
Pov Karla
Part Dewasa
"Kenapa lu masih diam......., menatap seperti itu?" bentakku yang masih belum cebok, karena malu ditatap orang asing Seperti Arfan. Walaupun dia sudah sah menjadi suamiku, namun rasanya tetap malu.
Mendengar ancamanku, Arfan hanya tersenyum menyeringai, menunjukkan gigi putih yang berbaris rapi, namun tak membuat terlihat indah hanya membuatku semakin takut, hingga mendekatkan tubuh ke pojok toilet.
"Berhenti......! berhenti.....! Stooop! Diamdi situ. Jangan mendekat kalau mendekat aku siram!" ancamku sambil terus mengarahkan semprotan air ke arahnya, namun dia tidak bergeming sama sekali, suamiku terus melangkah seolah tak memperdulikan apa yang dia dengar.
Merasa ancaman tidak digubris, dengan cepat aku menyemprotkan air ke tubuhnya. membuat Arfan dengan cepat berlari mengangkat tubuhku agar bangun dari tempat duduk, lalu memeluknya dengan begitu erat.
"Kamu harus tanggung jawab! karena kamu sudah membangunkan macan yang sudah tertidur lama" bisik suamiku dengan nafas sedikit memburu, menyapu daun telinga, membuat merinding geli.
"Aku belum cebok Kak! tolong lepaskan aku." rintihku dengan suara tertahan.
"Ya sudah kamu bersihkan dulu Sayang!" Arfan melepaskan pelukannya membiarkan istrinya untuk membersihkan organ inti.
"Jangan ngintip kak!" Pintaku sambil jongkok kembali, mata ini terus terfokus ke arah pria yang sedang berdiri di hadapanku. namun mata itu lebih fokus ke arah benda yang menggantung di antara pahanya, benda yang sangat asing.
"Kenapa masih diam? Ayo buruan cuci! ,"
"Ya Kakaknya jangan ngintip, tolong!"
"Nggak apa-apa kali, kan kita sudah sah menjadi suami istri." Selalu kata itu yang menjadi senjatanya.
"Iya tapi kalau kakak ngintip seperti itu, kita akan lama melakukannya karena aku malu, kalau Kakak melihatnya seperti itu."
Dengan mendengus sedikit agak kesal, terlihat suamiku membalikkan tubuhnya. dengan cepat aku membersihkan organ kewanitaanku yang baru saja mengeluarkan air seni.
"Sudah belum, Lama amat!" Tanya Arfan seolah tidak sabar.
Aku tidak menjawab karena rasa malu, rasa sesal, bercampur menjadi satu. malu bisa berduaan dengan orang yang berbeda jenis. Sesal Kenapa tadi ketika masuk ke kamar mandi tangan ini bisa nakal seperti itu.
Mendapat aku yang tidak memberikan jawaban, Arfan terlihat membalikkan tubuh. lalu mengangkat kembali tubuh yang sedang berjongkok. Dia mulai memeluk lagi seperti yang tadi suamiku lakukan.
__ADS_1
Perlahan tangan yang memeluk, mulai turun ke area bawah. mulai *******-***** bagian pinggul. kepalanya yang ada di pundakku, perlahan Dia angkat. lalu menatap bola mataku yang sudah sayu dibuatnya, meski hanya sentuhan-sentuhan kecil namun cukup membuat tubuhku merasa melayang.
Setelah puas menikmati wajahku, sang suami mulai mendekatkan bibirnya ke arah bibirku, nafasnya yang sudah memburu, menyapu seluruh area wajah, membuat siapapun akan merinding kegelian dibuatnya.
Semakin lama, bibirnya semakin mendekat. hingga perlahan bibir yang terlihat membiru kedinginan, mulai menyentuh bibirku. awalnya bibir Arfan Terdiam hanya menempel begitu saja. mungkin sedang melihat ekfresiku seperti apa. Mungkin suamiku takut Aku menolaknya.
Mendapat aku yang tidak merespon apapun, tidak ada gestur penolakan atas perlakuannya. perlahan bibir Arfan mulai bergerak-gerak memainkan bibirku. Lama kelamaan, tarian bibirnya mulai berubah menjadi sebuah kecupan kecupan lembut.
