
POV Farid
Selesai memakan hidangan, aku dan Vina pun duduk sambil menonton acara yang di suguhkan oleh pengantin. aku terus menatap diriku sendiri yang merasa berbeda dengan orang lain. mereka yang datang kebanyakan menggunakan pakaian berharga mahal, sedangkan pakaian yang kukenakan hanya harga murah, itu pun aku beli dari loak Tanah Abang.
"Pak Farid! Boleh saya ngobrol sebentar?" tanya Dali yang menghampiri kita berdua.
"Boleh silakan duduk!" jawabku sambil melirik ke arah kursi yang kosong.
"Terima kasih Pak!" jawab Dali sambil menarik kursi kosong itu lalu duduk di atasnya.
"Ada apa dal?" Tanyaku sambil menatap ke arahnya, merasa penasaran dengan apa yang mau dia sampaikan.
"Maaf nih pak! Kalau saya agak kepo sedikit. nggak apa-apa kan?" sebelum menyampaikan obrolannya Dali terlebih dahulu meminta maaf.
"Ah kamu terlalu diplomatis dal! Aku bukan Arfan, Aku Farid yang sama sepertimu. mungkin derajatnya ada di bawahmu, Jadi kamu nggak usah minta maaf segala, saya malu."
"Maaf kalau saya membuat Pak Farid tidak nyaman!"
"Iya mau ngobrol apa?" Tanyaku yang mungkin tidak bisa merubah sikap Dali, yang akan menghormati siapapun yang berhubungan dengan atasannya. namun ketika ada orang yang menyakiti atasannya, Dialah orang yang pertama yang akan menghajar orang itu. seperti beberapa tahun yang lalu, yang pernah dia lakukan. ketika mengetahui aku dan Erni sedang berada di atas kasur, dialah orang yang menghajarku sampai babak belur, bahkan harus dilarikan ke rumah sakit.
"Begini Pak! Bapak Sekarang kesibukannya apa, masih jualan di Tanah Abang?" tanya dali mulai membahas pokok permasalahan.
"Sudah nggak dal! sudah hampir 2 bulan lebih saya nganggur di rumah. saya sudah beberapa kali Mencoba membuka usaha, namun sampai sekarang tidak ada yang benar. usaha saya selalu diikuti dengan kerugian dan kerugian, hingga akhirnya modal pun habis, akhirnya nganggur deh!" jawabku sambil mengulum senyum, menyembunyikan kepedihan yang sedang kualami.
"Mohon maaf sebelumnya pak!"
"Ah Dari tadi, kamu mohon maaf! mohon maaf! terus. ngomong aja sih!" ujarku yang mulai tidak nyaman.
"Di perusahaan saya sekarang lagi membutuhkan karyawan, untuk mengisi bidang pemasaran. Siapa tahu saja Bapak berminat? Karena saya sangat tahu, bahwa bapak memiliki keahlian di bidang itu, ketika Bapak bekerja di perusahaan Pak David." tawar Dali.
"Hebat banget kamu dal!"
"Hebat apanya?"
__ADS_1
"Ya hebat! sekarang kamu sudah memiliki perusahaan sendiri, perusahaan apa itu?"
"Maaf Pak! Itu maksudnya bukan perusahaan saya, tapi perusahaan Pak Arfan. beliau menyuruh saya untuk mencari orang yang berkompeten di bidang pemasaran. karena majunya satu perusahaan itu tergantung orang pemasaran, karena walaupun perusahaannya sangat bagus tapi kalau promosinya sangat kurang, perusahaan itu tidak akan maju. begitu juga sebaliknya." jelas Dali panjang lebar.
"Oh seperti itu? Jadi kamu menawarkan saya untuk bekerja di perusahaan Arfan, begitu?" tanyaku memastikan.
"Benar begitu Pak! namun mohon maaf sebelumnya, saya menawarkan seperti itu, siapa tahu aja Bapak berminat. karena sayang kalau memiliki keahlian tapi tidak dikembangkan."
