Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 112 Kemana Karla?


__ADS_3

Pov Arfan.


Pukul 08.00, seperti biasa aku sudah berada di kantor, dihadapkan dengan setumpuk berkas yang tersusun rapi di meja. dengan menghela nafas Aku memulai membuka satu persatu berkas itu untuk dipelajari. Hingga akhirnya aku mulai terlalut dalam pekerjaan.


Tok! Tok! Tok!


Kira-kira sejam berlalu, pintu ruangan kantorku ada yang mengetuk. setelah aku mempersilahkan, masuklah Dali sambil manggut memberi hormat.


"Selamat pagi Pak! butuh kopi?" tawarnya sebelum duduk.


"Wah mantap tuh! boleh lah!" jawabku sambil mengangkat ibu jari.


Dali pun kembali ke luar kantor untuk membuat apa yang ia tawarkan. tak lama menunggu dia pun kembali sambil membawa dua cangkir kopi kemudian ditaruh di atas meja.


"Nggak apa-apa kan Pak? saya ikut ngopi di sini." tanya Dali sambil menyimpan kopi di atas meja.


"Boleh! Jawabku sambil menyimpan berkas yang sedang kupelajari.


"Ada kabar Baik Pak!" Ujarnya sambil menarik kursi kemudian dia duduk di hadapanku.


"Kabar baik apa?" Tanyaku sambil mengambil kopi yang ada di atas meja, kemudian meneguknya sedikit karena masih panas. Lumayan bisa membuat pikiranku kembali press.


"Perusahaan Bagaskara yang sedang mengadakan tender, mereka menyuruh kita untuk menyiapkan presentasi akhir di malam pengumuman. karena ada tiga perusahaan yang menurutnya susah untuk didiskualifikasi. sebab ketiga perusahaan itu konsepnya sangat menarik, mereka bingung menentukan siapa pemenang tender. Jadi mereka memutuskan pemegang proyek, nanti setelah mendengar presentasi." lapor Dali menjelaskan penemuannya.


"Siapa aja yang masuk ketiga besar?"


"Perusahaan kita, dan Dua lagi yang lainnya adalah perusahaan Atri group dan Erni Group." jawab Dali memberitahu.


"Hebat juga ya, Perusahaan kita bisa masuk." pujiku sambil mengulum senyum merasa bangga karena pekerjaan kantorku tidak sia-sia.


"Iya Pak! Alhamdulillah, Ini pemberitahuannya." ujar Dali sambil menyerahkan amplop putih berisi surat.


Aku pun mengambil amplop itu, kemudian membukanya lalu membaca surat itu dengan teliti, benar saja apa yang disampaikan oleh dali. bahwa perusahaanku termasuk tiga besar yang akan memenangkan tender dan harus menyiapkan presentasi akhir sebagai penilaian.


"Terus sekarang Apa yang harus kita lakukan?" tanya Dali setelah melihatku memasukkan kembali isi amplop itu.


"Hari ini kamu bikin jadwal untuk membahas tender yang sedang kita tangani. kita kaji ulang! apa saja yang kurang dan harus disempurnakan. karena waktunya sangat mepet kita tidak boleh membuang waktu."


"Baik Pak!"


Akhirnya kita berdua pun terlalut membahas masalah pekerjaan-pekerjaan. baik yang sedang ditangani ataupun yang belum, hingga akhirnya kita pun memutuskan untuk mengadakan acara pertemuan itu, pukul 10.00 karena nanti siang ada acara bertemu klien.


Hari itu aku disibukkan dengan berbagai pekerjaan kantor, mulai dari mengurus tender dan menemui beberapa klien. hingga akhirnya pukul 17.00 aku baru bisa pulang ke rumah ibu.


Setelah sampai di rumah, aku berbincang sebentar sama ibu. kemudian menuju ke rumah pak Umar, untuk melaksanakan rutinitasku yang masih belajar mengaji.


Aku baru sampai ke mushola yang berada dekat dengan rumah pak Umar, ketika selesai Adzan maghrib. jalanan yang macet membuatku sedikit telat, Beruntung aku masih bisa melaksanakan salat berjamaah

__ADS_1


Selesai melaksanakan salat, Pak Umar yang menjadi imam salat berjamaah melirik ke salah Seorang warga yang ikut berjamaah. kemudian menyuruh warga itu untuk memimpin berdzikir. Setelah memberikan tugas beliau menghampiriku.


"Karla sudah pulang?" tanya Pak Umar sambil berbisik takut mengganggu acara dzikir ba'da salat.


"Maksudnya pak?" aku balik bertanya karena tidak mengerti.


"Karla pulang sama kamu kan?" tanya Pak Umar yang semakin membuatku tidak mengerti.


"Enggak Pak! kenapa emang?"


"Ya Allah! ke mana anak saya." Ujar Pak Umar tanpa mempedulikan pertanyaanku. beliau bangkit dari tempat duduknya. dengan bergegas dia pun keluar dari masjid untuk pulang ke rumah. aku yang melihat Pak Umar sangat panik., Memutuskan mengikuti Pak Umar di belakang, takut terjadi apa-apa sama keluarga Pak Umar.


"Karlaaaaaa! Karlaaaaaa!" Panggil Pak Umar setelah sampai di rumahnya, kemudian dia langsung naik ke lantai atas.


Aku yang mengekor di belakang Pak Umar, jantungku tiba-tiba berdegup kencang. melihat kejanggalan ini, takut terjadi apa-apa sama gadis aneh itu.


