Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 40 BAHAGIA


__ADS_3

Pov Erni


Pukul 17.30. aku baru keluar dari kantor. pekerjaan yang menumpuk sehingga membuatku, harus Pulang agak telat. terlihat Farid sudah menunggu ku di parkiran, menepati janjinya, untuk mengajakku makan malam. sembari memperkenalkan aku kepada keluarganya.


"Jadi?" Tanyaku ketika sudah ada di hadapannya.


"Jadi dong! silakan!" jawab Farid sambil membukakan pintu mobilnya.


Aku pun masuk mengikuti perintah Farid, tak lama setelah itu. dia pun masuk lewat pintu samping kanan, setelah memasang seat belt. mobil farid melaju membelah kemacetan Kota Jakarta.


30 menit berlalu. akhirnya aku sampai di salah satu restoran yang begitu megah. Dengan sigap Farid mengajakku untuk segera keluar, dan masuk ke dalam restoran.


Sesampainya di dalam restoran, di situ sudah menunggu bapaknya Farid, ditemani oleh seorang wanita. yang menurut pengakuan Farid, itu adalah bibinya, yang diundang jauh jauh dari luar kota. untuk menjadi saksi peresmian hubungan kita, menggantikan Ibu Farid yang sudah tiada.


Dengan cepat aku pun mengulurkan tangan, kepada kedua orang tua yang sudah menungguku. tak lupa aku mencium punggung tangannya, sebagai bentuk penghormatan dari seorang anak mudi kepada orang tua.


"Ooh! ini yang namanya Erni ya! ternyata lebih cantik daripada fotonya." Puji bibi Farid, sambil mengajakku berpelukan. membuat pipiku sedikit memerah seperti tomat.


"Sudahlah, Bi! jangan berlebihan." ucapku sambil membalas pelukan bibinya Farid.


Setelah berkenalan, akhirnya kami semua duduk kembali di kursi masing-masing. tak lama setelah itu, Farid pun mengangkat tangan, memanggil waiter untuk memesan makan malam kami.


"Kapan kalian mau menikah?" tanya Bapak Farid  mengawali pembicaraan. sekarang beliau terlihat lebih bisa mengontrol emosi, sehingga bisa berbicara lemah lembut terhadap anaknya.


"Aku, sih! kapanpun, siap pak! namun nggak tahu dengan Erni." ucap Farid sambil melempar tatapan ke arahku.


"Kalau saya, tergantung Farid, Kapan dia mau menemui keluargaku, karena menikah itu bukan hanya aku dengan Farid, namun ada keluarga juga yang harus disatukan." jawabku mengungkapkan pendapat.


"Betul! betul. apa yang kamu ucapkan, Emang seharusnya seperti itu. menikah itu bukan masalah menyatukan dua insan, namun menyatukan juga dua keluarga. karena keluarga adalah hal yang paling utama dalam kehidupan pernikahan." timbal bapak Farid membenarkan perkataanku.


"Kalau menurut bibi, perkara yang baik itu, tidak boleh untuk ditunda-tunda. kalau bisa, secepatnya kalian harus menikah!" tambah Bibi Farid.


"Pengennya seperti itu sih, Bi! namun aku ikut Erni saja." Jawab Farid sambil mengulum senyum.


"Terus, kapan? Bapak sekeluarga boleh menemui keluargamu, melamar secara resmi? sembari menentukan hari baik untuk kalian." tanya Bapak Farid sambil menatap ke arahku.


"Mohon maaf sebelumnya, karena ini, acaranya sangat mendadak. jadi saya belum sempat memberitahu keluarga saya. nanti setelah pulang dari makan malam ini, saya akan menelpon Bapak, terlebih dahulu! untuk mengabari berita bahagia ini!" jawabku yang belum bisa memberi kepastian.

__ADS_1


"Ya sudah! bapak sebagai orang tua dari pihak laki-laki, menunggu kesiapanmu saja! apalagi Bapak tahu, sekarang kamu sudah menjadi orang sukses, pasti jadwalmu sangat padat." ujar bapak Farid, seolah mengerti dengan jadwalku yang sekarang.


