
Pov Aisyah
"Keluarga Bapak Arfan?: ujar Seorang perawat yang keluar dari balik pintu ICU.
"Iya saya, Sus!" Dengan cepat aku pun menghampiri perawat yang memanggil, untuk menanyakan ada apa.
"Ibu sudah boleh melihat Pak Arfan! namun beliau belum sadarkan diri. karena banyak racun yang masih mengendap di tubuhnya."
"Terima kasih sus!" ucapku.
Akhirnya Suster itu memberikanku baju Oka, sebagai syarat untuk menjenguk orang yang sakit. Kemudian mempersilahkanku untuk masuk kedalam. dan sebelum masuk, suster memberikan peringatan terlebih dahulu. agar aku tidak membuat anakku sedih, aku harus menyemangati anakku, supaya Arfan bisa cepat pulih dan cepat siuman. seperti yang tadi Dokter bilang, bahwa orang yang sedang koma, otaknya masih bisa bekerja. namun hanya tubuhnya saja yang tidak responsif.
Setelah aku masuk ke dalam ruangan, di mana anakku dirawat. tubuhku bergetar hebat, setelah melihat keadaan anak yang selalu aku sayangi. sekarang terbaring lemah tak bergerak. dengan berbagai alat yang menempel di tubuhnya, hidung dan mulut yang terpasang selang, serta tangan kanan dan tangan kiri juga tidak terlepas dari alat-alat yang tidak aku mengerti. belum di bagian dada masih menempel alat-alat yang lainnya.
Matanya yang terpejam, napasnya yang tak terlihat. membuat hatiku semakin sakit perih, yang tak bisa ku lukiskan. perlahan aku langkahkan kakiku, mendekati ranjang, di mana Arfan sedang terbaring.
Aku tahan semua rasa tangis itu, agar tidak keluar. agar Arfan tidak merasa sedih, agar dia semangat, untuk kembali melanjutkan kehidupannya.
"Sabar ya, Bu!" ucap Seorang perawat yang masih merapikan alat-alat medis.
"Terima kasih!" jawabku dengan suara tertahan, rasanya jangankan untuk berbicara, untuk menahan tubuhku agar tetap berdiri saja sangat susah.
"Maafkan aku, atas kejadian tadi. kami tidak tahu cerita yang sebenarnya. Ibu yang sabar! semoga anak Ibu cepat sembuh." ucap perawat itu meminta maaf.
Aku hanya melirik sebentar ke arahnya, kemudian menatap kembali ke arah Arfan yang tidak memberikan respon apa-apa, tidak menggubris perkataan Suster itu.
"Kamu yang kuat ya, nak! ibu yakin kamu adalah anak yang hebat!" ucapku sambil mengusap rambut Arfan.
Dia tidak merespon apapun, Arfan hanya menutup Mata. entah mengapa dia bisa melakukan hal yang membahayakan nyawanya. mungkin memang benar, cobaan yang dialaminya sangat begitu berat. Dua orang yang sangat dekat dengannya, tega berbuat hal yang Di Luar Batas di belakangnya.
Pukul 16.00. aku keluar dari ruang ICU, terlihat Pak Andi masih menunggu di kursi koridor rumah sakit, setelah melihatku keluar, dia bangkit berdiri dari tempat duduknya, Lalu menghampiriku.
"Tolong, Pak Andi! sekarang pulang, dan rapikan kembali kamar kerjaan anakku, saya takut, ada dokumen-dokumen penting di dalamnya!" seruku sama sopir yang menolong Arfan.
"Baik, bu! Bagaimana keadaan Pak Arfan?" tanya Pak Andi yang terlihat khawatir.
__ADS_1
"Alhamdulillah! anak saya sudah mendapatkan pertolongan medis, semoga saja dia cepat bangun dari tidurnya." jawabku lemas.
"Amin! semoga pak Arfan baik-baik saja! saya pamit dulu Bu!" ucap supir itu sambil berlalu.
"Kalau uangnya kurang! kamu hubungi saya saja."
"Baik bu!" Jawab pak Andi, sambil menghentikan langkah menghadap ke arahku, kemudian dia pun pergi berlalu, meninggalkanku yang masih berdiri di koridor.
Perlahan ku langkahkan kakiku, untuk mencari mushola. Karena aku belum melaksanakan salat ashar. setelah bertanya kepada para penjaga, akhirnya kakiku tiba di depan pintu tempat ibadah. dengan cepat Aku menuju kamar mandi, untuk mengambil air wudhu.
Setelah selesai mengambil air wudhu akupun masuk ke dalam mushola. melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslimah, dilanjutkan dengan membaca dzikir-dzikir yang sudah menjadi kebiasaanku. diakhiri dengan doa, memohon kepada sang pencipta, untuk menyembuhkan anakku.
Aku memohon agar Arfan diberikan kekuatan dalam menghadapi cobaan, disehatkan kembali seperti sedia kala. setelah selesai melaksanakan salat asar, ku pun keluar kembali dari musala rumah sakit itu.
