
Pov Farid
Tak susah mencari karena mobil di Jakarta sangat menjamur, hanya orderan saja yang kurang. ketika aku datang mereka dengan antusias menyambut orderan itu. setelah memberikan uang DP, dan memberikan kepastian waktunya. aku pun meminta nomor telepon mereka, agar ketika semuanya sudah selesai, mereka bisa stand by di tempat yang aku Sebutkan.
Setelah mendapatkan mobil pick up untuk orang-orang yang mengantar jenazah. Aku bergegas kembali pulang ke rumah Ira untuk menyampaikan laporan ke orang yang memberikan tugas.
Sesampainya di sana, terlihat jenazah Ari sudah selesai dimandikan, sehingga membuat Dali meminta agar mobil pick up-nya standby di depan gang.
Dengan cepat aku pun memberitahu rental mobil pick up, untuk segera mengirimkan 4 unit mobilnya ke lokasi yang aku kirim lewat aplikasi pesan.
Setelah selesai dimandikan, jenazah Ari dikafani. Kemudian disalatkan dipimpin oleh Ustad setempat. selesai dishalatkan para warga pun mulai memindahkan jenazah Ari ke dalam keranda, sambil dibarengi dengan berzikir. keranda itu mulai maju, meninggalkan rumah menuju tempat peristirahatan terakhir.
Setelah keluar dari gang, keranda pun mulai dimasukkan ke mobil jenazah yang sudah stand by menunggu. Sedangkan para warga yang mau mengantar almarhum ke kuburan, mereka menaiki mobil pick up yang sama sudah standby dari tadi.
Aku bersama Ira dan ibunya ditugaskan oleh Dali untuk mengantarnya ke kuburan, sedangkan dia akan menemani istrinya, begitu juga Arfan sama berangkat bersama sang istri.
Mobil yang aku kemudikan, terus melaju mengikuti mobil ambulans yang berbunyi membuat hati siapa aja akan bergetar dengan suaranya. seperti sedang mengingatkan kita yang masih hidup, bahwa mobil yang terakhir yang kita naiki adalah keranda, paling bagus mobil jenazah.
Sesampainya di kuburan, tak lama almarhum Ari Mulai dimasukkan ke liang lahat. karena para petugas pemakaman sudah menyiapkan semuanya, sehingga kira-kira pukul 12.00 acara pemakaman pun selesai.
Kami dan para warga warga lainnya kembali ke rumah duka, setelah sampai di rumah terlihat hidangan sudah menunggu, karena begitulah kebiasaan keluarga kampung, yang selalu Menyiapkan makan setelah acara pemakaman.
Aku dan para warga mengikuti makan siang, hanya keluarga Dali dan keluarga Arfan yang tidak ikut, mereka terus menenangkan bawahannya yang sedang berduka.
Selesai makan aku masuk ke dalam rumah, terlihat Ira yang masih dipeluk oleh Calista. istri Dali itu terus menenangkan wanita yang sedang berduka, layaknya seorang saudara yang sedang memberikan semangat kepada saudara yang lain. Calista terlihat menyayangi Ira layaknya menyayangi saudara kandung.
"Pak RT sudah selesai makan?" tanya Dali sambil menatap ke arahku yang baru datang.
"Kayanya Sudah Pak."
"Tolong panggil ke sini...!"
__ADS_1
Aku yang hendak duduk bangkit kembali, kemudian menemui Pak RT, yang terlihat sedang mengobrol dengan para warga yang lain. Aku menyampaikan apa yang dari perintahkan sehingga ketua kampung itu, ikut masuk ke dalam rumah.
"Maaf Pak RT mengganggu. saya mau bertanya tentang pengurusan jenazah selanjutnya seperti apa?"
"Oh mau bertanya tentang itu, mungkin pak ustad yang lebih paham, sebentar saya panggilkan beliau."
Pak RT pun bangkit, kemudian keluar dari rumah, tak lama dia kembali, diikuti oleh seseorang yang memakai baju koko dan mengenakan peci.
"Maaf pak ustad, kebiasaan di sini setelah mengurus orang yang meninggal apalagi, karena saya bukan mendahului Bu Ira. Tali melihat kondisinya seperti sekarang, mungkin mereka tidak bisa diajak berdiskusi," ujar Dali menyampaikan pertanyaannya.
"Untuk mengurus jenazah, Saya rasa itu cukup. karena kewajiban mengurus jenazah bagi orang yang hidup hanya ada empat. pertama memandikan, mengkafani, menyolatkan dan menguburkan." Jawab orang yang dipanggil pak ustad.
"Terus Apakah ada tahlil atau enggak?"
"Untuk masalah itu, banyak ulama berpendapat. namun kebiasaan warga di sini melakukan doa bersama, agar jenazah diterima di sisi allah subhanahu wa ta'ala, sekaligus menghibur keluarga yang sedang berduka. daripada kita menghibur dengan hal-hal yang tidak berguna, lebih baik kita berkumpul sambil mendoakan orang yang sudah mendahului kita."
