
Pov Arfan
Setelah Vina tak terlihat lagi, aku pun beranjak dari tempat dudukku. untuk segera menyusul Saiful, yang sudah duluan pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, terlihat Saipul yang ditemani oleh Karla sedang bercanda, sambil merapikan sampah yang baru kita kumpulkan.
"Assalamualaikum!" Aku menyapa mereka berdua.
"Waalaikumsalam! panjang umur, baru saja diceritakan sudah nongol saja!" jawab Saipul sambil tersenyum menyambutku
"Wah! wah! Kayaknya seru nih, sampai harus menggosipkan aku segala." ujarku sambil duduk di salah satu kursi jongkok, kemudian aku membantu mereka, memisahkan antara sampah plastik dan kardus bekas.
"Hei! lu pede amat jadi orang, kita ngobrolin lu! Kita takut kalau lu nyebur lagi ke kali." sanggah Karla sambil memicingkan mata ke arahku.
"Bukan Kangen?" tanyaku sambil menaikan alis.
"Hahaha! cewek Mana yang mau sama pria yang tidak punya pendirian, sampai-sampai mau mengakhiri hidupnya." jawab Karla yang tak kalah sengit.
"Kamu!"
"Kenapa dengan gua?"
"Ya kamu! wanita yang mau sama aku, buktinya kamu bela-belain nyebur ke kali, hanya untuk menyelamatkan sang pangeran." Jawabku sambil mengedipkan mata, menatap kearahnya. membuat wajah Karla sedikit memerah seperti tomat.
"Hahaha! pedemu tinggi Bos!" ujar Karla sambil membalikkan wajah, menyembunyikan rasa malu.
"Sudah! sudah! Ngapain sih kalian ribut terus. Oh iya, makan siang nanti, kita mau makan apa nih?" tanya Saipul menengahi keributan kecil yang ditimbulkan oleh aku dan karla.
"Sayur sop!" ujarku dan Karla serempak, membuat kita saling menatap.
"Ngapain lu ikut-ikut, gua!" Bentak Karla.
"Laaaah! Kamu tuh, yang ikut-ikut!" ujarku tak mau kalah.
"Enggak! gua nggak ngikut-ngikut lu. karena gua sekarang masak sayur sop di rumah."
"Wah! mantap tuh, boleh nggak? ikut makan di rumah Lu?" ujar Saiful.
"Boleh kok, lagian Gua datang ke sini disuruh Bapak untuk mengundang elu, Makan siang di rumah! Bapak mau mengadakan syukuran kecil-kecilan di rumah. karena aku sudah selamat dari petaka yang hampir merenggut kesucianku." jawab Karla yang sedikit berbeda ketika dia berbicara dengan Saiful.
"Aku nggak diundang?"
"Enggak!"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Nggak apa-apa! emang lu penting gitu? Sampai Bapak gua harus mengundang lu segala." jawab Karla sambil memicingkan mata, menatap sinis ke arahku.
Aku hanya menarik napas dalam, mengobrol dengan wanita keras kepala seperti Karla hanya membuang emosi. aku kembali memfokuskan pikiranku, untuk membersihkan sampah plastik tanpa memperdulikannya lagi.
Sedangkan karla dia malah asik mengobrol dengan Saiful sambil cekikikan. seolah mereka berdua tak menghiraukan keberadaanku yang ada di samping mereka.
"Sebentar lagi adzan. lu, mandi dulu sana! kita salat berjamaah ke masjid." seru Saiful di tengah-tengah Obrolannya.
"sebentar lagi adzan ya? Aku pulang dulu ya!" ujar Karla sama Saiful.
"Iya, sana pulang! bentar lagi abang kan, Mau ngapel ke rumah. Dandan yang cantik ya!" jawab Saiful sambil terkeh-keh.
"Hahaha. ngapel tuh, sama kambing!" Balas Karla sambil berlalu pergi tanpa mempedulikan kita lagi.
"Dasar cewek aneh!" gumamku dalam hati, setelah Karla tak terlihat lagi, menghilang ditelan rumah warga.
"Buruan sana mandi, apa gua dulu?" ujar Saiful mengulang kembali perintahnya.
"Kamu aja dulu full! aku kan baru datang, keringatku belum kering betul." tolakku sambil terus merapikan sampah.
"Ya sudah! kalau begitu." jawab Saiful sambil bangkit dari tempat duduknya. kemudian ia masuk ke dalam rumah, yang terbuat dari triplek, Sama seperti rumah Karla. namun yang membedakannya. lantai rumah Saiful sudah di tembok walau tidak pakai keramik, Sedangkan rumah karla hanya berlantaikan papan kayu.
"Buruan lu, mandi lima menit lagi adzan zuhur berkumandang." seru Saipul dari dalam rumah.
