
Pov Arfan
Setelah sampai di parkiran, dengan cepat aku masuk ke dalam mobilku yang dulu, karena Sampai sekarang aku belum bisa membeli mobil baru. soalnya semua uangku dihabiskan untuk membangun kerajaan bisnis baru. sesudah berada di dalam mobil, aku mulai menyalakan mobil itu kemudian menginjak gas melepaskan kopling. mobil itu melaju pergi meninggalkan kantor Perusahaan yang aku beri nama Mandiri Group.
Mobil Avanza hitam Terus melaju di jalanan, yang penuh sesak dengan kendaraan kendaraan yang berlalu Lalang. beberapa kali mobilku terhenti ketika ada lampu merah atau ada kemacetan. dengan penuh kesabaran akhirnya mobil yang kukendarai tiba di halaman parkir Atri Group. aku menunggu beberapa saat, hingga orang yang aku cari terlihat keluar dari arah kantor. dengan cepat aku membuka pintu, setelah Karla berada tepat di hadapan mobilku.
"Astagfirullah!" ujar Karla yang hendak memukulku, Namun aku yang sudah paham dengan cepat menahan tangannya.
"Kebiasaan! untung aku sudah hafal." ujarku sambil menghempaskan tangan Karla.
"Lagian lu ngagetin aja! mau ngapain sih?" tanya Karla matanya yang membulat sempurna memenuhi wajahku.
"Emang kamu lupa?"
"Lupa apa? lu jangan sembarangan ya! Gua kan belum pikun, belum demensia." Jawabnya seperti biasa tidak nyambung.
"Perasaan tadi aku sudah bilang, kalau kita sekarang mau makan, sambil jalan-jalan."
"Yey! siapa yang mau, gua belum menyanggupi kok!"
"Ah, banyak ngomong kamu!" Ujarku sambil menarik kasar tangannya, lalu membawa ke samping mobil. setelah pintunya terbuka aku paksa Karla untuk masuk ke dalam.
"Kasar banget sih!" gerutu Karla sambil terus melawan. namun Entah mengapa tenaganya sekarang sangat lemah, Mungkin dia juga sebenarnya mau, namun dia malu dan tidak pandai untuk mengekspresikannya.
"Udah jangan banyak protes! kali ini aja kamu nurut sama aku!" Ujarku sambil menatap wajahnya dari dekat, kemudian memasangkan seat belt agar dia tidak kabur.
Setelah dirasa karla tidak akan kabur, aku menutup kembali pintu mobilnya. kemudian berlari ke arah samping kanan. Dengan cepat membuka pintu lalu duduk di sampingnya.
"Antar gua pulang! kan gua harus ngajar ngaji." pinta karla sambil menatap ke arahku dengan wajah kesal.
"Bukannya hari ini anak-anak sedang libur?" Tanyaku membalas tatapannya, sehingga kedua mata kami saling beradu pandang, membuat desiran aneh mengalir di tubuh. aku memalingkan pandangan menghilangkan kekakuanku.
"Nggak! bentar lagi Aku mau mengabari mereka, agar malam ini ngaji." jawab karla yang sama memalingkan pandangan. matanya fokus ke arah depan.
"Temenin Aku makan!" pintaku
"Makan, makan sendiri aja sih! Elu bukan anak bocah kan, yang Makannya harus ditemenin."
__ADS_1
Merasa berdebat dengannya tidak akan selesai dan tidak akan menang. dengan segera aku menyalakan mobil lalu meninggalkan parkiran atri grup pergi ke salah satu Mall yang terdekat. agar nanti ketika dia pulang dia tidak kemalaman, dan tidak mengganggu aktivitasnya.
"Bisa nggak sih nggak maksa!" tanya Karla yang sejak dari tadi terdiam, dia mulai mengoceh kembali. mungkin mulutnya akan terasa gatal, kalau nggak melakukan hal seperti itu.
"Bisa nggak sih kamu nggak ngomel melulu." jawabku yang mengulum senyum melirik sebentar ke arahnya.
"Susah kalau ngomong sama kamu!"
