Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 35 Ira


__ADS_3

Pov Ira


Malam itu, sehabis melaksanakan salat Isya para bapak-bapak dan Tetangga pun mulai datang menghampiri ke rumah. terlihat Farid yang menyapa, karena semenjak Tadi dia pulang dari tempat kerjanya. Farid langsung datang sambil membawa kue buat acara tahlilan.


Aku merasa bersyukur, karena masih ada orang yang peduli terhadapku, sehingga aku terus terfokus meratapi kesedihan yang menimpa keluarga. bagaimana Tidak sedih, Kak Ari adalah orang yang sangat berjasa di dalam hidupku, berkatnya pulah lah, aku bisa bekerja di perusahaan Mandiri Group. Namun sayang orang baik tidak lama hidup di dunia ini, Mungkin Tuhan merasa Sayang sehingga dengan cepat memanggil, agar tidak merasakan kepedihan yang begitu mendalam.


Aku terduduk di samping ibu, sambil terus menyeka cairan bening yang membasahi pipi. Begitu juga dengan orang tuaku yang tidak kalah sedih, melihat anaknya sudah pergi meninggalkannya selama-lamanya.


Dari arah luar terlihat Dali dan Pak Arfan yang menghampiri, mereka sudah dua malam mengikuti acara tahlil yang diadakan di rumah.


Setelah semuanya kumpul, Pak Ustad sebagai sesepuh di kampungku, mulai membaca tahlil, Tahmid dan Alquran. tujuannya untuk menemani keluarga yang sedang berduka, daripada mengobrol tidak jelas, mending mendoakan orang yang sudah tiada, begitulah menurut Pak Ustad..


Selesai mengadakan acara tahlilan Pak Arfan dan Kak Dali diikuti oleh Farid berkumpul di ruang tamu, mungkin mereka ingin menghiburku yang sedang merasakan kesedihan.


"Sudah jangan nangis terus, nanti air matamu habis!" ujar Kak Dali mulai membuka pembicaraan.


"Ya Bu...! kita harus yakin, bahwa kita juga akan sama-sama pergi meninggalkan dunia ini, namun waktunya saja yang belum diketahui," tambah Farid.


"Sekarang mending kamu doakan, agar kakakmu mendapatkan tempat yang layak di sisiNya," timpal Pak Arfan.


"Terima kasih atas semuanya, maaf saya hanya bisa merepotkan bapak-bapak sekalian."


"Nggak merepotkan kok, tapi kalau melihat kondisimu seperti ini, kamu membuat Kami khawatir," jawab kak Dali yang selalu memotivasi.


"Terima kasih, tapi saya masih merasa sedih. karena Kak Ari adalah laki-laki terbaik, semasa hidupnya dia berani mengorbankan semua jiwa raganya demi menafkahi keluarga."


"Apalagi seperti itu, Kamu harusnya bangga memiliki Kakak setanggung jawab Ari, jadi tidak ada yang perlu kamu tangisi." jawab Pak Arfan.


"Iya kamu harus kuat!" Tambah Kak Dali


"Insya Allah saya akan segera bangkit, tapi mohon maaf sebelumnya, Kalau saya tidak bisa masuk kerja untuk beberapa hari ini. Karena kalaupun saya sudah bisa bangkit, Saya khawatir dengan Ibu saya Kalau ditinggal sendirian."


"Kamu boleh cuti, semau kamu, Karena sekarang ada Pak Farid yang bisa diandalkan."


"Maksudnya saya dipecat?" Tanyaku sambil menatap ke arah Pak Arfan.


"Nggak, bukan begitu! tapi kalau kamu mau libur dan menenangkan diri, perusahaan tidak akan memaksamu untuk bekerja," jelas pak Arfan memastikan. Memang begitulah pak Arfan, dia tidak akan memaksa karyawannya untuk bekerja, yang terpenting ada orang yang bisa menghandle pekerjaan yang ditinggalkan. tapi walaupun seperti itu, Perusahaan tidak mau rugi, perusahaan tidak mau menggaji orang yang tidak mau bekerja, sehingga banyak orang yang tidak betah libur berlama-lama.


"Terima kasih banyak Pak,! paling saya sampai hari ketujuh, nanti saya akan masuk kerja lagi," pintaku.

__ADS_1


"Ya sudah kalau seperti itu, saya pamit dulu. Bu Ira harus tetap kuat karena ira masih memiliki tanggung jawab yaitu seorang ibu." Izin pak Arfan.


"Saya dan Pak Farid belakangan Pak, karena masih ada pembicaraan masalah pekerjaan, Siapa tahu saja Bu Ira mempunyai gagasan-gagasan yang bisa kita jadikan bahan pertimbangan," pinta Dali.


"Gak apa-apa kalau gitu, tapi jangan membuat Bu Ira berpikir terlalu berat, kasihan kondisinya belum stabil." ujar Pak Arfan, kemudian mengulurkan tangan kepada kedua laki-laki yang ada di hadalanku, lalu berpamitan sama aku, sama ibu, sama keluarga yang ada di rumah.


Setelah kepergian Arfan, Aku, Dali dan Farid mulai membahas rencana kerja yang akan kita tawarkan kepada Sampdoria biskuit. meski awalnya Dali tidak mau membahas soal pekerjaan, namun melihat ibu yang terlihat sudah tidur aku pun membahasnya. karena aku memiliki kemampuan di bidang itu, sehingga walau aku sedang bersedih, tapi otakku masih bisa berjalan, sehingga bisa memberikan gagasan-gagasan untuk dipertimbangkan.


