Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 19 Istiriku kabur


__ADS_3

Pov Farid


Mendengar jawabanku yang masih Teguh dengan pendirian, bahwa aku tidak mau bekerja di perusahaan Arfan. dengan cepat Vina melepaskan pelukanku mendorong tubuhku agar tidak menghalangi pintu masuk, kemudian dia masuk ke dalam kamar sambil memegang pipinya, yang mungkin masih terasa nyeri karena tamparan ku.


Aku yang mencium bau yang tidak biasa, dengan cepat aku mengikuti istriku masuk ke dalam kamar. terlihat Vina sedang mengemasi pakaiannya dimasukkan ke dalam koper.


"Mau kemana kamu Vin?" Tanyaku sambil menahan tangannya yang masih terus mengeluarkan baju dari lemari.


"Kalau kita terus seperti ini, aku bisa-bisa mati sambil berdiri. rumah tangga kita sudah tidak ada yang bisa diselamatkan, gak ada yang bisa membuat rumah tangga berdiiri, Kamu sepertinya tidak mau menafkahiku layaknya seorang suami," jawab Vina yang terisak, terlihat dari sudut matanya mengalir cairan bening yang jatuh ke pipi.


"Maafkan aku Vin, Maafkan aku....!" Ujarku sambil menahan tangan Vina, yang mau memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.


"Lepaskan tanganmu....! Kalau kamu tidak mau bekerja, biarkan aku hidup sendiri. dulu juga aku masih bisa menafkahi diriku sendiri, tanpa harus memikirkan makan kamu, tanpa harus memikirkan urusan kamu. aku bisa hidup bebas Kemanapun aku mau, tanpa ada yang mengikat sekarang Biarkan Aku Pergi.


"Tolong Vin...! tolong jangan nekat seperti ini, kita masih bisa perbaiki semuanya."


"Memperbaiki Bagaimana, kamu saja selalu menolak ketika disuruh bekerja di perusahaan Arfan. itu adalah peluang terbaik dalam hidupmu. kamu nggak sadar susahnya mencari pekerjaan, sekarang pekerjaan yang sudah ada di depan mata, kamu tolak mentah-mentah. egomu terlalu tinggi, apa b3gomu yang terlalu besar?"


Setelah memasukkan beberapa baju ke dalam koperĀ  istriku bangkit kemudian pergi meninggalkan kamar menuju ke pintu depan.


"Oke......! oke......! aku akan bekerja di perusahaan Arfan, Asal kamu jangan pergi dari sini, jangan tinggalkan aku..!" Pintaku memohon, dengan cepat aku pegang tangannya. karena kalau sampai Vina pergi dari rumah, pergi meninggalkanku. hidupku akan semakin hancur.


Mendengar penuturanku, Vina pun menghentikan langkah membalikan tubuh menatap ke arahku. Mungkin dia ingin tahu seberapa serius dengan kata yang ku ucapkan. "beneran kamu mau bekerja?" tanya Vina matanya memenuhi seluruh wajahku.


"Benar....! tapi kamu jangan tinggalkan aku!" pintaku memohon.


"Buktikan....! kalau kamu serius kamu mau bekerja."


"Aku harus membuktikan dengan cara apa? aku takut, aku malu."


"Terus saja begitu sampai kamu mati!" Gerutu Vina sambil hendak membalikkan kembali tubuhnya, namun dengan cepat aku pegang tangan yang menggenggam koper.


"Yah......! yah.....! aku harus apa sekarang, kasih aku petunjuk?"


"Sekarang kamu hubungi Pak Dali, dan tanyakan apakah tawarannya masih berlaku!"


"Kalau sudah gak ada bagaimana?"

__ADS_1


"Jangan menyerah dulu.....! sebelum kamu mencoba. Bagaimana mau maju kalau kamu terus seperti itu."


"Ya sudah.... ayo kita duduk dulu..! kita obrolkan dengan tenang, agar kita bisa berbicara dengan Pak Dali!" aku mengajak istriku duduk terlebih dahulu, agar ketika kita mengobrol bisa menggunakan akal sehat, Bukan menggunakan amarah.


Dengan masih menekuk wajah, Vina pun duduk mengikuti perintahku. sebelum berbicara lanjut, aku ambil kembali koper yang hendak mau dibawa pergi oleh Vina. kemudian memasukkannya ke dalam kamar, setelah menyimpan koper Vina, aku kembali ke ruang tengah sekaligus ruang tamu.


"Kenapa masih diam?" tanya Vina setelah melihatku duduk di hadapannya.


"Sebentar...! tapi apa Aku nggak ganggu Pak Dali?"


"Nggak lah...! paling Mereka lagi makan siang atau selesai makan siang. Buruan telepon Atau aku yang nelpon...!" ancam Vina sambil mengeluarkan handphone hendak memanggil nomor Dali.


