
Pov Ira
Berada diperlukan orang yang tepat, hingga akhirnya rasa kantuk pun mulai datang kembali. aku mulai mencoba melupakan semua yang baru saja menimpaku, sehingga aku pun mulai terhanyut dalam kegelapan Dinginnya malam. beruntung sekarang tidak ada gangguan mimpi buruk yang membuatku berteriak, bahkan sampai aku bangun ketika adzan subuh berkumandang, aku tidak bermimpi sama sekali. Kejadian ini semakin membuktikan kalau mimpi itu hanya bunga dari tidur.
Setelah melaksanakan salat subuh, Seperti biasa aku berolahraga sebentar agar lemak-lemak di tubuhku tidak betah untuk tinggal, sambil mencari sarapan sarapan untuk memulai hari.
Kira-kira pukul 07.00 pagi, aku sudah berangkat dengan menggunakan ojek daring menuju ke kantor Mandiri group, menjalankan rutinitas yang sangat membosankan. tapi aku tetap bersyukur karena di tempat itulah aku menemukan kedua pria tampan gagah dan bisa menjadi motivasi, penyemangat ketika aku berangkat kerja.
Setibanya di kantor, Seperti biasa aku menjalankan rutinitasku, mulai dari mengelap meja, merapikan berkas-berkas kemudian dilanjutkan dengan bekerja .
Truk! truk! truk!
Pintu ruanganku ada yang mengetuk, dengan cepat aku pun mempersilahkan, hingga Pintu itu terbuka lalu muncullah pria yang kemarin meninggalkanku di jalan.
"Kak Dali....!" gumamku dengan pelan, walau Sebenarnya aku merasa heran kenapa dia menemuiku di ruangan kerjaku, biasanya dia akan lebih memilih menyuruhku untuk menemuinya di ruangan Asisten Manager.
"Ada keperluan apa Kak?" Tanyaku sambil menatap penuh ke arah wajahnya yang terlihat sangat imut enak untuk dipandang.
Sebelum menjawab, Dia pun duduk di hadapanku walaupun belum dipersilahkan. mungkin begitulah sikap seorang atasan, Mereka ingin dihormati tapi tidak bisa menghormati orang lain.
"Kemarin kamu mimpi apa?" tanya Kak Dali yang membuatku semakin merasa heran.
"Maksudnya mimpi?" jawabku yang tak mengerti.
"Kemarin kan pas waktu di taman, di depan rumah Pak Farid, kamu ketiduran terus kamu mimpi sampai berteriak," ujar Kak Dali menjelaskan.
"Iya kenapa?"
"Aku nanya kamu mimpinya mimpi apa?"
__ADS_1
"Heran deh...! tumben-tumbenan Kakak lebih tertarik dengan membahas mimpi, daripada pekerjaan. biasanya yang ada di pikiran Kakak hanya Omset, Omset, Omset," jawabku menyendirnya.
"Aku serius Ira....! Kamu mimpi apa, soalnya tadi malam aku mimpi buruk, terus mimpi itu terasa sangat nyata."
"Mimpi buruk bagaimana?" Tanyaku yang masih belum mengerti.
"Aku mimpi bermain ke rumah Pak Farid, namun di situ aku bertemu dengan Vina tapi yang anehnya dia selalu menunjuk ke kamar yang berada di ruang tengah, sehingga lama-kelamaan aku pun diajak masuk ke dalam kamar itu. walaupun beberapa kali aku menolak, karena tidak enak sama Pak Farid. Tapi anehnya setelah masuk ke dalam kamar, aku melihat tiga sosok makhluk yang sangat menyeramkan sampai aku berteriak. Dan bangun dari tidurku."
"Kok mimpi kita sama Kak, tadi malam aku juga mimpi bertemu dengan Kak Vina,"
"Kira-kira ini ada apa ya?" tanya Pak Dali dengan raut wajah serius.
"Kurang tahu ra, kayaknya ini adalah satu pertanda buat kita,"
"Pertanda apa, Jangan membuatku takut?"
"Ya nggak tahu, Mungkin ada sesuatu hal yang besar yang akan kita alami, karena tanda-tandanya sudah terasa oleh kita sekarang.
"Kita tunggu sampai besok kalau nanti malam, kalau kita masih dihantui dengan mimpi buruk besok kita akan mengajak orang untuk menengok rumah itu, takut terjadi sesuatu sama keluarga Pak Farid." jawab Kak Dali memutuskan.
"Sebenarnya aku juga merasa janggal dengan apa yang berada di rumah Pak Farid, lampunya terlihat masih menyala, sedangkan mobilnya ada di parkiran, kalau mereka pergi pasti mereka menggunakan mobil." jawabku melengkapi.
"Ya sudah kita tunggu sampai besok, kalau tidak bermimpi lagi mungkin kejadian yang dialami kita tadi malam itu hanya Bunga Tidur. Oh iya maafin aku kemarin sudah meninggalkanmu," ungkap Kak Dali mengalihkan pembicaraan.
"Nggak perlu...!" jawabku Ketus.
"Nggak perlu bagaimana, Aku sudah salah karena meninggalkan di jalan."
