Dua Penghianat

Dua Penghianat
EPS. 114 BERBAGAI CARA


__ADS_3

Pov arfan


"Silakan masuk Pak! Bu Erni mengizinkan kalian untuk menemuinya!" Seru satpam itu sambil membukakan pintu. "sekalian motornya juga dibawa masuk agar aman!" Lanjut perintah Pak satpam.


Mendapat perintah seperti itu, Dali pun mengangguk kemudian dia menyalakan motor lalu memasukkan ke dalam halaman rumah Erni. setelah motor itu terparkir, kita berdua pun berjalan ke arah teras, di mana Erni dan Farid sudah menunggu.


"Hahaha! aku yakin kamu pasti datang untuk menemuiku." ucap Erni sambil mengulum senyum, namun tak seindah dulu.


"Kamu bawa ke mana Karla?" Tanyaku yang langsung menuduhnya membuat Erni terlihat kebingungan.


"Maksudnya?"


"Karla hilang! kamu pasti yang menculiknya." tuduhku dengan penuh emosi.


"Sabar Arfan! sabar sayang! ayo kita duduk dulu. Biar bicaramu tidak melantur seperti orang mabuk." ajak Erni yang tak terlihat malu berbicara seperti itu, meski di hadapan suaminya.


Dali pun memegang tanganku, memberikan ide agar aku sedikit bersabar, supaya semua yang kita lakukan membuahkan hasil. akhirnya aku pun menurut dan duduk di kursi teras rumah Erni.


"Mau minum apa Fan?" tanya Farid sambil menatap ke arahku, namun tak sedikitpun membuat Hatiku tersentuh dengan tawarannya.


"Maaf Bu Erni! kita mengganggu waktu istirahat Bu Erni, saya datang ke sini bersama atasan saya, untuk bertanya tentang Bu Karla." Ujar Dali mulai menyampaikan tujuan kita, tak memperdulikan tawaran Farid.


"Mau nanya apa?" tanya Erni membagi tatapan tajamnya ke arah kita berdua.


"Apakah Bu Erni pernah bertemu dengan Bu Karla?"


"Pernah! ada apa emang?" jawab Erni yang tak merubah sedikitpun raut wajahnya.


"Kapan dan di mana? Karena sekarang bu Karla menghilang tidak pulang dari tempat kerjanya." jelas dali yang masih terlihat sabar.


"6 bulan yang lalu, di cafe. Kenapa emang? apa jangan-jangan kalian menuduhku yang macam-macam?" ujar Erni membalikkan pertanyaan, dengan menatap tajam ke arah Dali.


"Enggak Bu! kita hanya ingin bertanya saja, karena menurut pengakuan bu karla, 6 bulan yang lalu ibu pernah mengancamnya. saya takut kalau ancaman itu benar-benar terjadi." jelas Dali yang masih terlihat diplomatis.


"Enggak! Gua enggak pernah berurusan lagi dengan wanita pemulung sampah itu. karena itu hanya membuang-buang waktu saja, asal kamu tahu derajatku sama derajat wanita kampung itu sangat jauh. nanti bisa-bisa tubuhku alergi." jelas Erni panjang lebar membuatku mengeratkan gigi, merasa kesal dengan apa yang dibicarakannya.


"Tolong kamu jangan berpura-pura tidak tahu! sekarang kasih tahu gua di mana Karla." bentakku yang tak mampu bernegosiasi lagi.


"Pelankan bicaramu Sayang! nanti darah tinggimu naik." jawab Erni yang mengulum senyum, membuatnya terlihat sangat mengerikan.


"Awas aja kalau terjadi sesuatu sama Karla, kamu adalah orang yang pertama yang harus bertanggung jawab."

