
Pov Karla
"Dasar Bod0h" pekikku tertahan, setelah melihat orang yang sejak dari tadi berdiri di pinggir jembatan. dengan nekat dia terjun ke air yang begitu deras.
Dengan cepat aku melepaskan hoodikku, kemudian aku naik ke pagar pembatas jembatan. tanpa berpikir panjang aku pun terjun untuk menyusul orang yang hendak bunuh diri.
Byuuuuuuuuurrrrrrr!"
Suara air Ketika tubuhku menyentuhnya, air sungai yang arusnya sangat deras. dengan cepat aku Munculkan kepalaku ke permukaan air. untuk mencari keberadaan pria tadi. tak lama mencari, aku menangkap pria itu sedang mangap-mangap seperti ikan yang kekurangan air.
Aku gerakan kaki dan tanganku, untuk menyeimbangkan agar aku tetap bisa berada di atas permukaan. kemudian mengarahkan tubuhku untuk mendekati pria yang sedang kesusahan, yang sedang berusaha menyelamatkan diri dari arus yang begitu deras.
"Dasar bod0h! ngapain kamu bunuh diri, kalau kamu belum siap mati." Gumamku dalam hati, sambil terus Mendayung tubuhku mendekatinya.
Namun setelah aku mendekati tubuh pria itu. tiba-tiba tubuhnya menghilang ditelan oleh air. membuatku sedikit merasa panik, takut tidak bisa menyelamatkan orang yang putus asa. aku terus memperhatikan permukaan air, yang bergejolak begitu deras. Terlihat di arah Hilir tubuh pria itu muncul kembali. dengan cepat aku pun mengarahkan tubuhku menyusul tubuh, yang sudah terlihat tak berdaya. kejadian itu terus berulang beberapa kali. sehingga membuatku semakin putus asa. namun Pertolongan Allah pun datang. Setelah berbagai cara aku berusaha menggapai tubuhnya, akhirnya aku bisa memegang baju pria yang sudah tak bergerak dan tak berdaya itj.
Setelah aku bisa menggenggam tubuhnya, aku pun melihat ke arah samping sungai. mencari jalan untuk menyelamatkan pria ini, agar keluar dari pusaran air, menaikkan tubuhnya ke darat. perlahan aku mulai Mendayung tubuhku dengan satu tangan, sambil menarik tubuh pria yang belum aku ketahui namanya, menepi ke pinggiran sungai.
Setelah berada di pinggir sungai, aku baringkan tubuh pria itu, di atas pasir yang bercampur Lumpur. kemudian aku perhatikan wajahnya yang terlihat kurus dan dekil. tulang pipinya yang menonjol terlihat sangat jelas, dengan pipi tanpa daging. matanya yang sedikit masuk ke dalam, membuat terlihat sangat mengkhawatirkan. Apalagi ditambah rambut panjang yang acak-acakan, dan penuh dengan Lumpur. Persis orang yang tidak pernah mengurus tubuhnya. Pasti orang yang melihatnya akan menyangka bahwa orang ini, adalah ODGJ yang kabur dari rumah sakit jiwa.
Aku tak terlalu lama Memperhatikan Wajah pria yang baru saja aku bantu naik dari sungai. dengan cepat aku membuka kancing bajunya, sehingga nampak jelas tulang iga seperti gambang alat kesenian Sunda. Aku membuka baju itu agar udara masuk ke dalam tubuhnya.
Aku perhatikan kembali wajahnya, perlahan aku membuka mulut pria yang sedang terlentang di pasir pinggir sungai. kemudian aku mendekatkan telingaku ke mulut pria yang sudah kubuka, untuk mendengar pernapasannya Apa masih berfungsi atau sudah lewat.
Telingaku terasa hangat, dan membuatku sedikit geli. karena baru kali ini aku bisa mempraktekkan ilmu yang sering aku pelajari, dari Badan Penanggulangan gempa dan bencana. rumahku yang dipinggir sungai, sehingga mereka sering memberikan penyuluhan tentang cara menyelamatkan orang yang tenggelam seperti sekarang.
Setelah mengecek jalur pernapasannya, kemudian aku pindah ke tangannya, terus memegangi tangan itu. Dengan menempelkan jari telunjuk dan jari tengah di bagian atas, mengecek denyut nadinya. Beruntung tadi itu masih berfungsi dengan normal, kemudian aku kembali memperhatikan mukanya.
"Masa sih! gua harus memberikan napas buatan." gumamku sembari menatap wajah pria yang sangat mengkhawatirkan.