Mendengar tawaran Dali, Aku hanya menarik nafas pelan alu menghembuskannya. "Maaf dal! saya tidak bisa untuk bekerja di perusahaan Arfan. saya terlalu malu dengan kelakuan saya dulu, yang pernah menghianatinya." jawabku sambil menundukkan pandangan.
"Bapak jangan berbicara seperti itu. Pak Arfan saja sudah melupakan kejadian yang telah lampau. Beliau tidak pernah membahasnya lagi. kalau bapak bersedia bekerja di perusahaan Pak Arfan. bapak bisa menghubungi saya." ujar Dali, namun aku yakin dia menyampaikan itu adalah perintah Arfan, Dia sangat pandai melakukan tugas yang diperintahkan oleh Atasannya itu.
"Terima kasih dal atas tawarannya dan sampaikan terima kasihku sama atasanmu. tapi untuk sekarang saya tidak mau merepotkan Arfan! Biarkan saya berjuang sendiri. cukup dulu saja saya terus merepotkannya." ujarku menolak tawaran itu dengan halus.
"Baik kalau seperti itu, nanti akan saya sampaikan ke Pak Arfan. Tapi beliau berpesan Kalau Pak Farid membutuhkan sesuatu, bapak bisa menghubungi saya atau menghubungi langsung Pak Arfan. Ya sudah, kalau seperti itu. silakan dilanjutkan menikmati jamuannya." ujar Dali sambil tersenyum kemudian dia bangkit lalu pergi meninggalkanku.
Setelah kepergian Dali, aku menatap ke arah Vina yang sejak dari tadi terdiam menyimak pembicaraan kita. namun ketika aku menatapnya, Vina membuang wajah, seolah tidak suka ditatap seperti itu.
"Kenapa kamu marah?" Tanyaku yang mengetahui perubahan sikap istriku.
"Ya! Tapi kita pamitan dulu sama Arfan." ajakku sambil bangkit, karena aku juga penasaran kenapa wajahnya berubah seperti itu.
"Iya!" Jawab Vina sambil bangkit lalu berjalan ke arah depan panggung. namun ketika kita hendak mendekati kedua mempelai, terlihat banyak rekan-rekan bisnis Arfan yang sedang melakukan sesi foto. terlihat mereka sangat bahagia. Arfan memang cocok memiliki sahabat-sahabat seperti mereka, sahabat yang berkelas. Arfan tidak pantas kenal dengan orang yang susah sepertiku.
"Kita pulang langsung aja yuk! takut mengganggu kebahagiaan mereka." ajakku sambil menatap ke arah Vina.
Di Ajak seperti itu. Vina hanya mengangguk kemudian kita mencari Dali, untuk menyampaikan permohonan maafku sama Arfan karena aku pulang secara diam-diam. Namun sayang Dali tidak ada, tidak menunjukkan batang hidungnya. akhirnya aku memutuskan memberitahu melalui SMS, lalu dikirimkan ke asisten Arfan. setelah berpamitan lewat SMS kita berdua berjalan keluar gedung di mana motor butut kita terparkir.
Di jalan pulang tak ada pembicaraan sedikitpun, Vina terlihat malas mengobrol denganku, ketika aku tanya dia hanya menjawab sewajarnya.
Motor yang aku kendarai terus melaju membelah panasnya Kota Jakarta. hingga akhirnya motor itu masuk ke gang sempit di mana kontrakanku berada. setelah sampai di depan kontrakan, Vina turun dari motor. sedangkan aku menuntun motor itu masuk ke dalam teras. tanpa ada pembicaraan Vina membuka kunci pintu lalu masuk ke dalam kontrakan.
Aku yang merasa janggal dengan perubahan sikap istriku, dengan cepat menyusulnya masuk ke dalam. terlihat Vina sedang tengkurap menyembunyikan wajahnya di Atas Bantal, dengan perlahan aku menundukkan tubuh di sampingnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu marah ya? Maaf kalau aku punya salah." ujarku sambil mengelus wanita yang sedang tengkurap.
