Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 77 Memulai


__ADS_3

Pov Arfan


"Luuuuuuu" Ucap Karla sambil mengangkat tangannya hendak menampar pipiku.


"Ayo tampar! ngapain berhenti. kamu tuh perempuan Jangan kasar seperti itu." tantangku Semakin menjadi.


"Tahu ah! Lu tuh sangat menyebalkan." Dengusnya sambil berjalan mendahuluiku, dia tidak memperdulikanku lagi.


"Karla tunggu, karla!" panggilku sambil berlari mengikutinya. "Kamu jangan ngambek! nih, aku beliin mie ayam kesukaan kamu." ujarku sambil mengangkat kantong plastik berisi mie ayam yang tadi dibeli dari Dali.


"Makan aja sama lu, sendiri! gua gak butuh" ujar Karla sambil terus berjalan, bahkan sekarang dia semakin mempercepat langkahnya.


"Dasar aneh! dia yang mukul, dia yang marah!" gumamku dalam hati, sambil terus berjalan di belakangnya.


"Ngapain lu, ngikutin Gua?" bentaknya sambil membalikkan tubuh.


"Bukannya tadi kamu yang ngikutin aku, kamu kan yang pertama memanggilku. harusnya aku dong yang bertanya!" jawabku sambil memainkan kedua alis.


"Kalau Gua tahu lu, sangat menyebalkan! nyesel gua dulu nolong lu!"


"Ungkit terus! Sudutkan terus! kebaikan Kamu nanti lama-lama juga habis, karena kamu tidak ikhlas menolong." ujarku membalikkan perkataannya.


Dia hanya mendengus kesal, tanpa ada pembicaraan lagi. Dia terus berjalan masuk ke dalam gang. aku yang dari belakang mengikutinya, hanya tersenyum senyum melihat kelakuannya yang begitu aneh, namun membuat hatiku sedikit terhibur, dengan tingkah anehnya itu.


"Assalamualaikum!" ujar Karla sama Pak Umar yang sedang merapikan sampah plastik yang baru ia pungut.


"Waalaikumsalam! kalian pulang bareng?" tanya Pak Umar sambil mengelap tangannya. kemudian punggung tangan itu dicium oleh anaknya.


"Enggak, Pak! dia yang mengikutiku dari tadi, padahal aku suruh jauh-jauh, jangan dekat-dekat! Tapi dia budeg!" jawab Karla sambil terus berjalan menuju ke dalam rumahnya.


Setelah Karla masuk, aku pun hendak menyalami Pak Umar, mencium tangan guru Agamaku. namun Pak Umar menolak, tak seperti ketika tangan itu dicium oleh Karla.


"Kotor, nak Arfan!" ujarnya menolak uluran tanganku.


"Tapi kok! tadi Karla boleh mencium tangan Bapak?" Tanyaku yang tidak mengerti.


"Karlakan anak saya, jadi sepatutnya dia menghormati orang tuanya, walaupun bagaimanapun keadaan saya sekarang, dia harus tetap menghormati saya!" jelas Pak Umar.


"Tapi saya juga kan murid bapak?" ujarku yang masih menguluarkan tangan.

__ADS_1


Mendapat pertanyaan itu, Pak Umar tak menjawab. Dia membiarkan tangan kotor itu dicium olehku.


"Oh iya, pak! saya ke sini, saya hanya mau mengantarkan Mie ayam ini. tadi Ketika saya pulang bekerja. saya bertemu kembali dengan sahabat saya, yang kebetulan dia penjual mie ayam favorit karla, jadi saya sekalian membelikan untuk bapak berdua." ungkap ku sambil memberikan kantong yang aku bawa.


"Terima kasih, yah! Memang anak saya sangat suka dengan mie ayam itu." jawab Pak Umar yang terlihat raut wajahnya menunjukkan kebahagiaan, padahal aku hanya membawakan mie ayam.


"Ya Sudah! saya cuma mau menyampaikan itu saja Pak! saya mau pulang terlebih dahulu. sebelum melaksanakan salat asar."


"Nggak mampir dulu?" tanya Pak Umar.


"Nggak! Terima kasih, sebentar lagi adzan Ashar." jawabku sambil kembali mencium punggung tangan pria tua itu, kemudian pergi ke rumah SaiFul yang terhalang beberapa rumah saja.


*****


Keesokan siangnya. setelah menyelesaikan pekerjaanku di kantor ibu sebagai cleaning service. dengan cepat aku pun berpamitan sama Karla supervisor ku, meski dia masih terlihat marah, bahkan tadi malam saja ketika aku belajar ngaji kepadanya. dia acuh tak menyapa, tak menyebalkan seperti biasanya.


"Pulang! Ya tingal pulang aja sih! lu kan sudah gede." jawabnya sambil terus memperhatikan berkas yang ada di tangannya.


"Ya! siapa tahu aja kamu nanti nyariin, kangen gitu!" ujarku kembali meledeknya.


"Sudah sana pergi!" ujarnya sambil mengambil kotak tisu yang terbuat dari plastik hendak dilemparkan ke arahku.


