
Pov Arfan
Setelah menunggu agak lama akhirnya pintu kamar yang tadi dimasuki oleh Bu Sari terbuka kembali. lalu keluarlah Ari yang digandeng oleh ibunya. melihat kondisi kakaknya yang memperhatikan, dengan Sigap Ira pun bangkit lalu membantu ibunya, menggandeng Ari berjalan mendekat ke arahku, yang masih duduk menunggunya.
Setelah duduk, terlihatlah Ari yang wajahnya Murung tak bercahaya, pandangannya yang kosong menatap ke arah depan, mungkin guncangan mental yang ia derita sangat parah. Sehingga dia mengalami trauma yang begitu mendalam.
"Beginilah kondisi anak saya sekarang." Ujar Ibu Sari menjelaskan.
"Ri! Ari! Apa kamu masih ingat saya?" tanya Dali sambil menatap lekat ke arah pemuda yang duduk di gandeng oleh dua wanita itu.
Namun Orang yang ditanya hanya melirik sebentar, kemudian dia menatap kembali ke arah depan, dengan tatapan kosong, persis sepertiku yang dulu ketika aku dikhianati oleh dua orang yang paling aku kenal. mulai terlihat dari sudut matanya mengalir cairan bening yang membasahi pipi. dengan Sigap Ira yang berada di samping Ari, mengusap cairan itu dengan tisu.
"Maafkan saya pak Arfan! saya sudah berkhianat dengan tidur bersama istri bapak!" gumamnya tanpa sedikitpun merubah pandangan, membuat Ira dan Sari saling menatap penuh tanya.
"Maksudnya apa ri?" tanya ibu Sari yang menatap heran ke arah anaknya.
"Maafkan saya! maafkan saya! maafkan saya telah berkhianat!" ujar Ari tanpa mempedulikan pertanyaan ibunya. Nada bicaranya yang awalnya pelan, menjadi meninggi lebih disebut berteriak. membuat Sari dengan cepat memeluk anaknya, agar Ari merasa sedikit nyaman.
"Kamu kenapa? kamu jangan seperti ini. ibu takut!" ujar Ibu Sari yang terlihat air mata membasahi pipi, Mungkin dia merasa sakit ketika melihat anaknya seperti ini.
"Bu! aku sudah berkhianat Bu !aku sudah tidur bersama istri Pak Arfan." rancu Ari.
"Apa yang kamu bilang? Ibu nggak ngerti."
"Aku berkhianat ibuuuuu! aku adalah penghianat!" bentak Ari membuat ibunya semakin merekatkan pelukannya.
"Bawa lagi ke kamar Bu! kasihan." saran Dali sambil bangkit lalu membantu ibu Sari membawa anaknya masuk kembali ke kamarnya.
"Bapak ke mana?" Tanyaku sama Ira yang masih terduduk dengan berlinang air mata, Mungkin dia juga merasakan kesedihan yang sama.
"Bapak sudah meninggal semenjak 3 tahun yang lalu. jadi sekarang kakak Ari lah Yang menjadi tulang punggung keluarga kami. Saya sangat sedih ketika melihat kakak saya seperti sekarang." Jawab Ira. karena Ari baru bekerja di perusahaanku 2 tahun lebih, jadi tidak terlalu mengenal seluk-peluk tentang keluarga Ari.
"Sudah lulus sekolah?"
"Sekolah apa?" tanya Ira sambil menatap ke arahku.
"Sekolah menengah?"
__ADS_1
"Sudah Pak! Saya sekarang sedang kuliah semester 4, di salah satu universitas swasta."
"Kalau kamu mau, kamu bisa bekerja paruh waktu di tempat saya!" tawarku yang merasa kasihan melihat kondisi keluarga Ari.
"Serius pak?" tanya Ira matanya yang nanar menatap ke arahku.
"Serius! nanti kamu hubungi pak Dali, untuk menanyakan lebih detailnya." ujarku memberikan arahan.
"Terima kasih banyak Pak! saya sempat bingung bagaimana saya menolong keluarga saya, yang sedang ditimpa musibah. Namun Sekarang saya sudah memiliki harapan baru, kalau apa yang dikatakan oleh Bapak itu benar adanya." ujar Ira sambil menyeka air mata yang membasahi pipi.
Terlihat Dali dan ibu Sari keluar dari kamar anaknya, kemudian mereka kembali ke tempat duduknya masing-masing.
"Maafkan anak saya Pak! Saya yakin anak saya tidak bermaksud seperti itu." ujar Sari tiba-tiba.
"Maksudnya bu?" Tanyaku yang merasa heran.
"Saya nggak tahu, kalau Bu Erni itu adalah mantan istri bapak. saya baru tahu Setelah Pak Dali memberitahu barusan. Sekali lagi saya mohon maaf, kalau anak saya berbuat kurang ajar seperti itu." jelas Sari membuatku sedikit mengerti dengan apa yang beliau maksud.
"Yang sudah terjadi biarkan terjadi, rasanya terlalu Naif ketika kita masih membahas masa lalu. sedangkan masa depan kita masih panjang. untuk sekarang dan ke depannya kita memperbaiki diri masing-masing, sambil terus berusaha menjadi yang terbaik."