Ditanya seperti itu, Vina hanya terdiam, namun terdengar suara senggukkan kecil seperti ditahan.
"Cerita dong! Kamu jangan diam seperti ini. biar aku bisa merubah sikapku kalau ada yang membuatmu tidak nyaman." ujarku dengan lembut sambil terus mengusap punggungnya.
Mendengar ucapanku perlahan Vina pun membalikan tubuh lalu Duduk. matanya yang sembab memerah penuh dengan cairan bening, menatap memenuhi wajahku.
"Maafkan aku! kalau punya salah. tapi tolong jelaskan apa kesalahanmu sehingga membuatmu kesal?" Tanyaku membalas tatapan wanita cantik dengan rambut sebahu yang berada di depanku.
"Kenapa kamu tolak tawaran Arfan?" tanya Vina mulai berbicara.
"Tawaran yang mana?"
"Tawaran untuk bekerja di perusahaannya."
"Oh itu, nggak apa-apa! aku malu aja Vin, kalau aku harus merepotkan sahabat yang pernah aku sakiti, sahabat yang pernah aku khianati. cukup dulu aku merepotkannya, aku menyakitinya. sekarang Aku ingin hidup mandiri, dengan jerih payahku sendiri." jawabku memberi alasan.
"Maluan mana. Dengan kehidupan kita yang akan diusir dari kontrakan?" jelas Vina membuatku mengerutkan dahi.
"Maksudnya bagaimana Vin?"
"Kamu harusnya sadar dong, kita sudah 2 bulan tidak ada pemasukan. uang tabungan kita sudah habis, bahkan cincin pernikahan kita sudah aku jual, untuk menutupi kebutuhan hidup kita. sampai kapan kita akan seperti ini, sampai kapan kamu akan menuruti rasa malumu, apa sampai kita diusir dari kontrakan?" ujar Vina menjelaskan, terlihat matanya yang indah kembali dibasahi oleh cairan bening.
"Apaaa? kamu sudah jual cincin pernikahan kita?" Tanyaku sambil membulatkan mata, karena tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh istriku.
"Kenapa Matamu membulat seperti itu? apa kamu gak sadar Kamu setiap hari, makan dari mana? kamu merok0k setiap saat, rok0k Dari mana? kamu ngopi setiap waktu, kopi dari mana? itu semua membutuhkan uang Rid! sedangkan uang itu tidak datang sendiri." jawab Vina dengan santai namun membuat jantungku berdenyut nyeri, karena sampai segitunya kehidupan keluargaku.
"Ya Harusnya kamu berbicara Dulu, ketika kamu mau menjual cincin pernikahan kita."
"Maaf Rid! Aku tidak mau membebani kamu yang sedang terpuruk. aku akan berusaha semampuku, sebisaku, agar kehidupan kita tetap hidup sebagaimana mestinya. namun untuk sekarang aku mohon sama kamu, tolong terima tawaran pekerjaan dari Arfan. karena aku sudah tidak memiliki benda berharga untuk dijual lagi." jelas Vina memohon.
Mendengar penjelasan Vina, Aku hanya menarik nafas pelan. tidak sanggup membayangkan Bagaimana malunya ketika aku bekerja di perusahaan orang yang pernah aku khianati. namun Sekarang aku tidak mempunyai jalan keluar untuk menyelamatkan kehidupanku yang sedang terpuruk.
__ADS_1
"Sudah! jangan banyak berpikir, aku mohon sama kamu. Tolong terima tawaran itu, nanti setelah kamu punya tabungan. Terserah kamu mau resign lagi atau kamu mau cari usaha lain lagi. yang terpenting sekarang kita harus memiliki uamg untuk membayar kontrakan, dan untuk mencukupi kebutuhan makan kita."