Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 18 berhati Malaikat


__ADS_3

Pov Farid


"Ya sudah kita tunggu sampai resep obatnya di buatkan, baru kita pulang." ujar Calista memberikan keputusan.


"Pak Farid....! Pasien atas nama Pak Farid?" Panggil apoteker yang berada di ruangan, karena tadi Dali sudah memberikan resep obat yang diberikan oleh dokter.


Mendengar Namaku dipanggil dengan cepat Dali menghampiri orang yang memanggil, Dali berdiri berhadapan dengan apotek yang terhalang dengan kaca.


Aku tidak mendengar dengan Apa yang dibicarakan mereka berdua, namun terlihat itu tidak serius. setelah berbicara dan mengeluarkan uang Dali pun kembali, lalu memberikan obat yang sudah terkemas rapi dalam kantong.


"Obatnya! aturan minumnya sudah tertulis di situ," ujar Dali menjelaskan.


"Terima kasih banyak Pak! terima kasih."


"Sudah jangan banyak terima kasih, kita sebagai teman harus saling membantu," jawab Dali sambil mengulum senyum.


Dali pun mengajak kita meninggalkan koridor klinik menuju ke parkiran. meski dengan tertatih, namun kondisi tubuhku yang sudah terasa membaik, sehingga itu tak membuatku terlalu khawatir.


"Bener nih, nggak mau diantar?" tanya Dali memastikan setelah kita sampai di area parkir.


"Nggak Pak! eh Dal. Terima kasih atas semua kebaikannya, semoga dibalas dengan yang berlipat ganda," doaku yang tidak tahu harus berkata apa lagi, jadi hanya itulah yang bisa aku ucapkan.


"Aminn! Ya sudah kalau seperti itu, semoga pak Farid bisa cepat sembuh ya!" ujar dali sambil merogoh tas kecil yang di bawanya, ketika tangannya ditarik terlihat ada beberapa lembar uang yang menyangkut di tangannya, lalu menguluarkannya ke arahku.


"Maksudnya?" Tanyaku sambil menatap heran ke arah asisten sahabatku itu.


"Takut kalau luka bapak tidak cepat sembuh, nanti Bapak Bisa berobat sendiri, ini untuk jaga-jaga! kalau kurang bapak bisa menghubungi saya lagi." jelas malaikat itu sambil mengulum senyum, membuat ada tusukan tajam menghunus Jantungku. hanya deraian air mata yang mengalir membasahi pipi, Tak Sanggup tertahan terharu melihat kebaikannya.


"Maaf Pak..! Nggak usah, Terima kasih! tadi pembayaran rumah sakit aja belum saya bayar," tolaku dengan halus.


"Aduh.....! Terima kasih banyak Pak. Terima kasih! memang benar saya sangat membutuhkan uang sekarang, kalaupun suami saya sembuh, saya pinjam dulu uang ini untuk membayar kosan. nanti saya kalau sudah punya uang akan segera mengembalikan," serobot Vina sambil mengambil uang yang diserahkan oleh Dali, membuat wajahku memerah karena malu dengan tingkah Istriku yang seperti itu.


"Iya pakai aja, nggak apa-apa! nggak usah ganti," jawab Dali yang masih mengulum senyum, dibalas oleh istrinya yang berdiri di samping pria berhati malaikat itu.

__ADS_1


"Iya pak! terima kasih banyak, biasa suami saya egonya tinggi, tapi kemampuannya rendah. sekali lagi terima kasih," jawab Vina sambil memasukkan uang pemberian Dali ke dalam tas kecilnya.


Aku yang tidak bisa berbuat apa-apa, kalau menolak itu sama saja keputusan konyol yang aku ambil. namun untuk menerima rasanya berat hati, kalau harus merepotkan orang yang dulu pernah dilukai dengan kata-kata kasar ku.


Akhirnya Dali, Calista pun berpamitan, kemudian mereka masuk kembali ke dalam mobil hendak melanjutkan acara jalan-jalannya.


Aku dan Vina hanya berdiri menatap kepergian mobil yang sudah keluar dari area parkir, kita berdua menatap sampai mobil itu tak terlihat lagi. setelah mobil yang dibawa oleh Dali lenyap ditelan oleh Jalan Raya. kita berdua menarik nafas lalu saling menatap terlihat. wajah Vina yang ditekuk membuatku paham kalau ada sesuatu yang tidak kena dengan kemauannya.


"Maafkan aku ya!" hanya kata itu yang aku ucapkan untuk memecah kekakuan Antara Aku dan istriku.


"Ayo pulang! nanti bicaranya di rumah," jawab Vina singkat sambil berjalan mendahuluiku.


"Pelan-pelan jalannya, Kan akunya masih sakit"


"Nikmati aja! itu gara-gara kecerobohan kamu, kebodohan kamu, yang berbuat tanpa dipikir terlebih dahulu. Akhirnya siapa yang rugi, kamu sendiri kan yang rugi. Untung ada Pak Dali yang menolong, kalau nggak mungkin kamu akan semakin menyusahkanku." gerutu Vina, namun meski begitu dia tetap memelankan jalannya, agar kita bisa berjalan berdampingan.