__ADS_1


"Laah, lah, kok bisa seperti itu. aku yang tidak mengerjakan apapun harus bertanggung jawab. semakin ke sini kamu semakin stress aja Sayang! mending kamu kembali lagi sama aku. Farid sudah bersedia kok, berbagi istri denganmu." jawab Erni membuatku darahku berdesir tak kuat lagi menahan amarah. aku pun bangkit dari tempat dudukku, hendak menampar mulut aneh wanita itu.


"Sabar Pak! ya sudah, kalau dia tidak mau memberitahu. kita cari sendiri!" tahan dali yang memegang pergelangan tanganku.


"Biarkan aja Dali! atasanmu menamparku. Mungkin dia sudah kangen menyentuh pipi lembutku." jawab Erni yang masih tetap mengulum senyum.


"Ayo pulang Pak! kita buang-buang waktu saja datang ke sini." ajak Dali sambil menarik tanganku, agar segera pergi meninggalkan rumah Erni.


"Tunggu dulu sebentar! aku ada berita bagus buat kalian." tahan Erni sambil bangkit dari tempat duduknya kemudian mengejar kita, membuat langkah itu terhenti lalu menatap ke arahnya.


"Berita bagus apa?"


"Kalian mending mengundurkan diri dari perebutan tender perusahaan Bagaskara. kalau kalian bersedia legowo maka saya akan kasih satu miliar buat kalian. bagaimana ,itu Tawaran bagus bukan?"


"Hahaha, mendingan kami kalah secara terhormat daripada harus mengalah tanpa bertanding!" jawabku yang tertawa sinis.


"Dasar bod0h! dikasih enak malah tidak mau. Padahal kalau ikut juga belum tentu menang, ini dikasih enak malah menolak." ujar Erni yang tak kalah sinis kemudian dia mendekat ke arahku, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga. "mending sayang nyerah aja! selain aku kasih satu miliar, aku juga punya hadiah spesial untuk kamu. mungkin itu akan membuatmu bahagia." bisiknya sambil kembali tersenyum.


"Kamu tahu keberadaan Karla?"


"Kenapa sih! kamu masih mencari gadis kampung itu, aku yang cantik sedang berdiri di hadapanmu tapi tak kau hiraukan."


"Bobo denganku!" jawab Erni yang tak sedikitpun terlihat bersalah, ketika berbicara seperti itu di hadapan suaminya.


Aku yang merasa kesal dengan cepat meninggalkan tempat itu untuk menuju ke arah di mana motor dali terparkir. Dali yang melihatku pergi dia pun ikut pergi meninggalkan rumah Erni. tanpa ada pembicaraan lagi, kita berdua pergi meninggalkan rumah Erni.


"Kita Mencari kemana lagi sekarang?" tanya Dali yang menghentikan motornya, ketika keluar dari Komplek perumahan.


"Ke kantor Erni group, siapa tahu aja kita bisa menemukan sesuatu di sana."


"Baik Pak!" jawab Dali sambil menarik kembali tuas motornya, sehingga motor yang dikendarai melaju menuju ke kantor Erni grup.


Sesampainya di Erni group, terlihat pak Wardi yang sedang berjaga bersama beberapa karyawan lainnya. ketika melihatku datang mata mereka pun menatap tajam ke arahku. ketika aku hendak turun dari motor pak Wardi pun menghampiri.


"Mau ngapain lagi ke sini pak?" tanya Pak Wardi dengan memasang wajah sangar, berbeda ketika bertemu denganku Beberapa bulan yang lalu.


"Saya mau bertanya Pak! Apakah Bu Erni hari ini masuk ke kantor?" Tanyaku sambil turun lalu menyalaminya, namun Pak Wardi menolak uluran tanganku.


"Jangan banyak tanya! mendingan Bapak sekarang pulang dan jangan menginjakkan kaki lagi di kantor ini!" bentak Wardi yang membuatku merasa heran dengan perubahan sikapnya.


"Ini sebenarnya ada apa?" tanya Dali.