"Terima kasih! atas pengertiannya, Pak! Semoga saya bisa memberikan yang  terbaik untuk keluarga Bapak!" Ungkapku dengan menatap mereka, memberi kepastian bahwa aku tidak akan mengecewakan Farid dan keluarganya.


Setelah selesai membahas rencana tentang pertemuan antara keluarga Farid dan keluargaku. tak lama setelah itu, pesanan pun datang. akhirnya acara itu Kami lanjutkan dengan acara makan malam bersama. ditemani dengan obrolan obrolan ringan, agar suasana kekeluargaan semakin terjalin.


Setelah menghabiskan makan malamku. aku meminta izin kepada mereka, untuk ke kamar kecil terlebih dahulu, karena hajat kecilku yang sudah tidak bisa dikondisikan.


Aku berjalan mendekati waiter, yang sedang berjaga. bertanya di mana toilet yang disediakan oleh restoran ini. setelah mendapat keterangan, aku pun menuju ruang Sebelah, di mana toilet itu berada. sesuai dengan arahan yang diberikan oleh waiter.


Setelah membuang air kecil, aku pun keluar membasuh mukaku di wastafel. karena sejak pulang kerja, air belum menyentuh kulitku. namun Jantungku tiba-tiba terhenti, setelah menatap ke cermin untuk memperhatikan wajahku.


"Ibu!" desisku


"Erni!" Desis orang yang kusapa.


"Ibu ngapain Di Sini?" Tanyaku dengaramah setelah menguasai keadaan.


"Memang, hanya kamu saja yang boleh datang ke tempat ini?" tanya ibu mertuaku, seperti biasa dia akan memasang wajah Ketus. namun aku tidak memperdulikan, aku tetap menyambutnya dengan ramah dan penuh senyum.


"Halah! sandiwara apa lagi yang sedang kamu mainkan? belum Puaskah? kamu menyakiti keluargaku? menyakiti anak semata wayangku?" ucap Ibu tanpa melepas tatapan tajamnya di area wajahku.


"Bagaimana sekarang keadaan Arfan?" Aku mulai mencoba mengalihkan pembicaraan, mencari tahu keberadaan tentang mantan suamiku yang sudah lama menghilang.


"Peduli apa, kamu sama Arfan? bukannya kamu senang, sekarang Arfan tidak mengganggu hidupmu? sekarang kamu sudah hidup mewah setelah menguasai semua harta anakku?" jawab ibu seolah beliau ingin puas memojokkanku.


"Bukan seperti itu, Bu! Dari dulu aku sangat sayang sama anak ibu. namun aku juga tidak bisa lepas dari bayang-bayang Farid. sekarang tolong ibu katakan di mana keberadaan suamiku, Aku ingin meminta maaf!" jelasku yang tak sedikitpun mempunyai niatan buruk terhadap mantan suami.


"Mau apa?" tanya ibu dengan sangat Ketus.


"Sebentar lagi aku akan dinikahi oleh Farid, aku mau meminta Restu terlebih dahulu, sama mantan suamiku. dan Kalau suamiku bersedia Rujuk Kembali, maka aku akan memilih anak ibu daripada Farid!"


"Bagus! sampah Emang cocoknya berpasangan dengan sampah!" ungkap Ibu sambil memberi tatapan sinis ke arahku. Kemudian beliau melangkahkan kaki hendak pergi meninggalkanku, namun dengan cepat aku menahan lengan ibu.


"Toloooooong! dengarkan dulu penjelasan saya, bu! saya cuma minta Ibu, memberitahu di mana Arfan sekarang?" pintaku memohon.


"Lepaskan tangan saya!" Bentak ibu mertuaku sambil mengibaskan tangannya, agar terlepas dari genggamanku. kemudian ia membasuh tangan yang sempat aku pegang, seolah aku kotoran yang mengotori tangannya.

__ADS_1


Kemudian ia berlalu melanjutkan niatnya untuk pergi meninggalkanku. namun ketika hendak aku menahannya kembali. terlihat ada sopir Yang masuk ke kamar mandi. sopir yang Dulu pernah mengusirku dengan Arman, dari rumah ibu mertua. dengan cepat dia memasang badan, untuk melindungi majikannya.


