Dua Penghianat

Dua Penghianat
EPS. 118 TITIK TERANG


__ADS_3

POV Arfan


Sore itu, sehabis melaksanakan salat magrib. Dali sudah aku pesan untuk datang menjemputku. Karena kita berdua akan menghadiri acara pengumuman pemenang tender, yang diselenggarakan oleh perusahaan Bagaskara. sebelum berangkat kita duduk di ruang tamu, sambil membahas persiapan untuk presentasi dan melaporkan sejauh mana perkembangan pencarian Karla.


Karla yang udah tiga hari menghilang, sampai saat ini kami belum menemukan titik Terang. kami sudah mencari ke mana mana Ke tempat yang bisa dijadikan tempat persembunyian Karla, Namun sayang usaha kami sia-sia.


"Poin-poin ini yang harus disampaikan nanti ketika presentasi." ujar Dali menjelaskan sambil menunjukkan berkas, terlarut dalam pencarian Karla sehingga aku melupakan pekerjaanku.


"Apa aja dal? coba tolong kamu jelaskan secara rinci!" jawabku tak mengambil berkas yang diberikan oleh Dali. rasa lelah setelah mencari keberadaan Karla, membuatku enggan menggunakan otaku.


"Begini Pak!" ujar Dali. kemudian dia menjelaskan apa saja poin-poin penting yang akan menjadikan pihak penyelenggara, tertarik menggunakan jasa perusahaan Mandiri group, Dali menjelaskan secara rinci dari awal sampai akhir.


"Bagus! bagus! Bagaimana kalau kamu yang maju untuk presentasi." Pintaku setelah mendengar penyampaian dali yang begitu rinci dan bisa dimengerti.


"Tapi Pak?" tolak Dali


"Nggak ada tapi tapi! kamu harus mulai mencoba mengoperasikan kemampuan kamu yang begitu luar biasa."


"Kalau saya gagal bagaimana?"


"Usaha dulu, baru kita membahas hasilnya."


"Maaf nih pak! biasanya Bapak selalu antusias dan selalu bersemangat ketika yang dibicarakan adalah tentang bisnis. apalagi proyek tender yang kita tangani, proyek tender yang sangat besar. tapi kenapa sekarang seperti ini, Bapak seperti tidak semangat?" tanya Dali sambil menatap ke arahku.


"Semangat kok dal! tapi rasanya buat apa saya bekerja keras, kalau orang yang saya cintai tidak ada di sini, bahkan kita belum mengetahui keberadaannya ada di mana."


"Lah! lah! kok berbicaranya seperti itu. ingat Pak! Bapak dulu meminta saya untuk memanggil seluruh karyawan yang sudah dipecat atau resign dari Perusahaan Erni group. sekarang ketika mereka kembali, Bapak mau menyia-nyiakan begitu saja. Jangan kecewakan mereka Pak! Bapak adalah panutan bagi kami, bagi saya!" jelas Dali yang tidak setuju dengan apa yang kuperintahkan.


"Kamu nggak mau melakukan presentasi?" Tanyaku sambil menatap ke arahnya.


"Bukannya nggak mau Pak? namun kita memiliki porsi masing-masing. bapak sebagai pemimpin perusahaan Harusnya menjadi ujung tombak, yang siap menembus memimpin semua karyawan, untuk melaju ke Jalan kehidupan yang lebih baik. Demi majunya perusahaan Mandiri Group."


Mendengar penjelasan Dali, aku hanya menarik nafas, setelah dipikir-pikir memang benar kalau dengan apa yang disampaikan oleh Dali. Kalau sekarang Aku menyerahkan persentase kepada Dali atau kepada karyawan lainnya. maka kejadian ketika aku ditinggalkan oleh Erni akan terulang kembali, aku akan kalah, akan menjadi pecundang lagi. Imbasnya para karyawan yang sudah setia menemani akan menjadi korban. "Ya sudah, mana Sini berkasnya. Biar saya pelajari  yang penting pentingnya saja!" pintaku setelah mengambil keputusan.


Dali pun menyerahkan berkas yang dia pegang. dengan teliti aku mulai membaca, mempelajari, mengingat apa yang nanti harus aku sampaikan ketika melakukan presentasi.


Tring! Tring!

__ADS_1


Dua handphoneku berbunyi bersamaan, yang satu pemberian Karla, yang satu aku beli khusus untuk bekerja. tapi walaupun handphone baru aku masih tetap memakai nomor handphone lama. penasaran dengan handphone, aku mengambil handphone pemberian Karla, handphone berwarna merah jambu dengan stiker love di belakangnya. Aku menekan tombol untuk membuka layarnya, setelah dilihat ternyata ada pesan masuk. merasa penasaran aku membuka pesan itu  karena handphone jadul tidak memiliki fitur yang bisa membaca pesan tanpa membuka aplikasi.


"Sekarang kamu mundur dari perebutan tender, atau kamu akan Kehilangan orang yang kamu cari!" isi pesan bernada ancaman yang dikirim oleh nomor baru, membuatku mengerutkan dahi tidak mengerti apa yang dimaksud.


"Ada apa Pak," tanya Dali sambil mengerutkan dahi, karena melihat perubahan sikapku.


"Ada SMS nyasar dal!" jawabku sambil menunjukkan pesan yang baru saja kubaca.


"Dari siapa?" Tanya Dali sambil mengambil handphone itu untuk melihatnya.


"Entahlah! mungkin orang iseng." jawabku tidak antusias, mataku terfokus kembali ke arah berkas yang masih kugenggam.


"Kok isinya ancaman seperti ini, dan dari mana orang ini tahu kalau bapak sedang mencari orang?" tanya Dali yang selalu teliti.