"Karlaaaa! Karlaaaaa! Karla!" Pak Umar terus memanggil anak semata wayangnya, sambil mendorong pintu kamar Karla, namun ketika pintu kamar itu terbuka tidak ada siapapun di dalamnya.


"Karla ke mana?" tanya Pak Umar sambil menjatuhkan tubuh duduk di atas ranjang anaknya, Mungkin dia merasa lemas mengetahui kebenaran yang sangat menyedihkan dalam hidupnya.


"Ini bagaimana ceritanya Pak?" Tanyaku yang masih belum paham.


"Dari tadi sore saya tunggu Karla pulang, namun sekian lama menunggu Karla tidak kunjung datang. saya kira anak saya pergi sama nak Arfan, karena biasanya seperti itu. namun sekarang Saya harus bagaimana? Anak saya hilang." tanya Pak Umar yang terlihat di dalam kelopaknya ada cairan bening, ketika dia mengedipkan matanya cairan itu tumpah membasahi pipi.


"Bapak tenang! sebentar saya telepon dia." ujarku sambil mengeluarkan handphone pemberian dari Karla, kemudian menekan nomor Gadis itu untuk memanggilnya.


"Bagaimana?" tanya Pak Umar yang menatap penuh harap ke arahku yang sedang kebingungan.


"Nggak aktif Pak!" jawabku sambil menghela nafas.


"Ke mana kamu Karla!" gumam Pak Umar sambil menyeka cairan bening yang terus tumpah.


"Bapak tenang aja! saya akan susul ke kantor, Siapa tahu saja dia masih bekerja lembur." ujarku menenangkan Pak Umar, walaupun sebenarnya aku juga merasa panik.


Tak menunggu jawaban Pak Umar, aku pun langsung turun ke lantai bawah, untuk mencari keberadaan Karla di kantor Ibu. namun sebelum aku meninggalkan rumah, terlihat Pak Umar mengikutiku dari belakang.


"Mau ke mana Pak?" Tanyaku yang berhenti lalu menatap ke arahnya.


"Bapak ikut ya! Bapak nggak tenang kalau Bapak tidak melakukan apa-apa." pinta Pak Umar.


"Boleh Pak, ayo!" Jawabku sambil mempersilahkan Pak Umar berjalan lebih dulu.


Akhirnya Kita pun menyusuri Gang keluar dari perkampungan, menuju mobilku yang terparkir di pinggir jalan. setelah sampai ke mobil kita berdua masuk ke dalamnya, tanpa ada pembicaraan, Aku mulai mengemudikan mobil menuju Kantor Perusahaan ibu.


Di perjalanan menuju kantor, Pak Umar beberapa kali meminta agar dia turun di situ, karena keadaan yang lumayan macet, sehingga mobil yang kukendarai tidak leluasa melaju. Namun aku terus menenangkannya agar dia tidak mencari Karla sendirian.


20 menit berlalu, akhirnya kita baru sampai di kantor. dengan cepat aku pun turun dari mobil diikuti oleh Pak Umar menuju kantor satpam.

__ADS_1


"Selamat malam Pak!" Sapakku sama satpam penunggu Pos.


"Malam juga, maaf Anda siapa dan ada keperluan apa?" Tanya satpam itu membuatku sedikit membulatkan mata.


"Saya Arfan! dulu saya karyawan cleaning service di sini."


"Terus mau ngapain datang malam-malam?"


"Saya mau mencari keberadaan supervisor saya, apakah Bapak melihat."


"Siapa namanya?"


"Bu Karla!" jelasku.


"Maaf Pak! kalau mau menemui Ibu Karla, besok bapak datang lagi ke sini, karena semua karyawan kantor sudah pulang ke rumahnya masing-masing."


"Pak Sandi ke mana?" Tanyaku yang merasa tidak nyambung mengobrol dengannya.


"Kenapa nanya Pak Sandi? Bapak sebenarnya mau menemui bu Karla apa Pak Sandi?"


"Saya mau mencari Karla, namun bertanya sama kamu rasanya sangat sulit."


"Hati-hati jaga bicaramu Pak! kalau bapak tidak ada kepentingan yang jelas, silahkan Bapak tinggalkan kantor saya!" usir satpam itu membuatku mengepalkan tangan, kalau tidak menyabar-nyabarkan diri, rasanya ingin menghajar satpam itu.


Aku mengambil handphone lalu menekan nomor ibu. "Halo ada apa fan?" tanya ibu di ujung telepon sana.


"Ibu punya nomor satpam yang bernama sandi?" Tanyaku


"Ada, emang kenapa?"


"Karla belum pulang ke rumah, saya takut terjadi apa-apa."


"Kamu mencari Karla apa mencari Pak Sandi?"


"Karla Bu! namun siapa tahu saja Pak Sandi punya informasi tentangnya." jawabku menjelaskan.


"Sekarang kamu ada di mana?"


"Di kantor Atri grup!"


"Ya sudah, tunggu sebentar! nanti Ibu suruh Pak Sandi untuk menemuimu."


Akhirnya telepon itu terputus, Pak Umar yang sejak dari tadi terlihat gelisah. setelah tahu aku sudah tidak menelepon dia pun menghampiri


"Bagaimana?" tanya Pak Umar menatap ke arahku.


"Sebentar Pak! Saya lagi mencari bantuan. Bapak Sabar ya!" ujarku Sambil menatap ke arah layar handphone, tak lama handphone itu berbunyi. terlihat ada nomor ibu yang memanggil.

__ADS_1


__ADS_2