
Pov Arfan
Aku pun dibonceng oleh Pak Arif, menuju rumah terbesar yang ada di Priya Semanan. setelah berada di depan pintu gerbang yang sangat besar Pak Arif pun menghentikan motornya. kemudian memanggil Arman yang sedang berjaga.
Setelah menjelaskan kedatanganku, Arman pun dengan cepat membuka pintu. Kemudian dia berlari masuk ke dalam tanpa mempedulikan kita lagi.
"Kenapa?" aku bertanya sama Pak Arif setelah melihat kelakuan aneh Arman.
"Nggak tahu, Pak. Ya sudah! saya pamit dulu, nanti kalau ada apa-apa! bapak bisa menghubungi saya." ujar Pak Arif sambil tersenyum, kemudian ia meng-kick starter motornya, pergi meninggalkan rumah Ibu.
Setelah Pak Arif pergi, Aku berjalan memasuki pintu gerbang yang sudah terbuka. namun aku tak melihat keberadaan Arman, entah tadi dia berlari ke mana. aku terus berjalan mendekati teras, terdengar suara riuh di dalam rumah.
"Kamu jangan bohongin saya, Man! Saya sudah sakit." terdengar suara ibu yang tidak percaya.
"Serius, bu! saya tidak bohong." jelas Arman
Dengan perlahan aku pun mulai masuk ke pintu rumah, memasuki ruang tamu yang nampak sepi.
"Awas saja kalau kamu bohong! Pekerjaan kamu dipertaruhkan. Ya sudah, sekarang di mana anakku." ancam ibu.
"Ayo kita lihat!" ajak Arman.
Aku pun mendekati dinding pembatas antara ruang tamu, dan ruang Tengah. ketika hendak melewati pintu itu, terlihat ibu yang digandeng oleh Mbok Yem, berjalan menuju ke arahku.
"Ibuuuuuuuuuuuuu!" panggilku sambil mempercepat langkah kaki, kemudian aku jatuhkan tubuhku, bersimpuh di kaki wanita yang selalu aku repotkan, yang selalu aku bebani. wanita yang selalu mengurusku, tanpa mengeluh sedikitpun, Meski aku ada dalam keadaan rapuh, serapuh rapuhnya.
Melihat anaknya bersimpuh di kakinya, Ibu juga dengan cepat mendongkokan tubuhnya, untuk membangunkan tubuhku, Kemudian beliau memelukku begitu erat, seperti orang yang sudah berpisah sekian lama.
"Maafkan aku, ibu!" ucapku yang terbata tertahan oleh rasa bersalah yang memenuhi Dadaku.
"Ibu yang harusnya minta maaf, Ibu yang nggak sabar mengurus kamu yang sedang terpuruk. sehingga kamu pergi dari rumah, maafin Ibu! kalau Ibu tidak bisa menjadi orang tua Terbaik Bagimu, maafkan Ibu!" ujar suara Ibu, diakhiri dengan pecah tangis memenuhi ruangan.
Aku yang semakin merasa bersalah, Aku mempererat pelukanku. Aku merasa bodoh karena selama ini telah menyia-nyiakan kebaikan Ibu, harusnya aku sudah bisa menjadi kebanggaan dan kebahagiaannya, bukan masih menjadi beban.
"Kamu jangan pergi lagi dari rumah, jangan tinggalkan ibu. kamu nggak apa-apa mau terpuruk seperti apa, mau mengurung diri di kamar tidak apa-apa. yang terpenting kamu tetap tinggal di sini, Ibu sedih kalau harus tinggal sendirian. Ibu sudah tidak punya siapa-siapa lagi, yang bisa menemani Ibu." ucap ibu di sela tangisnya.
"Enggak Bu, Arfan nggak akan tinggalin Ibu lagi. Arfan minta maaf atas semua kebodohan Arfan!"
Setelah selesai melepas rindu, kita pun melepaskan pelukan. kemudian ibu menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. mengecek keadaan anaknya, setelah 4 hari tidak pulang ke rumah.