__ADS_1


"Sudah jangan banyak tanya! mendingan kalian sekarang pulang, jangan membuat keributan di sini!" tolak pak Wardi yang masih Kukuh dengan pendiriannya. melihat penyambutan para mantan karyawanku yang kurang ramah. Aku pun memberi isyarah kepada Dali, agar segera meninggalkan kantor Erni Group.


"Kita harus mencari kemana lagi Dal!" Tanyaku setelah keluar dari kantor Erni Group.


"Apa nggak sebaiknya kita lapor polisi saja!"


"Terima kasih atas sarannya, benar kita harus melaporkan Kejadian ini ke pihak yang berwajib. tolong berhenti dulu sebentar." ujarku menyeru dali agar menepi.


Setelah motornya menepi, aku mengambil handphone lalu menghubungi nomor Pak Umar. tak lama menunggu, telepon itu pun terhubung.


"Halo! bagaimana, apakah nak Arfan sudah menemukan anak saya?" tanya Pak Umar.


"Belum pak! saya berniat melaporkan hilangnya Karla ke pihak yang berwajib."


"Haduh! kemana yah, anak saya?" tanya Pak Umar yang mendesah kebingungan.


"Sabar Pak! Saya yakin karla akan baik-baik saja. kita doakan semoga saja agar tidak terjadi apa-apa sama dia. Ya sudah, sekarang Bapak di mana?"


"Saya masih mencari Karla di sekitaran arah pulang."


"Ya sudah Bapak tunggu di situ, sebentar lagi saya sampai. nanti kita ke kantor polisi bersama-sama!" pintaku sambil memutus telepon. "Jalan lagi dal!" seruku sama Dali, agar dia menjalankan kembali motornya. dengan sedikit agak kencang, keadaan yang mulai malam sehingga jalan sudah mulai terlihat renggang. hingga akhirnya aku sampai di tempat Pak Umar menunggu.


"Bagaimana apa menemukan petunjuk?" Tanyaku yang baru turun dari motor.


"Belum pak! kita sudah bertanya sama beberapa orang yang berjualan, sampai ke tukang ojek. Namun sayang mereka tidak melihat keberadaan Bu Karla." jawab Pak Sandi menyampaikan temuannya.


"Ya sudah kalau seperti itu, berarti kita harus melaporkan ini ke pihak yang berwajib. tolong Pak Umar siapkan berkas-berkasnya! seperti fotocopy KTP atau KK." pintaku sambil menatap Pak Umar.


"Terus bagaimana keadaan anak saya?" tanya Pak Umar yang terlihat raut wajahnya menunjukkan penuh kebingungan. Sehingga pertanyaan yang keluar pun tak berbobot.


"Kita lagi berusaha mencari Pak! salah satunya dengan mengandalkan pihak yang berwajib, agar semakin banyak orang yang mencari, semakin cepat kita menemukan keberadaan Karla."


"Terima kasih! terima kasih banyak!" Matanya yang sudah masuk ke dalam terlihat ada cairan bening, ketika tersinari lampu motor yang lewat.


"Ya sudah ayo kita pulang! dali tolong ambilkan mobil saya di kantor atri Group. Dan saya pinjam motor kamu, agar tidak terjebak macet." akhirnya aku memberi keputusan.


"Baik Pak! kunci mobilnya mana?" Pinta Dali.


Aku menyerahkan kunci mobilku, kemudian mengambil motornya. lalu mengajak Pak Umar untuk pulang terlebih dahulu, mengambil berkas-berkas kelengkapan pembuatan laporan kehilangan.


Sesampainya di rumah, terlihat sudah banyak orang yang menunggu kedatangan kita. mereka dengan serempak bertanya tentang kejadian yang sebenarnya. aku pun mulai menjelaskan dari awal sampai akhir, sehingga membuat para warga itu dengan bergegas dan bersiap-siap untuk membantu mencari keberadaan Carla.

__ADS_1


__ADS_2