
Pov Erni
Aku membiarkan wanita itu pergi meninggalkanku, karena apa yang aku inginkan sudah tercapai, Aku hanya ingin dia tahu bahwa Arfan tidak serendah itu. Biar dia malu dan sadar diri tidak selevel dengan suamiku.
Aku baru bisa bertemu kembali dengan Arfan, setelah pertemuan pertama kali ketika dia sedang memungut sampah. aku yang terus mencari Namun sayang aku tidak bisa menemukannya, akhirnya mau tidak mau aku harus menggunakan jasa wanita licik sepupuku.
Ketika aku menyuruhnya untuk mencari keberadaan Arfan, hanya satu hari saja dia sudah menemukan di mana suamiku tinggal. namun Alangkah terkejutnya ketika Vina berbicara bahwa Arfan sekarang sedang dekat dengan seorang wanita. Awalnya aku tidak percaya, namun ketika aku melihat dia memeluk wanita itu, aku yakin bahwa yang diucapkan oleh Vina itu benar adanya. Arfan seolah memiliki rasa yang terpendam di dalam hatinya.
Dari Vina juga aku tahu sekarang arfan tinggal di tempat kumuh. hanya untuk dekat dengan wanita yang bernama Karla, cleaning service yang bisa naik derajat karena dekat dengan Ibu Aisyah mantan mertuaku.
Jujur aku akui, Vina memang sangat licik sampai-sampai hal sedetail itu bisa dia dapatkan dengan begitu mudah. entah bagaimana caranya Bahkan aku saja harus rela mengizinkan dia untuk bekerja di tempatku, meski dia tidak memiliki kemampuan sedikitpun.
Tring! tring! tring!
Lamunanku dikagetkan dengan suara handphone yang berbunyi, dengan cepat aku mengambil handphone itu lalu melihat Siapa orang yang menghubungiku.
"Iya ada apa Vin?"
"Bagaimana sekarang, ibu yakinkan dengan apa yang saya sampaikan?" ujar wanita licik itu menebak pikiranku.
"Maksudnya bagaimana?"
"Sama saya jangan pura-pura seperti itu Bu! tadi siang ibu menemui Pak Arfan, sekarang Ibu baru selesai menemui kekasihnya.
"Kamu sekarang ada di mana?" tanyaku sambil melihat ke area sekitar, mencari keberadaan wanita licik.
"Ibu nggak perlu tahu saya ada di mana, yang perlu Ibu tahu saya sekarang mengetahui Ibu sedang duduk dengan melamun."
"Sial4n mau ngapain Lu, ngikutin gua!"
"Mana janji ibu, tentang bonus yang sudah Ibu janjikan?"
"Sabar apa! baru saja aku menarik nafas, kamu sudah meminta pembayaran."
"Ya sudah! kalau ntar saya keburu menemui Pak Arfan dan saya bisa bercerita banyak tentang ibu yang mau kembali kepadanya, gara-gara investor di perusahaan Ibu ingin menarik saham!" ancam vina benar-benar menunjukkan kelicikannya.
"Gimana mau gua kirim! sedangkan lu masih nelpon?"
"Oke! oke! aku tunggu, Terima kasih Ibu Erni yang sangat cantik!" ujar Vina sambil memutus panggilan telepon.
Dengan kesal, aku pun mengalihkan layar handphone ku ke mobile banking untuk mengirimkan beberapa jumlah uang ke nomor rekening Vina. baru dua minggu aku berkenalan dengan wanita itu uangku sudah habis puluhan juta.
Tring!
__ADS_1
"Terima kasih uangnya sudah masuk! semoga Tuhan membalas kebaikan ibu, senang bekerja sama dengan orang baik seperti ibu Erni." isi pesan yang dikirimkan oleh Vina.
"Dasar wanita licik!" gumamku sambil kembali memasukkan handphone ke dalam tas, setelah dirasa pikiran ku agak sedikit tenang, Aku pun berjalan pergi keluar dari Cafe tempat aku berbicara dengan Carla.
*****
Pukul 19.30, seperti biasa aku berbaring di atas ranjang, sambil Menatap layar televisi menonton drama Asia kesukaanku, karena hanya dengan cara itulah aku bisa menenangkan diri dari segala cobaan yang sedang menimpa.
Kring! kring! kring!
handphone-ku berbunyi, dengan malas aku bangkit lalu melihat Siapa yang menelpon.
"Halo! ada apa rid?" Tanyaku setelah telepon itu terhubung.
"Kamu ada di mana, Aku mau ke rumah?"
"Di rumah lah! Di mana lagi?" jawabku yang sedikit malas karena semakin ke sini, semakin terasa Farid adalah pria yang tak berguna.
"Boleh nggak aku ke rumah?"
"Mau apa?"
"Ada suatu hal yang penting, yang ingin aku bicarakan."
"Nggak, aku nggak butuh uang, aku ingin bicara penting tentang investasi."
"Investasi apa?"
