Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 59 KEADAAN KARLA


__ADS_3

Pov Arfan


"Ibu akan lebih tercengang lagi, ketika aku memberitahu wanita itu sebenarnya siapa."


"Siapa?" tanya ibu sembari mengkerlingkan mata ke arahku.


"Anaknya Pak Umar, adalah salah satu karyawan di perusahaan ibu."


"Masa! terus di bagian apa Siapa tahu aja Ibu kenal?"


"Cleaning service."


"Wah! Yang benar? Coba Ibu telepon ke bagian direksi cleaning service." Ujar Ibu yang terlihat semakin penasaran, beliau mengambil handphone yang ada di atas meja. kemudian ia menekan salah satu nomor untuk memanggil.


Terdengar suara telepon yang terhubung, namun lama menunggu, orang yang di ujung sana tidak mengangkatnya. sehingga Ibu mengalihkan ke nomor yang lainnya, kemudian melakukan hal yang sama memanggil nomor itu.


"Yah! ada apa Bu?" tanya seseorang di ujung telepon.


"Pak Arga, sudah pulang apa belum? barusan saya telepon, kok beliau tidak mengangkat." Ibu balik bertanya.


"Pak Arga sedang dirawat di rumah sakit, karena beliau mendapat kekerasan dari salah satu karyawatinya." jelas orang yang ada ujung sana.


"Kok bisa?" tanya ibu sambil mengerinyitkan dahi.


"Biasa, bu! karyawati itu tidak terima diingatkan, karena melakukan kesalahan. sehingga ia dengan tega menghajar habis-habisan supervisornya." Jelas orang yang berada di ujung telepon. benar apa yang dikatakan oleh Saiful, mereka akan memutar balikan fakta, seolah Karlalah yang bersalah.


"Oh ya! kamu tahu cleaning service yang bernama Karla?" Ibu mulai bertanya ke inti pembahasan.


"Saya kurang mengenalnya, Bu! namun menurut keterangan Pak Arga. wanita itulah yang menyebabkan supervisornya babak belur."


"Oh begitu! ya sudah, kamu Lanjutkan pekerjaan kamu kembali. terima kasih atas informasinya." ucap Ibu sambil mematikan telepon, kemudian ia menetap lekat ke arahku, seolah bertanya dengan apa yang terjadi sebenarnya.


"Ya, Ibu! harus menolong Karla, orang yang tega mau melakukan tindak asusila sudah memutar balikan kenyataan, seolah pria sial4n itu, yang menjadi korban. padahal kejadian yang sebenarnya, Karlalah yang menjadi korban." Jelasku dengan semangat 45.


"Baiklah kalau seperti itu, nanti Ibu pikirkan bagaimana cara terbaik untuk menolong anak Pak Umar. Terus sekarang rencana kamu ke depannya bagaimana?" tanya ibu mulai mengalihkan pembahasan.


"Aku akan kembali lagi ke rumah pak Umar, karena masih banyak yang harus aku pelajari dari mereka. Aku ingin menenangkan pikiran terlebih dahulu, untuk menata kembali hidup yang telah hancur, agar aku tidak bersedih lagi, aku tak menangis lagi, karena wanita penghianat itu. sekarang aku sudah melihat cahaya terang, yang berkilau cerah." Aku mengutarakan Rencanaku ke depan.

__ADS_1


"Jadi kamu, akan meninggalkan Ibu lagi?" tanya ibu yang terlihat matanya yang mengembun kembali.


"Enggak! Arfan nggak akan ninggalin ibu, Arfan hanya ingin menenangkan pikiran, dan kalau ibu kangen sama Arfan, ibu akan tahu di mana harus menemui Arfan. Itu pun, kalau ibu mau menolong wanita aneh itu. eh! maksudnya Karla." aku menjelaskan agar ibu tidak salah paham.


Ibu hanya menarik napas dalam, kemudian memandangi foto almarhumah bapak, yang berada di dinding kamar. seolah kembali mengulang kenangan-kenangan bersama pria yang sudah menemani separuh hidupnya.


"Boleh kan, Bu?" aku mengulang pertanyaan.


