Dua Penghianat

Dua Penghianat
S2. 36 bahagia Arfan


__ADS_3

Pov Arfan


Setelah mendengar penjelasan dari dokter bahwa istriku sedang hamil anak pertama kami. rasanya aku telah mencapai semua rasa bahagia dalam hidupku, aku genggam kuat tangan Istriku yang terkulai lemas, sambil terus mengikuti ranjang transfer pasien yang didorong menuju ke salah satu ruang inap.


Sesampai di ruang inap, Karla pun hendak dibantu dipindahkan namun dia menolak. dia lebih memilih pindah sendiri, karena menurutnya Dia tidak sakit, dia hanya mual dan pusing, Jadi kalau untuk pindah ranjang dia tidak perlu bantuan orang lain.


Setelah menempatkan istriku, para perawat pun meminta izin untuk kembali melanjutkan bekerja. tinggallah kita berdua yang masih merasa kaku, padahal hampir dua bulan kita sudah tinggal bersama.


"Kamu Hamil Sayang!" ujarku sambil memegang kembali tangan istriku, kemudian mencium lembut punggungnya.


"Iya! Kakak senang?" tanyanya sambil melirik sebentar kemudian menundukkan pandangan kembali.


"Senang banget! bahagia banget! rasanya kakak bisa menjadi lelaki yang sesungguhnya," ujarku sambil mendekatkan kepala istriku ke dada, lalu mengusap lembut kepalanya yang tertutup hijab.


"Syukur kalau Kakak bahagia, tadinya Carla takut Kakak nggak bahagia."


"Lelaki mana yang tidak bahagia, Ketika istrinya hamil seperti ini. Terima kasih ya, terima kasih sudah memberikan kebahagiaan yang luar biasa ini!" ujarku masih mengelus-ngelus rambutnya yang tertutup hijab.


"Terima kasih ya kak!" Jawabnya sambil memeluk Pinggangku.


"Aku yang seharusnya berterima kasih, karena kamu sudah mau menjadi istriku, walaupun dulu kamu sempat menolakku beberapa kali."


"Sudah jangan bahas masa lalu, aku malu....!" jawabnya sambil melepas pelukan.


"Malu kenapa, Oh iya apa yang sayang rasakan, masih mual?"


"Sudah nggak terlalu Kak! Cuman lemas aja, mungkin banyak cairan yang keluar."


"Kamu yang sabar ya!"


"Iya, tolong bantu aku agar aku selalu bersabar, seperti yang kakak mau. Oh iya, handphoneku di mana Kak?" tanya istriku sambil celingukkan.


"Di rumah, tadi lupa Kakak bawa, Emang ada apa?"


"Mau menghubungi bapak, kasihan takut khawatir?"


"Pakai handphone Kakak aja!" ujarku sambil merogoh tas kecil yang kubawa, kemudian mengeluarkan handphone lalu diserahkan kepada istriku.


Karla mengambil ponselku lalu mencari nomor bapak, setelah ketemu dia pun menekan tombol Panggil tak lama telepon itu terhubung.


"Ada apa tumben-tumbenan nak Arfan telepon malam-malam?" tanya Pak Umar dari ujung sana, karena istriku meload Speakerkan panggilan sehingga aku bisa mendengar.


"Ini Karla Pak!"


"Iya ada apa, tumben kamu pakai nomor suamimu?" tanya Pak Umar yang terdengar merasa aneh.


"Sekarang karla sedang di rumah sakit,"


"Kenapa, kok kamu masuk rumah sakit, Kamu sakit apa?" potong Pak Umar yang terdengar khawatir.

__ADS_1


"Nggak apa-apa Pak, Karla cuma muntah-muntah saja. Alhamdulillah setelah dicek Karla hamil Pak," jawab istriku memberitahu kebenarannya.


"Alhamdulillah....! alhamdulillah! Kamu di rumah sakit mana, biar bapak ke sana sekarang."


Karla menatap ke arahku Mungkin dia bertanya. "Sekarang kita di Rumah Sakit Harapan Pak!" jawabku dengan sedikit menaikan intonasi agar Mertuaku bisa mendengar.


"Ya sudah bapak ke sana sekarang!"


"Bapak nggak usah repot-repot, karena Karla tidak apa-apa, mungkin besok pagi juga sudah pulang, lagian kasihan kalau malam-malam keluar," tahan Karla.


"Kenapa kamu melarang bapak, kamu nggak mau Bapak ikut bahagia, dan menyambut calon anak kita."


"Bukan seperti itu Pak, Tapi Karla takut bapak sakit."


"Sudah tunggu Bapak!"


Tap! tap! tap!


Telepon itu terputus, membuat Karla menatap ke arahku. "nggak apa-apa biarkan bapak ke sini, agar ada yang menemani sayang," ujarku sambil mengulum senyum.


"Tapi kasihan, ini waktunya sudah malam Kak."


"Nanti biar kakak suruh Pak Dali untuk menjemputnya."


"Terima kasih ya kak!" ujar istriku sambil memberikan handphoneku kembali.


