Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 115 WAKTUNYA


__ADS_3

Pov Arfan


Sedangkan Pak Umar masuk ke dalam rumahnya, berniat mengumpulkan berkas-berkas yang harus dibawa untuk melengkapi laporan. setelah dirasa semuanya lengkap kita berdua pun bergegas meninggalkan rumah menggunakan motor, menuju Kantor Polisi.


Setelah selesai membuat laporan, aku dan Pak Umar terus mencari keberadaan Karla. Menyisir kemungkinan-kemungkinan Ke mana perginya Wanita itu. hingga waktu subuh menjelang, namun orang yang dicari belum ketemu. jangankan ketemu orangnya, jejaknya pun tidak ada. membuat aku dan Pak Umar sedikit putus asa.


"Kita pulang dulu Pak! kita sarapan terlebih dahulu." ajakku sama Pak Umar ketika kita beristirahat di pinggir trotoar.


"Tapi bagaimana dengan Karla?" tanya Pak Umar seperti orang yang tidak punya pendirian.


"Setelah sarapan, nanti kita cari lagi. siapa tahu saja ada laporan dari orang-orang yang membantu mencari."


"Ya sudah, bapak ngikut aja, gimana baiknya. Tapi tolong bantu Bapak, temukan anak saya!" Pinta Pak Umar yang terlihat matanya mengembun kembali.


Akhirnya kita pun pulang menuju rumah Ibu, untuk sarapan dan beristirahat terlebih dahulu, nanti setelah sarapan kita berencana pulang ke rumah pak Umar.


Sesampainya di rumah, aku mengajak Pak Umar untuk masuk ke dalam rumah. Awalnya dia menolak dia ingin menunggu di luar ketika aku hendak mengganti baju terlebih dahulu. namun setelah aku paksa, akhirnya beliau pun mau masuk ke dalam rumah Ibu.


"Silakan duduk pak!" ujarku mempersilahkan ketika kita masuk ke ruang tamu.


"Terima kasih!" jawab Pak Umar Kemudian beliau pun duduk di kursi sofa, setelah mempersilahkan tamu. aku menuju ke arah dapur, untuk membuatkan minuman hangat.


"Eh Aden! Bikin Mbok kaget saja!" Ujar Mbok Yem sambil menatap ke arahku.


"Mbok bisa tolong bikinkan minuman hangat, kalau bisa sekalian sama makanannya. soalnya Arfan mau mandi dulu!" Pintaku sama Mbok Iyem.


"Baik den! Mau kopi apa susu, atau kopi susu?"


"Tolong tanya langsung saja ke Pak Umar Bi! Beliau masih ada di ruang tamu. dan saya minta tolong layani beliau dengan istimewa." pintaku memberi arahan.


setelah selesai menyampaikan keinginan, aku pun membalikan tubuh naik ke lantai dua, lalu masuk ke kamarku untuk membersihkan tubuh.


Rasanya sangat segar ketika air itu membasahi tubuhku, namun berbeda dengan hatiku yang masih sangat kacau, karena orang yang aku cintai Belum menunjukkan kabar. selesai mandi aku pun turun ke bawah, lalu menghampiri Pak Umar. berniat menawarkannya untuk mandi terlebih dahulu, Mungkin beliau juga merasakan hal yang sama. Namun tiba-tiba mataku terbelalak kaget, karena ketika sampai di ruang tamu, tidak ada siapa-siapa disana. dengan cepat aku pun keluar menemui Arman satpam rumah Ibu.


"Lihat bapak-bapak yang tadi datang bersamaku nggak Man?" Tanyaku sambil menatap ke arah Arman.


"Enggak Pak! dari tadi saya berjaga, saya belum melihat siapapun yang keluar dari rumah." jelas Arman.


"Kemana yah?"


"Coba bapak tanya Mbok Yem! siapa tahu aja si Mbok tahu." saran Arman membuatku mengacungkan jempol, lalu kembali masuk ke rumah menuju ke dapur. terlihat ibu yang sedang duduk di meja makan, memperhatikan Mbok Yem yang sedang membuat pisang goreng.