"Boleh, orang tua mana yang akan melarang anaknya, untuk berubah menjadi lebih baik." ujar Ibu sambil mengulum senyum, membuat hatiku merasa lega, karena aku sudah mendapat restu dari orang yang sangat aku hormati.


Akhirnya kita berdua mengobrol dengan begitu cair, setelah 6 bulan kita tidak pernah bertegur sapa, walaupun setiap saat kita bertemu. di sela-sela Obrolan dokter yang Ibu panggil ke rumah, datang untuk mengecek kondisi lututku. namun setelah dicek tidak ada luka yang berarti, karena itu hanya terbentur benda keras, mungkin dulu ketika aku terhanyut di Sungai, dengkulku terbentur dengan batu.


Pukul 17.15, Aku meminta izin untuk kembali ke rumah pak Umar, takut beliau mencari keberadaanku. tadi ketika berangkat ke rumah ibu, Aku tidak meminta izin terlebih dahulu. Kerena Pak Umar sedang sibuk mengurus anaknya di rumah sakit.


Awalnya Ibu menolak, karena beliau masih merasa kangen dengan anaknya. Beliau meminta agar aku menginap di rumahnya sehari atau dua hari. namun aku tetap memaksa. dengan berbagai alasan, akhirnya Ibu mengizinkan untuk kembali ke rumah pak Umar. dengan catatan aku pulang harus diantarkan oleh Pak Andi, agar ketika ibu mencari keberadaanku, beliau tidak susah mencarinya.


Dengan berat hati, aku pun menyetujui saran yang Ibu berikan. aku pulang ke rumah Pak Umar dengan diantarkan oleh Pak Andi, yang sudah Ibu beritahu terlebih dahulu. karena ketika aku tadi datang, pak Andi masih mencari keberadaanku yang dianggap sudah kabur dari rumah. Tak lupa Sebelum pulang, ibu menyuruh Mbok Yem untuk membungkus semua makanan yang ada di rumahnya. Sebagai oleh-oleh untum keluarga Pak Umar.


Sesampainya di depan gang rumah pak Umar, aku pun dengan segera turun, dan menyuruh sopir ibu untuk kembali ke rumah ibu. namun beliau menolak, Pak Andi ingin tahu terlebih dahulu di mana sekarang Aku tinggal. aku pun tidak bisa berbuat apa-apa! Pak Andi akan tetap memaksa, karena beliau sangat loyal terhadap majikannya. Akhirnya aku membiarkan Pak Andi mengikutiku, dengan catatan tidak membuat orang lain curiga.


Sesampainya di depan rumah yang terbuat dari kayu, yang sebagian besar dindingnya menggunakan triplek. aku pun berdiri sebentar menatap ke arah dalam, yang terlihat cahaya lampu sudah menyala. mungkin Pak Umar Sudah pulang dari rumah sakit, karena selain lampu yang sudah menyala, terdengar pula suara anak-anak kecil yang sedang mengaji.


Dengan perlahan aku pun menaiki tangga kayu setinggi lutut, kemudian berdiri di ambang pintu.


"Assalamualaikum!" ucapku menyapa semua orang yang ada di ruangan itu.


"Waalaikumsalam, nak Arfan, Silakan masuk." seru Pak Umar menyambut kedatanganku.


Aku mendekati Pak Umar, kemudian mencium punggung tangannya. sudut mataku menangkap meja kosong, yang biasa dijadikan tempat Karla untuk mengajar ngaji anak-anak.


"Tunggu dulu ya! bapak mengajar anak-anak terlebih dahulu."


"Iya, nggak apa-apa, Pak! Lanjutkan saja jangan terganggu. Lagian saya belum melaksanakan salat magrib. Saya mau ke mushola terrlebih dahulu." ujarku sambil meletakkan plastik oleh-oleh dari ibu.


"Ini apa?" tanya Pak Umar.


"Ceritanya panjang, Pak! nanti saya akan ceritakan setelah Bapak selesai mengajar ngaji, biar leluasa!" ucapku sambil bangkit, kemudian meminta izin, untuk melaksanakan salat magrib di mushola.

