Dua Penghianat

Dua Penghianat
Eps. 30 MULAI BERAKSI


__ADS_3

Pov Erni


"Ibuuuuuuu, tolong beritahu sekarang! di mana Arfan suamiku?" teriak ku sambil menatap ke arah wanita tua yang masih berdiri memandangiku.


Namun sayang beliau tidak menjawab, ibu malah langsung pergi, dengan mendengus sangat kesal, menuju area teras rumah.


"Arman! Andi! saya nggak mau lagi melihat wanita itu masuk ke rumah saya!" ujar wanita tua itu memberi perintah kepada dua bawahannya, kemudian dia menghilang ditelan pintu rumah.


Aku pun yang tidak puas dengan jawaban Mertuaku, hendak berjalan menyusulnya masuk ke dalam. namun langkahku terhenti, saat dua pria bod0h Menghadang laju perjalananku.


"Ibu Erni, sekarang Pulang saja ke rumah! Jangan buat kacau di sini!" Ucap Arman dengan suara pelan namun terdengar tegas.


Aku tidak menghiraukan perintahnya, Aku terus berusaha masuk menerobos kedua hadangan pria itu. Namun aku yang hanya seorang perempuan, tenagaku kalah jauh dibandingkan dua pria itu. akhirnya dengan berat hati aku pun menuruti permintaan mereka, masuk ke dalam mobilku. lalu pergi meninggalkan rumah Ibu dari suamiku.


Di perjalanan menuju hotel, di mana Aku menginap. Aku yang merasa pusing mencari keberadaan suamiku, akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi Farid. sebagai pria yang selalu mengertikanku.


"Yah ada apa sayang?" tanya Farid setelah teleponku terhubung.


"Kamu sudah baikan belum?" aku balik bertanya.


"Lumayan setelah dua hari beristirahat total, badanku mulai terasa enak kembali, nggak seperti kemarin yang rasanya sangat kaku." Ungkap Farid menjelaskan kondisi tubuhnya sekarang.


"Ya sudah! aku jemput." ucapku, tanpa menunggu jawabannya, aku segera mematikan telepon itu. kemudian mengarahkan kemudiku menuju rumah Farid.


Tak lama di perjalanan, akhirnya aku pun sampai di pintu gerbang rumahnya. aku melihat ke dalam pintu gerbang, terlihat farid Yang sudah menungguku di teras rumahnya.


Tin! tin! tin!


Aku tekan klakson beberapa kali, terlihat Farid yang sedang duduk, dengan segera ia menoleh ke arah datangnya suara. kemudian dia bangkit lalu berjalan untuk menghampiriku.


Krrrekkkk!


Pintu gerbang rumahnya pun didorong, suaranya begitu khas menandakan pintu itu sudah Lapuk dimakan usia. aku yang sudah dari tadi menunggu, dengan cepat aku menurunkan kaca mobil, lalu menyumbulkan kepala, sambil memberikan senyum termanisku. walaupun aku tidak yakin dia akan melihatnya, karena suasana yang udah gelap, dan penerangan yang tidak memadai di depan rumahnya.


"Dari mana saja?" tanya Farid yang mendekati setelah menutup kembali pintu gerbang rumahnya.


"Masuk!" seruku mengacuhkan pertanyaannya.


Farid pun hanya mengangguk, kemudian Ia berjalan menuju arah pintu samping kiri mobilku, tanpa sedikitpun menunjukkan penolakan darinya.

__ADS_1


"Ada apa, sih? Kayanya serius banget!" Tanya Farid sambil menatap heran, setelah ia duduk di sampingku.


"Ngobrolnya nanti aja, ya! Sambil temenin aku makan, Soalnya dari tadi aku belum sempat makan."


"Emang kamu dari mana saja? Kok, jam 09.00 malam kamu belum sempat makan, kamu itu nggak boleh seperti itu. kamu harus Jaga kesehatanmu, aku nggak mau, kamu nanti apa-apa!" cemas Farid yang selalu memperhatikanku, sama seperti yang selalu dilakukan oleh suamiku, mereka berdua selalu khawatir ketika aku menunda-nunda makan.


"Lebay banget, sih! ini juga kan mau makan." jawabku sambil mengkerlingkan mata ke arahnya, diikuti dengan senyum yang menghiasi bibir. Merasa bahagia karena selalu diperlakukan istimewa seperti ini.


"Mau makan di mana?" tanya Farid setelah mobilku melaju meninggalkan rumahnya.


"Di hotel tempat aku menginap saja! biar nanti setelah makan, kita bisa langsung beristirahat." saranku sambil terus memperhatikan arah depan, agar mobilku tidak menabrak, atau bersenggolan dengan mobil lain.


"Emang kamu, nggak tinggal di rumah kamu?" tanya Farid


"Kan, belum selesai Rid, tapi kemarin aku sudah menyuruh mandor proyek, untuk melanjutkan pekerjaannya."


"Syukurlah! kalau begitu, nanti kamu di sana, nggak boleh sendirian, harus ada penjaga! aku takut nanti ada orangĀ  jahat." ujar Farid terlihat raut wajahnya yang samar menunjukkan kekhawatiran.


"Iya, terima kasih! atas sarannya!"


"Oh iya! emang Di kantor ada banyak pekerjaan, sehingga kamu jam segini baru pulang?" tanya Farid mengalihkan pembicaraan.


"Terus kamu ke mana? Kok, jam segini masih belum makan?"


"Aku tadi mencari si Arfan, suamiku. menurut si Rini teman kantor kita. dia dirawat di rumah sakit, yang sama dengan rumah sakit yang kemarin kamu dirawat." aku menjelaskan tanpa ada sedikitpun yang aku tutupi.