"Kalau sudah tidak ada kepentingan lagi, mending Bapak tinggalkan ruangan saya. soalnya saya masih banyak pekerjaan," usirku meski tidak sesuai dengan hati. Namun kedongkolan yang dibuatnya ketika meninggalkanku di jalan masih terasa sampai sekarang.
__ADS_1
"Yah tapi maafin ya...!" jawabnya tanpa sedikitpun raut penyesalan, wajahnya terlihat datar seperti orang yang tidak memiliki dosa.
Setelah menyampaikan kejadian yang menimpanya, dia pun pamitan keluar dari ruanganku, untuk melanjutkan kembali pekerjaannya, diantar oleh tatapanku sampai tak terlihat ditelan oleh pintu.
Aku menarik nafas dalam, kemudian melepaskannya dengan pelan. meski Hati kecilku mengingatkan bahwa aku mencintai orang yang sudah memiliki istri itu adalah kesalahan yang sangat fatal. namun melihat sikap dan tingkah lagu Kak Dali yang membuatku selalu memikirkannya. aku rasanya akan susah untuk menjauh dari kehidupannya, bahkan doaku sangat jelek. ketika Calista melahirkan Aku harap dia meninggal bersama anak-anaknya, dan aku bisa hidup bahagia bersama pria idamanku seperti novel-novel yang aku baca.
Setelah puas memikirkannya, aku mulai terfokus kembali Menatap layar komputer untuk melanjutkan pekerjaan-pekerjaan yang sudah menumpuk di meja. terlalut dalam pekerjaan hingga akhirnya aku melupakan semua kengerian yang tadi malam aku alami dan khayalan keindahan bersama pria pujaan.
Hari itu aku lalui seperti biasanya, bekerja dan bekerja seperti mesin yang tak bernyawa. namun kalau tidak seperti itu Mana mungkin aku masih bisa bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi kota Jakarta yang sangat keras, karena kalau tidak kerja di sin,i tidak ada lahan untuk dijadikan bertahan hidup atau bertani.
Sore hari setelah pulang bekerja, aku dan ibu duduk di ruang televisi. seperti hari-hari biasa di mana kita akan menghabiskan waktu senja sambil menonton acara kuis yang disiarkan di salah satu channel TV. awalnya aku tidak suka menonton acara settingan seperti itu, tapi lama-kelamaan ketika aku menemani Ibu, akhirnya aku mulai mengikuti setiap harinya.
Kedua pasang mata terfokus ke arah televisi yang sedang menunjukkan orang yang sedang mengisi survei. namun tiba-tiba sudut mataku menangkap bayangan hitam yang berlari menuju ke kamarku, membuatku mengerutkan dahi. kemudian menatap ke arah lampu, takut ada cicak atau ada kecoa yang bisa menimbulkan bayangan, tapi ternyata tidak ada yang aneh di dekat lampu.
Aku mulai fokus kembali menonton televisi, tapi bayangan hitam itu terlihat kembali seperti keluar dari kamar menuju ke teras. namun ketika aku melihat bayangan itu tidak ada.
"Kayaknya aku harus ke psikiater, soalnya aku sering berhalusinasi seperti ini," gumamku tiba-tiba.
"Maksudnya," tanya ibu sambil menatap penuh heran, mungkin dia mendengar ketika aku bergumam.
"Nggak nggak bu, nggak ada apa-apa. Oh iya itu orang bodoh banget, masa pertanyaan seperti itu tidak bisa menjawab," ujarku mengalihkan pembicaraan agar ibu tidak curiga.
"Yah namanya juga manusia tidak semuanya pintar, tidak semuanya beruntung," jawab ibu membela.
Kedua mataku mulai terfokus kembali ke arah layar televisi, namun bayangan itu semakin lama semakin sering lewat keluar masuk kamarku. aku tidak memperdulikan mungkin itu hanya halusinasi atau imajinasi saja.
Waktu pun terus maju Tak Begitu Terasa, hingga akhirnya kira-kira pukul 10.00 aku mengajak Ibu kembali untuk tidur bersama. Awalnya dia menolak namun setelah aku paksa akhirnya Ibu Pun bersedia menemaniku.
Keberadaan ibu di samping, membuatku sedikit agak tenang, karena ada orang yang akan melindungi. kesibukan di kantor yang membuatku sedikit merasa kelelahan, hingga dengan cepat aku pun terlelap hanyut ke alam impian.
__ADS_1
Di mimpi itu aku kembali didatangi oleh Vina, sama kejadiannya seperti kemarin, aku ditunjukkan salah satu kamar yang berada di tengah rumah. seperti dia sedang ingin memberitahu sesuatu hal yang penting. Namun sayang sampai sekarang Aku tidak mengerti dengan impian itu, sehingga aku pun terbangun karena akhir dari mimpiku selalu diakhiri dengan Vina yang wajahnya berubah bentuk menjadi menyeramkan.
Merasa penasaran dengan mimpi yang aku alami, aku mencoba mengambil handphone lalu mencari nomor Pak Farid untuk mengabari kejadian yang sedang menimpaku. namun handphone Pak Farid semenjak Kak Dali mau mengambil mobil, handphone itu masih belum terlihat aktif. sehingga aku hanya dipenuhi dengan rasa penasaran dan ketakutan.