
Pov Arfan
Melihat taksi itu pergi berlalu dengan menorehkan luka yang begitu dalam. apa memang beginilah, menjadi orang miskin. mau naik taksi saja harus ditanya punya uang apa tidak untuk membayarnya.
Aku terus berdiri di tengah teriknya matahari, sambil berpikir apa aku harus kembali ke rumah pak Umar, yang sedang mendapat cobaan. apa aku, melanjutkan perjuanganku untuk membantu karla supaya mendapat keadilan. kalau pulang aku belum terbiasa jalan kaki, apalagi harus menempuh jarak yang sangat jauh, ditambah dengan kondisiku yang belum memungkinkan, untuk melakukan hal itu.
Lama terdiam, akhirnya aku mengambil keputusan terberatku, aku harus tetap pulang. walaupun kondisiku tidak memungkinkan. aku tidak boleh menyerah sebelum bertarung. aku harus berubah, aku harus bangkit, aku tidak boleh menyerah dengan keadaan. karena ini mungkin adalah hukuman dari dosa-dosa yang pernah aku lakukan.
Dengan perlahan, aku pun mulai melangkahkan kaki menyusuri trotoar, di tengah terik matahari. keringat mulai bercucuran membasahi tubuh, sehingga kaos yang aku kenakan nampak basah. Namun aku tidak mengeluh, aku terus berjalan menuju ke arah selatan.
"Pak! Tunggu sebentar Pak!" teriak seseorang ketika aku melewati salah satu rumah makan.
Aku pun menghentikan langkahku, kemudian menoleh ke arah datangnya suara, terlihat ada seorang gadis yang diikuti oleh kameraman mendekatiku.
"Bapak tunggu sebentar!" ujarnya sambil tersenyum ramah.
"Iya ada apa?" aku bertanya sambil menatap wanita muda itu. mungkin umurnya delapan tahun lebih muda dariku.
"Bapak, mau ke mana, Kok berjalan sendirian?" Tanya wanita itu membalas tatapanku.
"Saya mau pulang ke rumah?"
"Oh begitu! Bapak sudah makan apa belum?"
Aku pun tak menjawab, karena hari ini aku baru menyantap sarapan yang diberikan oleh Saipul tadi pagi.
"Oke Guys! ternyata bapak ini belum makan, mari kita ajak makan di restoran semahal ini, dan kita lihat bagaimana reaksinya." terdengar suara wanita itu yang berbicara menatap ke arah kamera, yang dibawa oleh temannya.
"Ya sudah! pasti Bapak belum makan ya, Ayo kita makan dulu." ajak wanita itu.
"Maaf! saya sudah makan, kalau sudah tidak ada kepentingan lagi, Biarkan saya melanjutkan perjalanan." ujarku yang merasa sedih, karena ada orang yang mau menolong, namun dengan syarat wajahku direkam oleh kamera.
"Bapak nggak usah bohong deh, saya lihat muka Bapak lemas begitu." ujarnya yang tidak percaya dengan pengakuanku.
"Maaf, saya buru-buru! saya mohon pamit, Assalamualaikum!" ujarku sambil membalikan tubuh hendak meninggalkan tempat itu.
"Waduh! gagal guys! ternyata bapak ini mempunyai ego yang begitu tinggi. Padahal kalau miskin ya terima saja, pasti banyak orang yang akan mengasihani. dan sebenarnya pasti bapak ini belum pernah makan di restoran semahal ini." ujarnya yang berbicara dengan kamera.
__ADS_1
Aku terus melangkahkan kakiku, tanpa memperdulikan wanita itu, menyusuri kembali trotoar, menuju ke arah Priya semanan, Rasa haus yang menghampiri, sehingga Aku semakin memperlambat langkah kaki. terdengar suara langkah kaki yang berlari dari arah belakang, seperti sedang mengejarku.
"Tunggu Pak!" teriak suara seorang wanita.
