
Pov Arfan
"Tolong buang ni sampah! Dan ini upahnya." Teriak ibu-ibu berdaster, yang tadi memanggil, sambil melambai-lambaikan uang lebaran Rp20.000.
"Maaf, Bu! nanti saya ke sini lagi. Sekarang Saya mau mengantar pasien ke pengobatan patah tulang." jawab Saiful dengan berteriak pula.
"Sekarang saja! kalau nanti-nanti, rumah saya bisa bau busuk." ujar wanita itu.
Saiful pun melirik ke arahku, sambil memasang wajah tidak enak. dengan cepat aku mengangguk memberi kode, agar dia mengambil sampah yang mau dititipkan. setelah memberikan uang tips dan sampahnya, wanita itu pun kembali masuk ke dalam rumah.
"Maaf ya, Bro! jadi seperti ini." ucap Saiful terlihat wajahnya menunjukkan rasa bersalah.
"Nggak apa-apa! aku yang seharusnya meminta maaf, karena mengganggu pekerjaanmu."
"Santai! ini nggak papa, kan. aku taruh di sini?"
"Gak Apa-apa, kok!" jawabku sambil mengulum senyum.
Setelah Menaruh sampah yang dititipkan perempuan tadi, di samping kakiku. sampah yang baunya sudah tidak karuan, mungkin orang itu sangat jorok, sehingga sampah yang sudah berbau seperti ini, dibiarkan berada di dalam rumahnya.
"Katanya orang kota, orang Metropolitan! tapi joroknya minta ampun." gerutu Saiful sambil menarik kembali gerobaknya.
Aku hanya tersenyum tipis mendengar ucapannya, karena memang benar. orang kota lebih jorok dibanding orang kampung. orang kota mereka makan, minum serta berak di rumah.
Gerobak itu terus melaju, sesuai arahan orang yang menariknya, hingga sampai di tempat pembuangan sampah. Yang hanya berjarak beberapa meter dari arah rumah perempuan tadi. Saiful pun dengan cepat membuang sampah yang tadi ia ambil. kemudian melanjutkan perjalanannya, hingga akhirnya kita sampai di salah satu perkampungan, yang begitu kumuh. terlihat di teras teras rumah, bertumpuk sampah-sampah plastik, mungkin belum diambil oleh pengepul.
Saiful terus menarik gerobaknya, gerobak Yang aku tumpangi itu berhenti di salah satu rumah, yang berada dekat sekali dengan sungai. mungkin lebih ke Bantaran, karena aku melihat tiang-tiang penyangga rumah itu berada di air. Di situ terlihat Karla, wanita yang menolongku sudah duduk menunggu.
"Lu. lama banget, sih!" ucap Karla menyambut kedatangan Saiful.
"Hello! Kamu bisanya marah-marah saja, mending bantu sini. untuk menurunkan pria ini." jawab Saiful sambil melepas topinya, kemudian menjadikan topi sebagai kipas.
Karla pun mendekati, namun tak lama setelah itu ada laki-laki paruh baya, dengan memakai baju koko serta celana pangsi, warnanya terlihat sudah memudar, namun cukup bersih. keluar dari rumah Karla kemudian mendekatiku.
"Ini kenapa," tanya pria itu, sambil menatap ke arah Karla.
"Seperti yang tadi aku ceritakan, Pak! pria bod0h ini mau mengakhiri hidupnya, dengan terjun ke sungai cimandiri. Beruntung aku melihatnya, sehingga aku bisa menyelamatkannya." Cerocos Karla menjelaskan.
"Saiful! Tolong bantu bapak! untuk membawa pria ini masuk ke dalam rumah." Pinta bapaknya Karla, sambil menatap ke arah laki-laki yang sedang berdiri di dekat gerobak, pria yang sedang mengipasi tubuhnya dengan topi.
__ADS_1
"Siap pak Umar!" ujar Saipul sambil mendekati kita, kemudian ia membantu Pak Umar, mengangkat tubuhku ke dalam rumah yang ada di bantaran sungai. rumah yang terbuat dari kayu berlantai 2, kalau dihitung dengan tiang penyangganya mungkin rumah ini tiga lantai. Dengan rumah ikan di bawahnya.
"Bawa langsung ke balkon rumah saja full! Biar kita bersihkan badannya terlebih dahulu." seru Pak Umar sambil terus mengangkat tubuhku, membawanya ke belakang rumah. Yang lebih mirip disebut balkon rumah pada umumnya, karena dari tempat itu kita bisa melihat aliran sungai cimandiri yang mengalir begitu deras.
"Kamu mandi dulu ya! Oh iya, bapak lupa, belum nanya siapa nama kamu?" ajak Pak Umar sambil mendekati timbaan, untuk mengambil air sungai.
"Arfan! Muhammad Arfan." jawabku menyebut nama warisan dari kedua orang tuaku.
"Ya sudah, kamu. Bapak bersihkan dulu tubuhnya." Ucap pak Umar, sambil Mulai mengambil air yang sudah ditimba dari sungai dengan gayung .untuk menyirami tubuhku yang penuh dengan Lumpur, kemudian beliau membukakan bajuku, menyisakan celana yang sudah robek.
Aaawwwwwwww.
Terdengar suara Karla yang berteriak. Mendengar teriakan anaknya, Pak Umar pun menghentikan niatnya, yang hendak mengguyurku dengan air.
"Ada apa?" tanya Pak Umar sambil melirik ke arah Karla.
