Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 27 kebanggaan


__ADS_3

Pov Farid


"Bapak nggak boleh menolak rezeki, silakan terima dan Gunakan sebaik mungkin," jawab Arfan sambil membalas tatapanku dengan penuh keseriusan.


"Tapi Pak!" Tangapku tidak enak.


"Gak Ada tapi-tapi, Silakan ambil dan Lanjutkan pekerjaan. saya menunggu terobosan-terobosan baru di bidang pemasaran, agar perusahaan kita tetap bisa bersaing dengan perusahaan lain."


Melihat keseriusan sahabat yang sudah menjadi atasanku. dengan malu-malu aku mengambil Amplop yang tergeletak di atas meja, kemudian memasukkan ke dalam kantong celana yang satunya lagi. sehingga kedua kantong Celanaku terisi penuh dengan uang. "terima kasih banyak Pak, kalau tidak ada perintah lagi, izinkan saya untuk melanjutkan pekerjaan."


"Silakan!" jawab Arfan sambil meregangkan tangan.


Akhirnya aku bangkit dari kursi kemudian berjalan menuju ke arah luar, tak lupa sebelum pergi Aku mengucapkan salam terlebih dahulu. Selain itu sudah seharusnya, perusahaan pun menetapkan sebagai aturan. Bahwa ketika masuk ruangan atau menemui stop kantor lainnya harus mengucapkan salam terlebih dahulu.


Sebelum sampai ke ruangan kerja, aku pun masuk kembali ke toilet , Karena merasa penasaran berapa uang yang diberikan oleh Arfan. melihat dari fisiknya uang itu lebih besar daripada gaji yang Kuterima dari staf keuangan.


Setelah sampai di kamar mandi, aku mulai membuka dan menghitung uang pemberian dari Arfan, ternyata jumlahnya sama. hanya mungkin amplop dan pecahan uangnya yang berbeda.


"Alhamdulillah!" ujarku dalam hati, karena hari ini aku mendapat kebahagiaan yang bertubi-tubi, aku mendapat gaji Pertamaku, sekaligus aku mendapat bonus pertamaku.


Selesai menghitung uang pemberian dari Arfan, Aku keluar dari toilet kemudian masuk ke ruangan tempat bekerja. terlihat Pak Karto yang sudah menatap penasaran ke arahku.


"Ada apa?" tanya Pak Karto yang terlihat penasaran.


"Biasa Pak, Alhamdulillah saya juga gajian," jawabku berseri-seri.


"Syukurlah kalau begitu,  biasanya Perusahaan tidak mau memberikan gaji, kalau kita belum membuat rekening."


"Oh begitu ya, Berarti saya lumayan beruntung."


"Hey.....! hey! hey! malah ngobrol, kerja! kerja! kerjaaa! Sudah dapat gaji malah enak-enakan,"ujar salah seorang perempuan yang tak lain dan tak bukan adalah Ira, dia memperingatkan kita untuk melanjutkan pekerjaan.

__ADS_1


Pak Karto hanya tersenyum, namun walau begitu dia mulai menatap kembali ke arah layar komputer untuk melanjutkan pekerjaan. begitu juga denganku yang mulai bekerja kembali seperti biasanya. namun setiap 5 sampai 10 menit sekali, aku mengecek kantong Celanaku takut uang yang ada didalam jatuh atau menghilang. karena aku tidak pernah membawa tas kerja, sehingga uang itu masih aku kantongi.


Hari itu terasa sangat lambat, karena aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah, ingin cepat memberitahu kabar gembira ini dengan istriku. aku sudah membayangkan Vina akan merasa sangat bahagia, setelah mengetahui suaminya bisa diandalkan. namun meski begitu, waktu yang sebenarnya berjalan seperti biasa  akhirnya tibalah pukul 16.00 dimana waktu bekerja udah selesai. dengan tergesa-gesa aku berpamitan sama Pak Karto untuk pulang lebih awal tidak melaksanakan salat ashar terlebih dahulu, hari itu aku memutuskan untuk salat di rumah.


Setelah sampai parkiran, aku menarik tuas gas motorku sampai habis, Namun sayang motor itu hanya menjerit sambil mengeluarkan asap putih dari knalpotnya. Tidak bisa lari seperti motor-motor cepat atau motor-motor normal pada umumnya.


Matahari dari ufuk barat, terlihat memancarkan sinar kuning keemasan, seolah ikut bahagia dengan apa yang sedang aku rasakan sekarang. aku terus menyusuri Jalan hingga akhirnya sampai di Gang yang menuju ke arah kontrakan. Hingga akhirnya aku berhenti di salah satu rumah petak berukuran 4 kali 5.


"Assalamualaikum....! assalamualaikum...!" panggilku setelah berdiri di ambang pintu sambil mengetuk-ngetuknya. namun tidak ada orang yang menjawab, membuatku sedikit merasa khawatir dengan keadaan Vina.


Aku ambil handphone untuk meneleponnya, setelah aku perhatikan ternyata telepon itu berada di dalam, berarti istriku tidak kemana-mana.