Aku yang tidak tahu harus berbuat apa, dengan perlakuan yang sedang sang suami lakukan. aku hanya diam sambil memejamkan mata tak berani menatap ke arah wajah Arfan. jujur baru pertama kali aku melakukan hal seperti ini. Sehingga mungkin aku harus banyak belajar darinya yang sudah berpengalaman tentang masalah beginian. benda yang di bawah perutnya, terasa sangat mengeras menggesek-gesek perut.
Arfan terus memainkan Bibirnya di atas bibirku, sesekali kecupan itu pindah ke area pipi, hidung bahkan telinga. Seluruh kulit wajahku tak ada yang terlewat. Puas bermain di area wajah, perlahan kecupannya mulai turun ke area Leher, membuatku sedikit menggelinjang kegelian, lalu mendorong tubuhnya agar menghentikan Apa yang sedang dia perbuat.
"Jangan di situ, geli!" pintaku sambil menatap nanar. Entah mengapa aku bisa seperti itu, padahal baru hanya disentuh dengan ciuman.
Arfan tidak menjawab, namun dia kembali mendekap tubuhku dengan dekapan yang lebih erat. lalu mulai kembali mencium bibir turun ke leher. rasa yang tadinya geli sekarang berubah menjadi rasa yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Rasa itu terus mengalir ke seluruh tubuh, bagaikan aliran listrik yang mencari titik terbasah dalam tubuh.
"Buka ya!" ujarnya sambil melepas kancing piyamaku. Awalnya aku menolak, karena aku malu mempertontonkan tubuhku di depan orang asing Seperti sekarang. namun setelah beberapa kali Arfan memaksa, akhirnya kancing baju itu mulai terlepas satu persatu. Meski rasa maluku sangat besar, namun rasa penasaran dengan apa yang hendak dia lakukan selanjutnya. membuat tubuhku membiarkannya melakukan hal seperti itu. Lagian harusnya aku nggak perlu takut, karena sekarang dia adalah suami sahku.
"Putih banget!" Pujinya sambil kembali meletakkan bibir di Leher, lalu bibir itu mulai turun ke bawah, menyapu setiap inci area dada, tanpa ada satupun yang terlewat. aku hanya menggigit bibir bawah menahan rasa geli bercampur nikmat yang tak terhingga.
"Sudah Kak! sudah!" tolakku dengan suara sedikit Parau, ketika suamiku mau mencium pangkal Dada, Aku mulai takut tidak bisa mengontrol diri.
Namun Arfan tidak menghiraukan permintaan itu, perlahan dia menanggalkan baju yang kancingnya sudah terbuka. kemudian dia memeluk tubuh untuk melepaskan pengait yang ada di belakang punggung. sehingga nampaklah kedua gunung yang putih, bersih dengan puncak warna coklat. spuncak itu terlihat kontras dengan kulitku yang putih.
"Cantik banget sayang!" Puji suamiku sebelum dia memainkan kembali Tangannya di atas dadaku. membuatku terbang melayang mendapat pujiannya.
Dia terus memainkan lidahnya Di Ujung Gunung, sambil sesekali meremas pangkalnya. membuatku hanya bisa memejamkan mata ,menikmati setiap detik yang kulalui dengan penuh kenikmatan dan kebahagiaan.
"Kenapa berhenti?" Tanyaku seolah tidak sadar. dengan cepat aku gigit bibir bawahku, menyalahkan bibir yang tidak bisa aku kontrol. setelah Arfan menghentikan permainannya.
"Di kasur yuk!" jawabnya sambil tersenyum penuh arti, aku hanya menundukkan pandangan mengambil baju yang tadi Arfan lempar, menutup buah dad4 yang terpampang sempurna.
"Enggak kak! aku mau mandi." jawabku terbata-bata. rasa malu, rasa penasaran, rasa ingin menikmati kelanjutannya berkumpul menjadi satu.
"Ayo!" paksanya sambil menarik tanganku, namun dengan sedikit tenaga aku menolak. sehingga tubuh ini tertarik keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Setelah keluar dari kamar mandi, tubuhku dengan cepat digendong oleh Arfan. lalu dibawanya menuju ke atas ranjangnya. ranjang yang hanya baru digunakan untuk menginap saja. Dengan perlahan Arfan mulai membaringkan tubuh yang digendongnya ke atas kasur.