Kami berdua terus berjalan menyusuri trotoar, hingga akhirnya sampai ke parkiran di mana motor bututku disimpan. aku pindai seluruh area mencari keberadaan orang-orang yang tadi menghajarku. Namun ternyata orang-orang itu tidak aku temukan, aku hanya melihat penjual penjual yang sedang sibuk melayani pembelinya.


"Ayo pulang!" ujar Vina mengagetkan.


Setelah motor ku Nyalakan, motor butut itu pergi meninggalkan trotoar yang dipadati oleh para pedagang kaki lima. motor itu terus melaju menyusuri jalan yang berada di Jakarta, bergelut dengan kendaraan-kendaraan lainnya.


Matahari yang masih berada di ubun-ubun, hanya condong sedikit ke arah barat, membuat panasnya sangat menyengat, membakar jiwa-jiwa yang tersinari oleh sinarnya.


Lama di perjalanan akhirnya motor itu tiba di salah satu gang sempit, motor itu terus aku kendarai sampai akhirnya tiba di salah satu kosan berukuran empat kali enam.


Aku matikan motorku, lalu membuka kunci pintu kosan. namun setelah masuk, ternyata Vina tidak mengikuti. Merasa heran aku membalikkan tubuh menatap ke arahnya.


"Kenapa masih diam, Ayo masuk!" ajakku sambil menarik tangannya


"Aku mau kerja lagi, mumpung masih siang. ini adalah hari pertama kerjaku, jadi aku tidak mau mengecewakan mereka."


"Kenapa mau kerja lagi, apa kamu Nggak kapok digoda laki-laki mata keranjang seperti yang tadi," tanyaku sambil menatap lekat ke arah istriku.

__ADS_1


"Itu hal yang wajar ketika kita melakukan pekerjaan. Karena setiap pekerjaan pasti ada resikonya. Kalau tidak mau mengambil resiko maka kita tidak akan bisa makan," jawab Vina yang masih berdiri di ambang pintu.


"Wajar.....? apa kamu bilang wajar, kamu ditepuk *4**** kamu seperti itu, kamu bilang wajar....? aku suamimu tidak terima kamu diperlakukan seperti itu," bentakku dengan menaikkan intonasi suara.


"Iya Emang wajar.....! yang tidak wajar itu ketika seorang laki-laki hanya diam di rumah, tidak mampu memberikan nafkah terhadap istrinya, itu bukan tidak wajar lagi, tapi kurang ajar...!"


"Vina.....! aku sudah berusaha semaksimal mungkin, semampuku, sebisaku, untuk mencari nafkah buat kamu. namun sampai sekarang aku mohon maaf aku belum mendapatkannya."


"Kamunya terlalu sombong Rid! kamunya terlalu egois atau mungkin kamunya terlalu b3go, pekerjaan yang sudah ada di depan mata, kamu tolak mentah-mentah begitu saja."


"Kerjaan mana yang aku tolak?"


"Tawaran dari Pak Arfan!"


Mendengar jawaban istriku seperti itu, Aku hanya menghela nafas kasar, tanap menjawab ucapan istriku kembali. tanganku, aku kepalkan dengan begitu erat, menahan emosi yang sudah kembali naik ke ubun-ubun.


"Kamu tidak pernah mengerti tentang perasaanku yang sekarang. aku malu...! apa kamu nggak ngerti tentang rasa malu?"


"Ngapain malu, apa kamu mau istrimu terus digoda, Apa kamu mau istrimu melayani tawaran laki-laki hidung belang?"


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipi cantik Vina, membuat wanita itu meringis menahan sakit, akibat tamparan yang aku layangkan.


"Maafkan aku! Maafkan Aku...!" ucapku yang merasa bersalah, dengan cepat aku memeluk tubuh istriku. Karena baru kali ini aku bermain kasar terhadap wanita cantik yang sedang aku peluk.


"Kamu Jahat Rid...! kamu jahat....!" ujar Vina sambil tersendu membuat hatiku teriris, karena Seharusnya aku memberikan kebahagiaan buat istriku, bukan menyakitinya seperti ini.


"Maafkan aku...! Maafkan aku....! tolong kamu jangan berbicara seperti itu. hatiku sakit kalau kamu ngomong seperti itu, cukup Erni saja yang menyakiti hatiku, kamu jangan. tolong jangan sekali-kali kamu berkata kalau kamu mau melayani pria hidung belang." rancuku sambil terus memeluk Istriku yang masih berdiri di ambang pintu.


"Kalau kamu nggak mau istrimu digoda oleh orang lain, kalau kamu nggak mau istrimu bertemu dengan pria lain, kamu cukupi kebutuhannya, kamu bahagiakan istrimu...! kamu harusnya berpikir kita hidup butuh modal, butuh biaya, butuh uang. beruntung kita masih belum di karuniai anak, sehingga kita masih bisa bertahan dengan hidup seadanya."


"Aku harus bagaimana, Tolong kasih aku petunjuk...?"

__ADS_1


"Kamu hubungi Pak Dali, kamu tanyakan pekerjaan yang ditawarkan Apa masih berlaku atau tidak."


"Gak ada cara yang lain? agar aku tidak bekerja di perusahaan Arfan."


__ADS_2