"Awas jangan menghalangiku! aku tidak punya urusan dengan orang sepertimu. aku hanya punya urusan dengan ibu mertuaku!" hardikku sambil menatap tajam ke arah pria yang berdiri di hadapanku. Menunjukkan Kelasku yang berbeda dengan kelasnya.


Namun Sopir itu tak bergeming, seolah tembok tangguh, yang siap melindungi kerajaan dari hadangan musuh-musuhnya.


"Tolong Ibu! jangan ganggu majikan saya, atau saya panggilkan satpam, untuk mengusir Ibu dari restoran ini!"


Dasar 4nj1ng kurap! segitu kah kamu melindungi majikanmu. Apa jangan-jangan kamu sudah dikasih kenikmatan olehnya?"  hardiku membentak sopir ibu mertuaku. Aku tidak habis pikir Kenapa semua orang yang dipekerjakan oleh ibu dan suamiku, mereka begitu loyal terhadap majikannya.


Mendengar ucapanku yang seperti barusan, dengan cepat sopir mantan ibu mertuaku melayangkan tangan, hendak menamparku. sehingga aku memejamkan mata, siap menerima kemungkinan terburuk yang akan menimpaku.


Setelah menunggu beberapa saat, tamparan itu tidak juga mendarat kewajahku. perlahan aku membuka mataku, terlihat Farid sudah berdiri di sampingku, sambil memegang tangan sopir ibu mertuaku.


"Jangan Sakiti calon istri saya! kalau tanganmu masih ingin menyatu dengan tubuhmu." ungkap Farid sambil menghempaskan tangan sopir ibu mertuaku.


Terlihat mantan ibu mertuaku yang sejak dari tadi terdiam, dengan cepat dia menarik Sopir itu agar menjauh dari kita berdua, meninggalkanku dan Farid yang masih menatap kepergiannya.


"Kamu nggak apa-apa! kan, sayang?" Tanya Farid sambil memperhatikan seluruh tubuhku, memastikan aku baik-baik saja. Mungkin dia merasa takut, mereka berbuat kasar terhadapku.


"Nggak apa-apa, sayang! kamu nggak usah khawatir! Aku baik-baik saja, kok!" ungkapku sambil mengulum senyum, merasa bahagia mendapat perlindungan seperti ini.


Kemudian aku menarik tangan Farid, untuk segera keluar dari kamar mandi. betapa kagetnya, setelah keluar dari kamar kecil itu, aku melihat banyak kerumunan orang, yang memvideokan kejadian di kamar kecil itu, mungkin kegaduhan yang ditimbulkan oleh pertengkaran ku dengan ibu mertua, mengundang perhatian mereka untuk menonton kejadian memalukan ini.


Dengan gagahnya, Farid pun menutup mukaku, dengan jas yang ia kenakan. mengajakku agar segera pergi dari tempat itu.


"Kita mau ke mana?"aku bertanya sambil mengikuti langkah Farid yang menggandengku.


"Kita pulang saja! biarkan nanti bapak dan Bibi, aku suruh menyusul." ungkap Farid seolah tahu kekhawatiranku.


"Terima kasih ya!" ungkapku Yang merasa nyaman berada dalam pelukannya.


Akhirnya kita pun sampai ke mobil Farid, kemudian kita masuk ke dalam untuk segera pergi meninggalkan restoran itu. Seperti artis-artis yang suka melakukan skandal ketika mereka ingin dimintai keterangan oleh para wartawan.


Setelah mobil itu keluar dari parkiran, aku menarik napas dalam, untuk kembali menenangkan pikiranku. Kenapa setiap aku mendapat kebahagiaan, selalu saja ada pengganggunya. padahal aku hanya ingin tahu keberadaan mantan suamiku, tidak lebih. walau bagaimanapun jahatnya aku, namun aku merasa sedih Ketika Harus ditinggalkan suami yang begitu menyangiku, dengan tanpa memberi kabar terlebih dahulu.


"Sudah aku bilang! kamu jangan dekat-dekat dengan keluarganya Arfan. sudah tahu mereka sangat membencimu, Kenapa kamu terus mencari masalah." Gerutu Farid yang tak suka dengan caraku, ketika mencari keberadaan mantan suamiku. memecahkan heningnya suasana.

__ADS_1


__ADS_2