"Bagaimana keadaan Karla?" tanya ibu sambil bangkit dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Belum ketemu Bu! terus Pak Umar juga hilang."


"Hilang ke mana?"


"Nggak tahu Bu! tadi saya tinggal mandi sebentar, namun ketika saya mengecek ruang tamu, beliau sudah tidak ada."


"Kirain hilang ke mana. Pak Umar lagi mandi, Tadi dia meminta izin, katanya tubuhnya sangat gerah." jelas Ibu membuatku merasa lega.


"Syukurlah kalau begitu," jawabku yang tak jadi merasakan kepanikan.


"Terus Karla, calon mantu ibu bagaimana?" tanya ibu kembali ke pokok permasalahan.


"Kurang tahu Bu! Arfan sudah mencari kemana-mana, namun Arfan belum menemukannya, padahal orang yang mencari Karla sangat banyak. mulai dari warga kampung serta Dali dan Pak sandi. Sampai sekarang mereka belum menemukan petunjuk apapun tentang menghilangnya Karla.


"Apa kamu sudah lapor ke pihak yang berwajib?"


"Sudah Bu! tinggal nunggu hasilnya, namun Arfan juga tidak akan tinggal diam, Arfan akan terus mencari agar cepat menemukannya."


"Bagus! Oh iya, apa Karla punya musuh?" tanya ibu mulai menyelidiki.


"Kurang tahu Bu! Setahu saya Karla orangnya sangat baik, dia tidak pernah memiliki musuh." Aku menjawab sesuai dengan pengetahuanku tentang gadis itu.


"Berarti kita harus bertanya sama Pak Umar, agar kita bisa menyimpulkan siapa biang masalahnya?"


"Terima kasih Mbo!" jawabku sambil mengambil susu yang berada di dalam gelas, kemudian dengan sedikit-sedikit aku mulai mencicipinya, sehingga membuat tubuhku kembali terasa hangat, setelah air susu itu membasahi perutku. aku mulai mengambil goreng pisang lalu memasukkannya ke dalam mulut. rasanya terasa sangat nikmat, ketika dimakan waktu lapar seperti ini.


"Bapaaak!" Pekikku setelah melihat orang yang berdiri di ambang pintu dapur.


"Mana Bapak?" tanya ibu yang terlihat kaget. sambil berdiri membalikan tubuh melihat ke arah orang yang aku tatap.


"Itu Buuuuu! itu!" jawabku yang tergagap.


"Alah! ada-ada aja kamu, bikin jantungan orang aja. itu pak Umar, tadi ibu pinjamkan baju bekas almarhum Bapak, lumayan walaupun bukan baru, tapi bersih." jawab ibu yang menepis prasangkaku.


"Maaf Mengganggu! saya mau bertanya kiblatnya ke arah mana?" tanya Pak Umar, karena tadi ketika kita sampai ke rumah berbarengan dengan adzan subuh. Sehingga kita belum melaksanakan salat subuh.


"Ayo Pak! kita berjamaah." jawabku sambil bangkit karena tadi aku juga belum sempat melaksanakan salat, tadinya aku takut Pak Umar merasa kesepian, hingga sehabis mandi aku buru-buru menemuinya.


Aku dan Pak Umar pun menuju ke arah kamar yang dijadikan mushola tempat beribadah keluarga dan semua pegawai ibu. setelah selesai melaksanakan salat berjamaah subuh, aku mengajak Pak Umar kembali ke dapur untuk sarapan.


"Kopinya Pak!" tawarku sambil menggeserkan gelas kopi yang masih mengepul.


"Terima kasih!" jawab Pak Umar tanpa menunggu disuruh dua kali, dia pun mulai meneguk kopi itu dengan perlahan, Kemudian beliau memakan pisang goreng yang sudah disiapkan.

__ADS_1


"Sekarang kita cari ke mana lagi pak?" Tanyaku sambil menatap Pak Umar.


