
Pov farid
"Lawan gua, ban9sat! ayo bangun." tantangku sambil melepaskan pegangan di rambutnya.
"Ambil tangki kloset itu, pak! biar tangan Bapak tidak kotor untuk membunuh saya!" ujar Ari sambil menunjuk ke arah kloset duduk yang ada di kamar mandi itu.
Mendapat Ari yang tidak sedikitpun merasa takut dengan apa yang hendak aku lakukan. Bahkan dia sampai melayangkan tantangan agar aku cepat menghabisi nyawanya. membuatku sedikit merasa ngeri dengan orang yang ada di hadapanku, karena biasanya orang akan melawan ketika dia diancam seperti itu. namun dia seperti pasrah, seperti orang yang sudah tidak memiliki hasrat untuk hidup.
"Pakai Handukmu ban9sat!" Seruku sambil melempar handuk yang Baru saja aku ambil dari dalam kamar.
Dia tidak merespon sedikitpun, handuk yang baru saja kulempar, tergeletak begitu saja di sampingnya.
"Pakai buruaaaaaan!" bentakku dengan mengancingkan Gigi. "buruan pakai!" Lanjutku sambil menendang handuk itu ke arah tubuhnya. "pakai nggak! Kalau nggak pakai Gua laporin lo ke pihak yang berwajib, atas tuduhan perselingkuhan Dan perzinahan."
Mendapat ancaman seperti itu Ari pun dengan perlahan menatap ke arah wajahku, "bajin9an! Kenapa semua orang kaya. mereka demi memenuhi keinginannya, mereka akan menakut-nakuti orang miskin, dengan kata melaporkan. martabat gua! sebagai laki-laki, sudah direnggut oleh calon istrimu yang biadab."
"Buruan pakai! Gua ingin ngobrol dengan lo, siapa tahu saja ke depan lu bisa berguna buat gua!" ujarku dengan memelankan intonasi suara, agar pria itu tidak merasa tertekan.
"Sudah lu ambil itu tangki kloset! lalu Lu pukulkan ke kepala gua!" ujarnya sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Dasar stress!" Aku yang merasa kesal, dengan cepat aku menarik tangan Ari. namun ketika pria itu beranjak dari tempat duduknya, aku melihat ada darah di tempat yang ia duduki.
"Diapain lu? sama wanita jalan9 itu!" tanya aku sambil terus menatap darah yang ada di lantai kamar mandi. hatiku sedikit terketuk, karena mungkin ini bukan sepenuhnya kesalahannya, karena tidak mungkin kalau ari menginginkannya, dia Terpukul seperti ini.
"Saya adalah pria hina, yang diperkosa oleh seorang wanita." ujarnya sambil merapatkan paha, kemudian dengan cepat ia menutup bagian yang menyumbul dengan handuk yang tadi aku lemparkan.
"Ceritakan sama gua! siapa tahu saja gua bisa membantu lo untuk membalas sakit hati yang lu rasakan." ujarku sambil menatap pria yang sangat menyedihkan itu.
"Mau membalas seperti apa? saya orang miskin, Saya tidak punya kekuatan untuk melakukan perlawanan. bukannya Kami hanyalah mainan buat kalian orang-orang kaya." ujar Ari dengan suara yang sedikit tertahan.
"Ya sudah! kalau lu nggak mau cerita, itu terserah lu! namun gua harap lu jangan kerja lagi di tempat calon istri gua. dan jangan sampai calon istri gua tahu, kalau gua menemui lu!" ancamku sambil membalikkan tubuh, hendak meninggalkannya. namun sebelum meninggalkan Ari, tak lupa aku membuang ludah ke arah Wajah pria itu, yang masih terdiam seperti patung.