"Bagaimana keadaan Bu Karla Pak!" Tanya Dali yang masih terlihat khawatir.


"Alhamdulillah istri saya baik-baik saja, tapi saya minta tolong sama kamu, tolong jemput Pak Umar di rumahnya.


"Saya boleh menolak Pak?" tanya Dali yang terlihat ragu-ragu.


"Kenapa?"


"Istri Saya dari tadi ketika di rumah Ira, dia terus menelepon karena dia merasa takut sendirian di rumah, maklum lagi hamil jadi dia bawaan mellow seperti itu."


"Oh nggak apa-apa, ya sudah! Kenapa nggak dari tadi pulang?"


"Saya khawatir dengan kondisi Bu Karla, tapi setelah mendengar berita bahagia, saya tidak terlalu khawatir Pak, makanya saya berani minta izin."


"Biarkan saya saja yang menjemput," saran Farid menawarkan diri.


"Emang Pak Farid tidak dicari sama istrinya?"


"Saya sudah memberitahu istri saya kalau Bu Karla sedang hamil, dia ikut senang dan menitipkan selamat untuk bapak."


"Terima kasih! Ya sudah, kalau tidak merepotkan tolong jemput mertua saya, nanti biar Dali yang memberikan alamat, saya mau menghubungi beliau agar menunggu."


"Baik Pak!"

__ADS_1


"Dali Sebelum pulang kamu antarkan Pak Farid Ke rumah mertua saya terlebih dahulu, nanti setelah itu baru kamu boleh pulang," perintahku sama asisten.


"Siap pak! terima kasih, maaf sebelumnya."


"Iya nggak apa-apa! Sebentar saya hubungi mertua saya dulu."


Aku mulai mengambil handphone kembaliĀ  lalu menekan tombol Panggil ke nomor Pak Umar, setelah terhubung aku mulai menyampaikan keinginanku untuk menjemputnya. awalnya beliau menolak, namun dengan berbagai alasan Akhirnya dia pun setuju, Setelah memberi tahu mertua aku pun kembali menetap ke arah bawahanku.


"Ya sudah kalian boleh berangkat, Sekali lagi saya ucapkan beribu-ribu terima kasih atas kesediaan kalian yang selalu Sigap Ketika saya membutuhkan bantuan. dan saya mohon maaf Kalau merepotkan kalian!" ujarku yang merasa tidak enak.


"Nggak apa-apa Pak! ini sudah menjadi tanggung jawab Kami. Ya sudah, kami berdua pamit terlebih dahulu." jawab Dali sambil mengulurkan tangan mengajakku bersalaman. kemudian mereka berdua pun pergi meninggalkan ruang keluarga menuju ke arah parkiran. sedangkan aku masuk kembali ke dalam, terlihat Karla sudah berbaring sambil memejamkan mata, ketika mendengar pintu yang terbuka matanya menatap ke arahku, kemudian dia hendak bangkit dari tempat tidur.


"Nggak usah bangun, kamu istirahat aja!"


"Bagaimana bapak?"


"Sudah....! Bapak sudah dijemput oleh Pak Farid Soalnya dali istrinya sedang bad mood."


"Alhamdulillah! oh iya, kakak nggak memberitahu ibu?"


"Ya Allah, aku hampir lupa! Sebentar aku hubungi beliau."


Dengan Segera Aku mengambil handphone-ku, kemudian menekan nomor ibu. Tak lama panggilanku tersambung, karena waktu belum terlalu malam, mungkin baru jam 11.00.


"Ada apa kamu malam-malam menelepon ibu?"


"Arfan sedang di rumah sakit Bu, Karla tadi muntah-muntah."


"Muntah-muntah kenapa, kok kamu nggak ngasih tahu ibu?:"


"Gak usah khawatir Bu! karena istri saya sekarang sedang hamil," jawabku yang merasa bangga.


"Alhamdulillah sekarang kamu di mana? Ibu ingin menemani cucu ibu."


"Rumah Sakit Harapan Bu! tidak jauh dari rumah Arfan!"


Tap! tap! tap!


Telepon pun terputus, membuatku sedikit mengerutkan dahi, tidak mengerti dengan ibu yang selalu sangat perhatian terhadap Karla, berbeda ketika dulu aku menikah dengan Erni, beliau sangat cuek bahkan sering memusuhinya.


"Bagaimana?"


"Sebentar lagi bapak dan ibu akan ke sini, kamu istirahat aja ya!" pitaku Sambil duduk di kursi yang ada di dekat ranjang.


"Kalau bapak dan ibu sudah ke sini, Kakak suruh Pak Farid pulang, kasihan istrinya pasti kesepian di rumah."


"Iya aku juga berencana seperti itu, Lagian nggak enak merepotkan orang lain."


Akhirnya kita berdua terus terlalut dalam obrolan-obrolan yang dipenuhi kebahagiaan, bahagia karena sebentar lagi rumah tangga kita akan sempurna.

__ADS_1


__ADS_2