
Pov Aisyah
Setelah selesai melaksanakan salat magrib, Aku pun mengambil kunci mobil. kemudian menyuruh Mbok Iyem untuk membukakan pintu gerbang.
"Nggak nunggu. Pak Andi sama Arman saja, Bu?" tanya Mbok iyem yang terlihat mengkhawatirkanku.
"Titip rumah, jangan khawatirkan saya. Biar anak saya cepat ketemu. nanti, kalau mereka berdua pulang, tolong suruh mengabari ke saya!" jawabku sambil masuk ke dalam mobil.
"Baik, bu!"
Dengan cepat aku menghidupkan mobil, segera keluar dari halaman rumahku. untuk mencari keberadaan Arfan. Menuju pos satpam komplek rumahku, untuk bertanya terlebih dahulu, sama satpam penjaga Komplek, yang tadi aku tugaskan, untuk mengecek semua CCTV yang ada di dalam komplek.
Beruntung ada rekaman CCTV yang menunjukkan Ke mana arah perginya Arfan. Tidak hilang seperti kasus-kasus pada umumnya. Setelah mendapat penjelasan dari satuan pengamanan kompleks. aku pun mengikuti petunjuk yang mereka berikan, menuju arah di mana Arfan Tak Terlihat Lagi oleh CCTV.
Aku terus mengemudikan mobilku menuju arah utara. menyusuri jalan dengan perlahan, melihat arah kanan kirinya. berharap ada Arfan yang sedang duduk menunggu, Atau sedang berjalan, atau sedang kebingungan mencari arah jalan pulang, atau apalah gitu. Yang penting itu adalah anakku.
Aku terus menyusuri jalan, sampai mobilku terhenti di tepi salah satu jembatan, yang begitu besar. Entah mengapa tiba-tiba aku ingin berhenti di situ.
Aku parkirkan mobilku di arah samping kiri, kemudian Aku keluar dari mobilku. Terlihat jembatan yang panjang itu, sangat-sangat dalam. sehingga aku tidak air di bawahnya tak terlihat sama sekali. membuat Siapa saja yang melihat ke bawah jembatan akan merinding, merasa ngeri. dengan jembatan yang begitu tinggi. aku pun berjalan mendekati kios kaki lima, untuk bertanya siapa tahu saja ada kejadian aneh hari ini.
"Maaf, Pak! Mau numpang tanya. Apa Bapak melihat ada seorang laki-laki kurus. Berkaos biru dengan memakai celana Jogger pants. Dia terlihat seperti orang yang kurang normal, tapi sebenarnya tidak seperti itu?" Tanyaku setelah berada di samping kios penjual minuman, kios berbentuk box segi empat yang sering ditemukan di trotoar trotoar kota.
"Maaf bu! saya baru saja gantian jaga, Jadi kurang tahu kejadian tadi siang. namun hari ini tak ada berita kejadian yang aneh." jawab bapak-bapak penjaga kios.
"Terima kasih! maaf mengganggu."
"Sama-sama, semoga orang yang Ibu cari, cepat ketemu." ujar bapak-bapak itu mendoakan.
"Amiiin!"
Aku pun pamit, kemudian mendekati kembali mobilku. namun sebelum masuk ke dalamnya. aku menatap kembali jembatan terlebih dahulu. rasa penasaran mulai menghampiri. akhirnya aku tidak jadi masuk ke dalam mobil, Aku berjalan menyusuri trotoar jembatan. terlihat di sebelahnya, masih ada jembatan yang sudah tak terpakai, mungkin itu jembatan yang lama.
__ADS_1
Sesampainya di tengah jembatan aku melihat ke bawah, namun aku tidak bisa melihat apa-apa. suasana yang begitu gelap. sehingga pandanganku terbatas. aku mulai menerka-nerka kejadian yang menimpa anakku.
"Nggak! nggak mungkin anakku melakukan hal bod0h seperti itu. ya Allah Tolong selamatkan anakku, di manapun dia berada sekarang." ucapku segera menepis prasangka buruk itu.