"Aku takut!" tolaku ketika bibirnya Mau menyentuh bibirku kembali.
"Nggak! pelan-pelan kok! kamu nggak usah takut!" Rancunya menenangkanku.
Dengan lembut dan penuh kasih sayang, dia mulai kembali ******* Bibir dengan begitu penuh perasaan. sehingga membuat bibir ini lama-kelamaan mengikuti permainannya. yang awalnya hanya diam pasif tidak membalas, sekarang bibirku mulai berani nakal membalas kecupannya.
Tubuhku mulai terasa panas penuh desiran-desiran aneh yang tidak bisa di ungkapkan, mata mulai layu keseringan terpejam. nafas mulai memburu seperti orang yang sedang bekerja.
Arfan yang dari tadi sudah tidak memakai handuk, dia mulai kembali menempelkan Bibirnya di Leher. Kemudian ******* leher itu Tak ada yang tersisa sesenti pun. Bibirnya mulai turun kembali ke aktivitas yang tadi dilakukan di kamar mandi.
Puas bermain di dada dia mulai mencium perutku, rasanya sangat geli lebih geli dari yang sebelum-sebelumnya .apalagi ketika ciumannya tiba dipinggang yang masih tertutup oleh celana. Aku hanya bisa merapatkan kaki, lalu menekuknya. menahan kegelian yang terasa aneh untuk dijelaskan.
"Buka ya!" pinta suamiku sambil menarik celana piyama yang sedang dikenakan. namun dengan cepat aku menahan agar dia tidak meneruskan niatnya. dengan sedikit godaan dan sedikit sentuhan akhirnya tanganku terasa lemas, hingga membiarkan celana itu dilemparkan ke arah pojok kamar.
Aku yang merasa malu hanya bisa menutup dadaku dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiri menutup bagian yang masih tertutup oleh segitiga pengaman.
"Jangan ditutup sayang!" pintanya sambil menatap ke arah wajah. matanya yang nanar penuh nafsu.
perlahan dia mulai menciumi kembali perutku, sampai ke karet celana segitiga pengaman. Arfan terus bermain di dekat area sensitif sampai ke area paha, suamiku terus memainkan lidahnya tanpa ada yang terlewat. dengan celana masih terpakai. Aku hanya bisa gelagapan tak tahu harus mengekspresikannya seperti apa, Aku hanya bisa memejamkan mata, menanti apa yang akan dilanjutkan oleh suamiku.
Tangannya mulai terasa memegang kedua Pinggangku. kemudian dia menurunkan segitiga pengaman yang aku kenakan. entah apa yang dia lakukan dengan celana itu, karena aku masih terpejam malu namun menikmati.
Suamiku mulai bermain di area yang sudah tidak tertutup apa-apa, mulai mencium kembali paha dan perutku. lama-kelamaan bibirnya mulai menyentuh pangkal paha, membuatku geli sambil menahan kepalanya.
"Jangan......! jangan ke situ. jorok!" hanya kata itu yang terucap dari mulut dibarengi dengan *******-******* dan eregan-eregan yang nggak tahu kenapa bisa seperti itu. namun suamiku tetap memaksa, hingga membuatku hanya terpejam meremas sprei.
Kenikmatan itu terus diberikan oleh suami sahku. namun tiba-tiba mataku terbuka dengan sempurna. Setelah Arfan menghentikan aktivitasnya. aku menatap nanar ke arah suamiki seolah bertanya Kenapa kamu berhenti. tapi hanya tetapan itu yang bisa aku lakukan, Karena untuk bertanya langsung rasanya lidahku terasa kelu, ditambah nafas yang masih terengah-engah. Takut suara itu tidak keluar.
"Ini darah apa?" tanya suamiku yang sedang memperhatikan telunjuknya yang terlihat merah.
"Aduhhh.....!" Desisku menahan sakit, tiba-tiba di bagian perutku terasa kram.
"Kenapa sayang?" tanya Arfan yang terlihat panik, dia menggenggam tanganku begitu erat.
__ADS_1