__ADS_1


Pak Umar hanya mengangguk, beliau melanjutkan kembali mengajar anak-anak mengaji. sedangkan Aku berjalan keluar dari rumahnya. setelah berada di luar, aku memperhatikan area sekitar, mencari keberadaan Pak Andi. namun beliau tidak terlihat sama sekali, mungkin beliau sudah pulang kembali ke rumah. aku terus melangkahkan kakiku, untuk melanjutkan Niatku menuju mushola.


Setelah selesai melaksanakan salat magrib, aku kembali ke rumah Pak Umar, namun tidak masuk ke dalam. aku terdiam di luar sambil mendengarkan anak-anak yang sedang belajar mengaji. Rasanya sangat sedih, ketika mengingat keadaanku, karena sudah umur Setua ini, masih belum bisa tahu tata cara membaca Alquran dengan baik dan benar.


Aku terus menyimak dan mendengar anak-anak yang sedang belajar mengaji, sampai adzan isya pun berkumandang. dengan cepat aku pun kembali ke mushola, karena Pak Umar biasanya, beliau akan salat setelah selesai mengajar mengaji, berjamaah bersama semua murid-muridnya. setelah selesai melaksanakan salat Isya berjamaah, terlihat Saiful yang menghampiri, kemudian dia mengajak aku untuk bersalaman.


Setelah bersalaman, Saipul mengajakku untuk kembali ke rumah pak Umar. Kemudian kita duduk di teras rumahnya.


"Dari mana saja?" tanya Saipul mengawali obrolan dengan berbisik, Mungkin dia takut mengganggu anak-anak yang sedang belajar mengaji."


"Habis dari rumah orang kaya?"


"Ngapain?" tanya Saiful yang menautkan alis menatap penasaran ke arahku.


"Habis dikasih makanan, nanti setelah Pak Umar selesai mengajar ngaji, kita makan bersama." ajakku.


"Lain kali kalau mau pergi dari rumah, lu pamit terlebih dahulu. biar gua nggak khawatir, Untung saja tadi Pak Umar Sudah pulang, jadi beliau bisa ngasih tahu lu pergi ke mana."


"Maaf ya, bro!" pintaku yang merasa tidak enak.


"Iya nggak apa-apa! yang penting untuk kedepannya Kalau lu mau pergi pergi, kasih tahu terlebih dahulu. karena sekarang elu adalah tanggung jawab gua, karena Pak Umar Sudah menitipkan lu! Apalagi kalau melihat kondisi lo yang sekarang." PInta Saiful.


"Sekali lagi, aku minta maaf ya, bro! Oh iya, bagaimana sekarang keadaan Karla?" Tanyaku mulai mengalihkan pembicaraan.


"Alhamdulillah! sekarang fisiknya sudah baikan, namun gua nggak tahu dengan mentalnya. karena semenjak kepulangannya dari rumah sakit, dia belum pernah mau diajak berbicara." jawab Saipul yang terlihat matanya menunjukkan amarah yang tertahan.


"Kasihan banget, dia!" Desisku yang tidak tahu harus berucap apalagi, menanggapi semua yang terjadi kepada wanita aneh itu.


"Iya, memang! Padahal dia orangnya sangat baik, tapi kenapa masih ada orang jahat yang mengganggunya." Timpal Saiful sambil menghembuskan napas pelan, seolah melepas beban berat yang sedang menimpanya.


"Semoga saja! Karla baik-baik saja! dan bisa cepat pulih kembali, seperti sedia kala."


"Amin!" ucap Saiful yang mengamini doaku.


Akhirnya kita berdua mengobrol ngalor ngidul, walaupun kita baru saling kenal. namun keakraban sudah terjalin seperti orang yang sudah kenal begitu lama. mungkin beginilah orang-orang yang mempunyai sifat baik, mereka akan selalu ramah kepada semua orang, selalu menolong dengan penuh senyum dan keikhlasan.


Lama mengobrol, akhirnya pak Umar pun keluar disertai dengan riuh anak anak, seperti anak-anak pada umumnya. yang selalu berisik, ketika mereka berkumpul dengan teman-teman seusianya. mereka semua menuju ke mushola, untuk melaksanakan salat Isya berjamaah, disertai dengan canda tawa.

__ADS_1


__ADS_2