Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 62 PERSIAPAAN LAMARAN


__ADS_3

Pov Erni


Dua hari lagi, aku akan mengadakan acara lamaranku dengan Farid secara resmi. rumahku sudah mulai di dekorasi, karena aku tidak mau acara lamaranku yang biasa-biasa saja. Aku ingin menjadikan momen lamaranku, adalah momen teristimewa dalam hidup. karena Dulu ketika mantan suamiku melamar, dia hanya mendatangi kedua orang tuaku, tanpa ada acara yang mewah. menurutnya Sayang uangnya, kalau hanya untuk dihambur-hamburkan.


"Tolong di sini dikasih hiasan bunga, agar nanti ketika Farid memasangkan cincin, terlihat bagus kalau difoto!" pintaku sama staf dekor.


"Baik, bu! mau bunga seperti apa?" tanya wanita itu sambil menatap ke arahku.


"Malah balik nanya! pilihkan bunga yang bagus. Dan ingat! aku membayar semua ini dengan mahal, Masa! masalah sepele seperti ini kamu nggak tahu." dengusku yang kesal.


"Baik bu! maaf, maksud saya, Siapa tahu saja ibu ingin ada bunga kesukaan Ibu di sini." ujarnya mengelak.


"Pokoknya! saya ingin yang terbaik dan yang termewah. ingat! yang terbaik dan yang termewah! kalau tidak sesuai dengan ekspektasi. saya akan memberikan nilai negatif dengan wedding organizer ini, kamu juga tahu kan, kalau saya adalah pemilik perusahaan properti terbesar kedua di kota Jakarta." ancamku dengan membulatkan mata membuktikan keseriusannya.


"Baik bu! Kami akan bekerja semaksimal mungkin."


"Maaf Bu! mengganggu." ujar seorang wanita yang baru menghampiri.


"Iya, ada apa nem?" Tanyaku sambil memalingkan pandangan ke arah asisten rumah tanggaku.


"Di depan ada sekumpulan orang yang baru datang dari kampung, mereka mengaku keluarga ibu." jelas Inem.


"Kenapa nggak disuruh masuk?" aku bertanya sambil menatap kesal ke arahnya.


"Maaf Bu! karena mereka sangat berbeda dengan ibu, saya takut, saya salah orang."


"Sekarang di mana mereka?"


"Masih di halaman depan bu." jawab Inem.


Aku pun berjalan melewati ruang tamu, untuk menuju ke arah depan rumah. benar apa yang dikatakan asisten Rumah tanggaku, terlihat Bapak dan Ibu beserta keluarga lainnya, sudah berada di halaman rumah. mereka Masih Berdiri dijaga oleh Deri satpam rumahku. dengan cepat aku pun menghampiri mereka.


"Erni! ini beneran kamu, Nak? Ibu pangling sekarang melihat kamu." sambut Ibu sambil mendekatiku, kemudian dia memelukku dengan erat. tercium bau debu jalan dan keringat memenuhi rongga hidungku, sehingga dengan cepat aku melepaskan pelukan ibu.


"Iya Bu! ini aku. bagaimana keadaan Kalian sehat?" aku bertanya sambil membagi tatapan ke arah orang-orang yang ada di situ. namun yang membuatku merasa Aneh, karena di situ ada seorang wanita cantik, yang belum aku ketahui namanya.


"Sehat!" jawab bapak yang hendak memeluk tubuhku, namun aku segera menolak. dengan alasan aku sudah dewasa, aku tidak pantas diperlakukan seperti anak kecil yang harus dipeluk. padahal aku tidak mau bajuku terkotori dengan baju mereka, yang sangat lusuh dan bau keringat.

__ADS_1


Satu persatu dari adikku, mereka menyelamiku, mencium punggung tanganku. mereka menghormatiku sebagai mana layaknya seorang adik terhadap kakaknya.