Namun kali ini, aku tidak memperdulikan permintaannya. aku terus berjalan dengan lebih cepat, agar aku bisa cepat bebas dari gangguan wanita itu
"Bapak mau ke mana? Kok buru-buru amat!" ujar wanita yang direkam, setelah berada di sampingku.
"Tolong jangan ganggu saya! Saya hanya ingin pulang." jelasku menghiba tanpa menghentikan langkah.
"Pulang ke mana?"
"Priya Semanan" jelasku singkat.
"Wah! lumayan masih jauh, Pak. Bagaimana kalau kita makan terlebih dahulu, Nanti saya antar pulang pake mobil." ujarnya sambil berhenti, kemudian menghadap lagi ke kamera."Ternyata selain egonya tinggi, dia juga sombong, Guys! kita pengen tahu seberapa sombong pria pincang ini." ujar wanita itu.
Semakin lama aku semakin merasa kesal dengan tingkah laku wanita yang tidak sopan ini. kalau dia benar-benar mau menolong, Kenapa harus ditanya-tanya terlebih dahulu, dan diikuti oleh kamera. apa begini hidup orang susah, ketika mau ditolong harus direkam terlebih dahulu. Apa mungkin mereka merasa takut para malaikat tertidur sehingga lupa mencatat amal kebaikannya.
"Tunggu Pak! jadi orang jangan sombong sombong amat!" teriak wanita itu memanggil, kemudian dia mengejarku kembali.
Merasa kesal aku pun berdiri menunggu kedatangan wanita itu. "Lu mau apa sih sebenarnya, bisa nggak jangan mengganggu kehidupan orang." Ocehku yang mulai emosi, karena kondisiku yang sangat memperhatikan, ditambah gangguan seperti ini.
"Saya mohon Tolong, jangan ganggu saya. karena saya tidak pernah mengganggu kehidupan anda."
"Apa susahnya sih, Pak! Bapak nurut sama saya, Karena saya mau menolong bapak yang lagi kesusahan. Bahkan nanti setelah makan, saya antar pulang pakai mobil, mungkin bukan pulang ya, tapi mau ngemis di sana?" Ujarnya yang merendahkan. sambil memegang pergelangan tanganku, untuk menari ku ikut dengan mereka berdua.
"Tolong apa!" jawabku sambil mengibaskan tangan, namun yang membuatku semakin merasa kesal dengan wanita ini. Dia mendramatisir keadaan dengan menjatuhkan dirinya, seolah kebasan tanganku itu sangat keras.
"Bapak Jangan kasar seperti itu. kalau bapak nggak tahu, Karin adalah youtuber terkenal. Nanti bapak bisa viral." ujar orang yang memegang kamera ,seolah tidak suka majikannya diperlakukan seperti itu.
Dengan sangat kesal melihat tingkah laku mereka berdua, refleks tanganku memukul kamera itu dengan tongkat.
Krek! praaaaaak, prak, prak!"
Kamera yang dipegang oleh pria itu terjatuh ke lantai trotoar, membuat matanya terbelalak. Seolah tidak menyangka aku akan berbuat seperti itu.
"Dasar miskin! gimana lu bisa ganti kamera gua, lihat hancur itu." bentak pria itu sambil memungut kembali kamera yang terjatuh di bawah.
__ADS_1
Aku tidak memperdulikan ocehannya, aku melanjutkan Niatku untuk menuju priya Semanan. Beruntung, tak ada pengajaran lagi yang dilakukan oleh kedua orang yang tidak memiliki Etika itu.
"Alhamdulillah! akhirnya aku bisa bebas dari gangguan orang-orang yang tidak memiliki etika. mau menolong tapi harus divideokan, buat apa menolong, kalau hanya untuk merendahkan." gumamku sambil terus melangkahkan kaki.
Tak lama setelah kejadian itu, terdengar suara Adzan yang berkumandang, memenuhi area Kota Jakarta. aku pun menghentikan langkah, memindai area sekitar. Mencari masjid yang terdekat, untuk melaksanakan salat berjamaah dzuhur terlebih dahulu.