"Emang kamu punya nomornya?"


"Nggak....! tapi aku punya nomor Bu Calista, Aku mau menghubunginya, mau menanyakan apakah pak Dali masih bersamanya."


"Jangan.....! Ya sudah, biar aku yang hubungi Pak Dali." Tolakku dengan cepat, karena kalau dia sampai menghubungi Calista, Maka akan banyak orang yang terlibat yang aku repotkan.


"Ya Sudah, buruan telepon....!"


Dengan sedikit ragu-ragu, Aku mengeluarkan handphone dari kantong Celana. kemudian menekan tombol kuncinya, namun handphone itu tidak mau menyala, mungkin tadi ketika pergi aku tidak full mencargernya.


"Sabar.....! sabar......! handphoneku mati," jawabku sambil menyolokkan charger ke port-nya.


Mendengar jawabanku seperti itu, Vina hanya menekuk wajah. namun dia tidak berkata lagi, dia menatap, memperhatikan gerak-geriku seperti macan yang sedang memantau mangsanya.


5 menit berlalu, Akhirnya batre handphone ku mulai terisi meski belum banyak namun sudah bisa dipakai. dengan cepat aku membuka aplikasi berwarna hijau berlogo telepon, lalu mencari nomor kontak dari kebetulan dulu aku pernah menyimpannya.


Tuuuuuuuuuuut! Ttttttuuuuuuuuuuuut! tut!


Teleponku terhubung namun Dali tak mengangkat, mungkin dia masih sibuk jalan-jalan bersama istrinya. lama menunggu akhirnya telepon itu terhubung.


"Halo Pak Farid..! ada apa, ada yang masih sakit?" cerocos Dali menyambutku dengan penuh pertanyaan.


"Nggak Pak.....! Alhamdulillah badan saya sudah agak baikan, tapi ada satu hal yang saya ingin tanyakan kembali sama bapak," ujarku ragu-ragu kalau berhadapan mungkin wajahku akan terlihat memerah.


"Mau bertanya tentang apa?" tanya Dali yang terdengar kebingungan.

__ADS_1


"Minggu kemarin, pas acara pernikahan Pak Arfan Bapak Pernah menawarkan pekerjaan di bidang pemasaran, mohon maaf sebelumnya." ujarku terhenti rasa malu mulai menyeruak kembali.


"Yah kenapa Pak, Bapak bicara aja jangan dipotong-potong!"


"Sekali lagi saya mohon maaf....!"


"Iya jangan mohon maaf terus...! bapak bicara aja kalau butuh sesuatu."


Vina yang mendengar teleponku, dia hanya membulatkan mata. seolah tidak setuju dengan apa yang aku lakukan. Mungkin dia merasa kesal karena aku terlalu banyak berbasa-basi sehingga dia memberikan kode agar aku menyampaikan keinginanku.


"Apakah posisi itu masih ada?" Tanyaku ragu-ragu dan malu-malu.


"Oh Bapak bertanya tentang lowongan pekerjaan di perusahaan Mandiri group, di bidang pemasaran begitu Pak?" tanya Dali mempertegas.


"Iya Seperti itu pak! apakah masih ada, tapi mohon maaf sebelumnya Kalau saya mengganggu."


"Masih Pak....! kebetulan yang melamar ke perusahaan semuanya tidak sesuai dengan kriteria, Apakah Bapak sekarang sudah berminat?"


"Kalau boleh, Saya mau bekerja di bagian itu," jawabku yang masih ragu-ragu sehingga membuat suaraku Terdengar sangat pelan.


"Bagaimana pak...! mohon maaf Bisa diulangi lagi."


"Kalau boleh Saya mau bekerja di bagian pemasaran, Itu juga kalau tidak merepotkan bapak."


"Hehehe, Saya sangat senang mendengarnya. Selamat bergabung di perusahaan Mandiri Group!"


"Maksudnya, Apakah saya diterima begitu?"


"Iya Pak....! Bapak bisa datang besok pagi ke kantor Mandiri grup, kalau bapak kurang paham kantornya di mana. nanti saya akan kirimkan alamatnya."


"Kalau lokasi perusahaan Mandiri group saya tahu, namun apa saja yang harus saya persiapkan?"


"Nggak usah bawa apa-apa Pak! kami tidak meragukan kemampuan bapak. pokoknya Bapak harus datang besok pagi, untuk mulai bekerja!"


"Serius pak...!" aku memastikan.


"Saya enggak pernah bercanda kalau masalah hal yang serius, karena kalau bercanda pasti ada waktunya. Ya sudah saya tunggu besok di kantor!"

__ADS_1


"Pak Arfan nggak apa-apa Kalau saya ikut bekerja di perusahaannya?"


__ADS_2