Aku terus memperhatikan jembatan yang ada di sampingnya, membagi perhatian dengan sungai yang tak nampak. Namun Entah mengapa, hatiku terpanggil untuk melihat jembatan yang berada di hadapanku dengan lebih dekat. perlahan Aku tinggalkan tengah-tengah jembatan. hiruk pikuk kendaraan yang menyeberang, tidak membuat hatiku terpanggil untuk memperhatikannya.
Aku terus berjalan kembali ke ujung jembatan, di mana mobilku terparkir. kemudian mencari jalan alternatif untuk menuju Jembatan yang satunya. Namun sebelum aku sampai ke jembatan, yang sudah tidak terpakai. tiba-tiba ada yang memegang pergelangan.
"Lepaskan! kalian jangan kurang ajar!" Bentakku sama orang itu.
"Bu! sadar Bu! Ibu gak boleh ke sana. Itu berbahaya Bu!" ucap orang yang memegang tanganku.
"Lepaskan! aku ingin melihat ke sana. Aku yakin anakku ada di sana." jawabku sambil mengibas-ngibaskan tangan, agar bisa terlepas dari genggaman orang yang memegang pergelangan tanganku. namun usahaku sia-sia, karena pegangan itu sangat kuat, apalagi sekarang ditambah satu orang lagi yang menghampiri. kemudian membantu orang yang memegang tanganku.
"Sudah Bu! kita bisa cari Pak Arfan di tempat lain. Ibu jangan nekat!"
"Andi, Arman. lepaskan! Saya bukan orang bodoh yang mau mengakhiri hidup, Hanya untuk menyelesaikan masalah." seruku setelah sadar bahwa orang yang memegang tanganku, adalah sopir dan satpam yang aku tugaskan untuk mencari keberadaan anakku.
Aku pun menatap ke arah mereka berdua, dengan Tatapan yang begitu tajam. Mendapat tatapan seperti itu, dengan cepat Mereka pun melepaskan pegangannya, seolah tahu dengan apa yang ku maksud. kemudian mereka berdiri sejajar sambil menatap heran ke arahku.
"Ibu, mau ngapain ke sana?" Ujar Pak Andi yang terlihat memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku mau mengecek, Siapa tahu saja Arfan ada di jembatan. karena tadi aku melihat dari jembatan yang itu, tidak jelas." ujarku menjelaskan. karena memang benar penerangan yang kurang, sehingga pandanganku terbatas.
"Biarkan! kita saja yang mengecek keberadaan Pak Arfan di sana. Ibu tunggu saja di sini." pinta Arman sambil mengajak Pak Andi, untuk berjalan menyusuri jembatan yang sudah tak terurus.
Akhirnya pak andi pun mengikuti arman, yang sudah berjalan terlebih dahulu menyisir jembatan yang aku maksud. Mereka terus berjalan, sambil memindai seluruh area jembatan, mencari keberadaan anakku. Terlihat mereka sudah sampai di tengah-tengah jembatan. merasa tidak puas mereka pun terus mencari sampai ke ujung sisi sebelahnya. setelah mengecek semua jembatan, dan tidak menemukan apa-apa, Mereka pun kembali menghampiriku. Yang sejak dari tadi menunggunya.
"Bagaimana?" aku bertanya dengan penasaran, setelah mereka berada di hadapanku.
"Maaf! kita tidak menemukan apa-apa, Bu." jawab Arman.
__ADS_1
"Arfan kamu di mana sekarang? Anaku." gumamku.
"Nggak tahu. Tadi saya sama Arman mencari sampai Kampung Sebelah. namun mereka tidak ada yang melihat orang, dengan ciri-ciri yang sama dengan Pak Arfan." jelas Pak Andi menceritakan pencariannya.
"Bagaimana kalau kita lapor, ke pihak yang berwajib saja. agar kita bisa cepat mencari keberadaan Pak Arfan." saran Arman memberikan ide.