__ADS_1
"Kamu sudah berubah, fan?" Tanya ibu
"Alhamdulillah! aku sudah sedikit berubah, doakan saja agar aku bisa berubah seutuhnya!"
Ibu Pun memelukku kembali, dengan erat seolah tidak mau dilepaskan. "Alhamdulillah! kalau seperti itu, Ibu doakan kamu menjadi orang yang lebih kuat, dalam setiap menghadapi masalah!" Doa ibu sembari melepaskan pelukannya kembali.
"Amiiiiiiin!" jawab orang orang yang ada di situ dengan serentak.
"Mbok! Tolong siapkan makanan! anak saya sudah pulang, mbok!" seru ibu sama Mbok Yem, asisten rumah tangga di rumah ibu.
"SUdah Bu! semuanya sudah siap di meja makan. Maaf Bu! Ibu juga belum makan" jawab Mbok Yem mengingatkan majikannya.
"Ya sudah! ayo kita makan dulu, kamu kelihatan kurus sekarang! walaupun sudah bersih." ujar Ibu sambil bangkit.
Aku merangkak mengambil tongkatku, yang tadi aku lemparkan, kemudian bangkit mengikuti ibu.
"Kamu kenapa kok pakai tongkat?" tanya ibu yang baru sadar dengan keadaanku.
"Nggak apa-apa! bu. Arfan cuma luka ringan saja. kalau Arfan ceritakan, ceritanya sangat panjang."
"Ya sudah! ayo kita makan dulu, setelah makan, nanti Ibu Panggil dokter ke rumah! biar mengecek luka kamu." ujar Ibu sambil menggandeng lenganku, membantu berjalan menuju dapur.
"Nggak usah, Bu! Arfan bisa sendiri." Tolakku dengan halus.
Sesampainya di dapur, terlihat meja makan yang sudah penuh dengan berbagai lauk makan, dan begitu beragam. Mbok Yem dengan cepat menyiapkan piring, yang ditata rapi di atasnya.
"Ayo kita makan dulu Mbok! Arman! Ayo kalian Sekalian makan bareng! itung-itung syukuran, karena anakku sudah pulang." ujar ibu mengajak kedua asisten rumahnya, karena sudah menjadi kebiasaan Ibu, beliau selalu mengajak semua asisten rumahnya untuk makan bersama. namun mereka selalu menolak, mungkin karena rasa hormat yang begitu besar terhadap orang tuaku. Sehingga mereka malu dan tidak berani berbuat tidak sopan.
"Nggak Bu! tadi saya sudah makan sama Pak Andi, kalau begitu saya kembali lagi ke depan." ucap Arman sambil manggut, kemudian dia membalikan tubuh meninggalkan ruang dapur.
"Mbok?"
"Saya Juga sudah, Bu! maaf kalau saya lancang duluan makan." jawab Mbok Iyem sambil menundukkan pandangan.
"Ya sudah! nggak apa-apa. kalau begitu bagus, kalau kalian bisa merawat diri kalian masing-masing. cuma kita berdua saja yang makan." Ujar Ibu sambil kembali mengarahkan tatapannya ke arahku.
"Gapapa! Bu."
Ibu Pun mengambil piring yang ada di hadapanku, kemudian dia mengisinya dengan nasi, ditambah lauk yang begitu beragam. akhirnya kita berdua pun makan dengan khidmat, namun yang membuatku kurang menikmati makanan itu, ketika aku mengingat ketika aku makan di rumah Pak Umar, meski dengan lauk seadanya. tapi Makanan itu sangat nikmat, membuatku merasa kangen dengan kebersamaan di rumah pinggir sungai itu.
__ADS_1
"Kamu dari mana saja selama ini? Ibu sudah mencari kemana-mana, bahkan Ibu sudah melaporkan kehilangan ke kantor pihak yang berwajib." tanya ibu setelah mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
"Nanti setelah makan Arfan akan ceritakan semuanya Bu! Nggak baik kalau ketika sedang makan kita mengobrol." jawabku menjelaskan, sambil memberi pengertian tentang tata cara makan yang baik.