"Terima kasih banyak Pak! ternyata benar apa yang dikatakan anak saya, bapak adalah orang yang terbijak yang saya temui." jelas sari.
"Yang bener Pak?"
"Bener bu! barusan Pak Arfan menawarkan saya untuk bekerja tanpa harus berhenti kuliah." jawab Ira mewakili
"Terima kasih banyak Pak! terima kasih! saya sampai bingung harus berkata apalagi." ujar wanita paruh baya itu sambil menyeka cairan bening yang kembali tumpah membasahi pipinya.
"Ya sudah, kalau seperti itu saya mohon maaf kalau kedatangan saya membuat kenyamanan Ibu sekeluarga terganggu. Saya doakan agar Ari cepat sembuh seperti sedia kala. Insya Allah ke depannya Saya akan membantu biaya pengobatannya."
"Ya Allah, Pak! saya harus bilang apa lagi untuk membalas kebaikan bapak."
"Doakan saya agar saya selalu diberikan kesehatan dan kelancaran rezeki." jawabku sambil mengulum senyum, kemudian aku menatap ke arah Dali memberi kode untuk segera pulang.
"Ibu kami pamit dulu!" Ujar Dali sambil bangkit kemudian menyelami ibu dan anaknya. Melihat Dali menyalami mereka, aku dengan segera mengikutinya. tak lupa Sebelum pulang Dali pun meminta nomor handphone Ira, agar mudah ketika mereka berkomunikasi.
Setelah semuanya dirasa selesai, Akhirnya aku dan Dali pun pergi meninggalkan rumah Ari. menyusuri Gang Yang tadi kita lewati. namun sebelum masuk ke Jalan Raya terdengar Handphoneku yang berbunyi, membuat Dali tersenyum karena mendengar suara handphoneku yang sangat Khas. Tanpa disuruh, dia pun menghentikan motornya memberikan kesempatan agar aku mengangkat telepon terlebih dahulu.
__ADS_1
"Yah ada apa La?" Tanyaku setelah mengangkat panggilan itu.
"Ada apa! Ada apa! Ludi mana? kebiasaan lu bikin khawatir orang aja. kalau Elu sudah nggak mau tinggal di sini, kamu bilang jangan main ngeloyer begitu aja." crocos wanita aneh itu, membuatku sedikit menjauhkan telepon dari telinga.
"Maaf La, hari ini aku sibuk banget, tadi belum sempat memberikan kabar, sekali lagi aku mohon maaf."
"Kamu susah diingatkan, padahal gua bela-belain ngasih handphone, agar mudah berkomunikasi tapi nggak digunakan." gerutu Karla.
"Iya maaf, sebentar lagi saya pulang, Ini lagi di jalan!"
Tap! tap! tap!
Telepon itu terputus membuatku mengerutkan dahi, tidak mengerti apa yang dilakukan oleh wanita aneh itu. berbeda dengan asistenku yang tersenyum, setelah melihat ekspresi wajahku yang berubah seketika.
"Kenapa Kamu tersenyum?" tanyaku yang mendengus kesal.
"Nggak Pak! handphonenya bagus, warnanya pink ada stiker lovenya juga. Saya ingin memiliki handphone seperti itu. jawab Dali meledek.
"Sudah buruan! antarkan saya ke gang yang dekat jembatan cimandiri."
"Baik Pak!" jawab Dali yang masih tersenyum. Kemudian dia mulai menarik tuas motornya kembali, pergi meninggalkan gang rumah Ari menuju ke arah Atri Group.
Lama di perjalanan, akhirnya motor yang dikendarai oleh Dali tiba di gang yang menuju rumah Karla dan Saiful. dengan cepat aku pun turun dari motor.
"Oh iya." ujarku yang melupakan sesuatu.
"Kenapa Pak?"
"Tolong kamu cari tahu bagaimana keadaan Pak Wardi. Saya khawatir takut terjadi apa-apa, Karena setelah melihat keadaan Ari, apa yang dikatakan oleh Vina bisa-bisa menjadi kenyataan." aku memberikan perintah.
"Baik Pak!"
"Terima kasih, Saya tunggu laporannya!" tanpa menunggu jawabannya aku pun membalikan tubuh lalu menyusuri Gang menuju rumah Saipul.
Sesampainya di rumah, terlihat Saiful yang sudah bersiap-siap hendak pergi ke masjid, karena sebentar lagi adzan maghrib berkumandang.
"Tunggu dong full! berangkat ke masjidnya bareng. aku mau mandi dulu." pintaku sama Saipul.
__ADS_1
"Halah apaan sih! masjidnya kan dekat, ngapain harus bareng-bareng segala." jawab Saipul yang tak memperdulikanku, dia terus berjalan meninggalkan rumahnya.
Melihat Saipul yang sudah kembali ke sikap awal, membuatku sedikit lega karena dia tidak semarah kemarin. dengan cepat aku mengambil handuk, untuk membersihkan badan sebelum melaksanakan kewajiban.