"Tapi kalau nggak ditolong, Nanti orang ini mampus. tapi Biarkan saja sih, mampus! ngapain juga gua tadi repot-repot nolongin. Bukannya dia terjun ke sungai ingin cepat mati." aku yang mulai bimbang antara melanjutkan pertolongan atau membiarkan saja.
"Huuuuuuuuuh!" aku menarik nafas dalam, mengumpulkan keberanian untuk melakukan pertolongan pertama, kepada orang yang tenggelam. perlahan aku mencubit hidung pria yang masih terlentang, untuk menutup Jalan pernapasannya. kemudian aku membuka mulut pria itu, namun ketika aku mendekatkan wajahku ke mulutnya, untuk memberi nafas buatan. tercium aroma yang bau busuk, keluar dari mulut pria itu. tadi ketika aku mengecek dengan telinga, aku tidak sadar bahwa pria ini memiliki napas yang bau seperti sekarang.
__ADS_1
"Oh! sial4n sekali hidup gua. Sudah berapa lama lu? nggak sikat gigi. sampai Napasmu seperti naga." umpatku sambil memalingkan muka mengambil oksigen segar yang ada di area sekitar. kemudian membalikkan kembali wajahku, mendekati mulut yang terbuka itu.
Setelah Mulutku berada di dekat mulutnya. perlahan aku meniup mulut pria itu, aroma yang tidak dapat kuungkapkan, menyeruak kembali ke hidungku. aku mengulang beberapa kali, melakukan hal itu. Dengan sedikit memejamkan mata, tidak kuat menahan bau busuk yang keluar dari mulut pria itu. sambil tetap berdoa, agar Pertolongan Allah segera datang.
"Oheeewek!
Uhuuuuuuuukkkkkg!
Uhhhuk!
Pria itu mulai terbatuk. namun sialnya aku yang masih berada di dekat wajahnya. Dengan sangat menyebalkan pria Brengsek itu malah menyemburkan air muntahannya ke mukaku. sehingga Tak aya lagi, wajahku yang tak sempat menghindar, penuh terkena semburan air bercampur nasi yang keluar dari mulut pria itu.
"Ya Allah! dosa apa sampai gua harus menerima kenyataan seperti ini!" Teriakku sambil menatap tajam Wajah pria yang matanya perlahan sudah mulai terbuka.
Namun pria bod0h itu, tak memberikan respon sedikitpun. dia hanya menatap sayu ke arahku. dengan wajah kesal aku mulai menyimpan kedua tanganku. yang saling bertindih di atas dada pria itu untuk memberikan resusitasi jantung dan paru, agar semua air yang ada di dalam parunya bisa habis terkuras keluar. aku menekan menekan kedua tanganku di atas dada pria itu, sesuai ilmu yang aku pelajari dari Tagana.
Pria itu terbatuk kembali, kemudian memuntahkan air yang masih ada di dalam tubuhnya. aku terus melakukan hal itu, sampai air yang ada di dalam paru itu keluar Semua Tak ada yang tersisa.
Setelah tidak ada air yang keluar dari mulutnya, aku menghentikan aktivitas resusitasi. kemudian aku mendekati pinggir sungai, untuk membersihkan muntahan yang ada di baju.
"Dasar bod0h! kalau mau bunuh diri itu, jangan dihadapan orang! jadi gua nggak harus repot-repot menolong." Gerutuku sambil menatap tajam ke arahnya.
Pria itu hanya memalingkan wajah, untuk menyembunyikan kesedihannya. aku bukan tidak tahu masalah berat yang sedang dihadapinya. sampai-sampai dia putus asa seperti itu, namun aku harus memberikan semangat, karena orang yang memiliki masalah berat bukan hanya dia, namun orang lain juga pasti memiliki masalah yang sama berat. namun mereka tidak melakukan hal bodoh seperti yang pria ini lakukan.
"Kenapa kamu menyelamatkanku, Biarkan saja Aku mati." tanya pria yang sedang berbaring, dengan suara parau, suara yang nyaris tak terdengar. apalagi deru air yang sangat keras.
"Dasar bod0h! bukannya berterima kasih, malah menyalahkanku. kalau lu mau mati, lu tinggal nyebur kembali ke sungai. tapi nanti setelah gua pergi dari sini." jawabku dengan Ketus.