"Halo Erni! ini aku Vina. dulu waktu di SMP kita pernah sekelas bareng. Kamu masih ingat kan aku sering membantu kamu." ujar wanita cantik itu, yang mengaku nama Vina.


Aku hanya senyum kecut, menyambut kehadirannya. kemudian aku menerima uluran tangannya, yang hendak menyalamiku.


"Ya sudah! ayo kalian masuk, kemudian mandi tubuh kalian bau Debu sama bau matahari. memang kalian ke sini naik apa? Kok bisa baunya tidak enak seperti ini?" aku mengajak mereka agar segera masuk ke dalam rumah, agar orang-orang tidak mengetahui bahwa keluargaku sangat kampungan.


"Tadi bapak naik mobil itu! soalnya mau nyewa mobil yang lebih bagus, semuanya harganya mahal." jawab Bapak sambil menunjuk mobil Wagon Carry yang warnanya sudah kusam.


"Ngapain dibawa masuk ke dalam rumah, Pak? Kenapa Gak disimpan di luar aja?" Tanyaku yang merasa kesal, karena mobil butut itu mengganggu keestetikan rumah mewahku.


"Kalau kamu nggak ngebolehin, ya sudah! bapak akan parkirkan di luar." Ujar bapak yang membalikkan tubuh hendak masuk ke mobil.


"Nggak usah! Bapak Mandi aja dulu. sini Mana kuncinya?" pintaku.


Bapak pun merogoh kantong celananya, kemudian dia mengeluarkan kunci mobil butut itu. dengan cepat aku mengambil kunci yang diberikan bapak, kemudian memanggil satpam rumahku, untuk mengeluarkan mobil itu dari halaman rumahku.


"Parkirkan di mana, Bu?" tanya Deri sambil mengambil kunci yang aku berikan.


Siap, Baik bu!"


Setelah selesai memberikan perintah, akupun mengikuti keluargaku yang sudah masuk ke dalam rumah, terlihatĀ  mereka masih duduk di ruang tamu.


"Inem" panggilku sama asisten rumah tangga.


"Ya ada apa, Bu?" ujar Inem yang berlari dari arah dapur.


"Tolong tempatkan mereka di kamar lantai atas, cukupi semua kebutuhannya! dan Ingatkan mereka harus mandi." pintaku memberi arahan.


"Baik bu."


"Dan ibu, bantu Inem untuk menyiapkan segala kebutuhan keluarga di sini. dan kamu juga Vina! kamu harus membantu inem mulai dari mencuci piring, ngepel dan nyapu." aku mulai membagi tugas.


"Lah, kok gitu? aku ke sini, cuma mau melihat Hari kebahagiaan kamu." tolak Vina seolah tidak suka.


"Ya bantu saja, Apa susahnya sih. Kamu kan sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah, waktu menjadi TKW di luar negeri. terus kalau kamu tidak tidak mau membantu, kamu mau apa kamu ke sini. mau tumpang kaki, begitu? Layaknya seorang bos?" Tanyaku dengan intonasi yang sedikit meninggi, sambil memicingkan mata ke arahnya.

__ADS_1


"Sudah! sudah! Jangan berdebat! nggak apa-apa. biar bapak yang ngepel, kita semua di sini akan bantu kamu, kita nggak akan merepotkan kamu." ujar bapak yang tidak mau memperpanjang masalah.


"Nah! begitu dong, terima kasih kalian sudah mau membantu." ujarku sambil mengulum senyum, merasa puas dengan apa yang diucapkan oleh bapak.


"Mari saya antar ke kamar!" ajak Inem setelah aku tidak memberikan perintah lagi.


Akhirnya keluargaku berdiri dari tempat duduknya. kemudian mereka berjalan mengikuti asisten Rumah tanggaku, naik ke lantai dua. menuju kamar untuk beristirahat. Entah mengapa aku bisa kesel sama mereka, mungkin gara-gara, aku mengurus semua persiapan acara lamaranku sendirian, sehingga aku merasa pusing sendiri.


