
Pov Erni
Pukul 12.00. akhirnya waktu istirahat pun tiba, aku tidak langsung menuju kantin, untuk makan siang. namun aku mengambil Handphoneku, yang ku taruh di dalam tas. kemudian memijat tombol Panggil untuk menghubungi seseorang.
"Ada apa Bu, Erni?" tanya suara Dali terdengar di ujung telepon, dia menyapaku dengan Ketus.
"Eh! b3go, lu jangan membuat berita hoax, mana ada suami gua sakit, terus dirawat!" gerutuku tanpa berbasa-basi.
"Apa sih, Bu! jujur, Ibu sangat gak jelas, apa kesurupan Jin Farid." ucap asisten suamiku yang tak beradab, dia dengan berani meledekku seperti itu.
"Si Arfan! sekarang ada di mana?" Aku yang sudah terpanncing emosi, sehingga aku memanggil Nama suamiku dengan sebutan yang kurang sopan.
"Cari tahu aja sendiri! masa orang yang tidak ada ikatan, Ibu bela-belain sampai menginap dua malam di rumah sakit. sedangkan suami sendiri, tidak tahu keberadaannya di mana." Ketus dali, kemudian tanpa meminta izin terlebih dahulu, Dia memutuskan telepon itu.
"Sial4n, dasar orang bod0h, sama seperti orang yang mempekerjakannya. Masa iya, orang yang tidak punya attitude seperti itu, dipekerjakan sebagai asisten kepercayaan."
Merasa kesal, aku pun bangkit, untuk mencari makan siang, sekaligus menenangkan pikiranku, yang mulai terbagi antara percaya dengan ucapan Rini tadi pagi, atau mempercayai asisten yang tidak mempunyai attitude.
Setelah sampai di salah satu coffee shop, aku pun memesan makanan untuk mengisi perutku, agar kuat menghadapi cobaan yang begitu berat, yang sedang menghadapi, orang-orang yang tak pernah menghormatiku, sebagai orang kaya.
Tring! tring! tring!
Ketika aku sedang menikmati lamunanku, Tiba-tiba handphone-ku berdering. menandakan ada satu panggilan masuk di dalamnya. dengan cepat aku raih handphone yang ada di atas meja, kemudian mengangkat panggilan telepon itu.
"Hallo!"
"Haloo!" Ada apa Rid?" aku bertanya dengan orang yang meneleponku.
"Tolong, kamu Siapkan berkas berkas bukti bahwa kamu adalah pemilik perusahaan Erni group, agar anak buahku bisa cepat bekerja mengurusnya!" seru Farid mulai menjalankan rencana yang sudah kita susun.
"Apa saja, yang harus aku siapkan?"
"Nanti aku kirimkan melalui pesan, agar kamu tidak kesusahan untuk menyiapkannya." ujar Farid memberikan solusi.
"Iya, terima kasih! kamu sudah makan dan minum obat, belum?" aku mengalihkan pembicaraan, agar aku bisa mengetahui kondisi kekasihku sekarang.
__ADS_1
"Sudah semuanya, kok! Terima kasih juga, kamu sudah mengingatkan. Oh iya! yang mengingatkan sudah makan apa belum." Farid membalikan pertanyaanku
"Aku lagi nunggu makanan nih rid."
"Nanti kalau aku sudah pulih. tolong temenin aku, untuk mencari tempat usaha yang cocok buat bapak." Pinta Farid.
"Kenapa? kamu sendiri emang gak bisa?"
"Nggak enaklah, kalau aku sendirian. kamu kan yang memberikan uang itu, jadi kamu juga harus tahu ke mana larinya uang yang kamu berikan. Aku tidak mungkin mengecewakan orang yang begitu peduli terhadapku, terhadap keluargaku." Jelasnya yang terdengar serius.
"Ya sudah! kamu jangan banyak pikiran terlebih dahulu. kamu fokus agar kamu cepat sembuh, karena kita masih banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan!" pintaku.
"Iya, nanti juga aku akan berbicara terlebih dahulu sama bapak, siapa tahu saja dia sudah memiliki tempat, yang dia rasa cocok untuk berjualan."
" iya! Bicarakan terlebih dahulu sama bapakmu, nanti kalau tidak sesuai selera beliau, kita juga yang repot. Kalau sudah ada yang cocok baru kita mengeceknya bareng-bareng." jawabku yang tidak mau mengecewakan orang yang selalu menganggapku berharga dalam kehidupannya.
"Ya sudah! kamu makannya yang banyak!"
"Siap! komandan ini pesananku udah datang!"
"Ya sudah, Tuan Putri makan saja terlebih dahulu, nanti aku kirimkan, berkas-berkas apa saja yang harus kamu Siapkan." ujar Farid.
"Muuuuah!"
Telepon itu akhirnya terputus, kemudian aku bersiap untuk mengisi perut dengan makanan yang baru datang, tanpa mempedulikan lagi keadaan sekitar. Aku sangat menikmati makanan itu, karena baru sekarang aku bisa makan sesantai ini, karena dua hari yang lalu, aku disibukkan dengan mengurus kesehatan Farid di rumah sakit.
*******
Pukul 15.30, mengingat pekerjaanku sudah selesai, dan tidak ada lagi yang harus dikerjakan. aku pun izin pulang duluan, kepada rekan-rekan kerjaku, yang masih ada kerjaan. Dengan alasan aku mau mengurus suamiku yang sakit.
