Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 57 Vina Masuk Hotel?


__ADS_3

Pov Farid


Dengan bergegas dan mempercepat langkah, aku terus berjalan menuju ke anak tangga, untuk menyusul kedua orang yang aku curigai. hatiku terasa berdebar, jantungku terasa berdegup, membayangkan hal buruk yang akan menimpaku. karena aku sangat jelas melihat kedua orang itu memakai baju yang sama  dengan istri dan Bapak ketika mereka tadi Anda bekerja di toko sembako.


Sesampainya di tangga, aku menaikinya dengan sedikit berlari takut kehilangan jejak. hingga akhirnya sampai di koridor lantai 2. terlihat pintu kamar yang berjajar rapi, aku pindahin seluruh area itu untuk mencari kedua orang yang aku curigai. aku mengendap mengendap seperti detektif yang sedang meneliti, Indra pendengaranku Aku fokuskan untuk menguping orang-orang yang berada dalam kamar, Namun sayang aku tak mendengar apa apa, hanya suara bising kendaraan yang terdengar dari arah luar.


"Mau ngapain?" bentak seseorang yang memeragokiku,  membuatku sedikit belingsatan namun dengan cepat menenangkan diri agar tidak terlihat seperti maling, yang Ketangkap basah.


"Enggak...! Saya lagi mau bertemu dengan orang," jawabku membuang rasa gugup dengan mengulum senyum.


"Mau mencari orang, kok ngendap-ngendap seperti maling?" tanya cleaning service penuh curiga.


Tring! tring! tring!


Beruntung teleponku berbunyi, dengan cepat aku mengambil handphone-ku yang ada di dalam kantong, lalu melihat nomor kontak yang memanggil.


"Iya Bu!" Tanyaku sama orang yang menelpon.


"Pak Farid, ada di mana? Kok ke toiletnya lama, buruan sini ada masalah yang saya tidak mengerti!" tanya Ira dengan suara pelan mungkin takut terdengar kliennya.


"Maaf Bu! Maaf sebentar saya akan kembali." jawabku kemudian memutus panggilan.


"Maaf saya salah tempat, ternyata teman saya menunggu di restoran," jawabku sama cleaning service.


"Restoran kan ada di pintu masuk, kenapa sampai nyasar ke lantai dua?"


"Tadi janjiannya bertemu di kamar hotel, sekarang ternyata teman saya masih berada di bawah. ya sudah! Saya mohon pamit, terima kasih! maaf mengganggu!" ujarku tanpa menunggu jawaban aku kembali ke tangga, kemudian menuruninya lalu menghampiri Ira.


"Maaf Pak! Bu!" membuat kalian menunggu ujarku sambil manggut memberi hormat.


"Yang ini bagaimana Pak Farid? Coba tolong jelaskan rincian yang ini!" ujar Ira sambil menunjuk salah satu berkas konsep desain.


"Oh yang ini, jadi begini konsepnya kan konsep Greenhouse. jadi setiap atap gedung, kalau bapak setuju, perusahaan Mandiri Group akan membuatkan panel surya, untuk menunjang kebutuhan listrik, agar tidak terpaku dengan pembangkit listrik yang berbayar." jawabku menjelaskan Kemudian aku pun menerangkan konsep-konsep yang sudah direncanakan oleh para desain dan para arsitek kantor Mandiri Group.


Lama menjelaskan, akhirnya klien kita pun mengerti dengan konsep pembangunan yang ditawarkan oleh Mandiri grup. sehingga mereka pun menyetujui dan akan memakai Kejaksaan kita, walau Sebenarnya pikiranku masih terbagi dua antara pekerjaan dan rasa curiga namun Alhamdulillah Meeting itu sangat lancar.


Kira-kira pukul 12.00 siang, acara pembahasan pekerjaan pun selesai, Klien kita pun meminta izin untuk pulang dan akan berjanji untuk berdiskusi kembali, Kapan mulainya pekerjaan yang akan kita garap.

__ADS_1


"Alhamdulillah ya! akhirnya tugas kita selesai dan lancar tampak kendala," ujar Ira sambil mengulum senyum mungkin merasa bahagia dengan pencapaiannya.


"Iya tadi saya nggak kuat Pengen buang air kecil, padahal hari ini saya tidak banyak minum," jawabku sedikit berbohong.


"Kadang Masalah sepele, datang tidak tepat dengan waktu, sehingga mengganggu kinerja kita!" tanggap Ira yang tak sedikitpun menaruh kecurigaan.


"Terus sekarang bagaimana?"


"Kita makan dulu, nanti setelah makan baru kita pulang ke kantor," jawab Ira sambil mengangkat tangan memanggil waiter.


Orang yang dipanggil pun datang, kemudian manggut memberi hormat. "Ya ada apa Bu?" tanya waiter.


"Boleh minta menu makanan?" jawab Ira.


Waiter pun mengangguk kemudian memberikan daftar menu makanan yang ada di restoran, kita berdua pun memilih makanan yang akan menjadi makanan siang kita. setelah mencatat Semua pesanan aku dan Ira waiter pun kembali untuk menyiapkannya.