Dengan malas aku pun bangkit dari tempat duduk, kemudian masuk ke dalam rumah Saipul, mengambil handuk yang, tergantung di paku. kemudian masuk ke dalam kamar mandi yang airnya terlihat keruh menguning. ternyata setelah aku selidiki, air itu disedot dari sungai, makanya airnya sedikit keruh.
Aku berjalan dengan cepat sambil menundukkan pandangan. memperhatikan jalan yang aku pijak, Aku tidak mau tersandung, ingin cepat segera sampai ke mushola.
"Dugh!
"Aduh!"
"Awwwwww!"
"Lu! kalau jalan tuh pakai mata." bentak suara seorang wanita, jarinya yang lentik menuju ke arah mukaku.
"Kamu yang gak hati-hati! sudah tahu ada orang di depan. Masih aja kamu tabrak!" Belaku tidak mau kalah.
"Mata cuma hiasan doang! mending lu congkel saja tuh, mata! kalau nggak dipakai." ucap karla yang masih memegangi jidatnya.
"Eh, kenapa nyalahin aku, justru kita sama-sama salah. kalau kita hati-hati dan gak buru-buru, kita tidak akan bertabrakan seperti barusan."
"Karla! Arfan! ngapain kalian masih berisik, orang lain sudah pada mau salat. Kalian kayak bocah ingusan saja kerjaannya ribut terus." bentak Pak Umar yang berdiri di Abang pintu masjid, membuat kita berdua terdiam. kemudian dengan menundukkan pandangan Karla masuk, ia pergi ke toilet. sedangkan aku masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan salat berjamaah.
Setelah selesai melaksanakan berjamaah aku pun keluar dari masjid, hendak Pulang ke rumah Saiful.
__ADS_1
"Kamu nggak sah, salatnya bod0h!" ujar karla yang mengikutiku keluar dari masjid.
"Kenapa. emang kamu Tuhan, bisa tahu salatku Sah, apa nggak, ?" Tanyaku sambil menatap kesal ke arahnya.
"Salat itu harus pakai wudhu! lu kan nggak wudhu."
"Aku sudah wudhu kok, di rumah Saipul tadi, setelah mandi."
"Tapi, lu Batal bod0h!" Karena lu bersentuhan kulit dengan gua."
"Sok tahu!"
"Tahulah! Kan gua belajar agama, gak seperti lo yang hidup jauh dari agama." Ujar kala sambil menaikan satu sudut bibirnya.
"Ya Allah! kalian kenapa sih ribut terus?" ujar Pak Umar yang baru keluar dari masjid diikuti oleh Saiful.
"Pria bod0h ini, Pak! Masa dia salat nggak wudhu terlebih dahulu." Adu Karla sama bapaknya.
"Bohong Pak, saya wudhu kok tadi di rumah."
"Tapi, tadi jidat lu! nempel di jidat gua, bod0h!"
"Emang iya, pak? kita batal wudhu hanya dengan bersentuhan dengan wanita seperti ini." aku bertanya sama Pak Umar.
"Benar! Bahkan bukan dengan Karla saja. semua wanita yang bukan mahram, ketika kita bersentuhan kulit, maka wudhu kita batal."
"Terus sekarang, Saya harus bagaimana?" tanyaku yang mulai kebingungan.
"Mumpung masih ada waktu, nak Arfan wudhu kembali, kemudian melaksanakan salat lagi! karena menurut mazhab yang kita pegang, wudhu kita akan batal ketika kita bersentuhan dengan wanita yang bukan mahram. Terus ketika kita melaksanakan salat maka salatnya itu batal, tidak sah!" jelas Pak Umar.
"Dasar pria bod0h!" ucap Karla sambil berlalu pergi, membuatku hanya menatap kesal ke arahnya.
"Ya sudah! Nak Arfan salat dulu! nanti setelah salat kita makan bareng di rumah bapak."
"Bukannya saya tidak Diundang, Pak?"
"Kata siapa?"
"Karla!"
"Sudah sana salat dulu, Bapak tunggu di rumah." ujar Pak Umar yang terlihat tidak mau memperpanjang pembicaraan, membuatku mengerinyitkan dahi.
"Elu, sama Karla saja, percaya!" ujar Saiful sambil tersenyum kemudian dia berjalan mengikuti Pak Umar.
Setelah kepergian mereka. aku pun dengan cepat mengambil air wudhu, lalu melaksanakan kembali salat zuhur. memang sial4n wanita aneh itu, dia kenapa baru memberitahu setelah aku selesai melaksanakan salat zuhur berjamaah.
__ADS_1
Setelah selesai melaksanakan mengulang salat zuhur, dengan cepat aku pun bergegas menuju rumah pak Umar. sesampainya di rumah pak Umar, terlihat sudah tersaji makanan di karpet dengan lauk yang begitu banyak. mulai dari sayur sop, ikan goreng serta ayam goreng.