Tak susah mencari, karena masjid di kota Jakarta yang begitu banyak, sehingga dengan mudah aku menemukannya. dengan perlahan aku langkahkan kakiku, menuju masjid itu. kemudian mengambil air wudhu, sambil meminum air dari keran masjid. untuk sedikit menyegarkan tubuhku, yang sudah merasa lelah.
Setelah selesai melaksanakan salat berjamaah, aku keluar dari masjid. namun ketika aku melewati pintu, ada seorang laki-laki yang memberikan nasi bungkus. Aku perhatikan di area sekitar, ternyata tidak ada kamera yang merekamnya. membuatku menerima pemberian itu, dengan penuh rasa syukur.
Sebelum melanjutkan perjalanan, aku menikmati makanan pemberian itu di teras masjid dengan begitu nikmat. apalagi sehabis melaksanakan perjalanan jauh dan melelahkan, ditambah kondisiku yang sangat memperihatinkan. Sehingga aku tak henti-hentinya mengucap rasa syukur. Beginilah kalau memberi, mereka harus ikhlas tanpa ada embel-embel kamera untuk merekam kebaikannya.
Setelah selesai makan, aku pun merapikan bungkusnya. lalu membuang di tong sampah yang sudah disiapkan di halaman masjid. kemudian melanjutkan lagi perjalananku yang masih begitu jauh.
Aku terus berjalan menyusuri trotoar, terlihat di belakangku ada mobil hitam yang mengikuti. setelah aku perhatikan ternyata di dalamnya, ada wanita yang bernama Karin masih mengikutiku. aku hanya menggeleng-gelengkan kepala, tak mengerti dengan pikiran orang zaman sekarang.
Aku kembali melanjutkan langkahku, dengan peluh yang sudah kembali membasahi Seluruh badanku, tangan ketiakku sudah merasa sakit. karena mungkin sudah terlalu lama menjadi tumpuan tubuh.
2 jam berlalu. akhirnya aku sampai di pintu gerbang perumahan Priya semanan, perjalanan yang seharusnya ditempuh hanya dengan waktu sejam berjalan. Namun aku menghabiskan waktu selama 3 jam lebih, untuk sampai di sini. karena aku sering berhenti untuk beristirahat.
Aku mulai mendekati pintu gerbang itu, terlihat ada dua satpam, yang sedang berdiri menjaga keamanan pintu gerbang.
"Mau ke mana?" tanya satpam itu seolah tidak mengenaliku, mungkin karena pakaianku yang berbeda, dan kondisiku yang sangat memprihatinkan.
"Saya Arfan, Pak Arif! Masa Bapak lupa?" jelasku.
"Pak Arpan, Ya Allah! ibu mencari bapak ke mana-mana," ujar satpam itu, setelah sadar bahwa yang berdiri di hadapannya adalah anak salah satu warga di perum ini.
"Iya Pak! maaf saya sudah merepotkan." jelasku.
"Ya sudah! Ayo saya antar pulang." ujarnya yang hendak pergi mengambil motor inventaris Komplek.
"Nggak usah, Pak Arif! Tapi tolong mobil yang mengikuti Saya dari tadi. tolong hentikan, jangan sampai masuk ke dalam perum." tolakku sambil meminta bantuan.
"Nggak apa-apa! itu urusan Pak Idris, ayo Bapak saya antarkan pulang." Ujarnya sambil memanggil satpam yang satunya lagi, kemudian dia memberikan arahan yang baru saja aku pinta.
Setelah memberikan tugas kepada rekannya, dia pun mendekati motor yang terparkir di dekat pos satpam. kemudian menghampiriku kembali.
__ADS_1
"Ayo naik!" ujarnya.
"Terima kasih, Pak!" ucapku sambil naik ke motor yang dibawa oleh Pak Arif.