Aku yang masih penasaran dengan apa yang Tadi aku lihat, aku pun meminta izin kembali sama Ira, untuk ke toilet terlebih dahulu.


"Kok aneh...! katanya nggak banyak minum, tapi buang air kecil terus," tanggap Ira.


"Nggak tahu nih Bu! nggak apa-apa kan saya ke toilet sebentar," jawabku kembali bertanya walaupun dengan sedikit ragu-ragu, takut Irama mengetahui Niatku.


"Terima kasih Bu!" jawabku sambil bangkit kemudian menuju ke arah toilet, namun ketika Ira tidak memperhatikan. aku berbelok menuju resepsionis hotel, setelah sampai di hadapannya aku pun manggut memberi hormat.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis yang menghiasi birnya dengan senyum, layaknya pelayan pada umumnya.


"Saya mau ketemu Pak Gufron dan ibu Vina, di mana sekarang mereka berada, soalnya mereka meminta saya untuk bertemu di kamarnya." Tanyaku sedikit berbohong agar mudah mendapat keterangan.


"Oh begitu...! sebentar Saya cek dulu," jawab resepsionis itu kemudian dia mengambil buku tamu, lalu mengecek Siapa saja yang menginap di hotelnya.


Hatiku terasa berdebar, jantungku berdegup dengan kencang, membayangkan Bagaimana kalau prasangkaanku benar Vina tidur di hotel dengan Bapakku sendiri. alangkah hancurnya hati ini mungkin makan dulu tak tersisa.


"Masuk Hotel tanggal berapa ya, pak?" tanya resepsionis hotel sambil menatap ke arahku.


"Hari ini mbak!"


"Mohon maaf...! Tamu yang bernama Pak Gufron dan ibu Vina tidak menginap di hotel kami, Coba bapak telepon mungkin Bapak salah mendatangi Hotel. karena hotel di sekitaran sini sangat banyak!" Saran resepsionis Itu membuat hatiku terasa lega, karena prasangkaan burukku tidak terbukti.

__ADS_1


"Oh nggak ada ya...! sebentar saya telepon dulu," jawabku sambil mengambil handphone kemudian menjauh dari resepsionis hotel.


Setelah menjauh dan dirasa tidak akan ada yang menguping pembicaraan. aku menekan nomor Vina untuk memanggilnya.


"Iya ada apa sayang?" tanya Vina dari ujung telepon.


"Kamu lagi ngapain, Aku kangen...!" jawabku berbohong, agar istriku tidak curiga tentang prasangkaanku.


"Aku lagi makan nih..! Kamu sudah makan apa belum?" tanya Vina.


"Sebentar lagi aku makan, sekarang aku berada di restoran setelah bertemu dengan klien."


"Syukurlah kalau begitu, emang beneran nggak ada apa-apa? kok tumben-tumbenan kamu menelepon waktu kerja?" tanya Vina memastikan.


"Enggak...! Kamu makan di mana kok nggak berisik?" Tanyaku ingin mengetahui posisi istriku.


"Aku di ruko, Kebetulan lagi istirahat, jadi tidak banyak pelanggan yang datang."


"Oh seperti itu...! ya sudah nanti sore pulangnya jangan telat, katanya mau latihan nyetir.:


"Iya sayang...! kamu hati-hati bekerjanya ya!" ujar Vina kemudian telepon pun terputus.


Setelah telepon terputus, aku menghela nafas dalam kemudian menghembuskannya dengan pelan. Aku tidak mengerti dengan pikiranku Apakah ini adalah Karma waktu dulu, ketika aku menghianati Arfan. Sehingga rasa curiga terhadap istriku selalu menghantui.


Tidak mendapat jawaban dari segala keresahan, aku berjalan dengan perlahan menghampiri ke arah resepsionis hotel, karena tidak sopan setelah meminta tolong tidak mengucapkan terima kasih.


"Bagaimana Pak, apa Benar Hotelnya di sini?" tanya resepsionis yang menatap penasaran.


"Benar, namun mereka belum memesan kamar, sekarang mereka masih berada di restoran. terima kasih sudah membantu!" ujarku sambil manggut memberi hormat.


"Sama-sama, Pak!"


Akhirnya aku pun kembali ke restoran, dengan membawa perasaan yang campur aduk. Perasaan tidak percaya dengan apa yang aku alami. Apakah ini adalah hukuman bagi penghianat seperti.


"Ya Allah ampunilah dosa-dosa yang pernah hamba lakukan." Gumamku dalam hati.


Setelah sampai di restoran, terlihat di meja kita sudah teridang makanan yang tadi kita pesan, bahkan ira sudah mulai menyantapnya.

__ADS_1


"Ayo makan! Nggak enak kalau makanannya sudah dingin!"


"Baik bu, terima kasih!" jawabku sambil duduk kemudian kita pun terfokus dengan makanan masing-masing, melupakan prasangka buruk terhadap vina.


__ADS_2