"Maksudnya?" Tanyaku sambil menurunkan berkas yang sedang kubaca kemudian menatap ke arah Dali.


"Kita kan sedang mencari bu Karla Pak?"


"Ya ampun!" aku yang beberapa hari ini kurang beristirahat, bahkan hanya punya waktu beberapa menit untuk tidur. karena terus disibukan mencari keberadaan Karla, sehingga ketika ada petunjuk seperti itu, aku tidak bisa memahami secara langsung. dengan cepat aku merebut handphone yang ada di tangan Dali. kemudian membaca lagi pesan itu, selesai mengulang membaca pesan, aku menekan tombol Panggil untuk mengetahui siapa yang mengirim pesan. Namun sayang telepon itu sudah tidak aktif. "siapa yang mengirim pesan ini?" Tanyaku sambil menatap ke arah Dali.


"Tidak tahu pak! namun sepengetahuan saya tadi handphone yang satunya lagi berbunyi, siapa tahu aja ada petunjuk lain."


"Kalau kamu sampai datang ke acara tender. Maka jangan salahkan kami, kalau orang ini tidak akan kembali lagi." isi pesan itu, terlihat di bawahnya ada foto seorang gadis yang sedang diikat di atas kursi, wajahnya yang ditarik ke atas agar menatap ke kamera. Gadis itu terlihat sangat mengkhawatirkan, karena matanya tertutup dengan bentuk wajah yang sudah pucat.


"Karla"


Desisku setelah mengetahui bahwa orang yang ada di foto itu, adalah Karla orang yang beberapa hari ini aku cari keberadaannya. ternyata Sekarang dia sedang disekap sebagai jaminan agar aku tidak mengikuti tender.


Prak!


Handphone-ku terjatuh ke atas meja, tanganku yang gemetar tidak mampu menahannya. melihat yang terjadi  Dali yang dari tadi memperhatikanku, dengan Sigap mengambil Handphoneku yang terjatuh. Kemudian dia melihat isi pesan yang baru aku baca.


"Ya ampun Siapa orang yang berani tega berbuat seperti ini?: gumam Dali.


"Karla Dal! sekarang kita harus bagaimana?" Tanyaku yang merasa pusing, seolah otakku membeku tak bisa digunakan.


"Kita laporkan semua ini ke pihak yang berwajib! Siapa tahu mereka memiliki solusi. karena kalau kita bergerak sendirian kita tidak akan mudah menemukannya."

__ADS_1


"Ya sudah! ayo siap-siap. kita langsung ke kantor pihak yang berwenang untuk melaporkan kejadian ini." jawabku dengan segera bangkit, lalu mengambil handphone untuk dijadikan barang bukti. setelah semuanya dirasa tidak ada yang tertinggal, aku dan Dali keluar dari ruang tamu.


"Mau berangkat sekarang?" tanya ibu yang sudah siap-siap untuk menghadiri acara tender.


"Nggak bu! kita mau ke kantor polis." jawabku.


"Mau ngapain? apakah Karla sudah ditemukan?" tanya ibu yang terlihat penasaran.


"Belum Bu! tapi ada sesuatu yang mungkin bisa dijadikan petunjuk." jawabku.


"Petunjuk bagaimana?"


Aku pun menceritakan tentang pesan ancaman yang dikirimkan oleh nomor yang tidak dikenal, diambil Garis besarnya saja yang penting Ibu paham.


"Ya Sudah, buruan sana! Jangan membuang waktu." seru Ibu setelah mendengar semua ceritaku. dengan cepat aku dan Dali menuju ke arah mobil, tanpa ada pembicaraan, Dali mulai mengemudi menuju ke salah satu kantor polis terdekat.


Tring! Tring! Tring! Tring!


Ketika  di jalan menuju ke kantor polis, terdengar suara handphone Dali berbunyi beberapa kali.


"Siapa? Angkat dulu! siapa tahu penting." Pintaku yang merasa tidak nyaman, karena handphone Dali terus berbunyi.


Mendapat perintah, Dali pun mengangguk, kemudian dia mengambil handphone dari dalam tasnya, lalu melihat sekilas Siapa yang menelepon.


"Pak Farid Pak!" ujar Dali setelah mengetahui siapa yang menelepon.


"Mau apa?"


"Nggak tahu Pak!"


"Ya sudah angkat!"


Dali menepikan mobilnya, kemudian mengangkat panggilan Farid. "Halo ada apa Pak Farid?" tanya Dali Setelah telepon itu terhubung.


"Maaf mengganggu! karena nomor Arfan tidak bisa dihubungi.  mungkin dia masih memblok nomor kontak saya. ada suatu hal yang penting yang saya ingin sampaikan." Jawab Fari yang suaranya terdengar karena Dali meloudspeaker kan panggilannya.


"Hal penting apa Pak?"

__ADS_1


"Saya sedang mengikuti istri saya! ada sesuatu yang janggal yang dilakukan oleh Erni. saya belum bisa memastikan kejanggalannya Seperti apa. namun siapa tahu saja ini bisa memberikan petunjuk tentang orang yang dicari kamu dan Arfan. karena beberapa hari terakhir Erni selalu disibukkan dengan bertelepon membahas seseorang." Jelas Farid memberitahu.


Mendengar kata itu, dengan cepat aku mengambil handphone Dali. Karena setelah Aku perhatikan, kejadian ini memang ada hubungannya dengan SMS yang baru aku terima. pantas saja ancamannya seperti itu, karena yang melakukannya adalah Erni, yang sama-sama mengikuti perebutan tender dari perusahaan Bagaskara.


__ADS_2