"Ituuuuuuuuuu! kok dia nggak pakai baju?" Jawab Karla sambil menutup matanya dengan jari tangan yang direnggangkan. Padahal dia tadi pas menolongku, dia sudah melihat tubuhku. karena ketika aku sadar, kancing bajuku sudah terbuka.
"Kamu ngapain ke sini? mending sana cariin baju bapak, sama sarung! Buat baju ganti nak Arfan." seru Pak Umar sambil menggeleng-geleng kepala, seolah merasa aneh dengan kelakuan putrinya. kemudian ia melanjutkan niatnya, yang hendak membersihkan tubuhku.
Dengan telaten beliau menggosok-gosok tubuh yang sudah lama tak menyentuh Air. sehingga aku merasa sangat segar, seperti orang yang menemukan kehidupannya kembali.
"Pakai baju bapak dulu saja ya! maaf kalau jelek." ujar pria itu sambil membuka kancing baju Koko yang terlihat warnanya sudah pudar. namun cukup bersih dan wangi. kemudian ia membantuku untuk memakai baju itu.
Setelah selesai memakai baju, Pak Umar menyuruhku untuk berdiri. kemudian ia memasangkan sarung. setelah sarung itu terpasang, beliau menyuruhku untuk membuka Celana, yang basah karena dipakai mandi.
"Pakai celana ini, tidak baik Kalau pakai sarung, tidak pakai celana pendek." Ucap pak Umar sambil memberikanku celana pendek selutut.
Aku hanya mengangguk, kemudian mengambil celana pemberian Pak Umar. dengan sedikit meringis aku memakai celana itu, menahan sakitku di area dengkul. Merasa kasihan yang melihatku kesusahan, Pak Umar pun membantuku memasangkan celana.
"Karla! Karlaaaaaa!" teriak Pak Umar memanggil anaknya.
"Yah, Ada apa, Pak?" jawab gadis tengil itu sambil menyumbulkan kepala di balik pintu.
"Saiful masih ada?"
"Sudah berangkat kerja lagi, Pak! katanya sayang, masih siang. emang kenapa?" tanyanya sambil menatap ke arah Pak Umar.
"Nak Arfan, bisa berjalan, kan?" tanya Pak umar sambil memalingkan pandangan menatap ke arahku. Tak memperdulikan pertanyaan anaknya.
__ADS_1
"Bisa, Pak!" jawabku dengan percaya diri
"Ayo! Bapak bantu berjalan." ujar Pak Umar sambil perlahan mengangkat tubuhku, menggandeng untuk masuk ke dalam rumahnya.
Dengan Tertatih dan sedikit meringis menahan nyeri, aku pun berjalan sembari digandeng pak Umar, melewati Karla yang masih berdiri di dekat pintu.
"Awas! kamu! jangan menghalangi jalan." ujar Pak Umar menyeru sama anaknya.
Karla hanya tersenyum, kemudian bergeser sedikit, untuk membiarkan kita lewat.
"Aduuuuuh!" desisku karena kakiku terasa kebas, terkena jepretan karet gelang.
"Kenapa?" tanya Pak Umar yang terkaget.
"Nggak tahu, Pak! kayaknya ada yang menjebretku, dengan karet gelang."
"Karlaaaaaaaa!" Pak Umarmeneriaki anaknya, yang sedang memalingkan wajah seolah tidak tahu. Dengan apa yang terjadi.
Aku pun ikut menoleh ke arah gadis yang sangat aneh itu. masa sedewasa itu, kelakuannya masih seperti bocah, masih suka menjahili orang lain.
"Maafkan anak bapak, ya! kalau kelakuannya kurang ajar." ujar Pak Umar, sambil terus menggandengku kemudian mendudukkanku di karpet plastik, yang sablonannya udah mulai terkelupas.
"Nggak apa-apa! Pak Terima kasih." jawabku sambil tersenyum menyembunyikan rasa kesal terhadap anak gadisnya.
"Kamu lagi ngapain? Tolong ambilkan minyak goreng, sama balsem pasta." seru Pak Umar.
Karla yang masih berdiri, dia hanya mendengus kesal, Mungkin dia tidak suka disuruh-suruh. namun dia tetap berjalan menuju ke arah dapur, tak lama Karla pun kembali sambil membawa piring berisi minyak goreng. Sesuai dengan permintaan bapaknya. kemudian ia menaruh piring itu di dekat Pak Umar, lengkap dengan balsem berbentuk pasta.
"Bapak. betulin dulu, kaki kamu yang keseleo. biar agak enakan." ucap pak Umar meminta izin terlebih dahulu.
Aku hanya mengangguk, tanda memberi izin, Kepada beliau untuk melakukan tugasnya. dengan perlahan Pak Umar Mulai melumasi kakiku, yang sedikit membiru. Dengan minyak goreng yang sudah dicampur pasta balsem. kemudian ia mulai memijat-mijat dengkulku dengan perlahan, memberi rangsangan agar tidak kaku.
Drekkk!
Agrrrrrrrhhhh!!!
Suara tulang yang dikembalikan ke posisinya, disertai teriakanku yang merasakan ngilu, yang begitu amat dalam. sehingga mengeluarkan air mata, tidak mampu menahan rasa sakit itu.
"Halah! cemen! gitu doang saja, sudah berteriak. kayak orang yang kehilangan keperjakaannya." cibir Karla yang sejak dari tadi duduk menonton.
__ADS_1
Aku hanya mendengus kesal menatap ke arahnya. Semakin lama aku semakin membenci wanita yang ada di hadapanku.