"Kita cari seluruh area di Jakarta. saya takut kalau terjadi sesuatu sama anak saya. Tolong bantu saya!" hanya kata itulah yang selalu diucapkan, ketika mendengar anaknya disebut.


"Iya Pak! Saya akan membantu bapak. namun sebelum kita bergerak mencari Karla, kita harus mempunyai strategi terlebih dahulu, agar pencarian kita tidak sia-sia." jawab ibu memberi saran.


"Strategi apa"


"Ya Kita tentukan kemana kita mencarinya. Oh iya, saya mau tanya boleh?" ujar Ibu sambil menatap ke arah Pak Umar.


"Boleh Bu, silakan!'


"Apakah Karla mempunyai saudara atau kerabat yang biasa dikunjungi oleh Karla!" tanya ibu.


"Dari kecil Karla hidup Sebatang Kara, kita tidak memiliki saudara. Ibu dan bapak saya sudah meninggal, Karla dibesarkan di kampung pemulung dari kecil, tanpa mempunyai saudara sedarah. kenapa Kok Ibu bertanya seperti itu?" jawab Pak Umar balik bertanya.


"Karena kalau punya saudara, mungkin saja Karla main ke rumah saudaranya. berarti kalau seperti itu Karla tidak mungkin main ke rumah saudaranya. satu lagi pertanyaan saya."


"Apalagi Bu?"


"Apa Karla mempunyai musuh?"


Ditanya seperti itu oleh ibu, Pak Umar hanya menggelengkan kepala, kemudian menundukkan pandangan terlihat di matanya ada cairan bening yang mengalir.


"Kalau punya, siapa musuhnya? kita akan tanyakan langsung. siapa tahu aja mereka yang berbuat."


"Enggak Bu! anak saya adalah gadis yang sangat baik. dia tidak pernah memiliki musuh. namun enam bulan yang lalu dia pernah bercerita kalau Karla pernah di introgasi oleh Bu Erni. namun Semenjak kejadian itu saya tidak pernah mendapat laporan lagi, kalau Bu Erni mengganggu anak saya." jawab Pak Umar menjelaskan membuat Ibu menghela nafas, Mungkin dia bingung menyimpulkannya harus seperti apa.


"Tadi malam, saya sudah menemui Erni Pak. namun dia tidak tahu. hanya ancaman yang dikeluarkan agar saya berhenti mengikuti tender." aku memberikan penjelasan karena aku juga sempat mencurigai orang yang sama


"Ya sudah! kamu sekarang siap-siap temenin Pak Umar untuk mencari anaknya."


"Permisi Bu!" ucap seseorang yang menghampiri.


"eh, Dali! tumben tumbenan sepagi ini sudah mampir ke rumah ibu?" tanya ibu sambil menatap ke arah orang yang yang baru saja datang.


"Iya Bu! Tadi Pak Arfan menyuruh saya ke sini, maaf mengganggu." Ujar Dali sambil menyalami semua orang yang ada di ruang makan."


"Mau apa?" tanya ibu sambil menatap ke arahku.


"Saya mau menyuruh dali untuk menemani Pak Umar mencari Karla. soalnya saya sekarang masih terfokus untuk mengurus tender, karena perusahaan saya masuk ketiga besar."


"Apa kamu bilangĀ  ngurusin kerjaan? kurang ajar amat kamu! Apakah keselamatan seseorang lebih penting daripada harta. ingat Karla itu adalah orang yang menyelamatkan nyawamu. kalau mau balas budi. sekarang lah waktunya. jangan mikirin pekerjaan! Lagian kalau kamu tidak mendapatkan tender itu, perusahaan Atri group sudah menunggumu. sekarang bantu Pak Umar mencari anaknya, Jangan memikirkan hal yang tak penting." Seloroh Ibu sambil membulatkan mata, menatap tajam ke arah mataku tembus sampai jantung, membuatku tak berani mengangkatkan kepala.

__ADS_1


__ADS_2