Di perjalanan menuju ruang ICU, aku bertemu kembali dengan wanita yang sudah menyakiti anakku. Dia yang baru masuk dari pintu gerbang mungkin habis mencari makanan ringan.
"Kok! Ibu belum pulang?" tanya Erni yang terlihat kaget. tangannya memegang plastik makanan berlogo Swalayan.
Aku tidak menjawab pertanyaannya. rasa benci yang sudah menyelimutiku, sehingga jangankan untuk bertutur sapa. melihat mukanya saja, ingin rasanya aku membenamkan di bara api yang begitu panas.
"Kalau sudah ketemu, tolong bilangin! kalau dia sudah tidak mau dengan aku! tolong Ceraikan saya!" ucap Erni membuat langkahku terhenti, kemudian membalikkan badanku menghadap kearahnya.
Plakk!!!
Satu tamparan aku Daratan di pipi menantu yang sudah menghianati anakku. Erni hanya menatap nanar kearahku, dengan memegangi pipinya.
"Kenapa Ibu menamparku? aku hanya meminta hakku!" ucap Erni yang tidak suka mendapat perlakuan seperti itu.
"Jangankan diminta! tidak diminta pun, saya yang akan mengurus perceraian kalian!" ucapku sambil menatap tajam ke arahnya, mataku mulai mengembun, rasanya tidak percaya ada orang yang seperti ini. Suami yang sedang berusaha untuk tetap hidup, istri malah Meminta cerai.
"Baik, saya tunggu! namun Ibu tolong bilang sama suamiku, eh calon mantan suami, kalau dia menceraikanku. dia tidak akan mendapat harta apa-apa, karena semua harta yang dia miliki, sudah menjadi atas Namaku!" ancam Erni.
"Ambilah semuanya! kami bisa bekerja, dan menghasilkan uang sendiri. nggak seperti kamu yang menumpang hidup dengan anakku!" ucapku dengan tegas, kemudian membalikan tubuh untuk melanjutkan langkah kakiku, menuju ruang ICU.
Erni yang masih memegang pipinya, dia hanya terdiam menatap kepergianku. tidak ada pengejaran lagi, seperti yang tadi ia lakukan.
__ADS_1
Sesampainya di ruang ICU. di mana Arfan sedang dirawat, aku menghubungi salah satu pengacara kepercayaan keluargaku, untuk mengurus perceraian Arfan.
Setelah menyampaikan maksud dan tujuanku, serta memberikan bukti-bukti tentang perselingkuhan Erni, dengan Farid sahabat Arfan. aku kembali menatap tubuh anakku, yang masih terbujur kaku. Berharap ada satu keajaiban, di mana anakku bisa sembuh.
Truk! truk! truk!
Pukul 20.00. pintu ruangan Icu ada yang mengetuk, setelah aku mempersilahkan, masuklah Dali ditemani istrinya.
"Assalamualaikum!" ucap Dali sambil mencium punggung tanganku, diikuti dengan istrinya.
"Waalaikumsalam! Kamu tahu dari mana Arfan ada di sini?" Jawabku bertanya dengan suara pelan, agar tidak mengganggu Arfan yang belum sadarkan diri.
"Tahu dari orang yang saya tugaskan, untuk mencari keberadaan Pak Arfan, Bu! maaf saya datang ke sini tidak memberi kabar terlebih dahulu."
"Nggak apa-apa! terima kasih! sudah mau membantu anak saya."
"Sama-sama, Bu! Bagaimana kondisi Pak Arfan?"
"Seperti yang kamu lihat. Arfan dari tadi belum sadarkan diri, ibu mohon Tolong kamu bantu doa! Agar anak saya bisa sehat kembali.
"Iya Bu! jangankan diminta, nggak diminta pun, saya akan tetap mendoakan Pak Arfan. beliau adalah salah satu orang yang saya kagumi, dengan pribadinya yang begitu luar biasa." ucap Dali terlihat wajahnya menunjukkan kekaguman.
"Oh iya! Ibu titip perusahaan anak ibu, sebelum dia sehat kembali!" Pintaku walau dalam keadaan segenting ini, otak usahaku masih berjalan, sehingga aku masih mengkhawatirkan semua yang berhubungan dengan urusan pekerjaan anakku.
"Baik bu! Saya akan berusaha semaksimal mungkin, Doakan saya supaya bisa mengurus perusahaan yang begitu besar."
"Terima kasih!"
"Ibu makan dulu, ya! biar Ibu punya tenaga, Biar Ibu tetap sehat!" Tawar istri Dali sambil memberikan box nasi yang ia bawa.
"Terima kasih! sudah mengingatkanku."
"Ya sudah! ibu makan dulu! jangan banyak pikiran! nanti ibu juga ikut sakit." seru Dali yang dari dulu selalu sopan terhadap keluargaku, sehingga tidak salah dia dijadikan asisten pribadi kepercayaan anakku.
Pukul 20.45. dali sekeluarga berpamitan untuk pulang terlebih dahulu, dan dia berjanji besok pagi dia akan ke sini lagi, sebelum berangkat ke kantor Arfan.
__ADS_1