"Wah, mantap! anak Ibu sudah semakin dewasa, baru 4 hari saja keluar rumah, sudah seperti ini?" ujar ibu, yang terlihat raut wajahnya menunjukkan kekaguman.
Aku hanya tersenyum, kemudian melanjutkan kembali makan. setelah selesai makan, terdengar suara Adzan asar yang berkumandang, dengan cepat aku pun bangkit dari tempat dudukku.
"Mau ke mana?" tanya ibu yang merasa heran.
"Udah adzan Bu! waktunya kita menyembah Tuhan kita."
"Alhamdulillah! Ya sudah, ayo kita salat berjamaah bareng! rasanya Ibu pengen sekali diimami oleh anak kebanggaan ibu." ucap Ibu sambil bangkit kemudian menggandengku untuk berjalan menuju ke kamarnya.
Setelah selesai mengambil air wudhu, dan mengganti pakaian aku dengan yang baru. ibu dan anak pun melakukan salat asar berjamaah, diakhiri dengan doa bersama dan rasa syukur, karena kita sudah bisa berkumpul kembali.
Selesai melaksanakan salat, Ibu mengajakku duduk di kursi sofa, yang ada di kamarnya. kursi yang suka dijadikan tempat, untuk beliau membaca Alquran.
"Kamu pulang dari mana? Kenapa pergi meninggalkan ibu?" tanya wanita yang melahirkanku setelah kita berdua duduk di atas sofa.
Aku pun mulai bercerita dari awal sejak aku berniat mengakhiri hidup. karena sudah tidak sanggup menjalani kehidupan yang sangat hancur, dan hanya bisa merepotkan orang lain. sampai akhirnya aku diselamatkan oleh seorang wanita aneh yang bernama Karla dan keluarganya, bahkan warga kampungnya. Ibu pun turut menyimak semua ceritaku, sampai akhir. dia memperhatikan setiap kalimat yang aku ucapkan, agar beliau tidak salah mendengar atau salah menafsirkan.
"Sekarang mereka ada di mana? Biar ibu datangi mereka. biar ibu kasih hadiah, karena udah menyelamatkanmu."
"Nah justru itu, Arfan pulang ke rumah, karena mereka sedang ditimpa musibah yang begitu berat." jelas ku yang mulai membahas inti, kenapa aku pulang kembali ke rumah ibu.
"Musibah apa? jadi kalau mereka tidak dapat musibah, kamu nggak akan pulang ke rumah?" tanya ibu.
"Bukan begitu, Bu! Arfan ingin menjadi lebih baik terlebih dahulu. Arfan tidak mau merepotkan Ibu kembali, seperti yang ibu bilang. sekarang Arfan yang harus melindungi Ibu, bukan membebani ibu." jelasku.
"Iya! iya! Ibu yakin kamu sudah kembali menjadi anak yang lebih kuat dan lebih dewasa dalam menyikapi segala cobaan. sekarang Tolong kamu ceritakan musibah apa yang menimpa mereka?" ujar ibu.
"Wanita aneh itu, mau diperk0sa Bu! namun mereka tidak berani membuat laporan, karena takut dengan kekuatan orang yang mau memperk0sanya."
"Bentar! bentar! dari tadi ibu perhatiin, kamu menyebut anaknya Pak Umar, dengan wanita aneh. apa jangan-jangan! anak Ibu sudah menemukan pengganti penghianat itu?" ucap ibu yang lebih tertarik aku memanggil Karla dengan sebutan wanita aneh, daripada musibah yang menimpanya.
"Nggak! bukan begitu. Jadi gimana Ibu bisa membantu?" ucapku mengulang pertanyaan, agar ibu tidak keterusan membahas tentang anaknya Pak Umar.
"Kalau suka juga nggak apa-apa! Ibu yakin wanita itu orang baik, karena bisa merubahmu menjadi seperti sekarang."
__ADS_1
"Ibuuuuuuuuuuu!"
"Iya! iya! Ibu harus membantu apa, untuk membalas kebaikan mereka." jelas ibu yang menahan senyum.