"Ya sudah nggak usah ngomong! kamu nikmatin aja perjalanannya! jangan banyak berbicara." mataku terus terfokus menatap ke arah jalan, yang mulai padat oleh kendaraan. karena sore hari waktunya orang-orang pulang bekerja, sehingga membuat kepadatan di jalan raya. sesekali aku mengintip karla dari sudut mataku.
Tak terasa lamanya di perjalanan, akhirnya kita sampai di salah satu parkiran mall. dengan cepat aku pun membuka pintu hendak membukukan pintunya, agar terlihat romantis seperti pasangan-pasangan yang lainnya. namun bukan karla namanya, kalau dia tidak usil. aku yang membukakan Pintunya, dia malah bergeser ke kursi samping, kemudian keluar dari arah sana.
"Kenapa Mas, tertipu ya?" tanyanya sambil mengulum senyum penuh kemenangan.
"Nggak ada romantis romantisnya sih!"
"Romantis buat apa? ingat ya, aku nggak akan mau sama laki-laki yang tidak mempunyai prinsip, laki-laki yang tak kuat menahan cobaan." ingatnya sambil berlalu pergi meninggalkanku yang menganga. merasa tidak percaya dengan apa yang kudengar.
"Karlaaaaa! tunggu!" panggilku sambil menutup pintu Kemudian mengejarnya. Kejadian seperti ini mengingatkanku ke waktu-waktu dulu, ketika aku masih bekerja di perusahaan Ibu menjadi kalender service. di mana setiap pagi Aku selalu mengejar langkah kakinya yang sangat cepat.
"Temenin aku makan! kali ini aja." pintaku memohon, meski sudah beberapa kali aku menjawab namun seolah dia lupa dengan apa yang aku jelaskan.
"Oke!" jawabnya sambil terus berjalan.
Kita berdua terus melangkah masuk ke dalam mall menuju salah satu foodcourt. namun langkahku terhenti seketika, setelah melihat ada wanita yang tidak asing di hadapanku.
"Mau ngapain kamu ke sini?" tanya Erni yang menggenggam tangan Farid. entah Mimpi apa semalam, sehingga aku bisa bertemu kembali dengannya.
"Kamu ngapain berhenti, nggak mampu bayar yah, makanan di sini?" tanya Karla yang baru sadar bahwa aku tidak ada di sampingnya. dia pun kembali hendak menarik tanganku, namun dia melihat Ke mana arah tatapanmu.
"Oh ada Bu Erni!" ujar Karla sambil menguluarkan tangan hendak mengajak Erni bersalaman. Tak sedikitpun terlihat takut Walaupun dia sudah diancam.
"Kamu masih betah berhubungan dengan wanita Kampung ini? Kirain selepas bercerai denganku kamu akan menemukan wanita yang lebih berkelas!" ledekErni dengan nada sinis, Sambil menepis tangan karla.
"Mendingan dengan wanita kampung, daripada dengan pria sampah, yang kehidupannya jadi benalu." jawabku yang sudah tak tahan mendengar hinaannya.
"Sehat Fan!" Tanya Farid yang sejak dari tadi terdiam, dia tak menunjukkan sedikitpun raut wajah marah, walaupun dikatakan sampah.
__ADS_1
"Nggak usah sok lembut lu. karena lu bukan cewek yang pandai bersandiwara, lu hanya b4nci yang merebut kebahagiaan sahabat sendiri." Cibirku.
"Maafkan gua Fan!" Ujar Farid yang mengulurkan tangan namun dengan segera aku tepis tangan itu, karena tidak ada maaf untuk seorang penghianat.
"Ngapain kamu minta maaf sayang! kamu nggak salah. karena semenjak aku menikah denganmu, aku sangat bahagia sekali! aku menyesal kenapa nggak menikah dari dulu denganmu." sanggah Erni sambil mempererat genggaman tangannya, tak sampai di situ dia menyandarkan kepalanya ke lengan Farid. memamerkan kemesraan yang tak sedikitpun membuatku cemburu, aku hanya menatap jijik dengan dua orang yang ada di hadapanku.