Kemudian aku pun berdiri, hendak meninggalkan pria bod0h, yang ingin mengakhiri hidupnya. namun Niatku terhenti setelah pria bod0h itu memegang tanganku. membuat jantungku sedikit berdegup dengan kencang, seolah terhenti seketika. jujur Baru kali ini, aku dipegang tangan seperti itu, oleh seorang pria.
"Apalagiiiiiiiiii!" bentaku menyembunyikan Perasaan hati yang tak karuan.
"Terima kasih, Tapi kenapa kamu menyelamatkanku." pria itu kembali mengulang pertanyaannya.
__ADS_1
"Dengaaaar! ya, bod0h! kalau kita tidak mampu menolong orang dengan harta, minimal dengan tenaga. kalau tidak mampu menolong dengan tenaga, minimal kita menolong dengan pikiran. Kalau elu tidak bisa menolong apa-apa, minimal elu tidak merepotkan orang lain." jawabku memberi pengertian
"Terus kenapa kamu menolongku" seolah tidak puas dengan jawabanku, dia bertanya kembali dengan memasang wajah beg0nya.
Mendapat pertanyaannya lagi, seperti itu. Aku hanya mendengus kesal. kemudian aku memindai area sekeliling pinggir sungai. terlihat ada batu sebesar kepala anak kecil di salah satu tepian air sungai, Aku pun segara bangkit untuk mengambil batu itu.
"Untuk apa? kamu mau membunuhku, ya. dengan batu itu?" Tanya pria itu sambil menatap heran ke arahku.
"Kamu ngobrol sama ini! Karena ngobrol sama orang, Kamu nggak nyambung, sama sekali." Jawabku sambil meletakkan batu di dekat kepalanya.
"Kamu kenapa menolongku?" tanpa tersinggung pria itu bertanya kepada batu yang ada di samping kepalanya, membuatku tak kuat menahan gelak tawa, Melihat tingkah orang yang seperti itu.
"Oh Bukan bod0h doang, ternyata. tapi elu gil4 juga!" ujarku sambil terus tertawa, membuat pria itu menatap ke arahku.
"Kenapa?"
"Nggak!" jawabku dengan memasang wajah datar, menyembunyikan rasa geli ku.
Pria itu hanya mengeringitkan dahi, sambil menatap heran ke arahku. mungkin selera humor orang ini sangat kurang, sehingga tidak mengerti dengan apa yang namanya bercanda.
"Kamu orang mana? Biar aku antar pulang!" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
Pria itu bangkit dari tempat tidurnya, kemudian dia duduk menatap nanar ke arahku. seolah menyembunyikan pilu yang ada di hatinya. Pria ini selain selera humor yang sangat rendah, dia juga sangat irit dalam berbicara. dia hanya menatap dan menatap ke arahku. yang membedakan tatapannya, antara dengan air mata dan Tanpa Air Mata.
"Ya sudah! kalau kamu tidak mau pulang. yang penting aku sudah menyelamatkanmu. ingat! hidup ini sangat berharga! dibanding mati konyol seperti yang tadi kamu lakukan." ujarku sambil bangkit, tak ada penolakan lagi seperti tadi.
"Nama kamu siapa?" Tanya pria itu sambil hendak berdiri, namun tubuhnya tiba-tiba ambruk kembali, tak kuat menahan.
Dengan cepat aku pun menghampiri kembali, merasa kasihan dengan apa yang terjadi dengan pria itu. untuk melihat kondisi pria itu, aku pindai dari atas sampai bawah kakinya. namun aku tidak menemukan hal yang aneh dari tubuh itu. aku jongkokkan tubuhku di dekat kaki pria, perlahan aku meraba-raba mulai dari telapak sampai ke betisnya, namun ketika menyentuh dengkul pria itu. terlihat meringis seperti menahan sakit. dengan cepat aku naikkan celana Joger pantsnya. namun sangat sulit sehingga aku harus merobek celana itu.
Maaf!!!
Sreeeeeeeett breeeeeek!
__ADS_1
Celana itu pun lepas dari jahitannya, sehingga memperlihatkan kaki putih pria itu. meski terlihat dekil kulitnya sangat mulus, semulus betis seorang wanita. Namun aku tidak terlalu memperhatikan itu, karena ada yang lebih menarik perhatianku. setelah melihat dengkul pria itu membiru, mungkin tadi ketika dia jatuh terhanyut di sungai, dengkulnya terbentur terkena batu.
"Halah elu merepotkan saja!" ungkapku sambil bangkit, kemudian pergi meninggalkan pria yang terlihat berlinang air mata. Seperti anak bayi yang ditinggalkan oleh ibunya.