Setelah berpamitan, aku menuju tempat parkir, untuk pulang ke rumahku. namun sesampainya di dalam mobil, aku teringat kembali obrolan dengan Rekan kerjaku tadi pagi.
Aku termenung beberapa saat. merasa khawatir kalau benar-benar Arfan sakit, Walaupun dia telah mengusirku dari rumah ibunya. namun aku tetap menganggapnya sebagai suami sahku.
"Apa jangan-jangan!" gumamku terhenti, setelah mengingat kembali kejadian-kejadian yang ada di rumah sakit. ketika aku bertemu dengan Ibu Aisyah, mertuaku, dan dali asisten suamiku yang berada di sana.
__ADS_1
Pikiranku mulai menerka-nerka, dengan kebenaran yang diceritakan oleh Rini tadi pagi, bahwa benar Arfan sakit keras, sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. namun yang membuatku bingung, Arfan sakit apa. Padahal ketika kita berpisah, Dia terlihat bugar-bugar saja, Bahkan dia sempat beberapa kali memukuli Farid sahabatnya.
Rasa penasaran yang memenuhi perasaanku. dengan cepat aku menyalakan mobil, kemudian menginjak pedal gas, untuk meninggalkan parkiran, menuju rumah sakit yang kemarin merawat farid. Karena menurut Rini Arfan suamiku dirawat di sana. untuk mencari informasi yang sebenarnya, tentang kebenaran suamiku.
Setelah sampai di rumah sakit, Aku pun cepat menghampiri resepsionis, untuk bertanya informasi tentang keberadaan suamiku.
"Pasien atas nama Arfan ya, Bu?" ucap pelayan administrasi rumah sakit, mengulang pertanyaanku.
"Iya, arfan syah Reza!" jawabku sambil menatap penuh harap, aku mendapat informasi tentang keberadaan suamiku.
"Pasien atas nama Pak Arfan, Tadi jam 11.00 pihak keluarga mencabut perawatannya di sini, untuk dipindahkan ke rumah sakit yang lebih memadai." jelas penjaga itu.
"Pindah ke rumah sakit mana, ya?" Aku menyusul keterangan yang diberikan oleh pelayan informasi rumah sakit.
"Di sini tidak dijelaskan, bu! Pak Arfan dipindahkan ke rumah sakit mana, namun kepergian dari sini tadi kira-kira sebelum dzuhur."
"Kalau boleh tahu, pasien yang bernama Arfan itu, sakit apa?" aku yang semakin penasaran.
"Maaf! Itu bukan wewenang kami, karena di sini hanya menerima dan mengeluarkan pasien saja, hanya sebagai informasi bukan pelayanan medis."
Aku hanya menganggukan kepala, tanda mengerti memang benar resepsionis hanya mencatat orang yang masuk dan keluar dari rumah sakit.
"Kalau Ibu penasaran, Ibu bisa bertanya langsung ke perawat di ruang ICU, mungkin mereka ada yang tahu, atau ada yang ingat tentang kejadian yang menimpa Pak Arfan." resepsionis rumah sakit itu memberi saran.
"Terima kasih!" ucapku sambil berlalu pergi meninggalkan para penjaga, yang masih menatap ke arahku. aku terus melangkahkan kakiku, menuju ruang ICU, Di mana para pasien kritis dirawat.
"Kenapa kamu harus masuk ke ICU, Apa kamu punya penyakit yang tidak aku ketahui?" gumamku yang merasa khawatir, karena walau bagaimanapun Arfan adalah orang yang paling peduli dengan kehidupanku.
Setelah berada di ruang ICU, aku pun bertanya ke salah satu penjaga di sana. namun Sangat disayangkan, mereka menutup rapat, Apa penyakit yang suamiku derita, karena pihak keluarga Meminta, agar pihak rumah sakit. untuk merahasiakan penyakit yang diderita oleh suamiku.
Aku hanya bisa berlalu pergi, meninggalkan ruang ICU, dengan membawa kekesalan. karena tidak mendapatkan informasi yang bisa aku jadikan petunjuk, di mana sekarang Arfan berada. aku ingin bertemu dia, ingin berbicara tentang hubunganku, dengan dia dan Farid. berharap ketika bisa mengobrol bertatap muka, Siapa tahu saja dia ridho dan membiarkanku, memiliki dua pria yang selalu mengagumiku dengan begitu sempurna.
Agrrhhhhhhh!
Setelah berada di dalam mobil, aku berteriak sekencang-kencangnya. sambil memegangi kepalaku, meremas kuat Rambutku, sehingga terlihat rambut indahku sangat acak-acakan. melampiaskan semua rasa kecewa dan kesal yang sedang aku hadapi.
__ADS_1
Jujur saja, ketika aku harus berpisah dengan suamiku yang sudah 4 tahun menemaniku. rasa takut dalam dada sangat menyelimuti, karena walaupun aku bisa menguasai dan memiliki semua harta suamiku, Namun aku belum tentu bisa mengurusnya. berbeda dengan suamiku yang sudah ahli mengurus semua aset yang ia miliki, Dan perusahaan yang ia kelola. sehingga setiap bulan menggelontarkan banyak uang yang masuk ke rekeningku.
Memang aku memiliki kekasih selain Arfan, namun kehidupan Farid yang serba kekurangan, membuatku tidak bisa mengandalkannya. aku yang seharusnya membantu kehidupan kekasihku itu, yang sangat menyedihkan.