Arfan dan dali pun terlihat saling menatap, mungkin mereka saling berbicara melalui kode rahasia masing-masing. "bagaimana kalau keluarga Ibu Ira mau mengadakan tahlil?" Dali bertanya lagi.
"Kalau mengadakan tahlilan, kira-kira jam berapa pak ustad?"
"Biasanya habis melaksanakan salat Isya atau ba'da Magrib. karena orang-orang di kampung sini, Kebiasaan kalau sore mereka baru pulang bekerja, mereka tidak bisa hadir alasannya capek." Jelas Pak Ustad.
"Menurut Pak Ustad lebih baik sehabis magrib atau sehabis Isya?"
"Kalau menurut saya mendingan sehabis Isya agar waktunya leluasa. kalau sehabis magrib,rasanya kayak dikejar-kejar waktu Isya," Jawab Pak RT memberi alasan.
"Iya, benar!" timoal pak ustad.
Akhirnya musyawarah itu diakhiri dengan keputusan bahwa akan mengadakan tahlilan sehabis melaksanakan salat Isya. Setelah semuanya selesai para pihak pengurus pun meminta izin untuk kembali ke rumah masing-masing, menyusul para warga yang sudah dari tadi terlihat meninggalkan rumah duka, menyisakan aku, keluarga Dali dan keluarga Arfan.
"Pak Farid, untuk sementara Tolong temani Bu Ira, Tolong bantu semua kebutuhannya. Kasihan dia sendirian, soalnya saya ada kepentingan. sedangkan Pak Dali harus mengurus kantor kembali," jelas Arfan mulai memberikan tugas.
__ADS_1
"Baik Pak, Apa saja yang harus saya lakukan?" Tanyaku seolah menantang.
"Bapak tolong carikan tempat penjual kue, untuk mengadakan tahlilan, dan bantu kebutuhan kebutuhan yang lain, yang dibutuhkan oleh keluarga Bu Ira."
"Boleh mengajak istri Pak?"
"Boleh, silakan....! kalau ibu Vinanya mau," jawab Arfan tidak terlihat keberatan.
Setelah memberi perintah dia pun berpamitan, karena menurutnya masih ada urusan yang harus segera diselesaikan. begitu juga Dali, dia bersama istrinya ikut berpamitan, nanti sore mereka berjanji akan datang lagi, untuk membantu persiapan acara tahlil.
Sebelum pergi Dali menitipkan mobilnya, untuk menemani tugasku yang diperintahkan membantu keluarga Ira. Tak lupa memberikan uang untuk memenuhi kebutuhan acara tahlil.
Setelah kepergian para petinggi Mandiri Group, terlihat rumah Ira sangat sepi, hanya menyisakanku, Ira bersama ibunya, ditambah beberapa warga yang masih menemani, mungkin mereka merasa kasihan dengan kedua wanita yang malang ini. Karena kedua wanita itu terus menangis meratapi kepergian anak dan kakaknya. Perlahan aku mulai mendekati Ira yang terduduk di ruang tengah, air matanya terus mengalir seperti ada sumber di dalamnya.
"Maaf Bu Ira," ujarku ketika sudah duduk di sampingnya.
Ira tidak menjawab, namun dia menatap ke arah datangnya suara. terlihat matanya yang lembab dan memerah begitu sempurna, karena dari semenjak mendengar kabar duka, sampai saat ini dia belum berhenti menangis, Seolah dia ingin menghabiskan semua air matanya.
"Saya ditugaskan oleh Pak Dali dan Pak Arfan untuk menemani dan mencukupi semua kebutuhan keluarga Bu Ira. Namun saya ada yang mau disampaikan, saya boleh mengajak istri saya untuk menemani saya di sini?" Tanyaku dengan penuh kehati-hatian.
Seperti yang tadi, dia pun tidak menjawab. Dia hanya menganggukan kepala, kemudian menatap ke arah karpet terlihat ada cairan bening yang tumpah ke atas rok hitamnya.
Setelah mendapat persetujuannya, aku memminta izin untuk hubungi Vina, untuk menemaniku yang sangat kesepian di sini, karena hanya iralah yang aku kenal.
"Ada Apa Sayang, tumben-tumbenan jam segini sudah menelpon?" Tanya istriku setelah teleponku tersambung.
"Ada kabar duka, Bu Ira kakaknya meninggal. kamu bisa datang ke sini nggak, untuk menemaninya. soalnya kasihan tidak ada saudara yang menemani."
"Emang kenapa, nggak ada saudara?"
"Bukan nggak ada saudara, tapi saudaranya tinggal jauh dari Jakarta. yang paling dekat katanya di Bandung."
__ADS_1