"Boleh! itu saran yang bagus. meski Arfan menghilang, belum genap 24 jam. Namun kita tetap bisa melaporkan hal itu. karena menurut salah satu keterangan, kita boleh melaporkan orang hilang, walaupun belum genap 24 jam. tapi biasanya pihak yang berwajib akan menganjurkan kita mencari terlebih dahulu di area sekitar rumah dan keluarga." aku menjelaskan pengetahuanku .
"Ya sudah! ayo kita langsung ke kantor pihak yang berwajib. BU!" Ajak Arman dengan semangat.
"Nggak, kita harus ke rumah dulu. karena ketika kita mau melaporkan orang hilang. kita harus ada klarifikasi tentang siapa diri kita sebenarnya. aku mau mengambil kartu keluarga dulu, untuk menjadi barang bukti, bahwa Arfan adalah anakku." Tolakku. karena kita tidak bisa semerta-merta melaporkan orang hilang. kalau kita bukan orang yang memiliki hubungan dengan orang yang kita laporkan hilang itu. biasanya pihak yang berwajib, membutuhkan bukti untuk mengklarifikasi pelapor memiliki hubungan dengan orang yang menghilang. Salah satunya dengan kartu keluarga.
Setelah selesai bermusyawarah. akhirnya kami memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. pak Andi yang awalnya berangkat sama Arman, sekarang dia menjalankan kembali tugasnya, sebagai sopirku.
Sesampainya di rumah, aku pun menyiapkan berkas-berkas untuk melengkapi laporan Orang hilang. setelah semua syaratnya lengkap. Aku diantar oleh Pak Andi menuju kantor pihak yang berwajib, untuk melaporkan hilangnya Arfan dari rumah. sedangkan Arman kembali melanjutkan tugasnya, yaitu menjaga rumahku.
Setelah selesai membuat laporan di kantor pihak yang berwajib. aku ditemani oleh Pak Andi, terus mencari Arfan dengan mengendarai mobil.
"Kira-kira. harus dengan cara apalagi, agar kita bisa cepat menemukan keberadaan Arfan." Tanyaku memecahkan heningnya suasana antara sopir dan majikan.
Orang yang ditanya hanya terdiam, sambil terus memperhatikan area sekitar mobil. berharap salah satu dari orang-orang yang kita lihat adalah Arfan.
"Maaf Bu! Ibu kan salah satu pemilik perusahaan terbesar dikota ini. bagaimana kalau Ibu minta tolong sama semua staf dan karyawan ibu, untuk mencari Pak Arfan, walaupun mereka tidak mencari seperti yang kita lakukan. minimal ketika mereka tahu keberadaan Pak Arfan, mereka bisa dengan cepat menghubungi kita." Jawab Pak Andi setelah berpikir lama.
Sekarang giliran aku yang berpikir, menimbang baik dan buruknya saran yang diberikan oleh sopirku itu. "Tapi kalau aku memberitahu seluruh karyawan, dan meminta tolong kepada mereka untuk mencari anakku. nanti mereka akan tahu, bahwa Aku memiliki anak yang tidak waras. aku malu, Pak! Nanti orang-orang akan bilang, masa iya. seorang motivator tidak bisa memotivasi anaknya untuk bangkit." ujarku sambil menghela napas dalam. sambil menatap keluar arah jendela. merasa bingung dengan apa yang harus aku lakukan.
"Itu terserah ibu. kan, tadi saya hanya memberikan saran. Kalau begitu mari kita cari Pak Arfan sampai ketemu. dan kita doakan semoga saja Pak Arfan beliau sekarang baik-baik saja!" ujar Pak Andi.
"Pak! Pak! tolong berhenti!" pintaku sambil berteriak.
Dengan cepat Pak Andi pun menghentikan mobil yang Dia kemudian. setelah mobil terhenti, dengan cepat aku pun membuka pintu. Kemudian berlari menuju orang yang tadi mengagetkanku.
__ADS_1
"Arfan! Arfaaaaaaan! tungguuuuuu nak! Ini Ibu." panggilku berteriak kepada orang yang berjalan membelakangi, baju dan celana yang orang itu kenakan sama persis dengan yang Arfan gunakan ketika tadi pergi dari rumah.