Aku terus menelepon Vina, karena Tadi pagi aku tergesa-gesa sehingga aku lupa membawa kunci cadangan. Setelah beberapa lama menunggu akhirnya pintu pun terbuka. terlihatlah Istriku yang masih mengenakan mukena, mungkin dia habis melaksanakan salat. Awalnya aku merasa kesal karena menganggap Vina sedang tidur, Namun ternyata perasaanku salah.


"Maafkan aku tadi ketiduran, sehingga aku baru salat jam segini. Oh iya tumben Sayang pulangnya cepat?" ujar Vina sambil mengambil tanganku lalu diciumnya.


"Aku mau salat di rumah, aku buru-buru pulang dari kantor karena ingin cepat bertemu dengan kamu."


"Ada apa?" tanya istriku yang terlihat khawatir.


"Ada apa sih?" tanya Vina yang semakin penasaran.


Dengan cepat aku merogoh kedua saku Celanaku menggunakan kedua tangan. ketika dikeluarkan muncullah kedua amplop coklat, lalu diangkatnya ke atas agar Vina bisa melihat.


"Ini apa?" tanya Vina yang sebenarnya aku yakin dia sudah mengetahui isi amplop coklat itu. namun Mungkin dia merasa terharu sehingga dia tidak tahu harus berkata apa lagi, hanya pertanyaan itu yang keluar.


"Lihat saja....!" jawabku sambil mengurung senyum penuh rasa bangga.


Vina pun mengangguk, kemudian dia membuka amplop itu lalu mengeluarkan isinya. setelah keluar matanya terbelalak kaget menatap ke arahku, dari sudut mata itu keluar cairan bening yang membasahi pangkal hidungnya.


"Ini uang sayang?" tanya Vina suaranya sedikit bergetar.

__ADS_1


"Iya itu uang gaji pertamaku."


"Kok amplopnya ada dua?"


"Iya yang satu gaji dari perusahaan, yang satu bonus dari Pak Arfan."


"Alhamdulillah, Alhamdulillah, akhirnya kita tidak akan kesusahan untuk makan dan untuk membayar kontrakan. kita tidak harus mengemis meminta uang sama Bapak."


"Amin semoga ini adalah awal perubahan keluarga kita. Ya sudah, kamu hitung dulu Aku mau salat," ujarku sambil melepaskan kemeja lalu mengaitkannya ke paku yang ada di dinding kamar. setelah itu aku mengambil handuk untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu.


Selesai melaksanakan salat, aku mengangkat kedua tanganku, mengucap syukur dengan apa yang kucapai sekarang. kedua sudut bibirku terus terangkat karena merasa bangga terhadap diri sendiri atas pencapaian yang aku capai sekarang. ternyata beginilah rasanya menjadi seorang suami yang bertanggung jawab.


Setelah berdoa aku bangkit dari Tempat sujudku, melipat Sajadah untuk disimpan pada tempatnya. lalu menghampiri Vina yang berada di ruang televisi, terlihat ada kopi yang mengepul dengan sebungkus rok0k yang masih baru. Sedangkan istriku masih terfokus menghitung uang.


"Masih belum selesai menghitungnya?" Tanyaku sambil mengulum senyum.


"Enggak, aku bukan menghitung uang, tapi aku sedang mengatur uang bulanan ini, agar cukup satu bulan." jawab Vina yang terlihat serius membagi uang itu.


"Uang apa aja?" tanya aku tidak penting sambil duduk di dekat gelas kopi, tanpa memperdulikannya lagi aku mulai menyeruput kopi itu dengan sangat nikmat, lalu membuka bungkusan rok0k untuk menemaninya.


"Rp500.000 buat bayar kontrakan, 100 buat listrik, 300 buat bensin, 500 lagi buat beli rok0k dan jajan kamu. 750 buat makan, Taruhlah 2 jutaan," gumam Vina yang terlihat sedang membagi-bagi uang dijajarkan di hadapannya, seperti anak kecil yang sedang bermain gambar. "kita masih punya uang sisa 3 jutaan, ini buat tabungan saja ya!" ujar Vina setelah selesai mengatur semuanya.


"Nggak, itu buat kamu saja sayang, Aku cuma minta buat membuat rekening, Karena perusahaan memintanya, mungkin bulan depan tidak ada tolelir lagi."


"Ya sudah, kapan mau buat?"


"Nggak tahu, aku bingung karena harus meminta izin kerja terlebih dahulu,


"Buat online saja, kan sekarang sudah ada fitur seperti itu, jadi kamu gak harus libur kerja."


"Ide bagus tuh, Oh iya nanti habis magrib kita jalan yuk!" ajakku mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Jalan ke mana, Kebiasaan kalau punya uang selalu dihambur-hamburkan?"


"Ya jalan-jalan saja, kan kita sudah lama tidak jalan-jalan bareng, keliling-keliling Jakarta atau keliling-keliling mall, untuk mencuci mata. nanti pulangnya kita beli makan di emperan, Jadi itu tidak harus mengeluarkan uang banyak," jawabku mengulum senyum.


__ADS_2