__ADS_1
Setelah keluar dari kamar hotel, aku menyusuri koridor sambil terus berpikir, apa benar pria itu diperkosa oleh seorang wanita? Kalau benar ini adalah kejadian langka, yang baru saja aku saksikan, dengan kedua mata kepala sendiri. dan Kalau benar pria itu diperkosa, Apakah dia akan melakukan bunuh diri? seperti korban-korban pemerkosaan yang lainnya. Terus kalau dia melaporkan pemerkosaan yang dilakukan oleh Erni, Apakah laporan itu akan diproses. memikirkan hal itu tiba-tiba sudut bibirku terangkat, merasa lucu dengan apa yang terjadi. sehingga sedikit melemaskan otot-otot emosiku yang tadi tegang.
"Tega banget Emang si Erni! mungkin bukan si Ari doang korbannya, mungkin masih banyak pria lain yang menjadi korban keganasan, Entah mengapa dia sekarang memiliki sifat seperti itu.
Setibanyak di resepsionis Hotel, aku pun check out dari Hotel itu, kemudian bergegas menuju ke parkiran. beruntung tadi Erni tidak melihat mobilku, karena mobil yang ku parkir sangat jauh dari mobilnya.
Dret ! dret! Dret!
"Kamu di mana sayang?" tanya Erni dari ujung telepon.
"Aku sudah ada di parkiran, sebentar lagi aku sampai di rumah kamu, tunggu ya!"
"Jangan lama-lama, nanti aku marah nih!" Ujarnya yang terdengar manja.
"Gimana gak lama, kalau kamu nelpon terus."
"Ya sudah! kamu menyetir sambil teleponan aja!" saran Erni.
"Jangan sayang! nanti bahaya. ya sudah! sebentar lagi aku sampai kok. kamu tunggu ya!" ujarku Sambil mematikan sambungan telepon, lalu menginjak pedal gas meninggalkan hotel yang menorehkan luka perih di dalam hati, Namun ada sedikit kegelian yang menggelitik saraf otaku.
"Kamu ngapain siang-siang begini pakai pakaian seperti itu? nanti satpam kamu tergoda." Ujarku sambil mencium keningnya, walaupun beberapa kali aku membuang nafas, ketika dia tidak memperhatikan.
"Aku kan sudah bilang! aku kangen!" jawab Erni sambil menarik lenganku masuk ke dalam rumahnya, Terus menuntunku ke dalam kamar.
"Mau minum apa sayang?" tanyanya setelah aku duduk di sofa.
"Jus jeruk! kayaknya enak," jawabku yang merasa haus, setelah menahan emosi yang begitu bergejolak dalam dada.
Mendapat jawabanku, Erni pun pergi meninggalkanku menuju ke arah dapur, tak lama Ia pun kembali dengan segelas jus jeruk di tangannya.
"Nih!" ucap Erni sambil memberikan minuman yang ia bawa.
__ADS_1
Dengan cepat aku pun meminum Jus itu, untuk menghilangkan rasa haus.
"Habiskan sayang!" seru Erni sambil duduk di sampingku.
"Kamu mau ngobrolin apa, kok kayaknya serius banget? sampai aku harus datang ke sini segala."
"Ngobrolin banyak lah! sebentar lagi kan kita mau menikah, terus yang terpenting, yang ingin aku sampaikan. investor saham di perusahaan kita, dia hendak menjual saham yang ada di perusahaan Erni Group. aku bingung, kalau harus bekerja sama dengan orang yang belum kenal." jawab Erni menceritakan masalah yang sedang dihadapi. namun aku tidak fokus dengan apa yang ia maksud, karena tubuhku tiba-tiba menjadi terasa panas, jantungku seolah berdesir dengan sangat cepat. belum Hilang Rasa keanehan itu, tiba-tiba benda dalam celanaku berdiri dengan sangat sempurna.
"Aku bingung yang!" ujar Erni sambil mengaitkan tangannya ke pundaku, kemudian dia membelai Rambutku. dengan perlahan aku yang tidak mengerti dengan tubuhku yang sekarang, tubuh yang tidak bisa terkontrol. Seharusnya aku membenci orang yang sedang bermanjaan kepadaku, karena dia sudah menghianati cinta tulus yang aku berikan. namun kenyataan itu berbeda, Aku malah membalas belaiannya dengan begitu ganas, hingga akhirnya kita pun terbuai dengan hasrat masing-masing.
