus siapa yang membersihkan ruanganku?"
"Maaf kurang tahu Bu! kalau ibu penasaran mungkin Ibu bisa melihatnya di CCTV!"
Merasa mendapat ide, aku pun berjalan menuju ke arah ruang keamanan, terlihat pak sandi yang sedang berjaga.
"Permisi! selamat pagi Pak." sapaku mengulum senyum ramah sama satpam Atri Group.
"Bu Karla, Ada apa Bu?" tanya Pak Sandi dengan wajah datarnya.
"Maaf mengganggu! boleh saya melihat rekaman CCTV, karena di ruangan kerja saya ada yang aneh."
"Aneh bagaimana, apa di ruangan ibu ada yang hilang?"
"Nggak ada Pak! namun saya penasaran aja Siapa yang masuk ke ruangan saya." jawabku memberi penjelasan.
"Baik kalau seperti itu, Silakan masuk!" Pak Sandi mengajakku masuk ke ruang kontrol CCTV, kemudian dia mengambilkan kursi untuk tempat dudukku.
Setelah aku duduk, Pak Sandi mulai mengotak-atik komputer untuk melihat Siapa yang masuk ke ruanganku. Setelah lama menunggu akhirnya rekaman itu bisa diputar, terlihat ada seorang pria menggunakan hoodie dengan membawa alat kebersihan masuk ke dalam ruangan kerjaku. entah Apa yang dilakukan karena CCTV itu hanya mengawasi koridor.
"Ini kejadiannya jam berapa Pak?" tanyaku sambil menatap Pak Sandi.
"Jam 05.30 Bu! Tuh lihat kan ada waktunya." jawab Pak Sandi sambil menunjuk ke arah pojok layar di mana Di situ tertera waktu kejadian sedang berlangsung.
Aku dan Pak Sandi terus memperhatikan layar komputer, sehingga pukul 06.00 pria misterius itu keluar dengan membawa kembali alat kebersihan, lalu terlihat dia kembali dengan membawa vas bunga dan pengharum ruangan, masuk kembali ke dalam ruanganku.
Tak lama dia di dalam ruangan, terlihat pria itu keluar kembali sambil menatap ke arah layar CCTV, lalu membuka hoodienya. terlihatlah bahwa pria itu adalah Arfan yang sedang tersenyum sambil membentangkan tulisan. "Karla I love you." membuat pipiku merah seketika, merasa malu sama Pak Sandi dengan apa yang dia lakukan.
"Sudah jelas kan Bu Siapa yang masuk ke ruangan?" tanya Pak Sandi yang mencairkan wajah dinginnya dengan senyum. Mungkin dia juga merasa lucu dengan apa yang dilakukan oleh anak majikannya.
__ADS_1
"Jelas Pak! Maaf mengganggu!" jawabku yang merasa malu sambil bangkit kemudian bergegas pergi meninggalkan ruang kontrol CCTV.