"Masih belum kapok dengan kejadian kemarin?" Tanyaku memainkan alis.


Truk! truk! Truk! Truk!


pintu ruangan itu ada yang mengetuk. Dengan cepat Karla pun menyimpan sapu itu, kemudian dia duduk kembali di kursinya. "masuk!" seru Karla berteriak.


Ceklek!


pintu itu pun terbuka, terlihat Ibu sudah berdiri di ambang pintu, dia menatap ke arah kita berdua. Dengan tatapan penuh selidik.


"Kalian ngapain sih! Kenapa setiap saya ke sini, kalian suka berduaan. Ingat ini kantor tempat bekerja bukan tempat pacaran." tanya ibu sambil menatap sinis ke arah kita.


"Nggak Bu! maaf saya hanya minta izin pulang, karena pekerjaan saya hari ini sudah selesai." jelasku menundukkan pandangan memberikan penghormatanku, kepada wanita yang telah membesarkanku sampai sekarang.


"Ya sudah! Kenapa kamu masih berdiri di situ. bukannya Cepat pergi!" ujar ibu dengan tega dia mengusirku.


Aku pun mengangguk, namun sebelum pergi aku melirik dulu ke arah karla. tak lupa memberikan senyum sinis untuk membuat hatinya semakin panas.

__ADS_1


"Ngapain kamu senyum-senyum! kayak kambing saja." dengus ibu.


"Maaf Bu!" dengan cepat aku pun keluar dari ruangan supervisorku.


"Karla, Ayo ikut saya sekarang!"


"Ke mana Bu?"


"Kamu sebagai karyawan tidak boleh banyak bertanya." terdengar suara ibu yang tegas.


Aku pun segera mempercepat langkahku, karena terdengar suara draft kaki langkah mereka berdua yang mendekati pintu. entah apa yang hendak ibu lakukan, terhadap wanita aneh itu. namun aku tidak memperdulikan urusan mereka, aku terus terfokus dengan tujuanku, yang hendak membangun kerajaan bisnisku kembali.


Sekeluarnya dari area kantor Atri Group, dengan cepat aku pun menghentikan mobil taksi. sebelum masuk aku memperhatikan area sekeliling, takut ada orang yang memperhatikanku. setelah dirasa aman, aku pun masuk ke dalam mobil itu.


"Mau ke mana, Pak?" tanya sopir itu. setelah aku memperhatikan dengan teliti. ternyata Sopir itu adalah sopir yang dulu menolakku, Untuk mengantarkan ke rumah ibu. Aku masih ingat karena aku tidak akan melupakan kejadian buruk yang menimpaku.


"Priya Semanan." jawabku singkat.


Dengan cepat sopir taksi itu menginjak pedal gas, membuat mobil itu melaju seketika, menuju ke arah yang aku Sebutkan. tak di ceritakan lamanya di perjalanan, aku pun sudah sampai di depan rumah ibuku.


"Ini Pak, rumahnya?"


"Iya! ini rumah orang tua saya." jawabku sambil melihat Argo yang tertera di mobil itu, lalu memberikan uang untuk membayar taksi itu.


"Aduh! nggak ada kembalian Pak!" ujar Sopir itu.


"Kenapa nggak disiapkan terlebih dahulu, sebelum mengambil penumpang." tegasku


"Bapak ikhlasin saja laj! melihat rumah bapak yang begitu mewah, Uang segini bukan apa-apa kali bagi Bapak." Pinta pria itu, yang terdengar kurang ajar.


"Bukan masalah ikhlas, atau enggaknya, Pak! namun bapak harus tanggung jawab. bapak masih ingat! dulu ketika ada pria pincang, yang meminta tolong untuk mengantarkannya ke priya samanan?"


Sopir itu terdiam sesaat, Mungkin dia kembali mengingat-ingat kejadian beberapa minggu yang lalu.


"Itu saya Pak! ingat bapak menghina saya orang miskin, sekarang siapa yang miskin. masa uang segitu aja diminta?" ujarku membalikan perkataannya. sebenarnya tidak ada dendam, namun hanya untuk memberikan sedikit pelajaran. Agar dia bisa menghormati orang lain.


"Saya tidak tahu kalau itu bapak!:


"Jangan seperti itu, Pak! sama siapapun Bapak harus memberikan pertolongan. Karena manusia itu bukan seberapa kaya dirinya, Tapi seberapa manfaat diri itu untuk orang lain." ujarku sambil mengeluarkan kembali satu lembar uang merah kemudian memberikan ke arahnya.

__ADS_1


"Maaf Pak, maaf! Ini uang kembaliannya." ujarnya tidak menerima uang pemberianku, Bahkan dia hendak mengembalikan uang lebih dari pembayaran taksi itu.


"Enggak Pak! enggak apa-apa! saya bukan mempermasalahkan uangnya. tapi kalau bisa, jangan mengemis seperti itu. Dan kalau nanti bapak bertemu orang yang kesusahan, Coba bapak tolong!"  pintaku sedikit mengguruinya.


__ADS_2