Aku menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya dengan pelan. menenangkan kembali pikiranku, yang sudah termakan emosi. Bagaimana tidak emosi, aku memberikan uang 10 juta, mereka hanya datang dengan menggunakan mobil butut. Padahal mereka mau hadir dalam acara yang sangat sakral bagiku, pakaian mereka yang sangat lusuh dan dekil. membuatku semakin merasa jijik, Apa mereka tidak tahu model baju trendy sekarang.


"Nggak! nggak! semua ini gak boleh terjadi, mereka harus membeli pakaian terlebih dahulu, sebelum semuanya terlambat. sebelum mereka menghancurkan semua acara sakralku, Sebelum orang-orang tahu bahwa keluargaku sangat kampungan."


Kulangkahkan kakiku, menuju kamar tidur. karena sejak pulang dari kantor, aku belum sempat membersihkan badanku. rasa gatal dan gerah menyelimuti tubuh. gara-gara wedding organizer yang tidak becus mengurus pekerjaannya, sehingga aku harus turun tangan sendiri. Padahal aku sudah membayar mereka dengan sangat mahal.


"Bi, sini Bi!" panggilku yang tak jadi masuk ke dalam kamar, karena melihat inem yang baru turun dari lantai atas. dengan cepat asisten Rumah tanggaku menghampiri.


"Iya Bu!" Ujarnya sambil manggut, menunjukkan hormat terhadap majikannya.


"Nanti setelah mereka mandi, tolong suruh mereka makan terlebih dahulu. dan kalau kamu butuh bantuan suruh mereka membantu. Oh iya! satu lagi Tolong bilang sama mereka, nanti setelah isya, kita akan pergi ke mall untuk membeli baju." seruku sama asisten rumah tangga, kemudian aku melanjutkan niatku, yang hendak masuk ke dalam kamar.


Sesampainya di kamar, dengan cepat aku lepaskan semua pakaianku. kemudian aku masuk ke kamar mandi, yang begitu luas. untuk merendam tubuhku dengan air hangat, seperti yang biasa aku lakukan, merelaksasi tubuh dan pikiranku, setelah capek seharian bekerja.


Setelah selesai mandi, Aku menggunakan handuk kimono, kemudian keluar dari kamarku. terdengar suara riuh dari arah dapur, menggambarkan keluarga yang sangat bahagia, membuatku sedikit penasaran dengan apa yang mereka lakukan, sehingga mereka Terdengar sebahagia itu. Perlahan Aku berjalan mendekati arah dapur untuk melihat lebih dekat.


"Ayo makan Nak!" Ajak Ibu setelah melihat kehadiranku, membuat suasana ruang dapur mencekam.


"Makan yang banyak! nanti setelah selesai makan, kita jalan-jalan." ucapku yang sudah mulai melunak, pikiranku yang sudah terelaksasi membuatku bisa berpikir dengan jernih.


"Kamu juga, harus makan dulu, ayo!" ajak ibu memaksa.


"Ayo Kak! makan. SUdah lama kita nggak makan bareng." ajak Erna adik terkecilku, mungkin usianya sekarang sudah masuk keSMP.


"Iya! Sesibuk apapun kamu, kamu harus sempatkan untuk mengisi perutmu." ujar bapak menimpali.


Dengan paksaan mereka hatiku sedikit tersentuh, karena momen seperti ini, baru aku rasakan lagi, setelah sekian lama menghilang. karena semenjak kejadian aku berselingkuh dengan Farid, aku belum pernah pulang ke rumah, dan keluargaku belum pernah menjengukku kesini.


Ketika aku menikah dengan Arfan, Aku sering pulang ke rumah keluargaku. karena Suamiku itu selalu memprioritaskan keluarga di atas semuanya, meski hanya sebulan sekali, namun itu terbilang sering, untuk wanita yang sudah menikah dan tinggal bersama suaminya.

__ADS_1


__ADS_2