Dulu ketika aku menjadi selingkuhan Erni, akulah yang menyarankan dia untuk berhubungan badan dengan suaminya, setelah berhubungan badan denganku. sekarang Karma itu terjadi, aku yang mengetahui Erni sudah melakukan hubungan dengan Ari. sekarang dia meminta jatah dariku. Hati kecilku meronta-ronta ingin menolak, namun hasrat kelelakianku sangat tinggi, sehingga kejadian itu mengalir begitu saja.
Semakin aku membenci wanita yang ada di bawahku, wanita yang sedang merintik kenikmatan. semakin besar hasratku untuk memuaskannya. hingga akhirnya kita mencapai kenikmatan itu bersama-sama. Setelah mengeluarkan cairan kenikmatan, tubuhku terkulai lemas. Aku saling bertatapan dengan wanita yang paling aku benci, namun aku nikmati. terlihat senyum puas mengembang dari bibir wanita jahan4m itu.
Merasa lelah dengan apa yang telah kita lakukan. hingga akhirnya aku pun tertidur dengan pulas. sehingga aku terbangun karena aku merasakan sakit yang begitu perih di bagian tubuh belakangku, perlahan aku membuka mata. terlihat Erni yang menatap wajahku,.dengan Tatapan yang begitu aneh, tatapan wanita ibli5 yang sangat menyeramkan.
"Kamu semakin tampan! kalau kamu kesakitan seperti itu."
"Kamu apa-apaan! kamu sudah gila ya! tolong lepaskan ikatan gua." bentakku yang meronta-ronta agar ikatan di tubuhku bisa terlepas.
"Sudah nikmatin saja sayang!" Ujarnya sambil memainkan benda miliknya, terus menatap wajahku yang merasakan begitu sakit, ketika aku diperlakukan seperti itu. sakit tubuh yang masih bisa tertahan, namun sakit hati atas perlakuannya yang sangat memalukan, tak bisa aku tahan. butiran bening membasahi pipiku, mungkin sekarang aku paham apa yang sebenarnya terjadi kepada Ari. jadi dia sampai tertegun seperti orang gil4, karena beginilah cara perlakuan calon istriku terhadap korbannya.
"Kenapa sayang menangis? bukannya sayang juga pernah melakukan hal yang sama denganku?" ujar Erni sambil terus memainkan benda miliknya, wajahnya yang memperhatikanku menunjukkan kepuasan tersendiri.
"Tolong lepaskan! kamu jangan seperti ini," ujarku mengiba. karena bagian belakang tubuhku, yang semakin merasa sakit, semakin aku merontak semakin Sakit pula yang kurasakan, hingga akhirnya aku hanya terdiam dalam ikatan.
"Terus kamu memohon! kamu semakin tampan! semakin merendahkan dirimu! semakin aku menikmatinya!" Rancu wanita berkelakuan ibli5 itu.
Belum sempat aku membalas sakit hati atas perlakuannya, justru akulah yang lebih dulu yang disakiti olehnya. dihinakan, direndahkan, seperti ini. membuat air mataku tak terbendung lagi, rasa dendam semakin memenuhi tubuhku hingga aku bertekad, membulatkan niat untuk membalas semua luka yang ia torehkan.
Agrhhhh!
__ADS_1
Terdengar rintihan suara wanita ibli5 itu, setelah dia melepaskan kenikmatan dengan tangannya sendiri.
"Kamu tampan banget sayang! aku makin sayang sama kamu." ujarnya sambil memeluk tubuhku yang masih terikat, kemudian dia mendaratkan ciuman di keningku, seolah aku adalah pria penghibur yang sudah berhasil memuaskan hasratnya.