Tring! tring! tring!


Ketika kita membahas pekerjaan, terdengar suara handphone Kak dali berbunyi, membuatku sedikit mendengus kesal, karena aku tahu siapa orang yang menelepon.


"Halo Sayang, ada apa?" tanya Dali sama orang yang menelponnya. Namun sayang tak terdengar balasannya karena Kak Dali tidak meloud speaker panggilannya.


"Iya sebentar lagi pulang, Ini baru mau." ujar kak Dali sambil memutus teleponnya, kemudian membagi tatap ke arahku dan Farid.


"Istri saya sudah menelepon, saya pamit pulang dulu."


"Kalau begitu saya juga pamit," ujar Farid yang sama-sama bangkit.


"Terus bagaimana tentang pekerjaan kita?" Tanyaku sambil ikut bangkit untuk mengantarkan mereka sampai teras rumah, sebelum Dali beranjak aku lempar senyum Termanis terlebih dahulu.


Aku terus menatap kepergian kedua laki-laki rekan kerja sekaligus atasanku. setelah mereka tak terlihat ditelan oleh belokan Gang. aku menarik nafas dalam. "Sampai Kapan kamu akan seperti ini?" Gumamku dalam hati sambil beranjak masuk ke dalam rumah. terlihat masih banyak saudara dari Bandung yang masih menginap, mereka berjanji menemaniku dan ibu sampai hari ke-7.


"Ibu di mana Bi?" Tanyaku sama adiknya ibu.


"Kamar Neng! Mungkin beliau tidur."


"Masa sih jam segini sudah tidur?"


"Ya sudah lihat aja! tapi Tolong bilang sama ibu, makan dulu! dari pagi Bibi perhatiin dia belum memasukkan makanan ke mulutnya. sekalian Neng juga makan, jangan menyiksa diri. biarkan yang sudah Tiada tenang di alam sana, Kamu harus jaga kondisimu, agar tetap sehat!" nasehat Bibi panjang lebar.


"Baik, terima kasih! Oh iya, ada nasi?"


"Ada, tadi bibi masak banyak, mau makan?"


"Ya Bi, sambil nawarin ibu. Siapa tahu aja beliau belum tidur."


Akhirnya bibi mengajakku ke dapur, kemudian menunjukkan makanan-makanan yang tadi dia masak, disiapkan untuk makanan semua keluarga yang menemani.

__ADS_1


Aku mengambil piring dari rak, kemudian mengisinya dengan nasi beserta beberapa lauknya. kemudian kembali ke tengah rumah lalu masuk ke dalam kamar ibu.


"Boleh masuk?" Tanyaku sambil menatap wanita yang sedang terbaring, matanya menatap ke arah pelafon.


"Masuk aja! tapi Tolong tutup kembali pintunya!" Pinta ibu dengan suara parau.


"Ibu makan dulu..! Nanti ibu sakit," ujarku sambil menyimpan piring di atas nakas kemudian duduk di tepian ranjang.


Melihat anaknya masuk, Ibu Pun menggerakkan tubuh, kemudian menyandarkan punggungnya ke kepala dipan. "kamu sudah makan?" tanya ibu menatapku.


"Belum Bu, kita sama-sama makan ya!"


Ibu tidak menjawab, Dia hanya menganggukan kepala sebagai jawaban bahwa dia ingin disuapi olehku. aku mulai menyendok nasi dicampur dengan lauk, lalu sendok itu didekatkan ke bibir wanita yang sudah melahirkanku. Ibu mulai mengunyah nasi yang ada di mulutnya, sambil terus menatapku seperti orang yang baru pertama melihat.


"Kenapa menatapku seperti itu Bu?"


"Kapan kamu mau menikah, kamu sudah sangat dewasa. ibu takut kalau meninggalkanmu sendirian, kalau kamu belum memiliki penjaga yang sangat menyayangimu."


"Maksudnya bu?" Tanyaku yang masih tidak mengerti.


"Yah, Kamu kapan mau menikah?"


"Nantilah Bu, setelah Ira bertemu dengan pria yang sangat menyayangi Ira. tapi Ibu mau pergi ke mana?" ujarku mempertegas pertanyaan.


"Nggak kemana-mana, cuman ibu takut aja kalau kamu harus hidup sendiri, karena umur tidak ada yang tahu. seperti Kakakmu yang baik-baik saja, Bahkan sebelum dia pergi Ibu sempat menyuapinya terlebih dahulu. tapi entah kenapa pas ibu masuk kembali ke dalam kamarnya dia sudah tergeletak terbujur kaku.


"Udahlah Bu Jangan bahas itu, Dan jangan bahas yang sedih-sedih. kita harus bangkit, kita harus saling menguatkan, agar kita bisa terus menikmati sisa hidup."


"Yah, maka dari itu kamu harus segera menemukan pasangan, biar Ibu tenang. sekarang kamu jujur sama ibu apa ada pria yang sedang dekat sama kamu?"


Ditanya seperti itu, Aku yang merasa malu, hanya bisa menundukkan pandangan, tak mampu menjawab pertanyaan wanita yang sangat ku hormati.


"Kalau kamu suka dan prianya pun suka, kamu jangan terlalu lama berpacaran. secepatnya kamu pastikan hubungan kalian, agar tidak menjadi dosa! Dan ibu pun bisa tenang."


"Tapi Bu!"


"Tapi apa?"


"Tapi sekarang pria itu masih punya hubungan dengan orang lain."

__ADS_1


__ADS_2