"Ayo pergi! biarkan Arfan menikmati kehidupannya, kita nggak usah mengganggu dia lagi. Cukup dulu kita menyakitinya." ajak Farid namun Erni menahannya.
"Kita nggak mengganggu kok! kita hanya memberikan motivasi agar dia sadar, kalau menceraikanku itu adalah kesalahan yang terbesar di dalam hidupnya. dan siapa tahu saja dia mau kembali untuk menjadi pembantu rumah tangga kita." ujar Erni yang semakin menjadi.
karla yang memperhatikan dengan cepat dia menarik tanganku, mungkin dia merasa kasihan ketika aku di pojokan seperti itu.
"Cocok! pecundang memang cocok sama wanita jal4ng!"
Mendengar perkataan Erni seperti itu, amarahku yang sudah tak tertahan akhirnya meledak juga, dengan cepat aku angkat tanganku hendak menamparnya. namun Farid menahan tanganku, lalu memelukku dengan begitu erat. "sudah Fan! sudah jangan meladeni Erni, kamu silakan pergi." ujar Farid yang tak membela siapapun.
"Biarkan saja dia menampar kita, mungkin dia ingin tahu seberapa kaya kita sekarang." tantang Erni yang menarik tubuh Farid agar bergeser.
"Jaga ucapanmu per3k! yang jal4ng itu siapa, dasar wanita nggak tahu malu!"
"Emang aku harus malu kenapa. hidupku kaya, suamiku gagah, partner partnerku orang berkelas. nggak kayak kamu yang berteman dengan pemulung sampah, yang paling agak bagus hanya seorang cleaning service. Atau asisten yang sufah memilih jadi tukang mie ayam." jawab Erni sambil mengangkat sudut bibirnya menunjukkan penghinaan.
"Udahlah sayang! ayo pulang." ajak Farid sambil menarik tangan.
"Diam! jangan tarik-tarik gua." bentak Erni sambil menatap tajam ke arah suaminya, membuat Farid terdiam seketika seolah melihat kengerian yang ada di istrinya, sehingga dia tak mampu melakukan apapun.
"Oh ya satu lagi mantan suamiku yang terhina! kamu jangan berharap mendapat tender dari perusahaan Pak Bagas. karena kelasmu saja sudah berbeda dengan kelasku. mendingan sekarang kamu angkat bendera putih. daripada nanti kamu malu kalah sama istri yang kau tinggalkan." Ujar Erni membuatku mengiringitkan dahi, tidak menyangka dia sampai sedetail itu mengetahui kehidupanku sekarang.
"Hahaha! kelas yang didapat dari pemberian saja sudah bangga. kita buktikan siapa yang akan malu." tantangku.
"Pemberian siapa? gua dapat semua itu dari perjuangan gua sendiri. yang mampu menaklukan lu sampai bertekuk lutut di bawah kakiku, sehingga dengan sadar menyerahkan seluruh aset hartamu. lu hanya pria bod0h yang tak mengerti dengan keadaan, sekarang Nikmatilah kebod0hanmu bersama wanita jalan9 itu." jawab Erni yang terdengar kasar. tak menunggu jawabanku dia pun langsung menarik tangan suaminya, pergi meninggalkan food court. Membuatku tak paham dan tak mengerti dengan sikap Erni.
"Sudah mau ke mana?" tahan karla yang memegang tanganku ketika hendak mengejarnya.
"Aku gak terima kalau kamu dihina seperti itu. kalau dia menghinaku masih bisa aku terima, tapi kalau hinaan itu ditujukan kepadamu, Akulah orang yang pertama yang akan mempertaruhkannya."
"So sweet! so sweet!" Ujar Karla sambil bertepuk tangan di depan wajahku, wajahnya yang menunjukkan senyum sinis. "Namun sayang perkataanmu telat Mas! orangnya sudah pergi. kalau berani kenapa nggak dari tadi saja." Jawab Karla dengan merubah kembali mimik wajahnya ke wajah datar. Tak sedikitpun dia tersanjung dengan apa yang kuucapkan.
__ADS_1