"Mau ngapain cari si Arfan, sudah jelas-jelas dia mengusirmu, Apa kamu tidak malu mengemis seperti itu?" Tanya Farid yang terlihat tidak suka, ketika aku masih mencari keberadaan suamiku.


"Ya aku, mengikuti saran kamu Rid, kemarin kan, kamu bilang. aku harus ngobrol terlebih dahulu, sama suamiku. Siapa tahu saja dia mau membagi cintaku, dengan sahabatnya." aku mengingatkan perkataannya ketika dia berada di rumah sakit.


"tapi nggak usah seperti itulah, Biarkan saja, nanti juga kalau dia mau pasti akan menghubungi kamu lagi!" ujar Farid.


"Ya tetep Rid, harus ada kejelasan. Apalagi kita akan menikah."


"Kalau kamu nggak mau mengikuti saranku, aku bisa apa, aku orang yang paling tidak berguna." Ujar Farid yang terlihat tak mau menerima keputusanku.


"Kamu cemburu, ya?" ujarku meledeknya.


"Enggak, ngapain Aku cemburu. Aku nggak suka aja, kamu mendekati orang yang sudah berbuat jahat kepadamu. sampai-sampai dia berani mengusir Kamu, dari rumahnya." alasan Farid.

__ADS_1


"Kamu Jangan cemburu! dari dulu hati dan cintaku, hanya tetap untuk kamu, dan perasaan itu tak akan berubah, meski banyak orang yang mendekati. Bahkan setelah aku menikah aku tetap mencintaimu."


Farid pun tak menjawab, Dia hanya menarik nafas dalam. lalu menghembuskannya dengan pelan, kemudian pandangannya terfokus ke arah depan mobil.


"Jangan marah, aku sayang sama kamu!" ucapku mempertegas bahwa dia adalah satu-satunya orang yang membuatku merelakan kebahagiaan Rumah tanggaku. Aku pegang tangannya, agar dia lebih percaya, bahwa yang aku sampaikan adalah itu perasaanku yang terdalam.


"Enggak kok! Aku enggak marah!" ucapnya sambil kembali mengeluarkan Senyum manisnya. kemudian kita pun mengobrol berbagai hal, dan rencana-rencana yang begitu indah yang tak dapat dilukiskan oleh tulisan.


Sesampainya di restoran hotel, tempat aku menginap. dengan cepat aku pun memesan makanan, untuk mengisi perutku yang sudah mulai keroncongan. Setelah selesai makan kita berdua masih duduk menunggu nasi turun.


"Oh iya! si Arfan Emang sakit apa?" tanya Farid yang terlihat sudah tak ngambek lagi, dia kembali membahas obrolan ketika kita menuju hotel.


"Kurang tahu Rid, makanya aku nyari tahu sampai ke rumah ibunya."


"Terus?"


"Ya aku nggak dapat apa-apa! hanya usiran dari Mertuaku dan ancaman. aku jangan sampai kembali ke rumahnya." aku sedikit menceritakan tentang kejadian yang baru saja aku alami.


"Tega banget! ibu mertuamu."


"Emang dari dulu seperti itu, dia selalu nggak suka terhadap menantunya. padahal aku sudah berusaha baik di hadapannya, sampai harus pura-pura menjadi pembantu. namun hatinya yang keras bagai batu, tak pernah melihat sedikit pun kebaikan yang keluar dariku." curhatku sambil menundukkan pandangan, Menunjukkan Sisi terlemahku.


"Sudah! kamu nggak usah sedih seperti itu, nanti kalau kamu menikah denganku. Kamu tidak akan aku biarkan merasa sedih seperti itu. Aku janji!" ungkap Farid sambil mengambil tanganku, yang tergeletak di atas meja. kemudian dia menggenggam tanganku dengan erat, memberikan kekuatan agar aku bisa kuat menghadapi semua cobaan.


"Terima kasih ya, Rid. kamu memang pria terbaik, yang pernah aku temui." ungkapku.


Setelah selesai makan malam. Farid pun membayar makanan yang baru saja kita makan. kemudian kita berdua menuju kamar hotel, untuk beristirahat, mengumpulkan tenaga sebelum memulai hari esok yang sangat berat.


"berkas yang aku minta, kamu sudah siapkan?" tanya Farid setelah berada di kamar hotel.


"Belum lah, Rid! aku kan baru sampai ke sini. jadi mana mungkin sempat untuk menyiapkan apa yang kamu minta."


"Ya sudah! mana berkas-berkas kamu, nanti aku yang cari. sekarang kamu bersihkan saja dulu tubuhmu, aku yakin kamu nggak betah kan?" seru Farid.


Mendapat permintaannya, aku mengambil koperku di mana barang-barang berhargaku disimpan di sana.


Beruntung kemarin ketika barang-barangku hendak dikeluarkan, Aku Masih sempat menyelamatkan barang-barang berharga. kadang aku merasa heran dengan pemikiran suamiku, yang tak merasa takut bila barang-barang istrinya hilang. dia seenaknya mengusirku tanpa memberitahukan terlebih dahulu.


Setelah aku membuka koperku, kemudian aku mengambil berkas-berkas penting, yang berhubungan dengan kepemilikan perusahaan. sesuai yang diminta oleh Farid. setelah aku memberikannya, aku pun dengan segera menuju kamar mandi, untuk membersihkan tubuhku, dari keringat dan debu-debu jalanan yang menempel.

__ADS_1


__ADS_2