"Nanti aja aku ceritakan! kalau aku sudah ada di rumah kamu, boleh kan?"
"Boleh! tapi nanti ya ngobrolnya setelah aku menyelesaikan filmku!" jawabku yang males. kemudian tanpa menunggu jawabannya dengan segera aku memutus telepon.
"Ganggu kesenangan aja! Menyesal kemarin aku buru-buru menerima pinangannya." gumamku sambil melempar handphone ke atas kasur, kemudian mataku terfokus Kembali ke layar.
Pukul 21.00, akhirnya film drama itu selesai, dengan segera aku mematikan televisi kemudian mengambil handphone yang tadi aku lempar
"Kamu jadi ke rumah?" aku bertanya kepada Farid melalui pesan singkat.
Trink!
"Aku sudah ada di ruang tamu, menunggu dari tadi." melihat balasannya aku pun segera bangkit dari tempat tidurku, kemudian berjalan membuka pintu langsung menuju ke arah ruang tamu. benar saja terlihat Farid yang sedang duduk sambil memainkan handphonenya.
"Maaf ganggu ya, sayang?" ujarnya sambil tersenyum Tak sedikitpun terlihat kemarahan di wajahnya. Padahal kemarin dia sampai menangis karena aku masukkan mainanku ke belakangnya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa! mau apa?" jawabku sambil duduk di hadapannya.
"Kamu masih punya uang simpanan nggak?" pertanyaan yang paling aku benci yang keluar dari mulut lelaki yang tak berguna ini, seharusnya akulah yang bertanya seperti itu.
"Mau apa, Mau minta lagi? kamu kerja yang bener dong Rid, masa laki-laki dinafkahi oleh seorang perempuan!" dengusku dengan nada kesal.
"Nggak! bukan buat aku sayang, kamu Makanya jangan marah-marah dulu! Aku kan belum cerita, jadi Tolong dengarkan ceritaku.
"Ya sudah! aku dengerin." jawabku sambil melipatkan kedua tanganku di depan dada.
"Kamu tahu rumah sakit swasta, yang baru dibangun di dekat kantor Erni Group?"
"Terus?"
"Sekarang mereka lagi mencari investor untuk melengkapi peralatan medisnya, Apa kamu mau berinvestasi di sana? lumayan buat masa depan kita?"
"Hahaha, kamu kali, aku! walaupun nggak investasi di sana, aku masih punya usaha yang bisa menghasilkan uang setiap bulan, kalau kamu mau investasi, kamu pakai uang sendiri dong!"
"Ya aku cuma nawarin doang kok! kalau nggak mau nggak apa-apa. Aku hanya ingin memberi informasi, karena aku mendapat informasi ini langsung dari pemilik perusahaannya.
"Ya buat apa investasi, kalau ada uang mending investasi di perusahaan gue sendiri!"
"Tapi untungnya besar sayang! mereka bersedia menawarkan keuntungan yang tinggi."
"Sorry aku nggak tertarik! Ya sudah kalau nggak ada lagi yang kamu ingin bicarakan, sekarang kamu pulang saja! kepalaku masih pening banyak urusan kerjaan di kantor." usirku sambil bangkit dari tempat duduk, tanpa memperdulikan kembali Farid yang hendak berbicara.
"Aku boleh nginep di sini kan?"
"Terserah kamu!" jawabku sambil masuk ke dalam kamar, kemudian Mengunci pintu dari dalam. Entah mengapa akhir-akhir ini aku semakin membenci pria penghancur kebahagiaanku, sekarang aku sadar bahwa orang yang sangat mengertikanku hanyalah Arfan.
Aku harus cepat bergerak, agar bisa merebut kembali hatinya. agar kehidupanku tak terkatung-katung. ternyata ketakutanku di awal sekarang terjadi, aku tidak bisa mengurus perusahaan pemberian suamiku. Meski aku sudah berusaha semaksimal mungkin.
Aku Rebahkan tubuhku di kasur kemudian mengambil handphone, melihat kembali foto-foto kebersamaan keluargaku dulu yang sangat begitu bahagia.
Benar! Besok aku harus kembali menemui Arfan! agar dia bisa merasakan kehadiran cintaku yang begitu tulus untuknya
Tring!
"Aku boleh ikut tidur di kamar kamu?" tanya Farid melalui aplikasi pesan.
Aku hanya melihat pesan itu tanpa membalasnya, karena pikiran dan khayalanku sedang terfokus ke mantan suami yang sangat membanggakanku.
Coba kalau aku punya nomornya, mungkin sekarang aku akan bercerita banyak tentang keluh kesahku yang tak mampu berdiri tampanya.
__ADS_1
Merasa tidak mendapat jawaban dari semua kegundahanku, aku pun mulai memadamkan lampu kamar diganti dengan lampu tidur. mencoba untuk memejamkan mata mengubur semua rasa penyesalan, berharap aku menemukan kebahagiaan dalam tidur lelapku.